pengusaha gadungan

May 14, 2013

Sudah berapa kali aku jadi pengusaha? Kalau kuingat-ingat sih sudah 3 kali. Tapi bukan pengusaha beneran, cuman gadungan. Kok bisa? Tak lain dan tak bukan adalah untuk jadi model iklan. Ya, saat di petakumpet aku sering dijadiin model iklan, baik itu untuk desain rough buat panduan pemotretan materi iklan, ataupun memang akhirnya (terpaksa) kepakai buat iklan.

Pengusaha gadungan pertama adalah saat klien di bidang properti menginginkan sebuah desain untuk billboard. Aku ingat betul, itu terjadi di akhir tahun 2007 sebelum aku terkena cacar. Klien menginginkan visual manusia emas yang sedang berlari seperti yang ada di company profilenya petakumpet. Maksud dari aksi manusia emas yang tampak seperti bermetamorfosis tersebut adalah untuk ngomongin akan peluang emas di bisnis properti. Ide itu permintaan dari klien sendiri, bukan dari petakumpet. Sebenarnya model manusia emas itu adalah bentuk model 3D yang pernah dibikin Mas Eri waktu petakumpet juga membuka jasa multimedia dan masih berkantor di Gedongkiwo. Kebetulan klien tahu dari company profile-nya petakumpet, dan sangat tertarik dengan desain itu. Nah, masalahnya file asli 3D itu sudah tidak ada. Sebagai gantinya, maka diambillah visual seorang pebisnis muda yang sedang berlari.

Nah, seperti kebiasaan agency di Jogja pada umumnya, untuk menghemat budjet dan waktu, biasanya dipakailah talent-talent yang diambil dari internal untuk jadi model iklan. Seperti biasa, aku selalu kena. Meskipun saat itu aku gondrong, ya tetep aja dipaksain dipakein jas biar terkesan parlente. Jadilah aku seorang eksekutif muda yang gaul karena gondrong. Saat itu untuk menghemat budjet, motretnya pakai kamera digitalku. Yang mendesain adalah Mas Amenth THMD.

 

pengusaha_gadungan_01

 

Saat desain sudah jadi, klien tetep meminta manusia emas yang seperti Silver Surfer itu bagaimanapun caranya. Karena file aslinya sudah nggak ada, maka jalan satu-satunya adalah dengan men-scan gambar dari Company Profile petakumpet, lalu diolah lagi (Digital Imaging) Untungnya hal itu bukan menjadi masalah yang sulit bagi Mas Amenth yang memang dikenal sebagai desainer yang kondang jaya :)

Nah biasanya dalam pemotretan yang dilakukan internal, aku selalu minta yang neko-neko buat pribadi. Salah satunya adalah berpose dengan menggunakan penutup mata satu agar tampak seperti kartunis favoritku Bang GOEN.

 

pengusaha_gadungan_02

 

Kartunis GOEN selalu menggambarkan dirinya di komik ketoprak majalah MOP dengan sesosok sangar yang botak, gondrong, berkacamata satu, tapi tetap lucu. Dan kata andalan yang biasa tertulis di kaosnya adalah MAUT CLUB. Jadilah aku yang seperti dia, tapi tidak berkumis, hehe…

 

maut-club

 

Pengusaha gadungan yang kedua terjadi di tahun 2009. Tepatnya setelah tim kreatif pulang dari Jakarta untuk bertemu dengan klien sebuah perusahaan rokok. Kali ini yang memberi order  adalah KR Bisnis. Sepeninggal almarhum Mantan Direktur Kedaulatan Rakyat, Dr H Soemadi M Wonohito SH, KR group mengalami banyak perubahan manajemen. Saat itu Koran Merapi ditiadakan dan diganti KR Bisnis. Semuanya serba mendadak, hingga konsep idenya tak memerlukan brainstorm. Intinya adalah memperkenalkan sebuah koran bisnis di Jogja yang bernama KR Bisnis. Maka konsep visualnya adalah seorang businessman yang memakai blangkon untuk menunjukkan identitas Jogja. Saat itu Bima (bimalizer) yang diberi tugas untuk meng-handle iklan launch-nya. Saking mendadaknya, bahkan pemotretan dilaksanakan pas weekend hari Sabtu karena Senin harus tayang. Dan Bima sendiri yang memotretnya. Model iklannya siapa lagi kalo bukan aku. Aku ingat betul, saat itu mendekati bulan Ramadlon.

Seperti biasa, setelah pemotretan aku meminta sesi untuk potret pribadi. Dan lagi-lagi memakai penutup mata satu. Saat itu aku ingin tampak seperti tokoh komik Marvel Nick Fury (versi kulit putih)

 

17349-nick-fury_400

 

pengusaha_gadungan_04

 

Tapi tampaknya malah kayak Kolonel Claus von Stauffenberg yang diperankan Tom Cruise di film Valkyrie (hehe, ngaku-ngaku…)

 

stauffenberg

 

pengusaha_gadungan_03

 

Meski berkali-kali aku jadi talent iklan, tak pernah sekalipun aku dibayar. Meski iklan itu akhirnya tayang di media koran (KR), billboard, leaflet, spanduk, roundtag, x-banner, dll. Sampai-sampai saat itu menjadi perbincangan yang ramedi facebook dari mantan teman-temanku kuliah. Bahkan saat aku sholat di masjid Kwarasan, ada ibu-ibu yang biasanya sholat di masjid itu, memperhatikanku lalu pulang mengambil brosur KR Bisnis dan menanyakan apakah itu aku, hehe… Kebetulan anaknya bekerja di Kedaulatan rakyat. Aku pernah menyimpan satu brosurnya, namun diminta anaknya Pak Kosku dan sekarang entah di mana. Tak lama kemudian KR Bisnis tak bertahan lama, hingga akhirnya sekarang Koran Merapi terbit kembali. Mungkin gara-gara karena aku nggak dibayar, hehe…

Pengusaha gadungan yang ketiga adalah saat menjadi model untuk Company Profile CSR Petakumpet pada tahun 2010. Saat itu emang lagi maraknya apa yang namanya CSR (Corporate Social Responsibility) Temanya adalah “Komunikasi dengan Hati” (saat itu juga apa-apa jadi lebih sreg kalo ada kata ‘hati’ hehe..) Idenya adalah komunikasi paling sederhana yaitu visual kaleng dengan tali benang yang tersambung dengan berbagai kalangan dan profesinya, dari pebisnis, anak jalanan, pilot, punkers, sampai simbok-simbok. Untuk nyambungin maksudnya dengan hati (langsung secara visual), maka kaleng yang biasanya komunikasinya dipasang di mulut, kali ini diletakkan di bagian dada.

Nah, saat itu yang jadi pebisnis lagi-lagi aku, hehe… Sayangnya aku nggak bisa minta yang neko-neko karena saat itu menyewa fotografer profesional langganan petakumpet, yaitu Mas Kirman. Padahal saat itu setelanku sudah mirip banget kayak the Beatles, dengan rambut poni dan jasnya. Meskipun proyek ini proyek buat perusahaan, bukan permintaan klien, tapi ditangani secara serius. Yang pertama, pakai fotografer profesional, bukannya pake kamera digital biasa. Dan yang kedua, talent-nya dibayar, termasuk aku. Aku lupa berapa, saat itu kalo nggak 50 ribu ya 100 ribu. Mungkin inilah pertama kalinya aku dibayar saat jadi talent. Aku nggak punya file fotoku, karena file itu ada di kameranya Mas Kirman dan departemen kreatif yang mengerjakannya. Company Profile “Berkomunikasi dengan Hati” ini diganjar Silver di ajang Pinasthika Awards 2010 (kalau nggak salah) Mungkin karena gara-gara aku dibayar, hehe…

Selama beberapa kali aku jadi talent pengusaha, tak sekalipun terbesit di benakku untuk kepingin atau punya cita-cita jadi pengusaha. Aku sama sekali tak tertarik. Bahkan saat itu aku berpikir, apa enaknya sih jadi seorang entrepreneur? Yang kupikirkan hanyalah berkarya, bikin iklan, dan bagaimana aku bisa menyejahterakan diriku dengan pekerjaanku itu. Aku benar-benar menyukai pekerjaanku. Meski beberapa kali pernah melewati masa-masa yang buruk, tapi aku berusaha untuk mencintai pekerjaanku. Aku adalah orang iklan, jiwaku ada di situ. Dan aku sudah merasakan masa-masa kejayaaan ataupun terpuruknya selama hampir 6 tahun. Meski lama di dunia advertising, namun aku merasa masih belum bisa menciptakan sesuatu yang sederhana tapi luar biasa, dan mungkin itu akan dikenang dan ditiru banyak orang.

