Baru sadar kalau hari ini sudah tanggal 12 Januari gara-gara dengerin lagu 11 Januari-nya GIGI dari kamar kos sebelah waktu aku melewatinya ke kamar mandi. Sebenarnya dari awal aku agak sedikit berprasangka buruk terhadap tetangga kos ini. Karena ketika kamar itu kosong tahu-tahu sehari kemudian setelah kepindahan penghuni lama aku melihat ada penghuni baru dengan sepeda motor berplat agak gimanaaa geto…
.
.
Bahkan sadelnya pun kalau dilihat sangat sangar dan terlihat menyakitkan.
.
.
Aku nggak tahu motor itu beneran apa nggak (maksudnya plat-nya dan surat-suratnya legal) tapi yang jelas waktu pertama kali aku ngeliat, aku membayangkan kalau orang yang make’ adalah anak punk dengan penampilan urakan, atau mungkin suka nyimeng, atau sering bawa masuk kamar cewek (dilihat dari platnya) Lagu-lagu yang diputer pun mungkin semacam Sex Pistols, RANCID, Anthrax (eh anthrax bukan ding ya?) pokoknya lagu-lagu kayak gitu lah.
.
Tapi ternyata dugaanku itu semua salah. Karena orang yang menghuni itu ternyata halusnya bukan main. Sebab mereka (yang menghuni 2 orang) selalu menyapa dan tersenyum ramah saat ketemu. Dan kalau ada teman-temannya yang main ke kamarnya pun bukan kumpulan anak-anak urakan, melainkan kumpulan orang-orang yang bekerja di Indomaret. Dan aku nggak pernah menemukan ada temannya yang cewek. Sering aku temui saat aku istirahat pulang untuk Jum’atan, aku lihat salah satu dari mereka sudah siap dengan pakaian kokonya dan pergi ke masjid. Pernah suatu malam aku lewat, aku lihat sepintas salah satu dari mereka sedang menyalin tulisan arab, entah buku doa apa itu.
.
Kulihat baju-baju yang dijemur ada gambar band punk dengan background bendera Inggris, dan baju seragam Indomaret tentunya. Tapi sepertinya penampilan mereka tak tampak seperti punker meski memakai kaos-kaos itu. Dan yang paling mengherankan adalah, ketika sedang mandi, lagu yang dinyanyikan adalah lagu-lagu UNGU. Wah apa nggak salah nih? Ini Punker atau Pasha?, pikirku saat kebetulan aku berada di kamar mandi sebelahnya. Tak pernah sekalipun aku dengerin lagu-lagu punk rock. Kalau kebetulan lewat kamarnya biasanya lagu yang diputar adalah d-masiv, dan yang terakhir tadi lagu-lagunya GIGI yang romantis.
Ternyata menebak dan memahami insight itu susah banget, tak bisa dilihat langsung dari luarannya. Apalagi memahami cewek, angkat tangan dah gua!
.
Banyak cewek yang bilang kalau para cowok tuh tak pernah bisa memahami mereka. Padahal sebenarnya cewek nggak paham kalo cowok itu sudah terlalu capek dan pusing buat bisa memahami mereka. Hehe… bercanda kok, tapi kalo kenyataannya emang iya, anggap saja bercanda.
Selamat Tahun Baru! Udah telat yah? Hehe… Setiap tahun baru biasanya ada sesuatu yang baru juga. Tapi dari tahun ke tahun kok aku nggak merasa menemukan suatu perubahan yah? Perubahan ada, tapi nggak begitu terasa. Biasa aja gitu. Serasa kalau ada resolusi di setiap tahun baru, resolusinya adalah menyusun resolusi tahun baru selanjutnya. Jadi resolusi di tahun 2012 ini adalah merencanakan resolusi tahun 2013 dst..dst, hehe bercanda… Tapi nggak kok, tahun 2012 ini aku ada resolusi yang cukup serius. Saking seriusnya makanya blog-ku Januari ini baru up date sekarang, karena weekend kemarin aku sudah sibuk bersiap untuk rencana besarku di tahun 2012 (halah, alesan).
Di akhir 2011 kemarin aku seakan mendapatkan wangsit untuk melakukan sesuatu di tahun 2012. Bagi sebagian orang banyak yang bilang tahun 2011 adalah tahun yang buruk. Tapi menurutku tahun 2011 bukanlah tahun yang jelek-jelek amat. Serius. Memang ada beberapa yang tidak menyenangkan, tapi tekanan-tekanan dan penderitaan yang menempaku itu justru menjadikanku semakin kuat. Thank’s year 2011! Postingan I’m not fear-ku tahun 2011 kemarin menyadarkanku untuk melakukan sesuatu yang besar di tahun 2012. Yaitu untuk tidak takut mengambil sebuah resiko yang mungkin sangat besar. Just do it. Think BIG, Start small, and Move f>st. Ditambah dengan postingan “Now Attitude” dari Iim Fahima (http://www.sudutpandang.com/2012/01/lakukan-sekarang/), semakin memantapkan langkahku untuk melakukan suatu hal baru yang mungkin sangat jauh beda dari bidangku. Bismillah!
Meski di tahun baru ini aku siap untuk melakukan hal baru, tapi rasanya ada yang tidak baru dari tahun ke tahun. Yaitu penampilanku. Dari tahun ke tahun kayak itu-ituuu mulu… Sebenarnya dari dulu ada dua benda yang mungkin sebagian besar cowok memerlukannya, tapi tidak olehku. Yang pertama dompet, dan yang kedua pisau cukur. Aku berpikir mungkin suatu saat aku akan memerlukannya.
