#JawavsJkt (4)

May 23, 2012

Mungkin yang keempat ini akan menjadi yang terakhir meski belum terkumpul 57 #JawavsJkt. Karena biasanya kalau sudah sampai 57 twit #JawavsJkt, baru aku posting semua di blog . Kalau dijumlah dari yang pertama sampai keempat ini, semuanya terkumpul 201 #JawavsJkt, dan kalau dikumpulkan di Word ada sampai 9 pages. Jumlah yang cukup lumayan sebagai pembendaharaan khasanah bahasa antara bahasa Jawa dan bahasa Betawi.

Sebenarnya aku nggak ingin mengakhirinya, karena berakhir di bagian keempat itu kayak di film-film aja. Namun lama-kelamaan aku mulai kesulitan menemukan padanan kata dengan arti yang berbeda itu. Kalau dulu hampir setiap buka twitter pasti nemu dan sedang semangat-semangatnya, tapi kini tidak lagi menjadi habit setiap aku twitteran (kecuali twit ikhlas :) ) Dan aku merasa itu adalah pertanda yang akhirnya kelihatan kemarin. Makanya hari ini aku ingin mengakhirinya. Sebenarnya aku mau membiarkannya terkumpul 200 #JawavsJkt biar genap, tapi entah tiba-tiba di akhir #JawavsJkt terlintas kata MAINTENANCE dari obrolan bahasa Jawa MAIN TENAN.

Kayaknya tanda itu benar, yang namanya hubungan itu perlu sebuah ‘maintenance’. Dan sepertinya aku gagal. Tapi setidaknya aku mengakhirinya dengan baik. Hubungan yang tercipta dengan baik kalau mau mengakhirinya harus dengan baik pula. Selamat menikmati koleksi #JawavsJkt yang terakhir.

  1. Org Jawa:”Wah mantep ki hp-ne! suoro bass-e MAIN TENAN!” | Org Jkt:”Emang gimane cara MAINTENANCE suara bass?” #JawavsJkt
  2. Org Jawa:”Wah motore nek parkir ngawur! Mosok MALANG ngene? Aku raiso liwat!” | Org Jkt:”Darimane lu tau itu plat MALANG bro?” #JawavsJkt
  3. Org Jawa:”Cah magang kuwi enak’e DIAPA’KE?” | Org Jkt:”Emang DIA PAKE apa?” #JawavsJkt
  4. Org Jawa:”Tak tunggu nang perempatan BANGJO Mas” | Org Jkt:”Siape tuh BANG JO? Gue kagak kenal!” #JawavsJkt
  5. Org Jawa:”Tiket-e terbatas lo, nek rak cepet iso ora KUMAN” | Org Jkt:”Etdah, dimane2 juga ada KUMAN! Mau cuci tangan dulu lo?” #JawavsJkt
  6. Org Jkt sms:”Klo ada kritik, gue OPEN2 aja bro” | Org Jawa bales: “Arep OPEN2 opo Mas? Open kucing opo iwak mas koki?” #JawavsJkt
  7. Org Jawa:”Wah motore anyar yo? Melu BUNGAH aku” | Org Jkt:”Sarap lu ye, motor keren gini mau dikasih BUNGA. Emang gue melambai?” #JawavsJkt
  8. Org Jawa:”TIMBANG kesel, mending numpak motor wae Mas” | Org Jkt:”NIMBANG motor? buat apaan?” #JawavsJkt
  9. Org Jawa:”Ojo JANGKAR nek karo wong sing wis SEPUH” | Org Jkt:”JANGKAR macam apaan pake diSEPUH segala?” #JawavsJkt
  10. Org Jawa:”Bapakmu wis KAJI durung Mas?” | Org Jkt:”Ada urusan ape lu mau mengKAJI babe gue? mau dijadiin penelitian?” #JawavsJkt
  11. Org Jawa:”Mas wingi ono kebakaran! Genine gede bgt nganti BULAT-BULAT!” | Org Jkt:”Wuih bagaimana bisa BULAT tuh apinya?” #JawavsJkt
  12. Org Jawa:”Mas, usahamu isih MELAKU KAN?” | Org Jkt:”MELAKUKAN apa bro?” #JawavsJkt
  13. Org Jawa:”Mas kula nyuwun JERAM anget nggih…” | Org Jkt:”di warung nggak ada arung JERAM bego!” #JawavsJkt
  14. *Jawa halus dlm logat banyumasan. Org Jawa:”Oh, NIKI TA?” | Org Jawa:”Lu nggigau NIKITA WILLY ya bro?” #JawavsJkt
  15. (belajar bhs.INA) Org Jawa:”Wah sinarnya bikin mataku jadi BELERANG!” | Org Jkt:”Busyet ajaib bener?” *maksude BLERENG #JawavsJkt
  16. (belajar bhs.INA) Org Jawa:”Orang itu KENDAL ya? berani lawan ombak!” | Org Jkt:”Oh,KENDAL? Bilangnya asli Garut” *maksude KENDEL #JawavsJkt
  17. Org Jkt:”Bro bahasa jawa halus-nya bePERGIan apa bro?” | Org Jawa: “berTINDAK!” #JawavsJkt
  18. Org Jkt:”ORA ET LABORA itu bahasa mana sih?” | Org Jawa:”Kayane bhs.Jowo Mas. Mgkn maksude ORA ENTUK mlebu LABORATORIUM” #JawavsJkt
  19. Org Jawa: “Nek ora ono sendok’e, MULUK wae…” | Org Jkt: “Apanya yang MULUK-MULUK bro?” #JawavsJkt
  20. Org Jawa:”Nek wani macem2 tak KETHAKI…!” | Org Jkt:”KENTUCKY? Boleh nih, lu kan yg nraktir?” #JawavsJkt
  21. Org Jawa:”Nek teknik’e mung koyo ngono, iso aku.. SIPIL!” | Org Jkt:”Hah? lu anak Teknik SIPIL? Kirain Komunikasi..” #JawavsJkt
  22. Org Jkt:”Rencananya besok Whitney dimakamkan, semua pada DUKA NII..” | Org Jawa:”Sinten sing diDUKANI Mas? #JawavsJkt
  23. Org Jawa:”Monggo lo Mas, NYUBI jajan pasar…” | Org Jkt:”Busyet, jajan pasar aja ada NEWBIE segala..” #JawavsJkt
  24. Org Jawa:”Woo… CAH mBELING!” | Org Jkt:”BELING mana yg mau dipecah bro?” #JawavsJkt
  25. Org Jawa:”Asli, rasane TONJO tenan Mas!” | Org Jkt:”Siape yang mau diTONJOK?” #JawavsJkt
  26. Org Jkt:”Lu tau apa itu Red Skull?” | Org Jawa:”Sego Abang Mas, Red kwi abang, Sekul kwi sego. Sedep tenan Mas” #JawavsJkt
  27. Org Jawa:”Jam piro SAIKI?” | Org Jkt:”He? Jam kok SAIKI?, pasti itu KW-nya SEIKO ya bro…” #JawavsJkt
  28. *dlm logat banyumasan. Org Jawa:”Enteni ndisit yak, mengko aku MRANA…” | Org Jkt:”MERANA? Merana karena ape bro?” #JawavsJkt
  29. Org Jawa:”Nek kathah kula mboten KIYAT Mas…” | Org Jkt:”Emang lu mau ngasih KIAT2 ape?” #JawavsJkt
  30. Org Jawa:”Ndi sing rusak? Kene tak BENAK-ke..” | Org Jkt:”Emang yg ada di BENAK lu ape bro?” #JawavsJkt

Apakah benar-benar sudah habis?

Entahlah :)

TELAP12 the untold story

April 30, 2012

Apa yang kau cari kadang ada di dekatmu. Tapi untuk ketemu kau butuh berjalan jauh lebih dulu.

Itu adalah tweet dari Prie_GS pada tanggal 12 Maret dan membuatku tersadar kalau ternyata perjalanan panjangku selama ini hanyalah rangkaian kebetulan yang sudah terbentuk dari sejak aku kecil. Dan aku tak tahu mengapa kebetulan itu tidak terlintas di benakku dari dulu-dulu.

Prelude

November. Semua berawal ketika aku terbangun pada tengah malam dan tiba-tiba saja terlintas sebuah postinganku di blog yang berjudul tertidur dengan pulas, http://husnimuarif.wordpress.com/2010/09/01/tertidur-dengan-pulas/ Entah bagaimana bisa begitu. Pikiranku langsung flashback ke masa kecilku ketika ibuku mau membuatkan Sarimi untukku. Aku ingat betul tampilan bungkus Sarimi yang berwarna merah itu, dan juga mangkok bening dengan banyak tonjolan apel kecil yang mengelilingi pinggirnya dan sablonan dari dalam pada bagian bawah berlogokan Indomie. Hatiku sangat senang saat itu dan membayangkan akan makan mie seperti yang ada di tampilan bungkusnya. Paling tidak mangkok bening Indomie itu membuatku sangat yakin meskipun saat itu aku tak menyadari kalau merk-nya beda. Mangkoknya saja dari Indomie, persislah pokoknya, pikirku saat itu.

Namun ketika mie-nya sudah jadi, hasilnya sangat berbeda jauh dari tampilan bungkusnya. Dan yang terjadi, jelas sebuah kekecewaan besar, apalagi bagi seorang anak kecil yang bayangan dan imajinasinya sangat tinggi. Tertipu bagi anak kecil sangatlah tidak baik, jadi jangan ajarkan pada anak-anak. Tapi paling tidak mangkok bening Indomie itu bisa mereduksi kekecewaanku saat itu. Hingga kemudian aku punya mimpi kalau saja aku kaya, aku akan bikin pabrik mie instan yang mana saat orang bikin maka hasilnya persis sama bungkusnya. Dan malam itu aku teringat kembali dengan mimpi itu. Aku mulai berpikir, rasanya tak mungkin aku bisa mewujudkan mimpiku bikin pabrik mie persis. Lha uang darimana coba?

Tunggu dulu! jika kau tidak bisa merealisasikan mimpimu, kamu bisa merealisasikannya lewat jalan yang lain. Masih ada banyak jalan! Idemu memang immposibble, tapi pikir secara realistik mana yang possible bisa dieksekusi! Kalau aku tak bisa mendirikan pabrik untuk membuat mie yang sama dengan bungkusnya, bukankah aku bisa merealisasikannya dengan menyajikannya? Buka warung Mie Persis dan mulailah berwirausaha! Guoblok tenan! mengapa tak terpikir dari dulu?!!

Malam itu aku serasa mendapatkan wangsit, lalu bersemangat untuk bergegas ke belakang, ambil air wudlu, dan sholat Tahajjud. Biasakanlah mendirikan sholat malam, karena inspirasi besar kadang tercipta di 1/3 malam terakhir itu. Aku biasanya kalau dapat inspirasi besar itu setelah atau pas sholat Tahajjud, tapi ini malah sebelum sholat malam. Allah memang Maha Bercanda, hehe… Ambisiku untuk segera merealisasikan rencana bikin Mie Persis sangat besar. Kalau nggak segera dieksekusi keburu idenya diambil orang lain. Dan tentunya aku nggak bisa merealisasikan rencana itu sendirian. Aku perlu seorang partner. Partner yang benar-benar bisa dipercaya. Itu bukan hal yang mudah…

 

The Power of Silaturrahim

Berhari-hari di kantor pikiranku selalu terusik dengan rencanaku itu. Masalahnya mencari partner yang bisa dipercaya itu nggak gampang. Lhawong mendirikan bisnis keluarga saja kadang saudara makan saudara kok. Tiba-tiba saat itu aku mendapatkan sms dari Budi, teman lamaku di CITS-UGM (sepertinya aku pernah menjanjikan cerita soal CITS-UGM). Mengabarkan kalau putranya (eh putra atau putri ya?) baru saja lahir. Pikiranku langsung flashback lagi ke acara reuni CITS-UGM.