Dan sekarang di tahun 2013, serentetan pengalamanku menjadi talent pengusaha gadungan pada tahun-tahun sebelumnya seolah mengantarkanku untuk menjadi pengusaha beneran. Tak diduga kini aku menggeluti dunia bisnis. Dunia yang benar-benar baru bagiku, bukan bidangku, dan sama sekali aku tak punya basic di situ. Benar-benar harus mulai belajar dari nol. Dengan merintis mendirikan warung TELAP12, aku hampir tak percaya kalau mau tak mau aku harus jadi pengusaha. Perlu proses yang panjang mungkin, dan tentunya tidak mudah. Namun semoga menjadi pengusaha beneran ini memang benar-benar jalanku, meskipun nggak pakai jas dan berpenampilan parlente kayak pas jadi talent waktu dulu-dulu :)

Barakallahu fii Telap12… Amin

 

pengusaha_telap12

aku melihat pelangi malam ini

April 11, 2013

Islamic Business Coaching episode yang kesepuluh ini tidak seperti biasanya. Biasanya diadakan setiap hari Senin dua mingguan, namun Senin kemarin tidak ada dan diganti dengan Kamis malam. Tempatnya pun bukan di Aula Humaira, tapi di Masjid Nurul Ashri yang tak jauh dari aula biasanya. Asyik banget  kalau masjid dilengkapi dengan LCD seperti itu. Aku nggak sadar kalau celanaku semuanya sedang dijemur, jadi malam itu aku ikutan coaching pakai sarung dengan atasan kaos batik. Dari siang sampai isya’ memang hawanya panas dan gerah, jadi pakai kaos sama sarung terasa isis rasanya. Maka diantara semua peserta yang hadir di situ cuma aku saja yang pakai sarung dan tentunya sempat menjadi pusat perhatian. Karena sudah pakai sarung bawaanya tas. Nggak matcing sama sekali hehe..

Malam itu Ust. Dwi Condro mengkaji tentang Tujuan Hidup Manusia. Materi yang sangat penting karena menyangkut segala perbuatan yang dilakukan manusia termasuk kaitannya dengan melakukan kegiatan bisnis. Ini adalah pondasi untuk kita hidup, yaitu dari mana kita berasal,  untuk apa hidup di dunia, dan akan ke mana setelah itu. Dan kalau dirangkum, sebenarnya kajian dari episode 1 sampai 10 ini merupakan pondasi penting sebelum kita melakukan bisnis. Karena episode berikutnya akan dikaji lebih rinci lagi dan lebih mendalam lagi hingga kita benar-benar siap berbisnis. Bisnis itu tidak hanya di dunia saja tapi berkaitan dengan akherat. Karena setiap bisnis yang kita lakukan akan dihisab, apakah itu halal atau haram, dan ini akan menentukan nasib kita di Hari Akhir nanti.

Ternyata ditengah-tengah kajian tadi sudah gerimis. Hingga kajian berakhir, daerah Deresan masih gerimis-gerimis kecil. Meski gerimis kecil, tapi ketika pulang, aku sudah memutuskan memakai jas hujan. Sarung tinggal aku gulung lagi, karena aku pakai celana pendek. Benar-benar praktis :) Keputusanku memakai jas hujan sangat tepat. Dari Deresan yang hanya gerimis kecil, sampai Pingit tiba-tiba hujan turun begitu deras. Harusnya kalau deras ya sejak tadi, biar sesuai dengan nama daerahnya Deresan, hehe… Begitu berhenti di perempatan lampu merah Pingit, tiba-tiba aku melihat pelangi melengkung mengikuti garis cahaya lampu motorku. Aku melihat begitu jelas garis merah kuning hijau itu. Ini pelangi beneran, bukan pelangi dari lampu bangjo yang error yang pernah kupotret sebelumnya seperti gambar di bawah ini. Kali ini sepertinya nggak bisa dipotret. Mau motret ya gimana, lhawong hujan deras banget.

 

bangjo_error

 

Kukira kalau nanti lampu sudah hijau dan motor jalan, pelangi itu akan hilang. Tapi ternyata garis pelangi itu ada terus melengkung mengikuti garis cahaya lampu depan di sepanjang motorku berjalan. Malam jum’at yang deras itu terasa begitu indah dengan pelangi yang terus ada di depan samping kiri-kanan dari lengkung cahaya lampu motor. Malam yang seolah mengatakan begitu nikmatnya lelah menuntut ilmu itu. Dan motorku seolah merasakannya juga keindahan malam itu. Memang inilah yang sebenarnya dari dulu kuinginkan ketika usiaku menginjak 28 tahun, yaitu mendalami lebih dalam ilmu agama dan hidup untuk berdakwah. Dari yang awalnya waktu aku masih di Petakumpet, aku ikutan halaqoh umum tiap Rabu sore di Syafaat Sharia Marcomm. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk terjun di dunia bisnis untuk belajar dan belajar lebih banyak lagi hal-hal baru yang lebih menantang.

Aku jadi teringat dengan pesan dari Mas Dennis Dinamis (penulis buku Bikin Belajar Selezat Coklat) waktu memberi motivasi di PKPU pada acara beasiswa untuk anak yatim excellent. Ada beberapa hal yang harus kita tingkatkan untuk melejitkan kualitas diri kita. Mas Dennis menyingkatnya dengan SISEF. Spiritual, Intelektual, Sosial, Ekonomi, dan kalau nggak salah yang F adalah Fisik (maklum rada2 lupa) Dan Islamic Business Coaching ini seperti meliputi semuanya, Spiritualnya dapet, Intelektualnya dapet, Sosialnya dapet karena jadi kenal banyak dengan para pengusaha, Ekonomi tentu saja dapet karena ini membahas masalah bisnis, dan untuk Fisik ya lelahnya itu yang bikin badan jadi sehat, hehe…

Semoga Allah memberkahi tholabul’ilmi-ku malam ini dan semoga aku bisa istiqomah untuk menggapai Ridlo-Nya, amiin.

Wah, masih hujan, enak nih capek-capek buat tidur :)

keras kepala

April 3, 2013

Bulan Desember tahun lalu kakakku main ke Jogja untuk melihat-lihat warung TELAP12. Selama aku mendirikan TELAP12, ya baru sekali itu kakakku mampir. Banyak agenda yang kami lakukan diantaranya merenovasi ruko, dari bersih-bersih, menata dapur, beli karpet, dll yang ternyata tak cukup dikerjakan hanya sehari. Kedatangannya cukup membantu, tapi seperti biasa pasti banyak komentar dan kritikan darinya. Padahal dia sendiri belum tahu, bahwa bisnis itu tak semudah yang diucapkan dan direncanakan. Daripada aku sendiri yang mendengarkan semua komentar, maka aku bermaksud mengajak ke seseorang untuk berkonsultasi. Aku jadi teringat pada Mas Edy SR, dosenku dulu. Pengalamannya dalam bidang hal sangat banyak, namun beliau sekarang lebih konsen ke masalah branding dengan brandpreneur-nya. Entah makhluk satu ini sebenarnya spesialisasinya apa, tapi beliau adalah orang yang bisa ngasih advice yang luar biasa sehingga kuanggap sebagai konsultan. Kebetulan Mas Edy ada di Jogja, maka diadakanlah agenda ketemuan di Angkringan Pak Min.

Aku menceritakan semua tentang TELAP12 ke Mas Edy SR dan perkembangannya serta rencana apa yang harus aku lakukan kedepannya. Habis itu kakakku menyela dan menceritakan segala sesuatu yang tidak terkontrol di dalamnya. Dan dia bilang “Masalahnya adikku ini keras kepala Mas!” Heh, apa?! Keras kepala?! Sebenarnya aku nggak terima kalau disebut keras kepala. Entah aku ini keras kepala atau enggak, tapi sebenarnya kakakku itu lebih keras kepala daripada aku. Namun saat itu aku nggak mau protes. Diam saja dan membiarkan semuanya mengalir hingga akhirnya ketemu ujung permasalahannya. Kalau aku langsung protes, berarti aku adalah orang yang keras kepala hanya karena nggak mau dianggap keras kepala (nah lho?).