Seumur hidup aku nggak pernah punya dan nggak pernah bawa dompet. Mungkin satu-satunya dompet yang kupunya adalah dompet SIM dari kantor polisi waktu aku ikut ujian untuk mendapatkan SIM (lihat postingan SIM Salabim, http://husnimuarif.wordpress.com/2009/11/21/sim-salabim-part-i/) Itupun isinya hanya SIM, STNK, KTP, ATM, sama Kartu Belanja Mirota Kampus. Nggak ada Kartu Kredit! Itupun kubawa kalau mau bepergian jauh dan sekedar menghindari atau iseng nyari razia, hehe.. Bagi sebagian cowok mungkin dompet adalah hal yang penting, (dan membanggakan) dengan foto ceweknya dan kartu kredit didalamnya.
Tapi entah kenapa aku tetep nggak nyaman dengan dompet. Aku lebih terbiasa dengan me-manage (sederhana) berapa uang yang aku perlukan saat mau keluar, terus uangnya disusun rapi dan dimasukkan saku. Kadang aku menaruh uang cadangan, tapi jarang sekali mengunakannya. Yang jelas aku tahu di saku mana aku menyimpan uangku dan tahu berapa isinya. Primitif, tapi lebih hemat karena bisa menghindarkan dari membeli barang yang tidak perlu (biasanya). Dan Alhamdulillah sampai sekarang nggak pernah kekurangan, justru malah sisa. Meski begitu, aku merasa kalau suatu saat nanti aku mungkin memerlukannya. Entah kapan. Bisa saja setelah menikah. Mungkin, tapi aku masih nggak nyaman dengan foto di dalam dompet itu.
Yang kedua pisau cukur. Baiklah biar nggak ndeso-ndeso amat aku sebut saja merk-nya, Gillette. Mungkin dekat-dekat ini Gillette adalah benda yang akan aku perlukan. Dan aku tak bisa menghindarinya karena pertumbuhan rambut di tubuhku sepertinya semakin liar. Terutama setelah cacar. Dulu sebelum aku kena cacar, aku hanya perlu pinset untuk mencabut satu sampai tiga helai rambut di daguku. Karena dulu pertumbuhannya sangat tidak kompak dan random. Pernah ada satu bulu kubiarkan panjang di daguku, dan akhirnya tercabut oleh temanku karena gregetan dengan satu helai bulu itu. Rupanya dia sudah mengincar lama. Saat aku bicara, dia melihatku dengan serius. Kukira dia sedang mendengarkan perkataanku dengan seksama, tak tahunya mengincar satu helai bulu di daguku.
Dan kini setelah cacar, kulihat bulu-bulu halus itu menampakkan diri. Entah kenapa, apakah proses pubertasku baru dimulai setelah cacar? Kini bulu-bulu halus itu mulai tumbuh di sekitar jamban ke dagu, di leher bagian atas, di ketiak, di dada, dan di eh, bagian yang lain. Kalau dulu mencabut bulu di dagu (jenggot) dan bagian kumis (lele) tiap minggu 3 – 6 helai, kini tiap hari mungkin bisa lebih dari sepuluh. Katanya kalau keterusan mencabut bulu juga tidak baik. Mungkin aku akan terlihat lebih dewasa ketika tumbuh brewok dan janggut yang dicukur pendek rapi (Aw-waw). Kiranya aku sudah cukup bahagia dengan pertanyaan “Masnya kuliah di mana?” yang dilontarkan beberapa orang yang ketemu aku. Bangga seakan masih muda, padahal pertanyaan itu sudah tidak pantas lagi untukku. Dan pertanyaan itu terulang lagi saat aku mengurus hadiah di Bank BPD. Mungkin itu yang terakhir.
Sampai sekarang aku belum membeli Gillette. Mau konsultasi dulu, hehe… Sepertinya akan susah memulainya, karena aku belum pernah bercukur sendiri. Apalagi tiap bercermin, tanganku tak kuasa mengambil pinset untuk mencabut lima atau sepuluh helai rambut yang baru muncul. Aku membayangkan mungkin jadinya akan seperti pria Gudang Garam Merah. Ha-ha dulu aku jadi model-rough dua kali untuk acuan Print Ad Gudang Garam Merah pas tagline-nya masih Nyalakan Merahmu! (Tagline yang sekarang aneh banget yah?) Atau mungkin aku bisa mengaturnya biar bisa seperti Wolverine, hehe… Karena penasaran aku ambil beberapa sampel, lalu aku pasangkan bagian sampel brewok itu di fotoku. Tapi tetap saja masih terlihat aneh. Aku mencoba untuk Digital Imaging, tapi aku nggak pandai Photosop. Aku mencoba memakai Brush Artistik Media Tool di Corel. Ah, tetap saja nggak lucu.
.
.
Pagi tadi aku mencoba cara lain dengan cermin yang digambari pakai spidol. O-ouw, aku jadi teringat personil Color Me Badd…
Hrrr… malam Jum’at ini aku memaksakan diri untuk menikmati basahan hujan dari sepanjang Jalan Imogiri menuju Godean. Tidak langsung pulang, namun mampir ke kantor untuk ngeblog sebentar. Karena sepertinya hujan malam ini sangat pas sekali. Hujan mulai serius turun dari sehabis Isya’ tadi ketika aku mulai keluar untuk berburu mainan yang rencananya mau dibuat animasi. Bersama Gepeng (ilustrator Petakumpet) melawan sambutan awal hujan yang kelihatan sangat bersemangat sekali turunnya. Setelah itu menikmati panas dan pedasnya sop merah di pertigaan Jalan Imogiri. Pas sekali momennya. Tapi sebenarnya yang mau kuceritakan tidak hanya sekedar hujan, namun juga jas hujan.