Ceritanya setelah lebaran 2011 kemarin aku berusaha untuk mengumpulkan anak-anak CITS-UGM angkatan 2002 yang masih di Jogja. Ya sekedar sharing-sharing, cerita-cerita, dan makan-makan (jelas), siapa tahu bisa menghasilkan sebuah rencana besar. Reuni ini sebenarnya tanpa ada perencanaan, hanya lewat sms. Tempat ngumpulnya pun diputuskan mendadak, nggak ada booking dulu, dsb. Yang penting bisa buat ngumpul saja. Maka jadilah rencana ketemu di tempat semacam warung wisata kuliner sebelah timurnya Galeria. Tak ada yang tahu ternyata di sana kini telah berubah. Dulu banyak warung-warung makanan yang berkumpul jadi satu, namun kini yang ada hanyalah tempat parkiran luas. Ada sih segelintir warung yang bertahan, itupun karena letaknya yang berada di pinggir jalan dekat lampu merah.

Mulailah semua berdatangan satu-persatu. Bayanganku akan ada sepuluhan orang, namun ternyata yang bisa datang saat itu hanyalah enam orang, cowok semua lagi! Aku hampir tak percaya, tak banyak yang berubah setelah berpisah delapan tahun lebih lamanya. Hanya dua orang yang sudah menikah. Setelah dirasa tidak ada yang akan datang lagi, mulailah mencari tempat lagi yang enak untuk ngumpul-ngumpul. Tak seorangpun yang menawarkan sebuah referensi kuliner yang menarik malam itu, hingga akhirnya aku memutuskan untuk ke Kedai Poci Unik (KPU) di Condong Catur. Itu karena aku pernah tiga kali ke sana.

Setelah pesan makanan dan minuman, ternyata tak ada obrolan yang menghasilkan sesuatu. Padahal saat itu aku membawa produk yang mungkin bisa dijadikan usaha bersama. Namun kalau diterawang pada kondisi saat itu, aku merasa sepertinya produk ini tidak bisa di-handle sembarangan, hingga aku akhirnya memutuskan untuk tidak memperlihatkan produk itu dan menjelaskan kira-kira kedepannya akan dibawa kemana. Yang ada malam itu hanyalah obrolan yang menceritakan kembali kelucuan-kelucuan saat kuliah di CITS UGM dulu. Maklum angkatan pertama :) Aku juga tak mau menceritakan banyak hal apa yang sudah kelakukan selama 5 tahun lebih di petakumpet. Rasanya tak perlu dan tak ada sesuatu yang seru. Dan sampai malam larut pun tak ada keputusan selain bikin facebook CITS.

 

 

Salah satu yang membuat baru pada obrolan malam itu adalah cerita dari Bosiran (ketiga dari kiri) tentang petualangannya setelah lulus dari CITS. Sepertinya malam itu merupakan acara mendengarkan cerita panjang dari dia. Pengalamannya melanglang buana membuatnya seakan mengenal semua orang di seluruh penjuru. Menurutku dia adalah tipe orang yang struggle dalam hidup yang selalu penuh keterbatasan dengan berbagai suka duka yang lebih banyak dukanya dan kepolosan yang membuat tertawa siapa saja yang mendengarkannya.

Dari lamunan itu aku merasa Bosiran adalah orang yang cocok dan bisa diajak menjadi partner. Aku mengenal betul karakternya saat kuliah di CITS dulu. Sederhana, tak perlu mencari orang yang sudah berkompeten dan berpengalaman di bisnis kuliner atau entrepreneur apapun itu jenisnya. Karena jaman sekarang mencari orang pinter itu mudah, tapi mencari orang baik itu susahnya na’udzubillah. Pokoknya yang penting baik dulu dan yang pasti amanah. Ternyata pertemuan silaturahim teman-teman CITS itu ada gunanya juga. Baru kali ini aku merasakan betapa luar biasanya manfaat silaturahim itu.

Dan langsunglah saat itu aku sms dia, kuajak untuk menilik bayi bareng dan membicarakan rencana bisnis kuliner setelahnya. Dia langsung mau dan segera turun ke Jogja dari Klaten. Kami janjian untuk menilik bayi ke rumahnya Budi (kedua dari kiri) hari Sabtu. Jum’atnya aku mencari kado di Giant sambil memborong beberapa mie instant untuk memberi penjelasan tentang bisnis yang akan dijalankan. Kami ketemu di dekat Hotel Ambarrukmo, lalu menuju ke rumahnya Budi yang tak jauh dari situ. Ternyata istri dan bayinya masih di Rumah Sakit Islam Kalasan. Jam 10 yang panas itu kami langsung meluncur ke sana. Tak hanya menengok bayi, di sana juga banyak ngobrol dan bercanda hingga adzan dhuhur berkumandang. Setelah sholat, kami pamitan dan mencari tempat yang enak buat makan siang dan lokasinya tak jauh dari situ. Di kuliner apung Sendang Ayu itu saatnya aku membeberkan rahasia bisnisku. Aku bilang: “Bos, ini adalah konsep kuliner yang tidak memerlukan seorang ahli masak. Simpel. Siapapun bisa membuatnya” Lalu aku keluarkan beberapa mie instant dari tasku di meja, dan Bosiran masih bingung belum bisa menebak apa yang aku maksud :)

 

The Smilling Respon

Di warung kuliner apung tersebut Bosiran masih belum bisa menerka, meski aku keluarkan beberapa mie instant di meja makan. “Kita akan jualan mie yang harganya 1500-an sampe 2000-an menjadi harganya 5000-an keatas” kataku sambil memancing memberi petunjuk dengan menunjukkan bungkus mie instant padanya. “Caranya?” Kubiarkan berpikir sebentar, dia masih belum bisa menebak. Bagus, memang respon yang seperti itulah yang aku inginkan. Akhirnya aku membuka clue itu “Lihat baik-baik bungkusnya bos. Ini ada telur, ayam, tomat, dsb”. “Terus?” “Kita akan eksekusi seperti itu”. Lalu aku melanjutkan “Idenya adalah menyajikan mie, persis sama bungkusnya”. Dia langsung tersenyum. Lama banget. Aku juga tersenyum.

“Piye Bos?”

“Ha-ha-ha-ha…” dia tertawa sambil geleng-geleng, aku juga.

Aku tahu semua orang tertawa ketika aku melontarkan ide ini. Bukan karena ide ini jelek, ini ide yang benar-benar bagus. Brilian! Yang membuat orang tertawa adalah karena mereka pada tidak sadar dan tidak menyangka. Bagaimana ide yang sangat sederhana ini tidak terpikirkan oleh orang ya?

Honesty in Business

Ini istilah lama saat aku bergelayut di dunia periklanan, entah masih berlaku apa tidak: membuat iklan yang bagus itu seperti menembak cewek. Agar bisa menarik perhatian konsumen tampilan harus dibuat sebagus, secantik, seindah mungkin. Sama seperti saat menembak cewek, penampilan kita harus dibuat sebaik mungkin, bahkan bisa jadi penampilan kita bukanlah kita yang sebenarnya. Saat proses pacaran terjadi yang kita lakukan adalah memperlihatkan kebaikan-kebaikan kita, sedangkan keburukan-keburukan kita tutupi dan baru ketahuan ketika sudah menjadi pasangan suami istri, hehe… Iklan sebenarnya juga begitu, meski mungkin nggak semuanya.

Dalam iklan orang yang sudah melakukan action akan merasakan persepsi seperti pesan yang diiklankan, padahal mereka nggak sadar kalau kenyataannya palsu. Orang yang pigmen kulitnya memang gelap dan memakai produk whitening, yakin kulitnya nanti bakalan menjadi putih seperti bintang iklannya. Atau paling tidak merasakan persepsi yang sama. Sama halnya dengan pacaran, dalam iklan kelemahan-kelemahan itu kalau bisa tidak ditunjukkan. Pun kalau ada, tulisannya kecil banget, hehe… Contohnya produk shampo yang bisa meluruskan rambut seperti habis di rebonding, ada tulisan kecilnya: khusus untuk rambut lurus.

Apakah ini tentang tipu-menipu? Aku nggak tahu pasti, tapi menurutku kebanyakan sih begitu. Tapi bolehkah? Mengenai boleh atau tidaknya di Indonesia ada EPI atau Etika Periklanan Indonesia yang mengatur itu semua. Dan jujur saja aku pernah kena peringatan atas iklan yang aku buat :) Tapi logikanya, masak kalau kita mau beriklan kok standar-standar aja? Kan nggak papa kalau dikemas dan dibikin keren? Masak mau nembak cewek penampilannya culun abis? Kalau orang yang aslinya culun jadi keren kan nggak papa kan? (terkecuali bagi yang keliatan maksa banget)

Bicara mengenai pengemasan juga begitu. Kemasan atau packaging harus didesain semenarik mungkin agar konsumen tersihir untuk memungutnya. Makanya kalau melihat desain packaging yang jujur, aku suka dengan packaging yang ada transparannya, sehingga bisa melihat isi di dalamnya. Sangat sedikit memang, kalau nggak salah snack jagung Turbo masih melakukan yang seperti itu. Nah bagaimana dengan mie instant? Dari dulu sampai sekarang pasti desain kemasannya berupa visual mie yang disetting indah dan menggugah selera, lengkap dengan ayam, potongan telur, dsb. Padahal saat kita buat hasilnya nggak sama persis dengan bungkusnya. Makanya sekarang agar tidak kelihatan menipu banget ada tulisan kecil ‘saran penyajian’ di bagian mie yang tersaji indah tersebut.

Nah, makanya ketika terbesit ide untuk menyajikan mie instant persis dengan bungkusnya, seolah-olah itu merupakan jawaban dari postinganku ‘tertidur dengan pulas’ yang mengatakan bahwa aku adalah orang yang dzalim. Karena punya cita-cita untuk memperjuangkan kejujuran, tapi malah masuk di periklanan. Padahal sebagai orang iklan tidak harus melulu berkutat di dunia advertising. Kreativitas dan ide-ide yang brilian seharusnya tidak hanya diaplikasikan di industri advertising saja, tapi bisa di bidang yang lain. Dan mungkin ini tidak hanya menjadi tanggung jawab besar, tapi juga membuka peluang bisnis di bidang kuliner. Menyajikan mie instant persis dengan tampilan bungkusnya adalah sebuah peluang bisnis yang bagus. Tidak ada salahnya, dan kalau seumpama dituntut karena menjiplak tampilan di bungkus mie instant yang sudah susah-susah disetting oleh koki (mungkin) dan fotografer handal, tetap sah-sah saja. Loh, bungkus itu yang nyaranin kok. Kan ‘saran penyajian’? Apa salahnya mengikuti saran yang tertera di bungkus?

 

 

Ini merupakan tantangan. Mencoba memberi value pada produk dengan kejujuran. Yaitu memuaskan pelanggan dari kekecewaan tampilan mie instant, dan mewujudkannya menjadi kenyataan. Pendek kata, ini adalah bisnis kuliner mie persis. Sepertinya simpel, tapi menjalankan bisnis dengan jujur sangatlah tidak mudah, apalagi bila kejujuran itu bisa terintegrasi luar dalam. Artinya yang jujur tidak hanya produk yang dijual saja, tapi juga SDM yang menjalankannya, termasuk pelayanannya. Dan aku yakin, dengan kejujuran akan mendapatkan respon positif yang jujur juga dari pelanggan. Seumpama ada respon yang negatif, kita siap membenahinya dengan jujur. Yang terpenting niat dan caranya baik.

Mau bukti lagi sukses berbisnis dengan kejujuran? Nabi Muhammad. Nabi adalah contoh sosok entrepreneur sejati. Beliau sukses berdagang dan mendapatkan kepercayaan penuh dari Siti Khodijah sampai akhirnya menjadi istrinya. Itu semua karena kejujurannya dalam berbisnis. Tak ada satu pun pelanggan yang komplain, semuanya puas. Karena kejujuran.

Berbisnis dengan jujur? Yakin dan bismillah aja…. Karena Hukum Alam salah satunya ya seperti itu, begitu kalau menurut apa yang pernah dipresentasikan oleh Bos Kedai Digital, Mas Saptuari.