Mas Edy berbicara panjang mengenai pentingnya sebuah sistem dalam bisnis. Dan ujung-ujungnya yang harus dimulai adalah dengan mengubah habits. Karena menjadi owner pada dasarnya adalah seorang leader yang harus bisa mengatur tim. Menciptakan kekuatan dan budaya yang disiplin untuk kesuksesan bisnis. Dan intinya semuanya kembali pada diri sendiri yang harus mau dipaksa untuk merubah habits. Malam itu akhirnya semua komentar dan kritikan kakakku kepadaku seakan terbungkam dan terjawab oleh pemaparan yang disampaikan oleh Mas Edy SR. Sepertinya kakakku menyadari kalau berbisnis itu ternyata juga nggak segampang yang dikira dan banyak yang harus dilakukan. Dan kayaknya aku nggak salah ketika memutuskan Mas Edy SR sebagai konsultan malam itu. Kenapa? karena sebenarnya Mas Edy SR itu yang aku tahu orangnya keras kepala bukan main. Dibutuhkan orang yang lebih keras kepala untuk mengatasi orang-orang yang keras kepala. Malam itu sebenarnya adalah malam dimana kepala-kepala yang keras saling bertemu  :)

Anyway, sifat keras kepala sebenarnya bukanlah sifat yang buruk. Bahkan justru dibutuhkan untuk bisa mendisiplinkan dan merubah seseorang. Tentunya sifat keras kepala yang positif dan bisa memberikan memotivasi yang kuat. Coba ingat-ingat, waktu kita sekolah siapakah guru yang paling berpengaruh bagi kita hingga kita ingat terus? Tentunya guru-guru yang cerewet dan keras kepala, hehe.. Waktu aku bekerja di peetakumpet, aku juga bertemu dengan atasanku yang keras kepala. Bahkan karena aku keras kepala juga, kami sering berdebat. Meskipun sering pada akhirnya dirikulah yang ikhlas untuk mengalah, hehe.. Apakah itu baik? Baik, asalkan dari semua argumen, semuanya bisa menerima keputusan dengan ikhlas dan tidak berakhir dengan perseteruan serius yang tak berujung. Sekalipun diri kita masih tetep ngeyel :) Tapi pada akhirnya keputusan yang disepakati akan kelihatan apakah keputusan itu baik apa tidak. Dan masing-masing bisa saling menyadari.

Bahkan sifat keras kepala sangat dibutuhkan dalam keluarga. Siapa yang keras kepala, biasanya dialah yang memimpin keluarga. Meskipun pada hakikatnya yang memipin keluarga adalah seorang suami, namun seorang istri yang keras kepala juga bisa mengatur keluarganya. Aku pernah bertemu dengan ibunya Mas Edy SR di Surabaya beberapa tahun yang lalu, dan Mas Edy juga sering cerita tentang ibunya. Ibunya adalah seorang yang keras kepala, tapi ternyata itu bisa mendidik, mendisiplinkan, dan berguna bagi anak-anaknya. Almarhumah ibuku pun juga sama. Kuakui, ibuku adalah seorang pemimpin di keluargaku. Dan jelas, ibuku adalah orang yang keras kepala. Keras dan omongannya nylekit. Apalagi ketika melihat anak-anaknya yang sedang malas dan nganggur.

Ibuku sangat keras dalam mengatur waktu. Apa yang bisa dikerjakan sekarang, kalau bisa semuanya ya dikerjakan sekarang. Sama seperti slogannya Nike, the time is now! Waktu, bagi ibuku sangatlah berharga. Rugi besar kalau melewatkan banyak waktu dengan tidak melakukan apa-apa. Termasuk menunda-nunda pekerjaan yang sudah menjadi kebiasaan burukku (mungkin sampai sekarang, hehe..) Ibuku sangat tidak suka melihat orang yang menghabiskan waktu tanpa berbuat apa-apa kecuali untuk istirahat karena capek bekerja. Pernah pas hari libur, ibuku baru pulang dari pasar lalu mendapatiku baru bangun tidur sore, beliau bilang “Ditinggal dua jam, malah buat tidur? Dua jam itu kalau sekarang sudah sampai Semarang tauk?! Kernet bisa dapet lima ribu rupiah!!” Itu adalah kritikan nylekit dari ibu yang dilontarkan padaku karena tidak menggunakan waktu buat nyapu rumah, ngepel, mandi, atau sholat, dll. Selalu begitu. “Satu jam nggak ngapa-ngapain? Satu jam tuh sudah sampai Kudus!” Terus aku jawab “Iya, dua ribu lima ratus! Dapet kecap satu botol” hehe… Begitulah aku, selalu ngeyel meskipun aku tahu kalau aku salah.

Dan salah satu sifat orang yang keras kepala adalah ngeyel (nggak mau kalah) Meskipun tahu dan sadar kalau dirinya salah, tapi akan selalu mencari celah. Pokoknya nggak mau kalah, namanya juga keras kepala. Nah, dalam hal waktu, entah kenapa sampai sekarang aku butuh orang yang keras kepala untuk mengingatkanku agar tak menyia-nyiakan waktu. Berkali-kali disadarkan, biasanya balik lagi. Dengerin lagunya Raihan yang ‘Demi Masa’ biasanya aku sadar dan bangkit, tapi lama-lama kumat lagi. Pernah aku mendapat suatu quote yang sangat berharga dengan gambar jam pasir bertuliskan “Jangan siakan waktumu, karena kamu tidak bisa membaliknya” Quote itu benar, tapi yang namanya orang keras kepala pasti akan selalu ngeyel. “Siapa bilang aku tidak bisa membalikkan waktu? Waktu itu kan jam? Kata siapa jam tidak bisa dibalik?” Maka jadilah seperti ini jika kalian mampir di warung TELAP12.

 

abekonde_clock

 

Entah itu maksudnya apa, tapi yang jelas hiasan itu untuk mengingatkanku dan semua orang agar tidak menyiakan waktu. Dan juga sebagai tanda, kalau aku ini orangnya keras kepala, hehe…

Nggak juga ah :)

SMP itu lucu

March 17, 2013

Itu adalah judul dari majalah KAWANKU tahun 90-an (saat itu ada tokoh stil-nya) yang saat ini masih aku ingat-ingat terus. Isinya mengulas segala sesuatu kelucuan saat masuk periode SMP. Aku tak ingat banyak, karena saat itu aku masih SD. Artikelnya sebenarnya nggak terlalu panjang, dan yang paling aku ingat adalah SMP itu seragamnya lucu. Kalo SD pakai celana pendek, SMA pakai celana panjang, maka SMP celananya nanggung. Sampai di majalah itu dibuat ilustrasinya. Dan hal itu benar-benar kualami waktu SMP.

Waktu SMP kulihat banyak yang suka sekali pakai celana pendek di bawah dengkul, seperti celananya tukang cendol keliling. Sampai-sampai saat itu ada aturan sejauh mana panjang celana pendek SMP. Sehingga yang terjadi adalah, celana yang pendeknya terlalu panjang (lucu banget yah kalimatnya?), dipendekkan dengan cara bagian yang panjang dilipat lalu dijahit. Anak SMP justru malah suka dengan gaya itu yang menurut mereka trendy, terus saku belakangnya jahitannya dibikin seperti saku celana jeans. Lalu saat upacara diumumkan lagi bahwa celana pendek tidak boleh ada lipatan, tapi dipotong lalu dijahit. Welah!

Yang lebih norak lagi adalah trend saat itu. Sudah celananya bawah dengkul, trus pakai kaos kaki sepakbola sampai hampir di atas dengkul. Mungkin kalau untuk sholat jauh lebih tertutup auratnya. Ditambah pakai topi dengan bagian penutupnya yang ditengadahkan ke atas lalu dikasih tulisan pake Tip-X. Satu kata untuk trend itu, wagu!

Meski jaman sekarang sudah banyak berubah, tapi SMP tetep aja lucu. Kalau dulu kelas 1,2,3, sekarang namanya kelas 7,8,9. Celana anaknya Pak Kos-ku warnanya juga biru, tapi celana panjang, bukan celana pendek yang nanggung. Dan kelucuan yang tidak akan berubah adalah saat transisi menuju masa puber alias masa-masa ABG. Masa SMP adalah masa dimana kita merasa sudah tidak anak kecil lagi. Sudah mulai menyukai lawan jenis dan mulai mengenal pacaran (anak TK aja sudah tau kok, hehe..) Apalagi jaman sekarang ada hp. Aku merasakan perbedaannya saat anaknya Pak Kos main ke kamarku. Dulu nonton film dan ngakak bareng, sekarang ditontonin film malah sibuk sms. Sedikit-sedikit badannya dipalingkan ke samping, hp-nya ditaruh di sebelah kanan atau kiri pinggang lalu sms-an, agar tidak diketahui dia sms apa. Sampai-sampai ayahnya akhirnya tidak mengijinkan dia memiliki hp karena isinya rayuan gombal semua. Pernah suatu ketika Pak Lik-nya datang main, lalu ketika pulang, Pak Lik-nya nelpon kok ada sms mesra di BB-nya. Aku ngakak! Lha siapa lagi kalo bukan anaknya Pak Kosku? Bisa-bisanya curi-curi kesempatan pake BB Pak Lik-nya.

Ciri khas yang tak pernah berubah dari masa SMP adalah sifatnya yang sok dan suka ikut-ikutan. Sok pake istilah gaul, sok pake bahasa Inggris, sok jago, dll. Suatu hari ketika aku baru saja membuka pintu kamar, anaknya Pak Kos yang mau berangkat sekolah memanggilku “Mas…!!” Aku pun menoleh. Dengan wajah yang sok jagoan dia menunjuk ke arahku sambil berkata “You are next!” Waduh, apalagi nih maksudnya? Next disini apakah dia habis mengalahkan lawannya kemudian aku yang selanjutnya? Sepertinya sih begitu. Tiap ketemu aku dia selalu begitu, menunjuk ke aku sambil bilang “You are next!” Sampai lama-lama suatu hari dia capek dan bertanya padaku sambil bawa kamus “Mas, you are next itu maksudnya apa sih, kok di kamus artinya kamu selanjutnya?” Waaa-gubrak! Tiap hari You Are Next tapi nggak tahu apa maksudnya! Ternyata dia ikut-ikutan teman-temannya, katanya kalo udah ngucapin gitu kelihatan keren. Aku waktu SMP juga sok pake kata-kata bahasa Inggris, tapi ya nggak seperti ini nulisnya.