Sore tadi tiba-tiba aku dikejutkan oleh kehadiran Pak Mahfud, dosen komunikasi UIN yang juga teman waktu peserta CWMC. Beliau datang sambil meminta maaf mengembalikan jas hujan yang kupinjamkan kepadanya 2 minggu yang lalu. Karena berbagai kesibukan dan halangan (pokoknya ceritanya panjang deh), akhirnya jas hujan tersebut baru bisa dikembalikan hari ini. Loh, lalu apanya yang spesial?
Aku ingat betul bagaimana awal mula aku meminjamkan jas hujan itu kepada Pak Mahfud. Mumpung besoknya weekend, malam itu kalau tidak salah aku sudah berniat untuk ngeblog. Hari itu tanggal 16 Desember aku sedang mengetik postingan “i’m not fear” selepas Isya’. Kebetulan acara Lecturer for Lecturer yang diadakan selama tiga hari, saat itu diselenggarakan di kantor Petakumpet. Acaranya selesainya sampai malam. Dan kebetulan pas acara selesai, hujan turun sangat deras.
Saat sedang asyik-asyiknya menulis postingan, tiba-tiba Mas Andhika (Syafa’at) mau pinjam jas hujan untuk mengambil mobilnya. Kebetulan jarak parkir mobilnya di depan kantor agak jauh, sehingga parkirnya mau didekatkan ke kantor biar gampang dan tidak harus basah-basahan menuju mobilnya. Aku langsung menuju ke garasi untuk mengambil jas hujanku yang ada di motor dan memberikan kepada Mas Andhika. Ternyata Pak Mahfud ada di garasi, sedang sedang membungkus tasnya dengan plastik.
“Loh Pak Mahfud belum pulang? Pake mobil kan?”
“Nggak, ini kebetulan pas bawa motor. Nggak bawa mantol (jas hujan), soalnya tadi siang yakin banget kalau nggak hujan. Eh ternyata malamnya deres banget..”
Sepertinya Pak Mahfud pengin nekat hujan-hujanan malam itu. Kebetulan pas juga dengan kedatangan Mas Andhika yang sudah memarkirkan mobilnya dan kembali ke garasi mengembalikan jas hujan. Dan tanpa berpikir panjang aku langsung menawarkan jas hujanku ke pak Mahfud.
“Ya udah, Pak Mahfud pake mantolku saja”
“Lha sampeyan gimana?”
“Ah, gampang besok kan weekend. Kalau malam ini masih hujan, aku bisa nginep di kantor”
“Mbalikinnya gimana?”
“Ah gampang, bisa kapan saja”
“Ya udah, besok kan masih ada LFL, ntar tak titipin Mas Arief aja yah?”
“Tenang aja, daripada nggak pake mantol, besok bisa nggak ikutan LFL”
“Makasih ya, maunya sih mau nostalgia kayak jaman kuliahan dulu, hujan-hujanan pake motor, tas dibungkus plastik, hehe… Wah kalau nggak ada Mas Husni gimana nih aku”
Waduh, kepalaku langsung rasanya tambah gede.
Malam itu akhirnya aku melanjutkan memosting “i’m not fear”. Soalnya udahdirencanain nih, harusnya kemarin-kemarin diposting habis syuting, masak mau dipending lagi? Setelah selesai memosting di blog, tiba-tiba saja hujan reda. Wah asyik, bisa tidur di rumah nih sambil bikin Sekoteng. Akhirnya malam itu aku pulang. Dan Sabtu-Minggu sepertinya nggak hujan. Seninnya aku ke kantor, sepertinya jas hujannya sudah dititipin ke penjaga malam atau Pak Arip. Eh, ternyata nggak ada titipan jas hujan untukku.
Hari berikutnya sepertinya mau turun hujan. Untuk jaga-jaga akhirnya aku pinjam jas hujan ke Ibu Kos, tapi ternyata malah nggak hujan. Saat aku kembalikan jas hujannya, Ibu Kos bilang “Walah, nggak usah terburu-buru balikinnya, di sini ada tiga kok”. Hari berikutnya jas hujanku belum ada kabarnya juga, lalu aku pinjam lagi jas hujan Ibu Kos. Namun kali ini kubawa terus aku jepitkan di jepitan sepeda motor. Ajaibnya, selama aku pinjam jas hujan, aku tak pernah satu kali pun memakainya. Karena kalau kebetulan nggak hujan, ya hujan baru turun saat aku sudah di rumah atau kantor. Wah sepertinya jas hujan ini semacam alat pawang hujan, hehe…
Seminggu sudah berlalu, namun jas hujanku belum ada kabarnya. Dan kebetulan hari Sabtu aku ada di Mirota Kampus untuk beli kertas kado buat mengado temanku yang baru punya anak. Aku bawa uang banyak saat itu, namun entah kenapa aku merasa tertahan saat berencana sekalian beli jas hujan. Dan kemarin Minggu pas hujan, Ibu Kos mengambil jas hujan itu “Mas, mantolnya aku ambil ya, mau aku pake”. Otomatis saat itu aku merasa seperti kehilangan alat pawang hujan. Aku hanya bisa pasrah, kalau pergi aku nggak bisa apa-apa selain berteduh bila hujan datang. Ajaibnya, hujan selalu turun saat aku sudah sampai di tujuan, dan begitu aku mau keluar, hujan reda. Kejadian selalu bisa terhindar dari guyuran hujan itu bertahan hingga 2 minggu, tepatnya pas kemarin sore Pak Mahfud mengembalikan jas hujan ke aku. Hebat banget yah? Meski cuman hujan, tapi ternyata kalau kita ikhlas dan yakin untuk berbuat baik, keajaiban Insy’Allah akan datang.