 

 

Think BIG, Start small, Move F>st

Big Idea-nya sudah dapet, yaitu bikin mie yang persis sesuai dengan tampilan bungkusnya. Selanjutnya tinggal memulai dengan langkah kecil, dan bergerak dengan cepat. Yang pertama adalah memastikan partnerku Bosiran untuk luruskan niat dan fokus di bisnis kuliner ini. Setelah itu meminta ijin dulu sama keluarga dan menjelaskan tentang bisnis yang akan aku jalankan. Aku harus menjelaskan rencananya dengan jelas dan meyakinkan kakakku. Ini perlu, karena restu dari yang terdekat (terutama ibu) merupakan modal utama.

Aku dan Bosiran merencanakan untuk segera memulai bisnis di awal tahun 2012. Rencananya sih launchingnya pas tahun baru imlek, biar ada hoki-hokinya gitu hehe… Bulan Desember mulailah mencari-cari tempat yang strategis untuk membuka bisnis kuliner mie persis. Dan entah ini sebuah kebetulan atau apa, tiba-tiba aku membaca artikel di yahoo news tentang prediksi bisnis yang bakalan berkembang di tahun 2012. Dan ternyata adalah bisnis kuliner http://id.berita.yahoo.com/mau-bisnis-di-2012-inilah-bisnis-yang-akan-085914205.html

Rencana buka bisnis kuliner ini membuat setiap weekend Sabtu-Minggu harus aku manfaatkan untuk survey tempat dengan Bosiran. Susahnya bukan main, hampir-hampir di penjuru Jogja ini sudah ditempati beragam warung kuliner. Dua kali weekend kita belum dapet tempat, kalaupun ada, sewa rukonya mahal banget. Karena nggak dapet-dapet, akhirnya kami memutuskan bahwa untuk awal bisnis ini dimulai dari kaki lima-an dulu. Aku pun setuju. Hal pertama yang dibutuhkan dalam mendirikan kaki lima adalah kerangka tenda. Kebetulan Bosiran mempunyai kenalan semacam tukang las di Klaten yang bisa membuat kerangka tenda dengan harga murah dan bisa pesan sesuai keinginan. Aku langsung berani menggelontorkan uang ke Bosiran untuk bikin rangka tenda meskipun saat itu tempat untuk mendirikan warung kaki lima belum nemu. Karena kalau dipikir-pikir lebih baik kaki lima dulu, untuk menekan modal agar lebih efektif.

Sampai tahun baru Imlek terlewati barulah kita dapat tempat yang dirasa cocok. Tempatnya sangat jauh (kalau dari kos-kosanku) yaitu di Jl. Pandeyan, arah terminal lama dari Jl. Glagah Sari ke Selatan. Tempat itu tak jauh dari Pamela 2 dan masjid. Dan entah akan ada berapa kebetulan lagi yang akan kutemui. Karena dulu laboratorium untuk tempat praktek CITS berada di belakang Pamela 2, dan kalau sudah waktunya dzuhur dan ashar aku sering sholat di masjid itu. Tempat itu seolah-olah menyusun kembali kepingan-kepingan kenangan masa lalu.  Setelah tempat dan perjanjian harga deal, barulah persiapan piring-gelas, gerobak, sama meja kursi untuk pelanggan. Tak hanya itu, usaha ini juga perlu yang namanya branding.

Ketika niat sudah baik, semuanya seperti dibukakan jalannya oleh Tuhan. Ya ndilalah-nya di seberang perempatan Jl. Kabupaten tak jauh dari kantor petakumpet kok ada yang jual keramik sisa ekspor. Harganya bisa dua kali lebih murah daripada kalau beli  di Progo, pokoknya tinggal pinter-pinter kita milih yang paling sedikit cacatnya. Dan saat itu juga kita langsung mborong.

 

 

Untuk masalah bahan pelengkap mie biar bisa persis dengan bungkusnya semuanya diserahin ke saudara keponakannya Bosiran yang kebetulan bekerja di hotel. Dan lagi, untuk pesan gerobak dan meja, pesan di Pak Lik-nya Bosiran. Kita memang sudah puter-puter Jogja untuk mencari daerah yang khusus bikin gerobak, namun hasilnya masih terlihat kasar, dan harganya mahal. Di Pak Lik-nya Bosiran hasilnya sangat bagus, murah, dan bisa dibuat neko-neko. Semuanya seperti sudah diatur oleh Tuhan sehingga kita bisa bergerak cepat saat itu. Yang nggak cepat hanyalah postingan ini saja, hehe…

 

Totally in Works

Sebuah ide besar kalau kita tidak total di dalamnya, maka kemungkinan besar ide itu hanya menjadi biasa saja, atau yang lebih parah ide itu malah ditiru atau dicuri orang lalu dikembangkan menjadi lebih besar. Makanya aku berpikir kalau bisa semuanya dikonsep dan nggak asal-asalan, siapa tahu malah kedepannya bisa di-franchise-kan, atau bisa dikembangkan menjadi bisnis yang lebih besar lagi. Untuk masalah varian mie instant saja awalnya mau mengeksekusi 3 varian yang kita pikir menarik, yaitu: Mie Goreng Rendang, Mie Goreng Sate, dan Mie Rebus Cakalang. Kalau saja aku tak ketemu dengan keponakannya Bosiran yang koki itu, mungkin saat ini kita hanya jualan 3 varian itu saja. Artinya siapapun berpotensi untuk mengambil ide ini dengan mengeksekusi varian indomie yang lain yang banyak sekali ragamnya.

Siang itu setelah memborong piring dan gelas, keponakan Bosiran menyusul kita di tempat jualan sisa ekspor keramik. Namanya Heru. Saat itu juga langsung kuajak Heru ke Giant yang tak jauh dari keramik sisa ekspor. Di sana aku biarkan Heru menganalisis, pelengkapnya apa saja, atau kalau dalam istilah di dunia perkokian namanya garnis. Semua dianalisa, Mie Goreng Sate ini satenya sate ayam, bukan kambing, bumbunya pake bumbu ini lalu dibakar panggang. Mie Cakalang yang ini dibumbu Manado, Soto Mie-nya pake ayam yang dibumbu ini, Kari Ayam-nya mending dibumbu ini, bla-bla-bla dsb. Apa yang memungkinkan untuk dieksekusi pokoknya ambil aja.

Untuk mie instant yang akan dieksekusi, kita sepakat memilih indomie. Hal itu karena indomie tampilan packagingnya terlihat utuh, jelas, dan lengkap, dibanding tampilan mie instant lainnya yang kadangkala ada yang di zoom out pada bagian tertentu sehingga bagian lain nggak jelas. Sehingga enak kalau mau dieksekusi. Yang kedua, karena indomie variannya sangat banyak, apalagi ada yang khusus Kuliner Nusantara. Setelah dianalsisi semua, akhirnya terkumpul 8 varian yang memungkinkan untuk bisa dieksekusi. Varian lain seperti Mie Empal Genthong, mungkin next time-nya. Kupikir 8 itu terlalu banyak, namun tak apalah, ini untuk menghindari agar yang lain tidak bisa mengeksekusi kalau-kalau idenya dicuri.

Untuk gerobaknya, sebenarnya aku mau yang biasa saja, namun Bosiran tetap saja memaksaku untuk mendesainnya. Sedangkan aku tak tahu-menahu tentang fitur gerobak secara detil itu kayak apa. Yang terlintas di benakku hanyalah gerobak dorong tukang sate yang bentuknya seperti perahu, ada moncong lancip di depannya. Lalu aku mengambil referensi kapal bajak laut di komik Asterix dan mulai-corat-coret mendesainnya. Aku membayangkan akan ada layar yang bisa menjadi tempat display beberapa varian indomie. Lalu ada jendela bulat kayak dan potongan kayu kayak di kapal-kapal jaman dulu. Setelah corat-coret selesai, aku masih belum yakin apa ada tukang yang mau mengeksekusinya. Tapi ternyata Pak Lik-nya Bosiran menyanggupinya dengan senyam-senyum. Gila nih Pak Lik-nya Bosiran, aku hampir tak percaya dengan hasilnya. Salut!

 

 

Melihat yang seperti itu, aku merasa kalau semuanya harus total dan jangan nanggung atau setengah-setengah. Untuk itulah yang semula mau pesan meja belajar yang di pinggir-pinggir jalan sebagai meja makan untuk lesehan, langsung nggak jadi. Murah sih murah, tapi nggak menghargai pelanggan. Aku menghabiskan banyak waktu untuk bereksperimen dengan menggunakan impraboard sebagai mock-up dengan skala kecil agar bisa mengutak-utik dengan mudah aplikasinya dan memudahkan menjelaskan Pak Lik-nya Bosiran untuk mengeksekusinya.

 

 

Desain mejanya aku bikin semacam portable yang bisa dilipat dan dipisah bagian-bagiannya untuk memudahkan pengangkutannya. Mejanya berbentuk belah ketupat atau jajaran genjang. Bentuk ini memungkinkan untuk dibuat variasi penataannya. Bisa berbentuk segi enam untuk formasi orang banyak, bisa berbentuk V, memanjang, 4 orang, ataupun dua orang saja. Aku puas dengan desain dan eksekusinya. Malah rencananya tahun depan mau aku ikutkan di Indonesia Furniture Awards, karena di tahun ini sudah terlambat.

 

 

Kita juga sudah memikirkan beberapa perabotan untuk versi bukan lesehan, kalau-kalau mau buka cabang. Dari kursi dan mejanya seperti apa, dan sebagainya. Namun yang paling penting saat itu adalah desain spanduk untuk tendanya. Spanduk yang bisa menarik kuat perhatian orang-orang yang lewat. Dan mau tidak mau kedelapan varian itu harus di-show up agar menarik. Karena kita belum pernah menyajikan produk persis dengan bungkusnya maka kita harus trial. Dan kegiatan masak-memasak di dapur mertuanya Bosiran pun dimulai. Saatnya si Heru beraksi!

 

Setelah mengeksekusi kedelapan varian tersebut, saatnya sekalian dengan pemotretan produknya. Tak perlu menyewa fotografer profesional, cukup dengan kamera digital pocket. Kita ingin semuanya serba jujur. Kita ingin nunjukin kalo seperti inilah produknya, dan bukan dari tipuan hasil digital imaging. Digital imaging hanya diperlukan sedikit untuk mengatur pencahayaan dan menghilangkan noise. Dan ketika mie instant disajikan persis dengan tampilan bungkusnya, memang sangat menggugah selera. Aku perlihatkan beberapa foto kasarannya saja, sudah pada ngiler :)

 

 

Setelah semua sudah dipotret, saatnya untuk menghajar Mie Persis yang sudah dari tadi sangat ingin sekali melahapnya. Kita undang juga anak-anak tetangga untuk menjajalnya dan memberikan komentar. Karena saat pemotretan saja sudah mengundang perhatian dan pada mengerubung, apalagi kalo disuruh untuk memakannya, gratis lagi! Sungguh suasana yang sangat menyenangkan dan berkesan saat itu!

 

 

Naming

Nah, bagian ini juga sangat penting dan perlu mikir agak lama. Kita kepingin nama yang beda, unik, mudah diingat, dan mudah diterima orang-orang. Awalnya kita mau menamakan Mie Persis, untuk memberikan maksud yang sangat gampang diterima orang, bahwa mie yang disajikan adalah persis dengan tampilan bungkusnya. Namun kita takut kalau nama Persis lebih mengarah ke klub sepak bola Persis Solo. Apalagi di daerah kita jualan adalah daerah pendukung fanatik PSIM. Susah banget! Mau dengan permainan kata Mie-rip, tapi RIP itu artinya mati, dan kayaknya nggak membawa hoki. Sampai akhirnya aku berani memutuskan memberi nama TELAP12. Bacanya TELAP-TWELEP.

Nama TELAP12 bukan berarti karena kita memulai bisnis kuliner di tahun 2012, ya boleh dikatakan seperti itu, tapi ada aspek lain dibalik nama itu. Dan seperti yang sudah kukatakan di awal-awal, semuanya banyak yang bermula dari kejadian dari waktu aku kecil. Saat itu tiba-tiba aku teringat dengan pengalamanku belajar bahasa Inggris waktu kelas 6 SD. Dulu namanya JEC atau Jepara English Club, entah sepertinya sekarang sudah nggak ada. Biayanya sangat murah, dan dimulai setiap hari Jum’at pukul 13.00, karena kalau hari lainnya biasanya anak-anak pada sekolah madrasah sore.