 

nexs

 

SMP juga sudah mulai galau. Tapi yang sekarang kayaknya tingkat galaunya kelewat akut. Waktu trend galau sedang memuncak-muncaknya, setiap aku berangkat ke masjid bersama dia, dia selalu menepuk pundakku sambil berkata “Sing sabar Mas” Benci banget aku kalau dia melakukan itu. Nggak ada apa-apa, dia menepuk pundakku dan bilang Sing sabar Mas. Bikin mood yang sedang hepi jadi galau, apalagi kalau memang galau beneran. Pernah suatu hari aku ngeliat dia sedikit-sedikit mengecek hp-nya lalu gelisah. Mungkin sms-nya nggak dibales-bales. Kalau jamanku mungkin melihat surat yang dikirimin ke target ditemukan kembali di tempat sampah, hehe.. Wajah gelisah itu terus menyertainya kemanapun. Suatu hari pas aku sholat berjamaah isya’ dia ada disampingku. Aku merasa ada aura galau yang sangat dalam dirinya. Dari tadi murung dan gelisah terus. Dan benar saja, ketika rakaat kedua imam belum menyelesaikan suratnya, entah apa yang dia pikirin sampai-sampai dia membatalkan sholatnya, geleng-geleng sebentar, lalu takbir lagi mengulang sholatnya. Dan dalam perjalanan pulang dari masjid, sebelum menyeberang jalan, aku tepuk-tepuk pundaknya dan bilang “Sing sabar yo..” Lalu aku tambahin lagi  “Cewek itu emang begitu, nggak usah dipikirin” langsung dihantamkan pecinya ke aku, hehe..

Yang lebih lucu lagi adalah, waktu SMP suka bikin kelompok atau slogan-slogan yang entah apa maksudnya, habis itu dibikin stikernya. Coba ini apa maksudnya? Ah, pokoknya SMP itu lucu deh!

 

sahabat-palsu

keyakinan

March 17, 2013

Habis dari warung  TELAP12 -Setelah mendapati beberapa kali lampu hijau dari Jl. Kusumanegara, kali ini aku tertahan di turunan perempatan Badran. Menunggu 99 detik. Padahal tadi hampir saja bisa kukejar lampu hijau itu dan mencatatakan rekor melewati 8 lampu hijau. Kumatikan mesin sepeda motorku, di depan ada asap dari sampah yang dibakar di tepi trotoar. Aku merencanakan saat lampu sudah hijau nanti, aku akan melewati asap itu dengan keren seperti di film Ksatria Baja Hitam. Detik ke 17, kunyalakan mesinku. Lampu sudah hijau, aku melaju kencang dengan senyuman percaya diri melewati asap itu. Ah, aku lupa menutup kaca helm. Uhuk-uhuk! Jadinya malah nggak keren.

Disepanjang perjalanan pulang setelah melewati asap itu, aku jadi teringat dengan masa kecilku. Aku sangat suka sekali dengan asap. Ketika melihat ada sampah yang di bakar di blumbang (kubangan untuk sampah-sampah) aku suka bermain-main dengan asap itu. Aku melompatinya beberapa kali dengan beberapa aksi. Ada yang seperti seorang jagoan dalam film, atau penyanyi rock di atas panggung. Dan tahukah? Aku suka melahap asap waktu itu. Hap-hap, asap-asap itu masuk ke dalam mulutku. Tak hanya itu aku kadang suka melahap asap yang keluar dari knalpot angkutan Isuzu yang berbahan bakar diesel. Dan yang paling aku suka adalah asap dari kompor sumbu setelah ditiup (untuk dimatikan). Aku suka baunya. Bahkan pernah ketika kepalaku pusing, dengan menghirup asap itu, aku jadi nggak pusing lagi. Hingga akhirnya kebiasaanku itu ditentang oleh keluargaku karena bisa berbahaya. Lama-lama aku meninggalkan kebiasaanku itu.

Pertanyaannya adalah, apakah aku sakit setelah menghirup asap itu? Ternyata tidak, padahal asap karbon dari hasil pembakaran tersebut sangatlah berbahaya. Mengapa bisa begitu? Jawabannya adalah keyakinan. Aku yakin ketika aku menghirup asap itu tidak akan terjadi apa-apa. Bahkan aku yakin ketika aku menghirup asap dari kompor sumbu, pusing kepalaku jadi hilang. Aku tidak berpikir apa-apa, hanya yakin saja. Namanya juga masih kecil, beda dengan saat kita dewasa. Saat dewasa kadang keyakinan kita masih dibayangi oleh rasa takut dan keraguan-keraguan.

Kalau dikonversikan di dalam kehidupan nyata, itu seperti orang gila di jalanan. Lihatlah orang gila yang makan dan minum apa saja. Kadang makan makanan dari sampah, minum air kali, bahkan ada yang makan dedaunan yang disobek dari entah itu tanaman apa di pinggir trotoar. Dan mereka sehat-sehat saja. Lebih sehat daripada orang-orang yang menjaga pola makanan sehat tiap hari tapi tetap saja kena penyakit jantung atau stroke. Lihatlah siapa yang lebih bahagia dan suka tertawa, hehe… Mereka tidak berpikir saat memakan atau meminum apa saja, karena mereka yakin itu tidak membahayakan dirinya.

Nah, bicara soal keyakinan, aku jadi teringat dengan ilmu rejeki yang disampaikan oleh Mas Firly, owner bubur Syarifah di acaranya Sharing Bisnis Makelar Sedekah (lihat postingan sebelumnya). Dalam memulai berdagang atau berbisnis, buatlah bisnis itu jadi REJEKI Anda. Dan dalam ilmu rejeki, kuncinya adalah keyakinan. Yakini dulu bahwa rejeki itu dari Allah. Lihatlah seekor cicak, apakah makanannya? Nyamuk. Nyamuk punya sayap sehingga bisa terbang, tapi apakah cicak perlu sayap hingga akhirnya bisa terbang mengejar dan melahap nyamuk? Nggak perlu. Dia hanya fokus pada rejekinya itu, berikhtiyar dan mengejar terus, hingga akhirnya rejeki itu mendekatinya, dan hap! Lalu ditangkap :)

Setiap makhluk yang hidup di dunia ini, rejekinya sudah dijamin Allah. Lihatlah gajah. Gajah itu vegetarian, makannya rumput. Tapi bagaimana bisa badannya gede kayak gitu coba? Pohon, apakah dia berpindah atau berjalan untuk mencari makan? Tapi bisa tumbuh dan besar, bisa hidup puluhan tahun. Kalau sudah tahu begitu, kenapa kita sering putus asa atau mengeluh? Kita saja rejekinya sudah dijamin oleh Allah sejak 120 hari di dalam kandungan lho. Masih kurang bersyukur apa coba kita sama Allah? Mengapa kita tidak malu sama ibadah kita dimana kita sudah merasa ibadah kita itu bagus? Padahal ibadah kita tak cukup membayar rizqi-Nya dan usaha kita pun tak sebanding dengan karunia-Nya.

Hakikatnya kalau kita yakin sama Allah, apapun ikhtiyar kita harus tunduk sama perintah-perintahNya. Rejeki memang sudah dijamin sama Allah, kita tinggal menjemputnya. Tapi menjemput itu kan harus dengan usaha atau ikhtiyar. Kalau tujuan hidup kita adalah untuk mengabdi kepada Allah, jadikan usaha kita bernilai ibadah. Bagaimana menyikapinya? Ya dengan tawakkal. Kita harus selalu menyertai tawakkal kita dari sebelum, pada saat, ataupun setelah kita melakukan usaha. Yakin aja deh, sertakan Allah dalam setiap usaha kita, maka Allah pasti bakal ngasih rejeki banyak ke kita.

Tapi ada kalanya kita terlena dan lalai dengan keyakinan kita akan siapa yang ngasih rejeki. Habis isya’ tadi aku baru sampai di warung TELAP12. Harusnya sedari sore, tapi aku kena biduran sejak bangun pagi. Aku lupa kalau malam itu malam minggu, jadi akan sangat ramai sekali di TELAP12. Melihat biduranku sudah agak mereda, aku segera melaju ke TELAP12. Awak TELAP12 sepertinya butuh bantuan. Dan benar, malam itu ramai banget, aku segara berbaur dengan kesibukan melayani pelanggan. Malam itu, setengah sembilan malam garnis sudah habis, sehingga kita harus menolak banyak pelanggan yang datang. Nggak sampai jam sepuluh kita sudah tutup.