Dan tadi malam, Gepeng mengajakku untuk prepare alat-alat buat animasi. Baru keluar sebentar tiba-tiba, bresshh… Hujan turun dengan sangat deras. Dan jas hujanku sudah kembali ada di jepitan motor. Aku lalu memakainya dan tersenyum sambil berkata dalam hati “Pas banget, Ya Allah!”
*Tulisan ini diposting pada malam Jum’at jam 23.22. Karena tiba-tiba ada yang nggak bisa tidur dan ngajak ngobrol sampai 2 jam lebih, akhirnya postingan ini dilanjutkan Jum’at paginya. Harap maklum
Aku punya seorang teman asli orang Jawa Timur dan banyak tinggal di Surabaya. Orangnya sangat kreatif, mandiri, aktif, kritis, cerdas, enak diajak bergaul, dan suka gojek (guyon, bercanda) Temannya pun sangat banyak, sehingga dia sering ajak teman-temannya untuk mengerjakan beberapa project. Kadang aku sering ngobrol dengannya tentang iklan, logo, dan segala hal tentang kreativitas atau bahkan tentang entrepreneurship. Tapi yang paling aku suka adalah, dia senang gojek dan bisa diajak gojek. Gojek boso jowonan alias gojek kere istilah lainnya.
Meski begitu, ternyata tak selamanya dia bisa diajak gojek. Karakter Jawa Timur-nya yang terkenal keras dan kasar untuk hal-hal tertentu bisa langsung keluar. Begitulah orang Jawa Timur, kalau serius ya serius, kalau nggak ya enggak. Suatu hari saat ngobrol-ngobrol bareng di rumahnya, ada satu teman yang menyalakan rokok. Lalu dia bilang “Eh tolong, aku tahu ini sedang santai. Tapi bisa nggak kalau ngerokok di luar” Mendengar hal tersebut, orang yang merokok ini malah meniupkan asap rokok ke wajahnya lalu ketawa. Yang terjadi adalah temenku tersebut langsung memukul beneran orang yang ngerokok tersebut. Suasana yang semula gayeng berubah menjadi hening dan serius.
“Dikandani nek ngrokok nang njaba! Gojek yo gojek, malah kebule ditatapke nang raiku! Asu tenan kowe!” (dibilangin kalau ngerokok di luar! Bercanda ya bercanda, asapnya malah ditiupkan ke wajahku! Anjing lu!) Semua pada tidak menyangka, karena selama ini dia adalah orang yang suka bercanda dan bisa diajak bercanda. Menurut mereka ini hanyalah masalah rokok dan hanya bercanda. Tapi baginya yang seperti itu namanya bukan bercanda.
Di kantor, di departemen kreatif, cuman aku yang nggak ngerokok. Ya ada sih satu copywriter cewek yang nggak ngrokok, tapi dia awalnya perokok berat, dan baru bisa berhenti merokok gara-gara punya momongan. Aku sendiri sebenarnya juga sangat benci dengan rokok. Apalagi kalau yang merokok tak bisa menghormati orang yang bukan perokok di sekitarnya. Kalau melihatnya seperti pengin mukulin kayak temenku tadi, hehe…
Namun masalah sebenarnya adalah, benarkah tindakan yang dilakukan oleh teman Surabaya-ku tadi? Menurutku sih benar (lhawong sudah dibilangin tapi malah ngeledek), tapi karakterku bukan seperti itu. Aku sebenarnya juga pengin mukulin, tapi nggak langsung mukulin, melainkan lebih suka melampiaskannya dengan sesuatu yang lain. Dan aku melampiaskannya dengan membuat iklanTV. Aku tahu, sekeren apapun iklan anti rokok, tetap saja tak bisa membuat orang yang merokok berhenti merokok. Tapi setidaknya TV PSA ini bisa memberi informasi, peringatan, yang bisa menghibur (entertain-gojek). Dan tentunya pelampiasan Toh memang disetiap bulan Mei aku berusaha untuk bikin iklan anti rokok untuk Hari Anti Tembakau Sedunia yang jatuh pada akhir bulan Mei (lihat postingan bulan Mei 2010)
Idenya sebenarnya berasal dari isu lama tentang orang-orang yang sok peduli dengan lingkungan namun tak sadar kalau mereka sendirilah penyumbang pencemaran lingkungan. Mereka para aktivis lingkungan berdemo dengan spanduk-spanduk sambil memegang rokok. Padahal rokok pencemar udara 10 kali lebih dahsyat daripada mesin diesel dan merupakan penyumbang bocornya lapisan ozon. Ide dari artikel tersebut sebenarnya sudah sangat kuat, namun aku tak mau mencomotnya mentah-mentah. Aku berusaha untuk mengemasnya sebagai sebuah gojekan ala Thailand yang sebenarnya tak jauh-jauh amat dengan gojekan ala Srimulatan. Dan ide besarnya kudapat dari temenku Surabaya tadi
Dengan mendayagunakan anak magang dari UPN (Thank’s to Diaz and team), proses pengerjaan iklan ini sangat panjang dan penuh dengan revisi. Harusnya iklan ini mulai proses produksi hari Sabtu tanggal 28 Mei 2011. Berhubung ada acara Media Strategic Planning Workshop yang diadakan P3I dan Fortune pada tanggal 27-28 Mei, maka produksi dilaksanakan justru setelah Hari Anti Tembakau 31 Mei. Akhirnya iklan ini rencana akan ditayangkan pada tanggal 5 Juni yang bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Masih relevan, karena ada isu tentang lingkungan di content iklannya.