Saat belajar pertama kali bahasa Inggris, yang asing di kita biasanya adalah pada pengucapannya. Mengapa kalau cut bacanya kat dan kalau push bacanya bukan pash? Begitu juga aneh dan sulitnya dalam pengucapan angka. Yang paling aku ingat adalah bahasa Inggrisnya dua belas, yaitu twelve. Bacanya twelefh dengan huruf f yang agak mengarah ke huruf p. Biar nggak susah dan mudah diingat-ingat, pengajarnya bilang “Pokoknya inget-inget aja, kalo makan telap-telep!” Telap-telep dalam bahas Jawa artinya lahap. Dan biasanya orang Jawa itu suka dilebih-lebihkan kalau ngomong. Seperti seger menjadi sueger, banget menjadi bianget, gede menjadi guede, dll. Termasuk telap-telep menjadi twelap-twelep.

Aku rasa nama ini sangat unik dan ada unsur lokal Jawa-nya yang sedikit gaul karena diucapkan  dalam bahasa Inggris campur-campur dengan pengucapan Sunda. Nama TELAP12 hampir-hampir sama dengan Es Teler 77, 5asec atau 7-eleven. Nama yang unik dan di dunia baru pertama kali bahkan satu-satunya. Aku sangat senang sekali ketika mengetikkan TELAP12 di Google. Ini tidak hanya sebuah kebetulan, tapi lebih dari itu. Ini adalah copywriting yang keren dan jarang-jarang aku dapat naming seperti ini. Memang banyak yang belum familier dengan nama TELAP12, namun semuanya memang perlu waktu.

 

The Mascot

Aku nggak tahu apa yang mendorongku untuk membuat maskot, tapi yang jelas sepertinya keren banget kalau ada maskotnya. Daripada nampang fotoku, lebih baik maskot saja yang bertugas sebagai brand ambassador untuk menyampaikan pesan. Selain itu, aku belum pernah menang saat ada lomba maskot. Lebih baik aku aplikasikan di TELAP12 saja. Tak ada alasan yang pasti mengapa aku memilih kucing untuk maskot TELAP12. Semua seperti kebetulan saja. Aku suka dengan karakter kucing Warner Bross, Sylvester. Sebenarnya semua eksyen-nya meniru karakternya Koko-KOKO KRUNCH. Tapi aku nggak mau terlihat  Koko banget, untuk itulah aku combine dengan karakter Sylvester dan kartun Tex Avery.

Kebetulan kucing-kucing di rumahnya Bosiran sering banget menggondol daging cakalang. Lengah sedikit saat masak, cakalang bisa-bisa raib, begitu kata Bosiran. Makanya sekarang khusus cakalang disediakan tempat khusus. Anehnya, Mie Cakalang menjadi varian yang paling favorit yang dipesan pelanggan. 1 bulan saja sudah menghabiskan 2 box cakalang rebus dan 1 box lebih cakalang goreng. Aku juga nggak tahu maskot kucing yang aku desain itu jenis kucing apa. Aku mengambil referensi dari kartun lawasnya Tex Avery, “Bad Luck Blackie”. Bedanya, kalau di kartun Tex, kucingnya masih kecil, maka maskotku ini adalah versi dewasanya, hehe…

 

 

Saking terbenturnya dengan jadwal yang lain, akhirnya aku meminta tolong temanku, Nur Cholis via email untuk membantu nge-path beberapa maskot. Nuwun dab! Untuk nama maskot ini awalnya aku ingin menamakannya Mang Persy. Mang adalah panggilan orang laki-laki, entah ini panggilan berasal dari daerah mana. Sedangkan Persy mengarah pada jenis kucing persia. Karena kebetulan saat aku sedang pada tahap akhir mendesain maskot ini, tiba-tiba ada sms masuk dari temen yang menawarkan kucing persia abu-abu, sudah divaksin, harga 800 ribu bisa dinego. Mungkin saja kucing yang aku desain ini jenis kucing persia, karena sepintas terlihat tampak seperti macan. Sedangkan kalau untuk singkatan, Mang Persy adalah singkatan dari Emang Persis, yang mengarah pada produk TELAP12. Dan kebetulan lagi saat itu aku sedang menonton pertandingan Liverpool melawan Arsenal di kandangnya Liverpool. Liverpool kalah dari Arsenal 2-3 setelah gol terakhir dari Van Persie. Kebetulan sekali bukan?

Meski kebetulannya sangat banyak, akhirnya aku malah nggak menggunakan nama Mang Persy, lho kok bisa? Entahlah, aku merasa kurang sreg dengan nama itu. Menurutku Mang itu kesannya agak ke orang yang sudah tua. Tiba-tiba saja terlintas olehku nama Ogutz. Kalau husny boleh pake y, maka ogutz pake z biar gaul, hehe… Kata ogut dispopulerkan oleh pelawak almarhum Kholik pada era 80-an dan trend pada awal 90-an. Entah kenapa aku suka dengan nama ini. Aku juga sering menggunakan kata ogut untuk mengganti kata gue yang menurutku agak kejakarta-jakartaan. Aku juga sering dipanggil Ogut oleh teman-temanku yang di Jakarta saat ym-an, karena aku sering menggunakan kata ogut.

Menurutkun Ogutz adalah nama yang keren meskipun jauh dari kebetulan. Dan sepertinya asik juga kalau diaplikasikan; “Halo, udah kenal sama Ogutz? Ogutz adalah maskotnya TELAP12. Dan Ogutz suka Mie Persis”

 

 

Execution

Bagiku bulan Maret adalah bulan yang sangat bersejarah di tahun 2012. TELAP12 mulai launching di bulan itu, dan semuanya serba terburu-buru karena masih ada yang belum siap. Penginnya mundur lagi, tapi uang sewa sudah terlanjur dibayarkan. Sudah beberapa kali kita mengundur rencana. Mau mulai buka pas tahun baru Imlek, tapi tempat belum dapet. Lalu diundur pas hari Valentine, tapi gerobak belum jadi. Hingga mau tak mau pokoknya Mei harus mulai buka.

Rencana awal mau buka pas weekend tanggal 3 Mei, tapi desain spanduk untuk tendanya belum selesai. Akhirnya kami sepakat untuk buka hari Senin tanggal 5 Mei, dan hari Sabtu mau tak mau desain harus bisa kuselesaikan, biar hari Senin hasil cetaknya bisa diambil dan langsung dipasang sorenya. Sampai-sampai tanggal 3-4 aku merelakan nggak ikut piknik kreatif. Namun ternyata Senin masih ada juga yang belum siap, bahkan variannya masih kurang Cakalang rebus.  Mau buka hari Selasa, kokinya si Heru sedang ada jadwal siang sampai hari Kamis. Busyet! Hingga akhirnya diputuskan bulat mulai buka hari Jum’at tanggal 9 Mei. Daripada nggak dapet apa-apa di hari Senin, akhirnya aku bikin dulu twitter-nya.

Kamis H-1, aku dapet sms dari Bosiran untuk diprint-kan menu harga. Malam Jum’at itu aku maksimalkan tenagaku untuk lembur bikin menu harga. Masak hanya ketikan di kertas putih lalu dilaminating? Akhirnya aku kebut sampai jam setengah dua lalu tidur meski belum selesai. Adzan subuh membangunkanku dan aku merasakan hawa Jum’at pagi yang penuh barokah. Selesai subuhan aku melanjutkan lagi mendesain buku menu sampai jam 07.30. Habis itu mandi, lalu segera meluncur ke Graphico di Jl. Kaliurang untuk nge-print sekligus melaminatingnya.

 

 

Dan benar saja, Jum’at itu aku merasa bahwa hari itu adalah waktu yang tepat untuk memulai usaha TELAP12. Karena kebetulan hari itu mendapatkan sms dari PKPU SMS Center: Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah (lelah) dalam mencari rezeki yang halal (HR Dailami) Membaca sms tersebut aku jadi semakin bersemangat :)

Habis jum’atan sekitar jam 2-an siang aku ijin dari kantor untuk segera meluncur ke Jl. Pandeyan membantu eksekusi dan menyerahkan buku menu. Di sana sudah ada Bukron yang juga teman dari CITS yang bersedia diajak untuk membantu, sedang memasang kabel listrik. Sementara di rumah mertuanya Bosiran si Heru sedang memasak.

Meskipun diundur dari Senin ke Jum’at, tapi tetap saja persiapannya masih kurang. Dan kalau di-list ternyata banyak sekali. Belum beli jeruk lah, belum beli pokcay, selada, teh, beras, saos dan kecap, sampai es batu. Akhirnya siang itu sampai sore aku dan Bosiran puter-puter ke pasar dekat terminal Giwangan mencari bahan-bahan untuk garnis. Dan baru jam 5 sore, gerobak bajak laut baru siap untuk berlayar. “Angkat jangkar! Kapalnya mulai berlayar!” begitu teriak anak-anak yang mengiringi gerobak itu dibawa ke tempat jualan. Suasananya gegap gempita seperti saat keberangkatan kapal Titanic :) Ketika gerobak sampai di tempat, mulailah memasang tenda dan menyeting tempat untuk memasak.

 

 

Semuanya serba gugup, karena ini baru pertama kalinya aku membuka usaha kaki lima-an. Perkiraan semuanya siap sebelum maghrib, dan bisa maghriban berjamaan di masjid yang hanya beberapa langkah dari tempat TELAP12 berada. Namun pas adzan maghrib pun kita masih sibuk menyiapkan segalanya. Ya Allah, ampunilah hambamu yang senantiasa berusaha untuk selalu istiqomah jama’ah di masjid, namun masih juga bersibuk ria kewalahan memasang tenda, seolah menghiraukan saja panggilan itu. Kurasa ini merupakan ujian saat dihadapkan pada masalah dunia yaitu mencari rizki. Iqomah sudah dikumandangkan, dan pekerjaan tinggal sedikit lagi. Hoi! rizki itu yang ngasih Allah. Aku langsung tersadar untuk segera meninggalkan pekerjaan dan bergegas ke masjid. Habis sholat aku merenung sebentar; “Ya Allah, berikanlah dan barokahilah kami rizki yang banyak. Dan jangan jadikan aku lengah dan semakin jauh dari-Mu karena masalah dunia seperti halnya Tsa’labah”. Na’udzubillah, aku jadi teringat cerita Tsa’labah pada masa Rasulullah, celakalah Tsa’labah!

 

First Customer

Habis sholat kembali ke warung, gantian Bosiran yang sholat maghrib. Semuanya terlihat sudah siap untuk melayani pelanggan. Alhamdulillah, ada pelanggan pertama yang datang. Pelanggan pertama adalah cewek berjilbab, eh akhwat hehe… Sendirian lagi. Buku menu langsung disodorkan agar dia bisa memilih varian yang disukainya. Dia akhirnya memilih Mie Goreng Rendang, dan dibungkus. Lhadalah! Kita belum siap dan tidak terpikirkan bagaimana kalau ada pelanggan yang mau dibungkus. Untung saja dekat dengan Swalayan Pamela 2. Kebetulan ada bungkus semacam box lunch dari bahan stereofoam seperti Pop Mie. Si koki Heru langsung beraksi untuk pertama kalinya. Mie Goreng Rendang Rp. 9000 itu akhirnya menjadi pesanan pertama. Dan uang Rp. 10.000 dari cewek itu sampai kini masih disimpan di box stereofoam.