Ternyata ramenya sudah sejak jam 4 sore. Si Bosiran tak sekalipun bisa berhenti sejenak memasak, kecuali dipotong oleh sholat maghrib. Bayangkan, menyajikan 90-an porsi Mie Persis dan berdiri terus selama 5 jam. Bisa-bisa masuk rekor MURI. Sambil memasak, dia bilang ke aku yang sedang sibuk mencuci tumpukan piring yang menumpuk. “Aku tadi nggak sempat sholat ashar, tahu-tahu sudah adzan maghrib” Aku langsung terhenti sejenak. “Wah jangan diulangi, cari rejeki ya cari rejeki, tapi ya jangan ninggalin sholat. Lha yang ngasih rejeki emang siapa?” Rupanya dia disibukkan oleh pekerjaannya melayani pelanggan. “Lha biasanya kan kamu minta ijin sholat dulu toh sama pelanggan?” imbuhku. “Iya, tapi tadi pelanggannya banyak, tahu-tahu sudah adzan maghrib”

Lalu aku jawab, “Ya sudah, pokoknya besok kamu kudu meng-qodlonya. Soalnya yang dosa bukan kamu saja, aku juga kena tanggung jawab tauk! Lha yang punya ide ndiriin TELAP12 siapa? Dan sekarang TELAP12 sudah membuatmu lalai sholat” Untung saja saat maghrib dia sempat maghriban. Tujuanku mendirikan TELAP12 adalah untuk mencari berkah bareng-bareng. Aku sangat bersyukur sekali ketika dulu pegawaiku ada yang nggak sholat, sekarang sholatnya sudah mulai rajin. Hanya dengan ngasih contoh sholat tepat waktu dan meninggalkan semua pekerjaan saat adzan sudah berkumandang, perlahan bisa meyakinkan bahwa rejeki itu yang ngasih Allah. Aku juga beruntung melihat Al-Qur’an terletak di atas kardus pakaiannya pegawai baruku bersanding dengan sajadah. Dan aku yakin itu bukan untuk pajangan, ngapain juga majang Al-Qur’an di atas kardus? Alhamdulillah pegawai yang baru ini bekerja dengan baik. Semoga kejadian lalai sholat ini tidak terjadi lagi, dan semoga keberkahan terus mengalir untuk kami semua.

Astaghfirullah wa Barakallah..

(belumlah) telat

March 11, 2013

April 2007, saat itu aku baru saja pindah kos dari Blimbing Sari ke Ngabean Godean. Anaknya Pak Kos yang pertama baru saja naik ke kelas 3 SD. Dia suka main ke kamarku disusul adiknya yang manis banget. Tak ada rasa sungkan sekalipun, dia masuk disaat melihatku sedang santai membaca komik di hari Minggu. Suatu saat dia melihat majalah ANIME yang mengulas banyak tentang Naruto. Aku sering mendapatkan majalah itu karena dapat paket kiriman dari Japan Foundation atas keikutsertaanku dalam pameran karikatur. Entah mungkin sekarang masih atau enggak, karena alamatku sudah pindah. Dulu aku sering dapat sms dari anak kos di Blimbing Sari tiap bulan, kalau ada kiriman dari Japan Foundation. Sekarang anak-anak yang ngekos di Blimbing Sari sudah pada pindah semua.

Nah, anak Pak Kosku itu suka sekali Naruto, hingga tiap kali main pasti cerita tentang Naruto. Cerita tentang shibuden atau apa, aku tak tahu istilahnya. Yang jelas dia memeragakan jurus-jurus dengan tangannya seolah-olah ada siluman yang bakalan keluar. Melihat aku punya majalah ANIME yang saat itu mengulas Naruto melulu, dia sangat senang sekali, bahkan akhirnya majalah itu kuberikan ke dia. Suatu hari anak Pak Kos yang pertama ini memintaku untuk menggambarkan tokoh-tokoh yang ada di Naruto. Ada Sakura, Sasuke, Tenten, Gara, dll, aku nggak hapal semuanya. Aku gambar di kertas HVS ukuran A4. Awalnya disket pakai pensil lalu aku tebelin pakai Drawing Pen dengan permainan arsir dan blok hitam. Dia sangat suka gambar itu, karena aslinya gambar yang kucontoh dari majalah ANIME sangat kecil. Seninnya saat mau berangkat sekolah, dia perlihatkan hasil fotokopian gambarku. Aku tak tahu mengapa gambarku difotokopi.

Minggu berikutnya dia memintaku menggambarkan tokoh-tokoh yang ada di Naruto lagi. Kemudian Senin malam dia mampir ke kamarku untuk ngasih uang seribu. “Mas ini bayaran buatmu” katanya. Aku jadi bingung dan berkata “Heh, nggak perlu, lhawong cuman nggambarin begitu kok, gampang bagiku..” Terus dia bilang “Bukan itu Mas, ini dari hasil keuntungan” “He? Keuntungan apa?” Lalu dia njelasin “Gambar Naruto Mas Husni aku fotokopi seribu, dapat sepuluh lembar. Satu lembarnya aku jual ke temanku seribu. Besoknya yang pesen jadi banyak!”

Meskipun lama-kelamaan teman-temannya akhirnya bosan dengan gambar fotokopian itu, sehingga kemudian dia menghentikan aktivitas-(bisnis)nya itu, tapi aku salut ke dia. Bayangkan, seorang anak kelas 3 SD bisa memperkerjakan seorang lulusan D3 Komunikasi Advertising UGM! (yang cumlaude lagi). Apa nggak malu kalo udah sekolah tinggi-tinggi, lama lagi bertahun-tahun, bisa-bisanya diperintah anak yang baru berumur 8 tahunan.

Saat itu pikirku hanya begini; Welah! Pinter kali ini anak, baru kelas 3 SD sudah pandai mencari peluang untuk bisnis. Mungkin bakat itu menurun dari ayahnya yang pekerjaannya hanyalah sebagai distibutor teh, bekerja mulai jam 08.30, jam 11.30 sudah pulang, tapi punya usaha beras yang tiap minggu menjual puluhan karung.

Sudah begitu saja, dan kejadian itu tidak menyadarkanku sama sekali untuk bergerak melakukan usaha. Mungkin hal itu wajar, karena saat itu aku baru pertama kalinya merasakan kerja setelah lulus kuliah.

Ingatan itu kembali menyadarkanku ketika aku mengikuti Sharing Bisnis yang diadakan oleh Makelar Sedekah di markasnya di Jl. Parangtritis hari Rabu kemarin. Saat itu pengisinya adalah Mas Firly pemilik bubur Syarifah yang sudah memiliki 3 cabang di Jogja (kalau tidak salah). Temanya adalah: Meski Nasi Sudah Menjadi BUBUR, Tiada Kata Terlambat untuk Memulai Usaha. Sengaja dikait-kaitkan biar ada kata ‘bubur’nya hehe… Beliau menjelaskan dan menyadarkan semua yang hadir di situ, ketika berdagang merupakan sunnah nabi, mengapa sampai sekarang masih menunda-nunda untuk memulai usaha? Tak perlu pakai ilmu ekonomi atau teori lain yang selalu berubah, kuncinya hanya menggunakan yang namanya ‘ilmu rejeki’. Dan hanya dengan meyakini kalau rejeki itu dari Allah, lalu berikhtiar, semuanya jadi mudah dan berkah. Dari situ kita diajarkan untuk menghilangkan paradigma kita sebagai pegawai atau pekerja kantoran dan saatnya jadi pengusaha. Karena dengan berdagang, sebenarnya intinya adalah agar bisa berdakwah dan bermuamalah seperti yang dilakukan nabi.

Pikiranku saati itu langsung flashback kemana-mana. Kenapa nggak dari dulu-dulu yah? Padahal dulu aku sudah diingatkan sama anaknya Pak Kos? Kenapa baru mulai usaha setelah bekerja kurang lebih 6 tahun? Kenapa baru sekarang? Sungguh tahun-tahun yang sia-sia! Bukankah waktu kuliah dulu aku juga pernah punya produk yang sampai sekarang masih tertahan di HAKI? Aku merasa telat dalam memulai usaha dibandingkan dengan teman-teman yang ada baru semester 2 sudah punya usaha online yang maju. Tapi kalau dipikir-pikir lagi ternyata everything happens for a reason. Allah itu punya skenario yang luar biasa.

Kalau dirunut kembali dari perjalananku mendirikan TELAP12, aku jadi ngerti kenapa ide yang seharusnya sudah ada waktu kecil itu baru bisa terealisasi sekarang. Ternyata memang harus melalui sebuah proses yang panjang dulu. Bukankah saat aku mendirikan TELAP12 modalnya adalah dari tabunganku selama bekerja di petakumpet? Bukankah ilmu strategi, promosi, penelusuran target konsumen, dan yang berkaitan dengan semua itu kudapatkan dari pengalamanku bekerja di petakumpet?