Sambutan awal cukup baik, semua suka dan terhibur dengan iklan ini, namun ternyata durasinya terlalu panjang. Iklan ini memang rencananya juga dimasukkan entry Pinasthika, sehingga durasinya haruslah maksimal 60 detik. Maka mulalilah diakukan take ulang dan perombakan skrip-nya. Halangannya pun semakin banyak dari kabel sound yang putus, dan ada saudara dari salah satu kru yang meninggal, sehingga take harus dilakukan di hari berikutnya dan sangat mepet dengan deadline batas tanggal penayangan. Tapi alhamdulillah, hasilnya lebih baik dan sesuai target. Beginilah kira-kira iklannya (tayang dua kali di RBTV)
Sebenarnya dari beberapa karya yang dimasukkan Petakumpet di kategori Bawana Pinasthika, yang paling kuandalkan adalah iklan ini. Namun ternyata masuk finais pun enggak. Aku merasa seperti de javu dengan kejadian dua tahun yang lalu dimana iklan anti rokok yang pernah aku bikin tak ada di list semua entry (lihat postingan terulang kembali, http://husnimuarif.wordpress.com/2009/08/10/terulang-kembali-ada-apa-dengan-quit-tobacco/) Pikirku mungkin jurinya nggak paham saat melihat iklan TV yang nggak ada subtittle-nya. Aku penasaran, karena waktu pengiriman aku sertakan dua file, yang satu hi-res namun nggak ada subtittle-nya, dan satunya low-res dengan subtittle. Mungkin jurinya nonton yang nggak ada subtittle-nya, pikirku. Tapi saat kulihat pas Pinasthika, entry yang masuk finalis kebanyakan kok durasinya lebih dari 60 detik yah? Ealah…
Setelah Pinasthika selesai, aku memasukkan iklan ini ke Citra Pariwara. Sebenarnya dari bos tidak setuju jika iklan ini dimasukkan ke CP, karena sudah gagal di Pinasthika. Namun aku nekat memasukkannya ke entry CP tanpa sepengetahuan bos dengan uangku sendiri tapi atas nama Petakumpet. Maklum kalau entry atas nama perorangan biayanya Rp. 1.500.000 sedangkan kalau anggota P3I biayanya Rp. 700.000. Aku berani menanggungnya. Ini bukan tentang ego, ini tentang tanggung jawab seseorang Director untuk memperjuangkan karya yang telah dibuatnya. Aku tak mau mengecewakan hasil kerja dan semangat yang luar biasa dari kru anak-anak UPN (Cikal). Lagian Petakumpet tak memasukkan satu pun entry di CP.
Beberapa minggu kemudian, aku mendapatkan email dari bos yang katanya dari panitia Citra Pariwara. Awalnya kupikir undangan untuk rangkaian acara CP karena mungkin karyanya masuk finalis. Tapi ternyata surat teguran dari Ridwan Handoyo, Ketua Badan Pengawas Periklanan, yang isinya memberitahukan bahwa entry iklan TV yang dikirimkan melanggar etika sehingga didiskualifikasi dan himbauan agar tidak lagi menayangkan iklan TV tersebut. Pelanggaran Etika pariwara Indonesia Bab III.A No. 1.10 (Kekerasan) yang berbunyi: “Iklan tidak boleh – langsung maupun tidak langsung – menampilkan adegan kekerasan yang merangsang atau memberi kesan membenarkan terjadinya tindakan kekerasan”. Oalah, kenapa ngasih tahunya nggak pas Pinasthika? biar sebelum-sebelumnya aku nggak masukin ke CP. Sebab dulu Ridwan Handoyo pernah melayangkan surat yang sama ke Petakumpet karena salah satu karya ada yang melanggar etika pas Pinasthika 2007.
Namun dari kejadian tersebut justru aku merasa lega dan nggak menyesal sama sekali atas apa yang aku lakukan. Paling tidak rasa penasaran terhadap karyaku terjawab sudah. Lebih baik aku berkorban untuk mendapatkan pelajaran yang berharga daripada tidak mengirimkan entry tersebut dan memendam rasa penasaran yang mungkin akan terus mengusikku. Dan aku yakin pengorbanan ini suatu saat akan diganti oleh Allah kalau kita ikhlas.
Aku juga tak habis pikir, ternyata yang namanya gojek itu relatif dan harus tahu penempatannya. Sebenarnya iklan PSA Anti Tembakau ini kan hanya gojek kere. Adegan mukulnya kan nggak serius, hanya permainan make up, dan pemerannya pun sehat-sehat saja dan tak ada yang dilarikan ke rumah sakit. Yang nonton iklan ini juga nggak ada yang protes. Ini kan mirip-mirip dengan iklan Thailand di bawah ini (referensinya memang dari iklan ini)
Tapi jujur saya sangat berterimakasih atas kepedulian Pak Ridwan yang mau berjuang menegakkan Etika Periklanan agar iklan-iklan yang ada di Indonesia ini bisa lebih berkualitas dalam memberi informasi yang benar kepada konsumen. Hanya saja mungkin Pak Ridwan nggak tahu yang namanya gojek kere. Sebab saya yakin iklan di bawah ini bukanlah gojek dan sangat tidak lucu. Saya tiap hari Minggu kalau nonton kartun selalu melihat iklan ini, dan berpikir: gawat nih, bisa-bisa akan banyak anak-anak yang habis makan permen lalu bunuh diri nyungsep ke jurang!