 

 

Selanjutnya setelah cewek tersebut ada 2 pelanggan lagi. Bosiran yang kebetulan sudah selesai sholat juga melayani. Saat 2 pelanggan tersebut mau bayar, Bosiran memberikan diskon 25% untuk promo hari pertama. Pokoknya pelanggan yang datang pada hari itu semua dapat diskon 25% sebagai promo. Waduh, berarti pelanggan pertama tadi harusnya dapat diskon 25% dong? Aku nggak tahu apakah cewek itu bakal kembali lagi untuk mencicipi varian yang lain. Kapan-kapan kalau kembali lagi didiskon deh, tapi sayangnya aku lupa wajahnya hehe…

 

Steal The Attention

Malam pertama (jualan maksudnya) selain menunggu pelanggan yang datang, kita juga menikmati reaksi setiap orang yang melewati warung TELAP12. Semua yang lewat kebanyakan pada nengok ke warung TELAP12, dan kita ketawa hehe…. Ada yang melambatkan sepeda motornya karena penasaran. Ada yang berhenti sebentar, membacanya, lalu pergi lagi, ada pula yang langsung mampir. Dan setiap orang yang diboncengin kebanyakan perhatiannya tak lepas dari spanduk TELAP12. Ada pula anak-anak yang penasaran dengan spanduknya apakah memang disajikan persis, sambil nanya-nanya. Apalagi spanduknya terekspos jelas karena didukung oleh lampu jalan yang sinarnya pas jatuh tepat di warung TELAP12. Malam itu kita berhasil menjual 8 porsi. Sebuah jumlah yang lumayan mengingat kita awal buka tanpa promo atau sounding kemana-mana. Malam itu pelanggan seolah mak bedunduk datang immediately. Saya rasa desain spanduk tersebut bekerja cukup baik. Dan alhamdulillah, setiap pelanggan yang datang pasti komennya “Ini kreatif sekali Mas”. Bahkan ada yang bilang “Mas, ini pusatnya mana sih?” Belum buka cabang sudah ditanyain pusat, hehe…

 

 

The Long March

Bulan maret seakan menjadi bulan yang panjang bagi para awak TELAP12. 2 hari pertama sudah sangat membekas. Pengalaman pertama yang menjadi kendala sebenarnya adalah masalah bongkar pasang tenda. Sebenarnya mudah, tapi sayangnya kerangka tenda dan gerobak itu tidak bisa ditinggal di dekat rumah dimana lokasi kita jualan. Jadi harus diangkut becak ke rumah mertuanya Bosiran. Ngangkutnya pun dua kali karena ditambah dengan mengangkut piring-gelas, ember-ember dan meja portable untuk lesehan. Dan untuk pasang maupun bongkar dibutuhkan waktu hampir 2 jam-an. Sedangkan gerobaknya harus didorong dua orang karena sangat berat sekali meskipun gerobaknya pakai 2 roda becak.

Malam kedua hujan deras, namun membuat kita tambah semangat karena malam itu malam minggu. Apalagi hujan-hujan gini enaknya nganget Mie Persis macam Kari Ayam atau Soto Mie. Kita mencoba setingan baru untuk menghemat pengangkutan, tapi setingan tersebut terlihat kurang enak dipandang. Habis maghrib belum juga ada pelanggan. Pelanggan baru datang jam 20:30. Seorang anak kecil datang diantarkan bapaknya. Yang pesan cuma anak kecil itu, bapaknya enggak. Sepertinya itu anak kecil yang kemarin-kemarin penasaran setelah melihat-lihat menu. Dia pesan Mie Goreng Vegan. Dikasih varian yang lain seperti Mie Goreng Rendang yang ada iklannya di TV tetap saja nggak mau. Sepertinya dia sangat berambisi ingin memesan dan mencoba Mie Goreng Vegan, karena terbukti habis dengan lahap.

Habis itu sampai jam sebelas nggak ada yang mampir. Kalaupun ada itupun temen sendiri. Daripada grundel, akhirnya aku ke masjid sholat Hajat dan nyemplungin beberapa ke kotak masjid. Kembali ke warung, ternyata ada satu pelanggan naik Honda WIN. Alhamdulillah, hari kedua laku dua, hehe… Begitu pelanggan kedua selesai menghabiskan Mie Persis, waktunya bongkar tenda karena malam sudah terlalu larut. Jalanan sudah sangat sepi dan membuatku ingin selalu bersyukur meski cuman laku dua. Aku bikin tulisan Arab alhamdulillah di aspal dengan air bekas cucian.  Malam itu mungkin bukan malam yang terbaik, namun patut untuk disyukuri. Begitu semuanya sudah beres, langit pun terlihat indah dengan cincin cahaya bulan purnama.

 

 

Malam berikutnya pelanggan lebih banyak daripada malam pertama. Dan awak TELAP12 lama-lama semakin terbiasa dengan pola bongkar-pasang tenda. Gerobaknya pun sekarang lebih ringan dan nggak perlu didorong dua orang karena sudah dikasih roda tambahan di bagian belakang. Lampu penerang jalan seolah menjadi matahari malam. Ketika lampu jalan malam menyala, berarti kita sudah siap.

 

 

Penjualan terus meningkat. Bahkan pada hari keenam ada yang datang dan mau membeli franchise TELAP12, padahal belum sebulan. Kami belum menyanggupi ke proses franchise karena baru saja merintis. Ini adalah usaha yang mulai dari titik nol, dan biarkan kami yang mengemongnya dulu sampai berkembang dewasa. Mie Cakalang Rebus menjadi varian yang paling laris. Dan dalam 2 minggu sudah menghabiskan 3 box yaitu Cakalang Rebus, Rendang, dan Kari Ayam, disusul yang lainnya. Kita juga melayani paket delivery lunch, yang pesan petakumpet alias kantor sendiri, hehe….

 

Pelanggan di daerah Pandeyan pun mulai tahu, dan perlahan TELAP12 mulai dikenal di daerah itu. Dan lama-lama pelanggan pun mulai memiliki variasi permintaan yang agak neko-neko, namun tetap kita layani. Misalnya seperti pesan Mie Cakalang tambah ceplok, Soto Mie tambah sate, atau Mie Goreng Sate dikasih kuah sedikit, dsb.

 

 

Bulan pertama penjualan sudah bisa menjual 400-an lebih mie, dengan rata-rata perhari 15-20 pelanggan, bahkan pernah sampai 30-an lebih. Sebuah angka yang lumayan mengingat kita bukanya dari jam setengah enam sore sampai jam sebelas malam. Laporan bulan pertama menunjukan keuntungan yang jelas meski nggak langsung banyak banget. Sepertinya bisnis lucu ini menjanjikan prospek yang cerah, hehe….

 

genk kreatif petakumpet ikut nglarisi

genk kreatif petakumpet ikut nglarisi

Print Ad TELAP12 di bulletin

aku dan Bosiran, sedang bersantai sejenak

 

Step by Step

U-beibeh! Usaha ini memang masih jauh dari sempurna. Masih banyak strategic planning yang belum direncanakan untuk kedepannya. Proses branding-nya masih kecil-kecilan dan baru dimulai dari kaki-limaan. Promosi online-nya pun baru melalui twitter yang meningkatnya masih mengusung slogan ‘pelan-pelan banyak follower’ hehe… Masih jarang ditemukan usaha kaki-lima yang promosi pakai twitter, apalagi kita sudah memberikan stiker keren ala Seaworld atau Taman Safari ke pelanggan. Padahal brosur dan kupon diskonnya belum dibuat, hehe urutannya jadi terbalik. Tapi paling tidak usaha ini bisa untuk belajar leadership sekaligus belajar untuk me-manaje sesuatu dengan cara yang menarik namun simpel. Masih banyak kekurangan dan hambatan-hambatan yang pasti akan menghadang. Makanya jangan terlalu girang, ini baru permulaan. Mendirikan dan menjalankan usaha TELAP12 hampir sama seperti menemukan harta karun paling berharga bagiku. Ketika hari mulai petang dan matahari perlahan terbenam, disitulah sebenarnya petualangan dimulai… ‘Alaniyah Al-fatihah…

kisah suhadi

March 16, 2012

Sudah lama aku nggak bikin postingan asal-usul-ngasal. Dan malam yang lumayan selo ini aku mencoba untuk cerita ngasal sebelum pulang dan langsung tepar. Sekali lagi jangan ditanggapi serius, ini ngasal! Kalaupun ada kesamaan dengan nama pelaku, maka hal tersebut adalah sebuah ketidaksengajaan. Hanya bercanda saja kok.

Ini kisah tentang Suhadi, anak paling bungsu dari 9 bersaudari. Saudari, karena kedelapan kakaknya perempuan semua, hanya dia yang laki-laki. Orangtuanya orang Sunda, tapi ada yang unik mengapa dia menamakan anak yang paling bungsu seperti nama orang Jawa pada umumnya, yaitu ada awalan Su-. Padahal kedelapan putinya namanya gaul semua, ada Felicia, Fadya, Salsabila (yang ini pasaran banget), Cecile, Kalia, dll. Tapi kenapa nama anak yang terakhir sangat ndeso? Suhadi.

Ceritanya berawal dari keinginan orangtua untuk mempunyai anak laki-laki. Namun sampai anak yang kelima ternyata perempuan semua. Tapi mereka tak pernah putus asa dan terus mencoba sampai sang istri sudah kelelahan setelah kelahiran anak kedelapan ternyata juga perempuan. Mereka sangat sedih, hingga pada suatu malam mereka bersepakat untuk mengakhirinya.

“Sepertinya kita sudahi saja akang, saya sudah nggak kuat”

“Bener istriku, kita sudahi saja. Tapi bagaimana kalau sekali lagi untuk terakhir kalinya”

“Tapi akang harus janji. Ini harus kita sudahi”

“Akang janji, kita sudahi”

Dari hubungan yang terakhir itu ternyata membuat sang istri hamil lagi. Sang istri pasrah jenis kelamin apa yang keluar nanti. Meskipun hamil, tapi sang suami tetap saja nggak bisa menahan keinginanya untuk berhubungan. Ketika sang suami ingin mengajak berhubungan, sang istri mengingatkan “Ingat akang! Sudahi!” “Baiklah istriku aku sudahi” sang suami ingat akan janjinya. Kejadian ini terus berulang-ulang hingga sang istri akhirnya melahirkan.

Tak disangka anak yang keluar adalah laki-laki. Mereka sangat gembira. Dan untuk mengingat kejadian yang selalu mereka sudahi terus itu, akhirnya mereka menamakan anaknya dari “sudahi” menjadi “Suhadi”. Dan benar, setelah lahir Suhadi sang istri tak pernah hamil lagi. Kalian percaya? Jelas jangan, namanya juga ngasal. Baiklah, kita suhadi cerita ini, eh maksudnya sudahi saja cerita ini.

 

*Cerita ini terinspirasi oleh Bosiran, salah satu awak @TELAP12. Nama seharusnya yang diberikan orangtuanya adalah Basiron. Teruskan semangat berwirausaha Bos!

gombalan zantman

March 14, 2012

Beberapa minggu yang lalu di tengah derasnya hujan di sore hari, seseorang teman tiba-tiba curhat padaku tentang masalah wanita. Waduh! Aku kan nggak terlalu berpengalaman dalam hal ini? Tapi dia langsung nyeletuk “Bro, cewek itu matre ya?”

Aku langsung tertawa dan menjawab “Ya nggak semuanya begitu, tapi emang kebanyakan seperti itu, hehe…”

“Tapi kamu setuju tho kalo cewek itu kebanyakan matre?”

Aku nggak bisa langsung jawab ya atau tidak, “Di Jerman pernah ada semacam penelitian, aku lupa tepatnya, coba nanti cari di Google. Yang jelas intinya beberapa orang mencari pasangan itu… kalo cowok 99% lebih karena sex, dan wanita 96% karena materi”

Dia tetap terdiam sambil menatap hujan angin sore itu. Sepertinya dia sedang berusaha mendekati seorang cewek dan ada masalah dengan dirinya yang pas-pasan atau mungkin penuh keterbatasan.

“Berarti intinya matre ya bro?”

“Aku nggak tahu” jawabku, sepertinya itu jawaban yang paling aman.

“Kalo menurut pengalaman kamu?”

Waduh! Ni anak seriusan ngajak curhat nih! Aku sebenarnya mau cerita pengalamanku tentang dulu saat aku masih naik sepeda, atau seseorang yang luluh dengan Grand Livina dibanding Grand Astrea bututku hehe.. tapi tiba-tiba suasana bulan Februari yang mana valentine banget gituh, membuatku teringat acara Katakan Cinta di RCTI dulu.

Gini bro, pokoknya kamu jangan minder jadi ‘pejuang cinta’ (istilahnya kalo di acara Katakan Cinta hehe…) Jadi pejuang cinta itu kayak jihad! (sepertinya aku agak ngawur nih ngomongnya)”

“Apa hubungaaaaannya sama jihad?”