Dulu saat aku mendirikan TELAP12 dan masih sambil bekerja di petakumpet dengan gaji yang boleh dikatakan lumayan, yang akhirnya baru bisa kudapatkan di akhir tahun 2011 (dulu diperjuangkan mati-matian nggak dapet-dapet) aku mendapati buku berjudul “½ Karyawan, ½ Bos” yang dipromosikan di milisnya CCI (Creative Circle Indonesia) Buku panduan bagaimana agar kita bisa berbisnis tanpa harus meninggalkan pekerjaan kita sebagai pegawai dengan gaji yang sayang kalau dilepas. Buku yang sangat menarik. Aku merasa beruntung karena sudah melakukannya lebih dulu (dengan TELAP12) sebelum buku ini terbit. Hanya saja masih belum selancar yang kuharapkan.

 

setengah-bos-karyawan

 

Tak diduga setelah lebaran departemen kreatif melakukan resign berjamaah. Dan seperti tanpa berpikir panjang aku memutuskan untuk ikut resign meninggalkan pekerjaanku meski gajinya cukup lumayan. Kakakku tak setuju dengan keputusan yang kuambil. Aku tak tahu apakah tindakanku itu benar atau salah. Hingga lama-lama aku tersadar kalau punya usaha yang disambi, atau setengah-setengah, maka hasilnya ya setengah-setengah pula. Dan aku harus meninggalkan jauh-jauh paradigmaku sebagai pegawai selama ini. Nggak bisa setengah bos, setengah karyawan lagi. Kalau jadi bos ya jadi bos, kalau jadi karyawan ya jadi karyawan. Fokus. Lhawong usaha itu yang nyiptain aku sendiri masak harus disambi? Lalu apakah buku itu kemudian jadinya nggak berguna? Ya tetep berguna. Aku bisa belajar bagaimana mengelola keuangan secara sederhana (yang sekarang masih belum aku aplikasikan, hehe) dan masih banyak lagi tentang bisnis. Malah kalau aku baca, buku ini sebenarnya justru mengajak pembaca untuk memilih menjadi pengusaha.

 

financederhana01financederhana02

 

Setelah kejadian itu, semuanya seperti serba terhubung dengan sendirinya. Aku secara tak sengaja bertemu dengan pengusaha pemilik bakpiapia, Mbak Rizna dan akhirnya bergabung di JCI (Junior Chamber International) hingga bisa belajar banyak dari pengusaha-pengusaha yang sudah sukses. Bertemu dengan pengusaha-pengusaha yang masih mahasiswa HIPMI-PT.  Lalu belajar banyak ilmu bisnis dari acaranya Makelar Sedekah. Tak hanya itu, ada yang tak kalah menarik, yaitu Islamic Business Coaching yang diadakan 2 minggu sekali oleh Ust. Dwi Condro dimana kita dilatih untuk menjadi Muslimpreneur. Karena bisnis itu bukan hanya menyangkut profit, tapi urusannya sudah akhirat (surga-neraka) Bagaimana agar setiap langkah usaha kita mendapat berkah dan manfaat  yang nyata dengan menghindari yang namanya riba.

Dan tak terasa 9 Maret kemarin TELAP12 sudah genap berumur satu tahun. Alhamdulillah, usaha yang semula dari kaki lima kini bisa menempati ruko, dan semakin hari semakin ramai. Melihat perkembangan Januari-Februari kemarin, pencapaian pun sudah melampaui apa yang kita targetkan setiap bulan. Padahal sebelumnya mendekati target aja susaaah banget… Perlahan TELAP12 sudah mulai dikenal masyarakat Jogja, menjadi tempat destination para pecinta kuliner dan dengan sendirinya mulai diliput banyak media. Tapi seperti biasa, masih banyak PR yang harus dikerjakan untuk mengejar banyak keter tinggalan. Harus bikin sistem, aturan main, pendelegasian pekerjaan, dll. Masih banyak belajar, dan belumlah telat.

Dunia entrepreneurship menjadi semakin menarik bagiku. Sepertinya Allah memiliki cara tersendiri. Jangan-jangan termasuk urusanku dalam menikah. Kenapa harus berputar-putar dulu, kenapa nggak dari dulu? Seperti halnya cerita bisnis, sepertinya yang ini punya cerita yang tak terduga dan tak kalah menarik juga, hehe…

Year One

February 23, 2013

Tahukah darimana Jepang bisa memiliki sebuah gagasan untuk membangun pangkalan dan landasan pesawat di tengah laut? Inspirasinya berasal dari lukisan seorang anak kecil yang mengikuti kompetisi melukis tingkat Asia. Impian dari seorang anak didik Kartika Affandi (anaknya sang maestro Affandi) dengan lukisannya yang berjudul “Rumahku Terapung di Laut”. Ingatkah Thomas Alva Eddison pada waktu kecil  yang sangat penasaran pada terangnya api hingga akhirnya membuat kebakaran gudang? Kini penemuannya dinikmati oleh orang di seluruh dunia. Atau bagaimana impian Walt Disney pada waktu kecil sehingga sekarang keajaiban itu bisa banyak dinikmati banyak orang lewat animasi Walt disney dan Disneyland?

Gagasan yang brilian biasanya adalah gagasan yang muncul saat kita masih kecil. Bagaimana tidak? Karena saat kecil pikiran kita masih murni tak terjamah oleh berbagai macam kepentingan dan kebutuhan. Pikiran kita masih bebas dan penasaran dalam menyikapi apa yang ada di sekitar kita waktu itu. Menginjak dewasa kebutuhan kita semakin kompleks hingga akhirnya pikiran-pikiran kita kemasukan berbagai macam pengaruh dan kepentingan. Gagasan itu menjadi tidak cemerlang dan orisinil lagi.

Sejak aku mendirikan warung Mie persis TELAP12, aku menyadari, kenapa impianku waktu kecil itu baru muncul kemudian di akhir tahun 2011? Kenapa nggak dari dulu-dulu? Tapi aku memahami bahwa ketertundaan itu adalah proses yang membangun dan mengantarkanku untuk mewujudkan impianku waktu kecil itu. Dan disinilah aku berusaha untuk mengumpulkan kembali gagasan-gagasan masa laluku yang mungkin sudah terkikis oleh bermacam-macam kepentingan.

TELAP12 hampir memasuki tahun yang pertama di awal Maret nanti. Proses renovasi dan dekorasi mulai dikerjakan sedikit demi sedikit. Aku jadi teringat dengan gambar tempel BATMAN waktu SD dan masih kusimpan saat ini. Sungguh aku punya gagasan saat melihat stiker itu, dan ini yang ingin kueksekusi dari dulu. BATMAN YEAR ONE-nya Frank Miller, penulis, artist, dan juga sutradara yang sukses dengan film 300 dan SIN CITY.

 

stiker_BATMAN_vintage

 

Sekitar tahun 70-80an komik BATMAN mengalami masa kejayaan atau boleh dikatakan sebagai “Silver Age” dengan cerita yang lebih serius dari Denny O’Neil. Goresan Neal Adams atau Dick Giordano begitu mendominasi pada tahun itu. Hingga muncullah BATMAN versi Frank Miller dengan artist David Mazzucchelli lewat BATMAN YEAR ONE. Sebuah karya yang berani mendobrak pakem saat itu, baik ceritanya maupun artistiknya. Mazzucchelli memberikan sentuhan karakter yang kuat danlebih humanis. Di Indonesia komik BATMAN Year 1, 2, 3 pernah diterbitkan oleh Midas Surya Grafindo (MISURIND) pada  tahun 90-an. Sungguh aku sangat menyesal karena tidak membelinya saat menemukan salah satu komik tersebut di shoping (sebelum pindah di samping Taman Pintar)

 

deluxe_batman_year_one_2012

 

Entah ini kebetulan atau apa, pada tahun 2011 BATMAN Year One dibikin animasinya. Aku membelinya dan menontonnya  sampai berulang kali. Ini adalah perjalanan Batman sejak awal pada tahun pertama dimana cerita dari film Batman Begins banyak diambil dari komik karya Frank Miller ini.

 

batman_year_one_animated

 

Aku pun menghubungkannya dengan perjalanan tahun pertama aku merintis TELAP12. Dan ketika aku search gambar BATMAN YEAR ONE di Google, muncullah ikon dari goresan Mazzucchelli yang sama dengan stiker yang aku punya waktu SD. Aku langsung berkata; aku akan mengeksekusinya di TELAP12! Aku tunjukkan gambar ini kepada para awak TELAP12, mereka langsung setuju. Aku jadi bersemangat.

 

BatmanYearOne

 

Jadilah BATMAN Year One yang menandai perjalanan tahun pertama TELAP12. Ikon the BATMAN Mazzucchelli tersebut menjadi kelambu untuk menutupi ruangan dapur yang nggak sedap dipandang jika dilihat dari luar. Ini memang jauh dari tema konsep TELAP12, tapi semua setuju dengan eksekusi itu. Satu lagi gagasan waktu kecil yang akhirnya terealisasi pada tahun ini.