Entah kenapa setiap kamar sebelah kos ganti penghuni, lagi-lagi penghuninya adalah pasangan suami istri yang baru saja memiliki bayi. Karena dua kamar yang saling bersebelahan ventilasinya digabung, maka tak heran aku sering mendengar percakapan mereka. Kalau dulu pasangan suami-istri yang sama-sama suka bola. Jadi tiap hari yang didiskusiin dan ditonton pasti seputar bola, dan anaknya yang belum genap satu tahun sepertinya menjadi pendengar yang baik, hehe…
Yang menjadi masalah adalah tangisannya malam-malam. Tak ada apa-apa nangis sendiri dan nggak berhenti-berhenti. Kalau yang dulu bapaknya sampai menaburkan garam disekitar depan halaman kamarnya. Katanya anaknya menangis karena melihat makhluk gaib, entah bener atau nggak. Dan anehnya anak ini suka banget dengan lagu Tak Ada Yang Abadi-nya Peterpan, hingga terus diputer berulang-ulang orang tuanya.
Kalau yang sekarang lebih parah lagi. Selain ngompol terus secara tak terduga, sehingga membuat ibunya jengkel (mungkin ibu yang mau ngirit, nggak beli popok) nangisnya nggak cuma malam, tapi kapanpun. Penyebabnya juga nggak diketahui, tahu-tahu nangis sendiri. Ibunya sampai heran sampai bilang “Wah sajen-e entek” (Wah, sesajinya habis) Dan nangisnya tuh berjeda, berhenti sebentar lalu lama-lama kenceng. Sehingga kalau sedang nangis nggak berhenti-berhenti, biasanya aku muter lagu River of Dreams-nya Billy Joel. Berbagai lagu sudah aku coba, tapi lagu inilah yang paling pas mengiringi tangisannya, hehe…
Ada lagi yang unik, anak ini bisa berkata “ayah” kalau mau memanggil ayahnya atau waktu ayahnya pulang kerja. Namun kalau disuruh memanggil “ibu” dia manggilnya “mamah” Padahal ibunya terus-menerus untuk mengajari mengucapkan “ibu” tapi nggak pernah berhasil. Anehnya lagi, nggak ada yang ngajarin anak itu mengucapkan kata “mamah” Ibunya sampai heran “Yang ngajarin kamu ‘mamah’ siapa?” Sebab sehari-hari anak itu bersama ibunya.
Karena jengkel dan nggak berhasil-berhasil mengajarkan mengucap kata “ibu”, setiap anak itu memanggil “mamah” lalu ibunya bilang “Mamah? Mamah gedhang?” (Kunyah? Kunyah pisang?)
Wah bisa untuk bahan #Jawavs Jkt nih, hehe…
Tapi btw, tadi pagi kebetulan aku juga nemu kata “mamah” di slebor belakang sepeda motor seseorang di garasi Petakumpet.
Kata-kata di bawahnya juga unik, mungkin terlalu fasih
Aw, berapa minggu ya aku meninggalkan blog ini? Hehe.. Beberapa minggu ini memang kesibukan dan masalah hampir tak pernah berhenti menyapaku. Lelah? Jelas, tapi aku harus kuat. Karena sebenarnya masalah bukan untuk diselesaikan tapi harus dihadapi. Sehingga aku selalu berteriak “I’m strong… I’m strong…!! I’m stronger than my pain, Allahu Akbar!!!” Tapi ternyata kuat saja tidak cukup. Setelah melewati berbagai problema (jadul banget yah bahasanya) aku baru menyadari kalau ada lagi yang kurang, yaitu bagaimana mengatasi rasa takut. Percuma kalau kuat tapi takut. Yang namanya kuat beneran itu harus bisa mengatasi rasa takut.
Dan kemarin malam dengan kecapekan yang sangat, sampai kos aku langsung terkapar. Namun sebelumnya aku sudah beli nasi kucing dengan sate telur puyuh dan Pop Mie goreng, dan berniat bangun jam 1 pagi untuk makan malam sekaligus sahur melanjutkan Puasa Daud besok Jum’at. Melanjutkan Puasa Daud, karena kemarin Senin sampai Rabu keluar kota untuk syuting iklan (yang ini syuting beneran) Kamisnya langsung dihajar presentasi ke klien. Ternyata dua jam weker tak mempan membangunkanku. Justru aku terbangun gara-gara suara adzan subuh. Lhadalah nasinya gimana ini? Padahal sudah persiapan segala. Ya udah, akhirnya Puasa Daudnya mulai lagi Sabtu aja hehe…
Habis subuhan, aku berusaha mengevaluasi beberapa perjalanan yang telah kulalui sambil berkaca dan berkata “I’m not fear! I’m not fear! I’m not fear of everything! Allahu Akbar!” Hampir sama seperti adegan Spanky pada film seri lawas Little Rascal. Cuman dia nggak bilang Allahu Akbar, dia kan anak jewish alias yahudi. Lalu tiba-tiba ada sms masuk dengan bunyi dering berkali-kali. Setelah kucek ternyata cuman 1 message. Wah pasti ini sms yang panjang (karena dering berkali-kali), lagian tumben banget masuknya pagi-pagi. Isinya seperti ini:
“Bukanlah kesulitan yang membuat kita takut, tapi ketakutan yang membuat kita sulit, karena itu jangan pernah mencoba untuk menyerah dan jangan pernah menyerah untuk mencoba. Maka jangan katakan pada Allah aku punya masalah, tetapi katakan pada masalah aku punya Allah Yang Maha Segalanya” (Mutiara Hikmah disadur dari Sahabat Ali bin Abi Thalib ra)
Kok bisa sama ya dengan keadaanku sekarang yang berusaha mengatasi rasa takut? Apalagi susunannya, copy base banget! Secara, ogut kan copywriter. Aku sangat berterimakasih dengan sms yang bisa menyemangatiku hari ini. Begitu takjubnya dengan sms itu, sampai-sampai aku salah bikin Pop Mie yang seharusnya Mie Goreng malah jadi Mie Rebus. Tapi enak juga dikombinasikan dengan nasi kucing sambil nonton kartun Scooby Doo pagi-pagi.