Loh di Palestine itu orang yang jihad di jalan Allah itu tujuannya mati bro! Kalo mati dapet surga kalo menang ya Alhamdulillah, makanya orang Israel pada takut sama Intifada. Nah kalo jadi pejuang cinta itu kan tujuannya cinta, kalo diterima bersyukur, ditolak lebih bersyukur lagi”

Dia geleng-geleng sambil tertawa “Terserah lah kamu ngomong”

“Tak ceritain bro, aku jadi ingat sama episode Katakan Cinta dimana ada pejuang cinta bersepeda dari Jakarta ke Bandung, dari pagi hingga maghrib tiba, hanya untuk memberikan mawar dan menembak cewek”

“Lalu? Diterima nggak?”

“Ditolak”

“Goblok banget berarti tu cowok”

“Kelihatannya memang begitu bro, mana ada cewek yang mau sama cowok naik sepeda? Apalagi saat itu cewek yang ditembak sedang sama seseorang cowok lain dengan mobilnya bro

“Itu lebih guoblok lagi!”

“Tapi menurutku pejuang cinta itu adalah seorang pemenang bro

“He?”

“Iya bro, aku nggak lihat ada raut kekecewaan sama sekali pada pejuang cinta itu. Karena menurutku apa yang dilakukannya adalah untuk menjadi seorang pemenang cinta. Kalo diterima ya bersyukur, kalo ditolak berarti cewek itu memang matre, dan dia harus bersyukur karena bisa terhindar dari cewek matre hehe… paham kan bro maksudku?”

Dia tertawa tapi lebih bersemangat. Aku pun mulai bersemangat mengeluarkan petuah-petuah gombal.

“Lagian kamu ngapain sih mau deketin cewek yang bakal nyusahin kamu karena materi? Mending cari cewek yang mau diajak susah!”

“Mana ada cewek yang mau diajak susah?!”

“Ya maksudnya mau diajak berjuang bersama bro. Wanita yang bisa menguatkanmu, bukan melemahkanmu. Membina rumah tangga itu nggak gampang lo bro, tapi justru di situlah kehidupan yang sebenarnya dimulai!” Wajahku mantap mendongak ke atas.

“Alah kayak udah berumah tangga aja kamu! Pacaran aja kamu nggak pernah!”

“Loh kita kan sama-sama belajar bro, hehe… Pokoknya yang penting jadi dirimu sendiri aja bro, nggak usah sok belagu. Kamu nggak perlu nunjukin kalo kamu punya kartu kredit di dompetmu biar keren. Itu justru tambah nyusahin kamu. Atau mungkin ganti hape-mu sama iPhone. Aku aja hape kayak gini masih fine-fine aja kok bro. Yang penting tingkatkan kualitas pribadimu. Emang peningkatan kualitas pribadi bisa dilihat dari materi, tapi nggak semuanya diukur dari materi. Bikin sesuatu, nulis, atau punya ide apa kek yang bisa membuat kualitas pribadimu jadi keren. Jadikan cewek-cewek terpesona karena dirimu bukan karena mobilmu atau embel-embel yang lain. Jadikan yang berharga itu kamu bro, bukan gadget canggih. Jadikan dirimu itu mahal harganya di hadapan wanita bro. Cewek boleh tertarik karena mobil, tapi dirimu harus lebih mahal daripada mobil. Lagian lebih penting beras daripada mobil bro, hehe…”

“Aku jadi heran, kamu ngomong kayak gitu kok kamu tetep aja kayak gini”

Asyem ik, kamu benar bro. (berhenti sejenak) Makanya doain aja bro, mungkin belum rejekinya. Ya kita saling mendoakan lah”

“Tapi biar pede gimana ya”

“Ya pede aja. Loh dulu aku pake celana batik pede aja kok. Karena aku emang suka celana batik, tak peduli mau dibilang ndeso sama cewek-cewek!”

“Tapi sekarang kok udah nggak lagi, jangan-jangan kamu udah mulai gengsi! Alaaah.. sok nasehatin segala tadi!”

“Bukan begitu bro, celana batikku lututnya udah sobek semua, Swer! Lagian aku juga sadar bro, ternyata sekarang aku tuh wagu banget kalo pake celana batik”

Alesan!”

“Loh bener bro. Jadi diri sendiri ya jadi diri sendiri, tapi kalo terlalu berlebihan jeleknya ya nggak baik. Tak bilangin ya, waktu kecil aku suka banget sama pete dan nggak peduli sama orang lain. Tapi begitu tau kalo pete itu emang ngganggu, sekarang aku jadi nggak begitu suka, kecuali kalo sedang sendirian”

“Kok jadinya malah ngomongin pete nih?”

Sepertinya aku mulai suka dengan obrolan yang ngalor-ngidul ini, tapi aku harus mengakhirinya.

“Bahkan bro, sekalipun kalo ada acara makan bersama dan ada Zantman di situ sedang asik melahap pete, aku nggak bakalan ngikutin dia”

“Eh Zantman itu siapa?”

“Cari aja di Google! Ayo cabut, hujannya sudah agak lumayan nih!”

february in a mess

February 29, 2012

Sepertinya di bulan Februari ini aku tak punya waktu untuk ngeblog. Tapi mumpung tahun ini dilebihkan satu hari di bulan Februari, jadi kusempatkan saja.

Rasa-rasanya hampir tidak pernah ada jeda di bulan Februari. Bahkan cuti selama 5 hari di awal bulan pun tak bisa mengejar target. Aku memang sedang merencanakan sesuatu di tahun 2012 ini. Kelihatannya simpel, namun tak kunjung selesai-selesai. Dan aku mencoba untuk step by step, perlahan-lahan mengeksekusinya. Sangat melelahkan namun membuatku sangat puas, apalagi kalau sudah jadi nanti. Aku sangat menyukainya, meskipun segalanya  jadi berantakan

Belang jari telunjuk kanan

Pada awal bulan Februari aku mengajukan cuti selama 5 hari. Kupikir itu waktu yang sangat cukup untuk kejar tayang. Dan yang terjadi adalah 4 hari mencoba mengejar, 1 hari langsung terkapar. Benar-benar hari yang sangat padat dan panas. Hari pertama-kedua persiapan alat dan bahan, yang mengharuskan aku bolak-balik Godean-Glagah Sari. Untung saja untuk persiapan peralatan bisa ditekan harganya dengan membeli barang sisa ekspor murah di seberang perempatan Jalan Kabupaten dari arah petakumpet. Barangnya lumayan bagus-bagus, bahkan hotel pun barangnya mengambil semua dari situ. Hari ketiga trial produk, hasilnya cukup memuaskan. Hari keempat lagi-lagi persiapan alat. Kali ini harus meluncur ke Klaten untuk mencari kualitas yang terbaik tapi termurah, hehe.. Teriknya matahari membuat kakiku terlihat belang-belang karena tertutup sandal selop. Lucunya meskipun kedua tanganku memakai kaos tangan, namun telunjuk kananku tampak gelap. Aku tak tahu bagaimana bisa begitu, mungkin terlalu banyak rem tangan.

Bengong dan terkapar

Saat tubuh sangat kelelahan, yang ada di pikiran begitu sampai kos adalah; waktunya memanjakan diri. Sehabis isya’ setelah perut kenyang dan air sudah mendidih, maka saatnya bikin coklat Milo sambil makan cemilan dan nonton OVJ. Milo sudah diaduk camilan sudah dibuka, saatnya menyalakan TV Expert di komputer untuk nonton OVJ. Lumayanlah buat menghilangkan penat. Komputer sudah nyala, layar sudah biru dengan tulisan Welcome, lalu Wallpaper SpongeBob muncul. Aku beranjak menggerakkan mouse. Aku klik logo Windows, kemudian klik tombol merah. Ada tiga pilihan tombol muncul lagi. Dan secara reflek aku klik tombol merah yang ada di tengah. Layar berubah jadi biru denga tulisan Logging off, lalu mati. Dan aku bengong saja. Aku tahu harusnya aku tadi tekan tombol TV Expert diantara beberapa pilihan setelah mengklik logo Windows. Bagaimana pikiranku bisa mengarahkanku ke tombol Shut Down? Aku bengong tak peduli dan langsung terkapar. Coklat Milo dan camilan ikut bengong melihat tingkahku.

Dizzy Miss Lizzy

Stiker Legendary Pictures di tasku sudah mulai retak dan mengelupas. Memang niatnya dibuat begitu secara alami. Namun kalau sandal Beatles, lain lagi ceritanya. Aku selalu menjaganya, dan biasanya kalau rusak sedikit aku selalu memperbaikinya. Tapi kali ini aku seakan membiarkannya dan tak ada waktu untuk memperbaikinya. Menyemir saja tak sempat apalagi memperbaikinya. Aku seakan mendengar lagu Dizzy Miss Lizzy meskipun aku nggak tahu apa maksud dari lagu itu. Bagiku terasa terdengar kata “Lazy”

Antri Maaf

Melalui blog ini mungkin aku harus minta maaf dari beberapa inbox dan sms yang masuk. Aku mau minta maaf atas interview yang belum sempat kujawab bagi mahasiswa yang mau skripsi. Bukan maksudku untuk memperlambat ataupun mempersulit. Aku selalu berusaha agar kalian bisa lulus dengan cepat, tapi tidak biasanya aku berada dalam keadaan seperti ini. Maafkan juga bagi empat orang yang sudah antri untuk pesan cukilan sandal. Percayalah aku sudah beli sandal jepit itu, hanya tak punya waktu saja untuk mengeksekusinya. Maafkan juga untuk order diluar kantor yang terpaksa kutolak. Rencanaku ini sangat-sangat berarti bagiku.

Terbakar

Sabtu itu aku bangun sangat kesiangan. Setelah meng-qodho sholat subuh perutku terasa keroncongan. Ingin rasanya menikmati nasi pecel sambil nyeruput teh hangat. Sepertinya kemarin aku sudah mengisi penuh panci di kompor listrik dan tinggal menyalakannya saja. Aku tinggalkan kompor itu agar sekembaliku dari beli nasi pecel bisa pas mendidihnya. Biasanya 15 menitan. Aku tinggalkan menuju warung pecel di jalan belakang pom bensin pake sepeda motor. Ternyata di sana ada 2 orang cewek yang sudah mau membungkus makanan. Tapi ternyata mereka sedang kebingungan mau bungkus apa meskipun sudah bungkus dua bungkusan. Wah, bisa lama nih, wong tinggal milih saja kok repot.

“Aduh parenya iya nggak ya?” mereka sedang berdiskusi, padahal si penjualnya sudah megang centong dan memasukkannya ke baskom berisi pare. Ayo! Kalo jadi ya jadi, kalo enggak ya enggak! Lama amat pikirku.

Lalu penjualnya bilang padaku “Mau bungkus apa Mas?”

“Pecel Mas” jawabku. “Bentar ya Mas” balasnya.

“Ya udah parenya dua ribu” kata salah satu cewek itu. Akhirnya penjualnya membungkus plastik bening pare itu. Sudah ada tiga bungkusan, mungkin setelah ini sudah. Namun tiba-tiba…

“Sama bungkus pecelnya lima Mas!”

Busyet! Lima? Bisa lama nih, keburu mendidih nih komporku. Tapi aku kudu tetep sabar, dan berpikir positif.

Begitu sudah terbungkus tiga pecel, tiba-tiba si penjual bilang “Udah Mbak, habis ini ada lagi nggak?”

He? Tiga? Berarti pendengaranku tadi salah. Alhamdulillah…. tapi,

“Lima bungkus Mas!”

Hladalah! Semfruol tenan!

“Ntar ya mbak tak bikin bumbu kacangnya lagi. Ini sudah habis”

Gusti Allooooh… paringana sabaaaar

Begitu bumbu kacang jadi dan pecel sudah terbungkus lima, tiba-tiba ada sms masuk dari Pak Kos: Husni, kompormu terbakar, tadi kabelnya kucabut lewat jendela. Aku langsung lemes dan pasrah. Terserah deh kalian mau bungkus apa lagi, pake diskusi lama juga nggak papa… nasib sudah sial!