 

the-BATMAN

 

Beberapa pelanggan banyak yang memotret sesososk the BATMAN itu. Jika kalian mampir ke TELAP12 dan mau ke toilet kalian akan melewati jubah the BATMAN seolah masuk ke dalam jubahnya the Phantom Stranger. Insya’Allah kedepannya itu akan menjadi jalan utama menuju lantai atas yang sekarang baru direnovasi.

 

nuwunsewu_betmen

 

Masih berantakan memang. Anggap saja memasuki Bat-Cave alias sarang guanya the BATMAN :) Tapi setidaknya kalau malam, suasana di TELAP12 akan aman terkendali. Ya, karena ada the BATMAN yang mengawasi, hehe…

 

the_batman_watching_on

 

Laziale Indonesia part 2

February 18, 2013

Desember yang lalu aku tak sengaja ngecek gmail yang jarang sekali aku buka. Jarang ada orang yang ngirim email ke alamat gmailku. Paling yang ada hanyalah notificationdari twitter,  atau siapa yg gabung ke lingkaran G+. Tak diduga ada sebuah email masuk dari seseorang. Dia memberitahukan kalau emailnya yang di yahoo bermasalah. Tapi yang jelas isi dari email itu adalah tentang pesanan sandal Laziale Indonesia setahun yang lalu. Astaghfirullah! Ingatannya hebat juga ni orang…

Kira-kira akhir tahun 2011 yang lalu ada banyak yang memesan untuk dibuatkan sandal-art swallow. Kalau nggak salah yang antri ada empat orang. Aku menolak semua orderan tersebut dengan halus karena aku diberi tanggung jawab baru di petakumpet, sehingga jelas tak ada waktu luang untuk mengerjakan cukilan sandal itu. Hingga akhirnya aku bilang ke beberapa orang itu dengan pernyataan ‘kalau ada waktu’ dan ‘harus antri dengan yang lain’  Dan benar, saat itu aku memang tidak ada waktu luang. Apalagi saat itu aku disibukkan dengan mendirikan usaha kuliner TELAP12.

Kebetulan yang pesan sandal Laziale Indonesia ini ada pada urutan pertama antrian. Dia tahu saat search di Google Image dengan kata kunci Laziale Indonesia lalu didapatkanlah gambar sandal jepit Laziale Indonesia di blog-ku yang berjudul memberi lebih (http://husnimuarif.wordpress.com/2010/08/10/memberi-lebih/) . Aku membuatnya sebelum puasa pada tahun 2010. Yang pesan adalah orang Bandung, gara-gara sandalku jadi Hot Threat di KASKUS pada awal 2010. Dan sekarang pesanan itu hadir kembali menagihku setelah sekian lama.

Aku tak bisa menolaknya untuk yang kedua kalinya. Alasannya adalah yang pertama, aku sudah resign dari pekerjaanku di advertising. Yang kedua, aku sudah pernah membuat sandal itu sebelumnya, jadi tinggal membuatnya lagi. Tapi yang namanya bikin cukilan sandal itu susah sekali dibuat duplikasinya, karena harus manual. Itu semacam lukisan yang hanya bisa dibuat sekali. Selain itu aku masih disibukkan oleh sisa pekeerjaan freelance dan merenovasi warung TELAP12. Tapi karena saat itu aku baru saja menyelesaikan satu sandal (dan satu-satunya di tahun 2012 ini) yang kubuat untuk seseorang, aku jadi merasa bersalah dan egois kalau tidak memenuhi pesanan itu.

Alhamdulillah pesanan itu untuk akhir Januari (dan baru diambil malam minggu kemaren, hehe…) Jadi Desember yang super sibuk tersebut, aku bisa menyelesaikan pekerjaan freelance dan karikatur untuk nikahannya temanku dengan tenang. Setelah itu baru aku mengerjakan sandal Laziale ini. Aku selesaikan dalam waktu 4 hari dipotong urusan warung TELAP12. Dulu font Laziale-nya dicariin oleh bimalizer, kali ini aku minta usulan font dari abdee dan emyr namarov. Dan akhirnya terpilihlah usulan dari abdee yang sebenarnya sudah dipersiapkan setahun yang lalu saat pesanan sandal Laziale itu, hehe… Sori ‘n thank’s myr, maybe next time. Beginilah jadinya.

 

Laziale

 

Tapi sepertinya nggak afdol kalau kuperlihatkan hasilnya saja. Aku ingin memperlihatkan proses pembuatannya dari awal. Yah, sekedar berbagi ilmu, siapa tahu bisa menularkannya, biar kalau ada pesanan banyak, bisa di-outsource-kan ke orang lain. Masak aku terus? Yang lain juga dong :) Terus terang bikin sandal ini nggak gampang. Ini adalah pekerjaan seorang artist  yang nggak semua orang mau melakukan pekerjaan ini (ya iyalah, kalo nggak gitu nggak dinamain artist) Ini semacam tutorial dan boleh dikatakan rahasia besar yang harus aku perlihatkan. Tapi lebih dari itu, ini tentang bagaimana melatih kesabaran, keikhlasan, dan rasa syukur. Tiga kata yang selalu ada ketika aku memulai nge-twit :)   Ikuti kisah selanjutnya, di slice and dice! http://husnimuarif.wordpress.com/2013/02/18/slice-and-dice/

slice and dice

February 18, 2013

Aku nggak nyangka kalau pekerjaan mencukil sandal jepit bisa menjadi sebuah pekerjaan yang memberikan kepuasan dan apresiasi tersendiri. Apalah artinya sebuah sandal jepit? Toh di masjid banyak juga sandal jepit dengan cukilan nama-nama pemiliknya. Tapi mereka cuman sekedar ngasih tanda, bikin-nya nggak serius, apalagi dengan sepenuh hati :) Sejak pertama kali aku mencoba dan membuatnya, aku menyadari kalau barang remeh-temeh apapun itu, kalau dipermak dan diperlakukan dengan baik (dan penuh keikhlasan hati), akan menjadi sesuatu yang spesial dan layak diapresiasi.

Entah sudah berapa kali aku bikin art-swallow. Yang jelas aku ingin share pengalamanku bagaimana membuat sebuah karya seni pada media sandal jepit dengan baik dan benar :) Web-web di luar yang memajang karya-karyaku sebelimnya yaitu Tribute to Teguh Santosa (http://husnimuarif.wordpress.com/2010/06/19/a-tribute-to-teguh-santosa/) menyebutnya sebagai flip-flop art. Aku merasa seperti akulah yang memulai (dengan pengerjaan yang serius) jenis seni ini, sehingga sudah menjadi kewajibanku untuk menyebarkannya. Ilmu tak akan berguna kalau tidak di-share dan diajarkan ke yang lain, bukan begitu? Tapi sebelum aku memberikan tutorial, aku akan memberitahu dulu bahwa kunci atau rahasia dari semua ini adalah kesabaran. Jadi ini adalah tutorial yang dikhususkan buat orang-orang yang sabar. Bagi yang belum sabar atau sudah merasa sabar, tutorial ini cocok sekali untuk melatih kesabaran Anda :)

Dalam membuat gambar cukilan di sandal jepit, alat yang diperlukan adalah pensil mekanik (dan penghapus) untuk menggambar di alas sandal, cutting pen untuk mengiris, dan pinset untuk mengangkat bagian yang mau dicukil. Nah prosesnya sebenarnya mudah, tinggal kita gambar apa kita inginkan di atas sandal dengan menggunakan pensil mekanik, lalu mengirisnya dengan cutting pen, dan mengangkatnya dengan pinset, selesai. Lalu bagaimana biar hasilnya bisa bagus dan detail? Ya dikerjakan dengan sabar. Begitu saja tutorialnya, mudah bukan? :)

Tapi kali ini aku akan menunjukkan sebuah proses bagaimana agar bisa membuat tulisan, logo, atau gambar, dengan rapi dan presisi, serapi bikinan dari mesin atau hasil olahan komputer. Kali ini yang akan kujadikan contoh adalah desain Laziale Indonesia part 2. Awal aku membuat Laziale Indonesia, aku sangat kesusahan bagaimana agar bisa menggambar logo Lazio dengan rapi, baik lengkungan maupun ukurannya yang presisi, memindahkannya ke dalam sandal dengan cara manual. Apalagi kalau sudah menyangkut font tulisan. Dari pengerjaan desain Laziale yang pertama itulah akhirnya aku mendapatkan cara yang lebih mudah dan cepat daripada cara sebelumnya yang menceritakannya saja aku malas. Cara ini sebenarnya sama dengan cara membuat stiker cutting manual.

Pertama adalah, siapkan desain logo dan font di komputer. Biasanya sih aku path dulu dalam bentuk vector ke dalam Corel Draw, lalu sesuaikan ukurannya dengan area sandal. Biasanya agar ukurannya tepat, aku potret sandal jepit dari atas, lalu aku transfer dengan ukuran skala sebenarnya ke dalam komputer. Setelah itu desain logo aku atur di atas gambar sandal tersebut  untuk melihat tingkat keterlihatan dari berbagai sisi.