Biasanya yang mengirim sms seperti ini -panjang dan biasanya pas hari Jum’at- adalah dari PKPU. Tapi ini kok nggak ada awalan <PKPU SMS Center> yah? Ini nomer siapa yah? Yang jelas 2 nomer belakangnya sama dengan nomerku, yaitu 64. Aku nggak tahu kenapa aku sering bertemu dengan nomer belakang 64. Dari nomor ujian, nomor registrasi, dan nomor panjang lainnya. Apa mungkin karena kata nabi usia manusia rata-rata 64 tahun? Termasuk beliau yang meninggal dalam usia 64 tahun (63 lebih berapa bulan) Atau karena lagu the Beatles, When I’m Sixty Four? Sudahlah, yang jelas setelah menerima sms itu langsung aku balas “Keren!” lalu dijawab “Ooow Tentu ” Nomere sopoo iki…
Paginya aku berangkat ke kantor dengan T-Shirt Superman, pokoknya aku merasa sangat kuat dan bersemangat sekali. Kulihat wajahku di kaca dengan penuh optimis, lalu berkata lirih seperti dalam iklan susu Nutrilon Royal:
“I’m not fear…!”
16 Desember 2011 – Aku takkan lupa untuk mengucapkan Selamat Ulang Tahun untuk teman lamaku yang telah mengubah hidupku dan menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Mungkin suatu saat nanti aku akan dolan ke villa-mu yang di pinggir pantai di Lombok, hehe…
Aw, (lagi-lagi) harusnya ini postingan lebih dari seminggu yang lalu. Hari Ahad kemarin, 2 Oktober adalah hari Batik Nasional. Dan bicara soal motif batik, motif yang paling sering diangkat adalah motif kawung. Kawung meskipun cara membuatnya manual, namun ternyata memiliki struktur konstruksi yang geometris dan matematis. Kalau tak salah Intel juga telah mengeluarkan software yang memudahkan untuk mendesain batik. Ada videonya kok, judulnya Batik Fractal yang disutradarai oleh Hannah Hilliard.
Pola batik seperti motif kawung memang sangat arsitektur dekoratif, tapi aku lebih suka menyebutnya dengan Escher. Cobalah untuk melihat gambar motif di bawah. Apanya yang menarik?
Sepertinya biasa saja, namun untuk bisa menyusun, menduplikasi, ditambah dengan meng-invers gambar biar bisa pas seperti ini bukanlah perkara mudah.
Itulah Escher. Untuk lebih jelasnya mengenai Escher bisa dicari di Google.
Escher itu seperti memasukkan prinsip dan konsep yang matematis ke dalam sebuah karya seni. Dengan memainkan shape, figur, ruang, dan warna, yang hasilnya membuat otak berpikir keras. Menakjubkan! Karena karya dari Escher yang terlihat tidak mungkin inilah akhirnya melahirkan cabang matematika yang irasional yang disebut mobius. Dulu waktu SMP aku pernah mempraktekan contoh sederhananya dari majalah MOP lama tahun 80-an. Prakteknya yaitu dengan membagi dua sebuah persegi panjang yang disambung sehingga membentuk melingkar. Namun apa yang terjadi setelah aku memotongnya dan mengikuti alur lingkarannya? Bukannya lingkaran menjadi ada dua, namun tetap satu lingkaran dengan panjang keliling 2 kali lebih besar.
Sebenarnya awal perkenalanku (secara tidak sadar) dengan seni Escher sudah sangat lama. Kira-kira waktu aku mulai kelas 1 SD. Yaitu saat melihat cover buku matematika SMP milik kakakku. Begitu melihat cover itu, aku langsung jatuh cinta dan mulai meniru gambarnya. Namun kemudian lama-lama aku mulai melupakannya. Selepas SMA aku gagal SPMB dan mencoba mengulang lagi setahun. Lalu untuk persiapan ke SPMB berikutnya aku ikut bimbel sambil menyibukkan diri kuliah D1 desain grafis di CITS-UGM. Dan sebelum aku beranjak hijrah ke Jogja, entah bagaimana bisa buku SMP milik kakakku itu seakan memanggilku. Aku mendapatkannya secara tak sengaja setelah mengacak tumpukan buku-buku lama di gudang. Aku mengamatinya lagi cover itu, lalu bergumam “sebuah karya yang luar biasa”. Aku lalu mengguntingnya siapa tahu bisa menjadi bahan untuk kuliah desain grafisku. Sampai sekarang aku pun masih menyimpan potongan itu. Cuma aku lupa naruhnya dimana, hehe… Tapi gambarnya kira-kira seperti ini. Aku sangat senang sekali ketika menemukannya di Google.
Ternyata selama kuliah aku tak pernah menyentuh potongan gambar itu. Aku baru perhatian banget dan mulai mempelajari seni ini saat aku bergabung dengan Petakumpet pada tahun 2007. Gara-garanya adalah saat itu majalah desain grafis CONCEPT sedang mengadakan “Kompetisi 1001 Cover Concept” Hadiahnya pun tak tanggung-tanggung, mobil Chevrolet Kalos. Untuk itulah aku berusaha berhari-hari menemukan rumusan pola guntingan gambar cover itu. Dan ketika menemukannya aku sangat bersemangat sekali dan yakin kalau ini akan menjadi karya yang luar biasa. Konsepnya adalah dengan mengangkat desain tersebut ke dalam motif batik yang orang belum pernah lihat sebelumnya.
Aku lalu mengambil referensi dari bermacam motif batik di buku-buku batik. Kebetulan Petakumpet punya dari hasil hunting di shoping. Maklum, dulu referensi buku batik tersebut sering digunakan Petakumpet untuk mendesain undangan pernikahan. Kebetulan saja aku menemukan motif batik Buraq dengan menara Masjid.