Setelah satu pecel terbungkus buat aku, langsung aku ngebut dan hampir nabrak beberapa kali. Sampai kos, langsung aku tinggalkan motorku dan menuju kamar kos. Pak Kos bilang “Untung jendelamu kamu buka, kalo enggak mungkin bisa jadi kebakaran. Kubuka kamar kosku, ternyata sudah penuh dengan asap dengan bau seperti belerang menyengat. Kompornya meleleh ndledek, lempengnya yang bundar sempurna jadi mleyot. Kuambil pancinya, lhadalah! Ternyata pancinya sedari tadi nggak ada isinya!

Tapi meskipun lempeng tadi peyot, ajaibnya kompornya masih bisa dipakai sampai sekarang. Alhamdulillah…

Completely in a mess

Kini setiap aku bangun tidur dan mengaca, ada sesuatu yang berbeda. Ya, bulu rambut di daguku alias janggutku sudah mulai memperlihatkan hasilnya (baca postingan what’s new?) Saat anak pak kosku tahu, dia bilang “Wah Mas Husni sudah nggak kayak Superman lagi. Aku jadi salah tingkah, lalu aku bilang “Loh sekarang lebih garang lagi, ini Punisher!”

Tapi mereka nggak paham, apalagi kalo tadi aku bilang Frank Castle, tambah nggak paham lagi. Mereka lalu bilang “Huu… jadinya malah berantakan, Mas Husni kayak orang payah!”

Mungkin kau benar nak, pikirku. sepertinya aku perlu bercukur untuk pertama kalinya. Entah kapan.

 

*postingan ini harusnya ada gambarnya, tapi nggak tahu mau dilengkapi kapan.

#JawavsJkt (3)

January 13, 2012

 

  1. Org Jawa:”Kangen OMAH..” | Org Jkt:”Sama bro, apalagi OMAHku pinter masak, klo OPAHku udah meninggal” #JawavsJkt
  2. *interview Org Jkt:”Ceritakan ttg LATAR BELAKANG Anda” | Org Jawa:”Di LATAR BELAKANG rumah saya ada sumur,WC,pohon rambutan..” #JawavsJkt
  3. Org Jawa:”Sampun SAMI WUNGU dereng Mas?” | Org Jkt:”SAMMY itu bukan UNGU, tapi bekas Kerispatih! Pasha kali maksud lu” #JawavsJkt
  4. Org Jkt:”Nah, beginilah buah2an hasil KLONINGAN” | Org Jawa:”Berarti guyub yo Mas, lhawong KLONENGAN…” #JawavsJkt
  5. Org Jawa:”Kuda apa yg basah kuyub Mas?” | Org Jkt:”Eng apa ya?.. Kuda laut?” | Org Jawa:”Salah, KUDANAN…” #JawavsJkt
  6. Org Jawa:”Nek lewat mbok AMIT-AMIT sik, sing sopan ngono!” | Org Jkt:”Apanya yang AMIT-AMIT bro?” #JawavsJkt
  7. Org Jawa:”Mangane sing mentah2. Koyo urip nang ALAS wae” | Org Jkt:”ALAS apaan bro? Alas kaki?” #JawavsJkt
  8. Org Jawa:”Melu aku MENYANG KALI yo, ngedusi kebo” | Org Jkt:”MENYANGKALI? Apanya yg disangkal bro? Kebo?” #JawavsJkt
  9. Org Jawa:”Aku sakjane gelem, NENG…” | Org Jkt:”NENG apa? Neng-ayo-neng?” #JawavsJkt
  10. Org Jawa:”Mas, mgko bengi nonton KETOPRAK yo..” | Org Jkt:”Bodo amat? KETOPRAK ditonton, dimakan!” #JawavsJkt
  11. Org Jawa:”Kok ora sido Mas? Ono opo TEKNO?” | Org Jkt:”TEKNO apaan? TEKNOLOGI?” #JawavsJkt
  12. *dlm logat banyumasan. Org Jawa:”Wah angel pisan. RA ISA..RA ISA..” | Org Jkt:”RAISA? yg penyanyi sama model iklan itu ya bro?” #JawavsJkt
  13. Org Jawa:”Wah, tangiku KAWANAN, ndek bengi lembur” | Org Jkt:”KAWANAN apa bro? Kawanan perampok?” #JawavsJkt
  14. Org Jawa:”Njenengan entosi KEDHAP…” | Org Jkt:”KEDAP ape? kedap suara?” #JawavsJkt
  15. Org Jawa:”NEK rak ono pye Mas?” | Org Jkt:”NAK-NEK-NAK-NEK..Emang gwe NENEK lu!” #JawavsJkt
  16. Org Jawa:”Nek asat, SORI banyu meneh Mas..” | Org Jkt:”SORI? Emang lu punya salah apa?” #JawavsJkt
  17. Org Jkt:”Gila!Ngapain lu ke seminar pake SERAGAM TIMNAS?” | Org Jawa:”Lha iki kan tempate nang BALLROOM Mas” *sok tau Bhs.Inggris #JawavsJkt
  18. Org Jkt:”Makan yuk” | Org Jawa:”MANGKE Mas” | Org Jkt:”Sialan, gue nawarin baek2, malah lu ngatain MONKEY..!” #JawavsJkt
  19. Org Jkt:”Siape nih yg mau di-KO?” | Org Jawa:”Opo to Mas?” | Org Jkt:”Nih SMS lo:mengKO dhisik yo Mas” #JawavsJkt
  20. Org Jawa:”Wah saiki wis sasi SURO TO?” | Org Jkt:”Siape tuh SUROTO? babe lu?” #JawavsJkt
  21. Org Jawa:”Aku nyilih JUNGKAT Mas, ben rambutku rodo rapi. Arep ngapel ki..” | Org Jkt:”JUNGKAT apaan? JUNGKAT-JUNGKIT?” #JawavsJkt
  22. Org Jawa:”Tingkahe artis ki ora ono sing BECIK” | Org Jkt:”Artis yg BECEK? ya Cinta Laura. Mana ujan, BECEK, gak ada ojek..” #JawavsJkt
  23. Org Jawa:”Wah nang kafe cewek’e OKEH bgt Mas!” | Org Jkt:”OKEH apaan? Kagak ada yg cantik.. Payah selera lu!” #JawavsJkt
  24. Org Jkt:”Hey! KALIAN siapa?” | Org Jawa:”Kula KALIYAN rencang2 kula Mas” #JawavsJkt
  25. Org Jawa:”Nek rak cocok karo mobile yo BALEKNO wae” | Org Jkt:”Mobilnya bukan BALENO bro, tapi Accord!” #JawavsJkt
  26. Org Jkt:”Dari kecil gue pingin jadi PENERBANG” | Org Jawa:”Melu aku wae! Aku iki PENERBANG lo mas. Nek sholawatan nabuh TERBANG” #JawavsJkt
  27. Org Jawa:”Wah lagune Bobby Vinton ki SARU tenan” | Org Jkt:”Emang kenape dg lagu SEALED* with a Kiss” #JawavsJkt *dibaca: SIL—
  28. Org Jkt:”Biar gak malu2in di Jakarta, lu harus tahu apa itu JAIM” | Org Jawa:”Nang Jogja yo eneng JAIM kok Mas, Jalan Imogiri..” #JawavsJkt
  29. Org Jawa:”Badminton-e seru Mas. Kido nganti TIBO mau..” | Org Jkt:”TIBO main badminton? bukannya bola?” #JawavsJkt taken from @playboygyla
  30. Org Jawa:”Sik Mas, isih udan. Ngenteni TERANG” | Org Jkt:”TERANG? Pake lampu!” #JawavsJkt
  31. Org Jawa:”Kula seneng ingkang werni PETAK Mas..” | Org Jkt:”PETAK apaan? petak umpet?” #JawavsJkt
  32. Org Jkt:”Lu di Bandung kuliah di mana?” | Org Jawa:”di ITM Mas” | Org Jkt:”ITM?” | Org Jawa:”Institut Teknologi Mbandung” #JawavsJkt
  33. Org Jawa:”Ndek bengi aku turu MUJUR ngalor, tangi2 kok pindah MUJUR ngidul..” | Org Jkt:”MUJUR? dapet rejeki apaan bro?” #JawavsJkt
  34. Org Jawa:”BODHO BESAR nyembelih opo mas?” | Org Jkt:”BODO BESAR? Siape nyang bodo? gua sembelih lu!” #JawavsJkt
  35. Org Jawa:”Nang kampus ojo nganggo sendal mengko diSENENI dosen” | Org Jkt:”SENENI? klo SELASANI atau RABUNI ada nggak? #JawavsJkt
  36. Nama saya HARIS | Hmm..brarti pas lahir sampeyan keluar kepala duluan | Kok bisa? | Lha HARIS diwalik kan SIRAH, dong ra? #JawavsJkt
  37. Org Jawa:”Opo wae pokok’e tak laksana’ake. Lhawong dikon SULTAN..” | Org Jkt:”Jadi KONSULTAN apa bro?” #JawavsJkt
  38. Org Jawa:”Sing NGAKON sopo to Mas?” | Org Jkt:”Lu nanya2 orang ACCOUNT lagi… Naksir lu? Ngimpi!” #JawavsJkt
  39. Org Jawa:”Isih okeh Mas, mung KALONG sithik” | Org Jkt:”KALONG? Mana ada siang2 gini?” #JawavsJkt
  40. Org Jawa:”Saikine wis ARANG Mas, wis rak metu meneh sing koyo ngono” | Org Jkt:”Siape yang nyari ARANG?” #JawavsJkt
  41. Org Jawa:”Meh MANGAN nang ndi Mas? | Org Jkt:”MANGAAN itu bahan mineral temennya tembaga, besi, nikel itu ya?” #JawavsJkt
  42. Org Jawa:”Bengi2 ngene lwt dalan sing PADHANG wae mas” | Org Jkt:”Bener bro,malem2 gini enakan mampir ke warung PADANG,laper gue” #JawavsJkt
  43. Org Jkt:”Jangan berkeluh KESAH gitu bro…” | Org Jawa:”KESAH ten pundi Mas?” #JawavsJkt
  44. Org Jkt:”Bro, tahu tempat yg asik utk CANDLE light dinner di Jogja gak?” | Org Jawa:”Apane sing KANDEL mas?” #JawavsJkt
  45. Org Jkt:”Aku sedang dalam tahap peMULIHan bro” | Org Jawa:”Arep MULIH nang ndi to Mas?” #JawavsJkt
  46. *dlm logat banyumasan, Org Jawa:”Negara sing okeh MAAF-e” | Org Jkt:”Mana tuh?” | Org Jawa:”SING-NGAPURA” #JawavsJkt
  47. Org Jawa:”Enteni DILIT ya Mas…” | Org Jkt:”He?!! Apanya yang mau di-DELETE?” #JawavsJkt
  48. Org Jawa:”Laptop-e PANCI koyo ngaten, lhawong mpun jadul” | Org Jkt:”PANCI? laptop jadul ini mau lu jadiin panci? gile lu!” #JawavsJkt
  49. Org Jkt:”Hari ini kita menundukkan kepala, Steve Jobs mangkat..” | Org Jawa:”Arep mangkat menyang ngendi Mas?” #JawavsJkt from @playboygyla
  50. Org Jawa:”Mugi saged dados pelajaran, amplop coklat kula ICAL…” | Org Jkt:”ICAL siapa? ICAL BAKRIE?” #JawavsJkt
  51. Org Jkt:”Rangka BETON susah dihancurkan!” | Org Jawa:”BETON isi nangka yo mas? dipidak remuk! Mending digodog wae, enak!” #JawavsJkt
  52. Darling.. | Jgn panggil aku spt itu.. | Kenapa? | Karena DARLING, nek aku moDAR kowe wis rak eLING #JawavsJkt
  53. *dlm logat banyumasan. Org Jawa:”Suwene MANGSA KETIGA,panas tenan!” | Org Jkt:”MANGSA ape?KETIGA?istri udah dua msh blm puas lu?” #JawavsJkt
  54. Org Jawa:”Aku pengin bgt KOYO KUWE Mas..” | Org Jkt:”Oh ternyata selain KOYO CABE, ada KOYO KUE juga ya? pasti lezat tuh..” #JawavsJkt
  55. Org Jawa:”Kula ajeng ngirim SERAT Mas” | Org Jawa:”Si Ajeng mau ngirimin SERAT? ngirim buah2an maksudnye?” #JawavsJkt
  56. Org Jawa:”Monggo lo Mas, dipun UNJUK..” | Org Jkt:”UNJUK apaan? Lu mau UNJUK RASA?!!” #JawavsJkt
  57. Org Jawa:”Nek nggawe ncen ngono, neng GELIS rampung” | Org Jkt:”Mana bro ada neng GEULIS?” #JawavsJkt *campur sunda

Punker Unyu

January 12, 2012

Baru sadar kalau hari ini sudah tanggal 12 Januari gara-gara dengerin lagu 11 Januari-nya GIGI dari kamar kos sebelah waktu aku melewatinya ke kamar mandi. Sebenarnya dari awal aku agak sedikit berprasangka buruk terhadap tetangga kos ini. Karena ketika kamar itu kosong tahu-tahu sehari kemudian setelah kepindahan penghuni lama aku melihat ada penghuni baru dengan sepeda motor berplat agak gimanaaa geto…

.