 

Laziale-2-00

 

Gambar tersebut lalu di-mirror (dibalik) lalu di-print.

 

Laziale-2-0

 

Laziale-print

 

Mengapa harus dibalik gambarnya? Bagaimana agar gambar desain tersebut bisa ter-deliver dari komputer ke atas permukaan sandal? Nanti kamu akan tahu jawabannya.

Setelah di-print, tibalah ke proses yang lumayan sulit dan membutuhkan kesabaran, yaitu bagaimana biar gambar hasil print bisa berpindah ke atas sandal. Yang perlu dipersiapkan adalah Boxy atau Drawing Pen Snowman ukuran 0.1 dan sampul bening buku (samak plastik). Letakkan sampul bening ke gambar hasil print, lalu selotip bagian pinggirnya agar tidak bergeser posisinya. Lalu mulailah duplikasi atau membuat mal-nya dengan di-blat menggunakan boxy.

 

Laziale-2-2

 

Ini membutuhkan konsentrasi dan ketelitian tinggi agar garis gambar yang diciptakan boxy tidak bergeser dan bisa pas sama dengan gambar hasil print. Dan sekali lagi, dibutuhkan kesabaran. Kadang aku memerlukan cahaya tambahan dari lampu belajar agar bisa melihat dengan detail arah garisnya. Ini seperti pekerjaan tukang bedah di ruang operasi. Penuh kehati-hatian dengan keringat yang perlahan-lahan keluar membasahi kening. Sampul plastik dan boxy ini sangat-sangat sensitif. Tersentuh sedikit saja, goresan boxy yang sudah jadi, bisa hilang tersapu kulit karena tak sengaja. Kalau garis yang kita ciptakan salah atau melenceng dari garis yang ada di print, maka tinggal dihapus saja dengan jari, tapi jangan sampai mengenai garis yang sudah benar, atau harus mengulangi lagi dari awal. Makanya harus dipikirkan dari arah mana untuk memulai nge-blat agar tak terkena gerakan tangan kita. Posisi tubuh juga dibuat senyaman mungkin, karena proses ini membuat pergelangan tangan dan leher pegal. Jika sudah terbiasa, maka tanpa penggaris pun kita bisa membuat garis lurus, membuat lingkaran pun bisa sangat mulus.

Setelah proses nge-blat selesai, angkatlah sampul plastik itu dan potonglah hingga didapat mal-nya saja.

 

Laziale-2-3

Laziale-2-4

 

Siapkan selotip kertas, dan balutkan dengan rapi pada permukaan sandal jepit.

 

Laziale-2-5

 

Kemudian baliklah sampul plastik mal tadi, sehingga gambar yang terbalik menjadi tidak terbalik lagi dan posisi goresan boxy berada di bawah. Tempel, lalu atur posisinya. Selotip bagian pinggir-pinggirnya agar tidak bergeser.

 

Laziale-2-6

 

Setelah itu gosok-gosok semua garis outline dari hasil boxy tersebut dengan pensil mekanik. Nah, nantinya tinta boxy yang dari sampul tersebut akan berpindah ke selotip kertas. Pastikan semua garis sudah tergosok.

 

Laziale-2-7

 

Angkat sampul plastik tersebut, dan tadada… Logo Lazio sudah ter-deliver ke sandal. Nah, kini sudah tahu kan jawabannya? :)

 

Laziale-2-8

 

Hwew! Ternyata susah ya untuk mindahin gambar desain dari komputer ke sandal.

Selanjutnya,  saatnya Slice and Dice Spud!

 

Laziale-2-9

 

Dalam proses menyayat (ngeri banget bahasanya) Dalam proses mengiris, posisi terbaik mata pisau cutting pen adalah tegak lurus dengan permukaan sandal jepit. Irislah dengan pelan dan menjiwai seolah kau menyatu dengan sandal itu. Nikmatilah proses itu, maka kau akan mendapatkan ritmenya. Nikmati saat mata pisau berjalan perlahan mengikuti garis outline, baik garis lurus atau lengkungan, begitu juga saat menghunjamkan bagian yang detil dengan lembut, ahh…(lebay yah?)  Ini seperti pekerjaan seorang koki dalam meracik masakan, atau seorang pilot yang menerbangkan dan mendaratkan pesawat dengan sangat mulus sehingga perjalanan terasa sangat menyenangkan,  ataupun juga seorang komposer dalam menggubah musik nan indah.

 

Laziale-2-10

 

Jangan terburu-buru, nikmatilah, bahkan saat kau mencabut bagian demi bagian dengan pinset. Kelihatannya mudah, tapi proses ini lama sekali dan sama susahnya atau mungkin lebih susah daripada memindahkan mal dari hasil print ke sandal. Dan sekali lagi dibutuhkan kesabaran agar tercipta ritme pekerjaan yang menyenangkan.

 

Laziale-2-11

 

Jika semua sudah teriris dan terangkat oleh pinset, saatnya melepaskan selotip kertas dari sandal itu.

 

Laziale-2-12

Laziale-2-13

 

Lihatlah hasilnya. Kau seperti baru saja mengoperasi plastik wajah seseorang dan tak sabar melihat hasilnya. Dan ketika semuanya dikerjakan dengan baik, hasilnya… Sempurna! Ternyata hasil dari kesabaran itu sangat indah ya? :)

 

Laziale-2-14

Laziale_01

Laziale_02

Laziale_03

 

Sudah begitu? Masih bisa lagi. Setelah sabar, selanjutnya adalah syukur. Caranya? Dengan memberi nilai lebih pada setiap hasil pekerjaan kita. Pikir apa ada yang bisa diberikan lagi sehingga karya itu menjadi karya yang tidak hanya sempurna, tapi juga sebuah karya masterpiece. Melihat bekas kelupasan karet sandal yang tak terpakai, ternyata bisa dimanfaatkan lagi. Bekas cukilan tulisan Laziale sangat sayang kalau dibuang, sehingga aku berniat untuk menempelkan lagi pada bagian bawah sandal sama seperti yang kulakukan pada sandal Laziale yang pertama.

 

Laziale_04

 

Hanya saja kali ini menempelkannya memakai lem Castol, sedangkan sebelumnya memakai Alteco yang langsung keras dan tak bisa menyatu dengan karet sandal.

 

Laziale-2-15

 

Nah habis itu jadi bingung, bekas cukilan yg bagian bawah mau buat apa yah? Apa mau ditempelin di bagian atas? Hehe…

 

Laziale_05

 

Bekas cukilan lain yang lumayan luas bidangnya  pun bisa dimanfaatkan menjadi ikon Lazio yaitu elang yang kebetulan aku dapatkan gambarnya di Google Image.

 

Laziale-2-16

 

Hanya main garis-garis, tapi keren lah :)

 

Laziale-2-17

Laziale_07

Laziale_06

 

Jika kita bersyukur dengan memberi lebih pada setiap pekerjaan kita, maka hasil dari pekerjaan kita pun akan dihargai lebih pula. Kita pun akan mendapatkan apresiasi yang lebih. Bagaimana kalau tidak? Ya selanjutnya kita harus ikhlas :) Kok jadinya seperti setiap aku memulai nge-twit yah? SABAR- SYUKUR -IKHLAS? hehe.. Selain bekerja keras dan bekerja cerdas, bekerja dengan ikhlas akan membuat kita begitu mencintai pekerjaan kita. Bukankah hakikat dari mencintai itu adalah mengikhlaskan? Just let it go. Ini untuk memastikan bahwa ada semangat bertawakkal  saat melakukan sesuatu, baik pada sebelum, saat, maupun setelah melakukan pekerjaan. Toh kalau sandal ini belum bisa dihargai lebih, paling tidak bisa memberikan informasi dan ilmu melalui tutorial di blog ini yang nilainya mungkin jauh lebih bermanfaat. Ikhlas itu kalau diuraikan panjang sekali, padahal ini kan sekedar tutorial, kok bisa ngomongin sampe ke situ. Hehe…

Semoga bermanfaat :)

 

 

 

revisi undangan

January 25, 2013

Terereng-stet-stet…. tutut-tuut-tut… stet-ste<

Halo, assalamu ‘alaykum?

Wa ‘alaykumsalam, bro ada revisi bro. Alamat akad sama tasyakurannya ganti lagi. Ganti di gedung Golkar

Lah, kan udah naik cetak?

Bisa diganti gak bro kira-kira?

Ya susah…

Trus gimana bro ada solusi nggak?

Bisa sih ditutupin sama stiker alamat baru, disamain warna backgroundnya

Hmm ribet yah bro?

Atau gini… biar gak repot alamat yang di undangan nggak usah diganti. Biarin aja gitu…

Terus?

Nanti kalau para undangan sampai di alamat rumah, dikasih papan gedhe dengan tulisan “Akad nikah & tasyakuran pindah ke gedung Golkar”. Lalu mereka akan gembruduk berduyun-duyun menuju lokasi… hehe…


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.