Aha! Ini ide yang brilian! Karena nama acaranya adalah 1001 cover, maka aku korelasikan dengan 1001 malam. Nah, dalam cerita 1001 malam ada sebuah perjalanan ala dunia fantasi yang menggunakan kendaraan yang namanya Buraq. Lalu aku masukkan ‘si Jambul’ (ikon majalah CONCEPT) sedang menaiki Buraq dengan posisi tangannya yang menyimbolkan angka 1001. Sedangkan angka 1001 diwakili oleh duplikasi si Jambul yang sedang menaiki Buraq (meskipun duplikasinya tidak sampai 1001) dan membentuk motif batik. Sangat Indonesia, meskipun mungkin di Indonesia belum ada.
Prosesnya pun sangat panjang, dari sketsa manual dengan perhitungan lekukan kurva yang harus pas pada setiap kotak skala, hingga membuatnya presisi saat diubah menjadi vector di komputer. Dan begitu aku berhasil menyusunnya, rasanya aku seperti seorang ilmuwan digabung dengan seniman maestro yang paling hebat.
Suatu hari dengan agak berlagak sombong, aku bermaksud memperlihatkan karya itu ke CD Petakumpet dulu, Eko Eddisucipto. Kebetulan tempat kerjaku satu ruangan dan dekat dengan beliau. Dan sebelum-sebelumnya kalau sudah selesai kerja, aku minta ijin untuk memakai komputer beliau kalau malam buat bikin Buraq ini. Ketika aku ditanya “Mana desain buat cover Concept yang sudah kamu buat semalam” Lalu dengan agak low profile aku memperlihatkan satu pose si Jambul sedang menaiki Buraq. “Kok cuman gini?” katanya. Hehe, belum tahu die.. Aku memang sengaja mau bikin kejutan. Tunggu saja kalau aku sudah selesai menyusunnya, pasti akan terperenjat!
Tapi ketika aku sudah menyusunnya lalu memperlihatkan ke beliau, “Nih, maksudnya begini lho kalo sudah jadi…” Ternyata responnya biasa saja, sambil menjawab “Oh, kamu mau bikin Escher tho?” Yang kaget malah aku, “He?!! Apa namanya tadi?” “Escher… nih tak liatin di Google Image” Lhadalah! aku memang sudah membuatnya dengan sukses, namun tidak tahu kalau aliran seni semacam itu namanya Escher. Beliau benar-benar CD terhebat yang pernah aku kenal selama ini. Kesombonganku langsung drop ketika aku diliatin karya-karya Escher di Google. Namun beliau memberiku ucapan salut karena aku bisa membuat desain Escher. Karena untuk membuatnya memang sulitnya bukan main, dan beliau belum bisa membuatnya, hehe…
Nah atas saran Pak Eko, akhirnya cover Concept yang aku kirimkan seperti ini.
Meskipun nggak menang dan gagal mendapatkan Chevrolet Kalos, namun alhamduliLLAh masuk desain unggulan. Tapi yang paling penting, aku sangat puas bisa membuat desain Escher.
Awalnya cover yang mau aku kirimkan adalah warna-warni seperti gambar di bawah. Pikirku, kalau seumpama desain Escher itu menang, bisa juga buat backdrop acaranya hehe…
Dan sekali berhasil mendesain Escher, maka rasanya kepingin mencoba lagi dan lagi. Sehingga waktu ada Black Urban Art pada awal 2008 aku mengirimkan karya dengan konsep Escher. Temanya aku lupa, tapi di situ aku gambarkan seorang Dewi Sri yang tertarik oleh pusat energi yang berbentuk segitiga (Segitiga Djarum BLACK) Cuma sayang permainan komparasinya terlihat kurang kontras.
Tapi aku pernah menerapkan konsep Escher ini pada sebuah kompetisi logo Departemen Sosial. Dan alhamduliLLAH menang, meskipun bukan yang terpilih untuk diaplikasikan, hehe…
Sayangnya kini aku tak punya banyak waktu. Kalau saja ada, aku ingin sekali melakukan banyak eksperimen dengan konsep Escher ini. Karena ternyata Escher tak hanya berlaku pada desain saja, tapi juga typografi. Bahkan nama Escher pun bisa dimainkan (bisa dibaca dari dua sisi)
Mungkin istilah ini lebih dikenal dengan nama Ambigram. Kalau kalian pernah melihat film Angels & Demons yang diperankan oleh Tom Hanks, akan ada adegan dengan Ambigram bertuliskan “Earth, Air, Fire, Water” yang bisa dibaca bolak-balik.
Nah, kalau bisa menemukan bentuk tulisannya rasanya sangat senang sekali. Dan sepertinya sekarang malah sudah ada software yang bisa membuat Ambigram secara otomatis, tinggal ketik tulisannya apa. Bahkan Kalau tak salah 2009 lalu, ada seorang desainer grafis yang aktif di milis CCI, namanya Hariadi membuat project ambigram, (kayaknya yang ini manual) bisa klik di http://ambigramproject.wordpress.com/
Aku juga pernah menjajalnya dalam kompetisi desain logo. Yang pertama adalah desain logotype untuk kahitna (grup musik) dan speak, sebuah nama merek dan logo usulan untuk perusahaan telekomunikasi. Namun gagal
Tapi yang paling mengejutkan adalah, ternyata namaku, husny (pakai y) juga membentuk pola Escher secara alami tanpa harus susah-susah memodifikasi hurufnya. Yang akhirnya kujadikan logo dan sekaligus brand identity-ku Well, sepertinya hidupku selalu diliputi oleh pengaruh Escher.