.

Bahkan sadelnya pun kalau dilihat sangat sangar dan terlihat menyakitkan.

.

.

Aku nggak tahu motor itu beneran apa nggak (maksudnya plat-nya dan surat-suratnya legal) tapi yang jelas waktu pertama kali aku ngeliat, aku membayangkan kalau orang yang make’ adalah anak punk dengan penampilan urakan, atau mungkin suka nyimeng, atau sering bawa masuk kamar cewek (dilihat dari platnya) Lagu-lagu yang diputer pun mungkin semacam Sex Pistols, RANCID, Anthrax (eh anthrax bukan ding ya?) pokoknya lagu-lagu kayak gitu lah.

.
Tapi ternyata dugaanku itu semua salah. Karena orang yang menghuni itu ternyata halusnya bukan main. Sebab mereka (yang menghuni 2 orang) selalu menyapa dan tersenyum ramah saat ketemu. Dan kalau ada teman-temannya yang main ke kamarnya pun bukan kumpulan anak-anak urakan, melainkan kumpulan orang-orang yang bekerja di Indomaret. Dan aku nggak pernah menemukan ada temannya yang cewek. Sering aku temui saat aku istirahat pulang untuk Jum’atan, aku lihat salah satu dari mereka sudah siap dengan pakaian kokonya dan pergi ke masjid. Pernah suatu malam aku lewat, aku lihat sepintas salah satu dari mereka sedang menyalin tulisan arab, entah buku doa apa itu.

.
Kulihat baju-baju yang dijemur ada gambar band punk dengan background bendera Inggris, dan baju seragam Indomaret tentunya. Tapi sepertinya penampilan mereka tak tampak seperti punker meski memakai kaos-kaos itu. Dan yang paling mengherankan adalah, ketika sedang mandi, lagu yang dinyanyikan adalah lagu-lagu UNGU. Wah apa nggak salah nih? Ini Punker atau Pasha?, pikirku saat kebetulan aku berada di kamar mandi sebelahnya. Tak pernah sekalipun aku dengerin lagu-lagu punk rock. Kalau kebetulan lewat kamarnya biasanya lagu yang diputar adalah d-masiv, dan yang terakhir tadi lagu-lagunya GIGI yang romantis.
Ternyata menebak dan memahami insight itu susah banget, tak bisa dilihat langsung dari luarannya. Apalagi memahami cewek, angkat tangan dah gua!

.
Banyak cewek yang bilang kalau para cowok tuh tak pernah bisa memahami mereka. Padahal sebenarnya cewek nggak paham kalo cowok itu sudah terlalu capek dan pusing buat bisa memahami mereka. Hehe… bercanda kok, tapi kalo kenyataannya emang iya, anggap saja bercanda.

what’s new?

January 9, 2012

Selamat Tahun Baru! Udah telat yah? Hehe… Setiap tahun baru biasanya ada sesuatu yang baru juga. Tapi dari tahun ke tahun kok aku nggak merasa menemukan suatu perubahan yah? Perubahan ada, tapi nggak begitu terasa. Biasa aja gitu. Serasa kalau ada resolusi di setiap tahun baru, resolusinya adalah menyusun resolusi tahun baru selanjutnya. Jadi resolusi di tahun 2012 ini adalah merencanakan resolusi tahun 2013 dst..dst, hehe bercanda… Tapi nggak kok, tahun 2012 ini aku ada resolusi yang cukup serius. Saking seriusnya makanya blog-ku Januari ini baru up date sekarang, karena weekend kemarin aku sudah sibuk bersiap untuk rencana besarku di tahun 2012 (halah, alesan).

Di akhir 2011 kemarin aku seakan mendapatkan wangsit untuk melakukan sesuatu di tahun 2012. Bagi sebagian orang banyak yang bilang tahun 2011 adalah tahun yang buruk. Tapi menurutku tahun 2011 bukanlah tahun yang jelek-jelek amat. Serius. Memang ada beberapa yang tidak menyenangkan, tapi tekanan-tekanan dan penderitaan yang menempaku itu justru menjadikanku semakin kuat. Thank’s year 2011! Postingan I’m not fear-ku tahun 2011 kemarin menyadarkanku untuk melakukan sesuatu yang besar di tahun 2012. Yaitu untuk tidak takut mengambil sebuah resiko yang mungkin sangat besar. Just do it. Think BIG, Start small, and Move f>st. Ditambah dengan postingan “Now Attitude” dari Iim Fahima (http://www.sudutpandang.com/2012/01/lakukan-sekarang/), semakin memantapkan langkahku untuk melakukan suatu hal baru yang mungkin sangat jauh beda dari bidangku. Bismillah!

Meski di tahun baru ini aku siap untuk melakukan hal baru, tapi rasanya ada yang tidak baru dari tahun ke tahun. Yaitu penampilanku. Dari tahun ke tahun kayak itu-ituuu mulu… Sebenarnya dari dulu ada dua benda yang mungkin sebagian besar cowok memerlukannya, tapi tidak olehku. Yang pertama dompet, dan yang kedua pisau cukur. Aku berpikir mungkin suatu saat aku akan memerlukannya.

Seumur hidup aku nggak pernah punya dan nggak pernah bawa dompet. Mungkin satu-satunya dompet yang kupunya adalah dompet SIM dari kantor polisi waktu aku ikut ujian untuk mendapatkan SIM (lihat postingan SIM Salabim, http://husnimuarif.wordpress.com/2009/11/21/sim-salabim-part-i/) Itupun isinya hanya SIM, STNK, KTP, ATM, sama Kartu Belanja Mirota Kampus. Nggak ada Kartu Kredit! Itupun kubawa kalau mau bepergian jauh dan sekedar menghindari atau iseng nyari razia, hehe.. Bagi sebagian cowok mungkin dompet adalah hal yang penting, (dan membanggakan) dengan foto ceweknya dan kartu kredit didalamnya.

Tapi entah kenapa aku tetep nggak nyaman dengan dompet. Aku lebih terbiasa dengan me-manage (sederhana) berapa uang yang aku perlukan saat mau keluar, terus uangnya disusun rapi dan dimasukkan saku. Kadang aku menaruh uang cadangan, tapi jarang sekali mengunakannya. Yang jelas aku tahu di saku mana aku menyimpan uangku dan tahu berapa isinya. Primitif, tapi lebih hemat karena bisa menghindarkan dari membeli barang yang tidak perlu (biasanya). Dan Alhamdulillah sampai sekarang nggak pernah kekurangan, justru malah sisa. Meski begitu, aku merasa kalau suatu saat nanti aku mungkin memerlukannya. Entah kapan. Bisa saja setelah menikah. Mungkin, tapi aku masih nggak nyaman dengan foto di dalam dompet itu.

Yang kedua pisau cukur. Baiklah biar nggak ndeso-ndeso amat aku sebut saja merk-nya, Gillette. Mungkin dekat-dekat ini Gillette adalah benda yang akan aku perlukan. Dan aku tak bisa menghindarinya karena pertumbuhan rambut di tubuhku sepertinya semakin liar. Terutama setelah cacar. Dulu sebelum aku kena cacar, aku hanya perlu pinset untuk mencabut satu sampai tiga helai rambut di daguku. Karena dulu pertumbuhannya sangat tidak kompak dan random. Pernah ada satu bulu kubiarkan panjang di daguku, dan akhirnya tercabut oleh temanku karena gregetan dengan satu helai bulu itu. Rupanya dia sudah mengincar lama. Saat aku bicara, dia melihatku dengan serius. Kukira dia sedang mendengarkan perkataanku dengan seksama, tak tahunya mengincar satu helai bulu di daguku.

Dan kini setelah cacar, kulihat bulu-bulu halus itu menampakkan diri. Entah kenapa, apakah proses pubertasku baru dimulai setelah cacar? Kini bulu-bulu halus itu mulai tumbuh di sekitar jamban ke dagu, di leher bagian atas, di ketiak, di dada, dan di eh, bagian yang lain. Kalau dulu mencabut bulu di dagu (jenggot) dan bagian kumis (lele) tiap minggu 3 – 6 helai, kini tiap hari mungkin bisa lebih dari sepuluh. Katanya kalau keterusan mencabut bulu juga tidak baik. Mungkin aku akan terlihat lebih dewasa ketika tumbuh brewok dan janggut yang dicukur pendek rapi (Aw-waw). Kiranya aku sudah cukup bahagia dengan pertanyaan “Masnya kuliah di mana?” yang dilontarkan beberapa orang yang ketemu aku. Bangga seakan masih muda, padahal pertanyaan itu sudah tidak pantas lagi untukku. Dan pertanyaan itu terulang lagi saat aku mengurus hadiah di Bank BPD. Mungkin itu yang terakhir.

Sampai sekarang aku belum membeli Gillette. Mau konsultasi dulu, hehe… Sepertinya akan susah memulainya, karena aku belum pernah bercukur sendiri. Apalagi tiap bercermin, tanganku tak kuasa mengambil pinset untuk mencabut lima atau sepuluh helai rambut yang baru muncul. Aku membayangkan mungkin jadinya akan seperti pria Gudang Garam Merah. Ha-ha dulu aku jadi model-rough dua kali untuk acuan Print Ad Gudang Garam Merah pas tagline-nya masih Nyalakan Merahmu! (Tagline yang sekarang aneh banget yah?) Atau mungkin aku bisa mengaturnya biar bisa seperti Wolverine, hehe… Karena penasaran aku ambil beberapa sampel, lalu aku pasangkan bagian sampel brewok itu di fotoku. Tapi tetap saja masih terlihat aneh. Aku mencoba untuk Digital Imaging, tapi aku nggak pandai Photosop. Aku mencoba memakai Brush Artistik Media Tool di Corel. Ah, tetap saja nggak lucu.

.

.

Pagi tadi aku mencoba cara lain dengan cermin yang digambari pakai spidol. O-ouw, aku jadi teringat personil Color Me Badd…

just hujan

December 30, 2011

Hrrr… malam Jum’at ini aku memaksakan diri untuk menikmati basahan hujan dari sepanjang Jalan Imogiri menuju Godean. Tidak langsung pulang, namun mampir ke kantor untuk ngeblog sebentar. Karena sepertinya hujan malam ini sangat pas sekali. Hujan mulai serius turun dari sehabis Isya’ tadi ketika aku mulai keluar untuk berburu mainan yang rencananya mau dibuat animasi. Bersama Gepeng (ilustrator Petakumpet) melawan sambutan awal hujan yang kelihatan sangat bersemangat sekali turunnya. Setelah itu menikmati panas dan pedasnya sop merah di pertigaan Jalan Imogiri. Pas sekali momennya. Tapi sebenarnya yang mau kuceritakan tidak hanya sekedar hujan, namun juga jas hujan.

Sore tadi tiba-tiba aku dikejutkan oleh kehadiran Pak Mahfud, dosen komunikasi UIN yang juga teman waktu peserta CWMC. Beliau datang sambil meminta maaf mengembalikan jas hujan yang kupinjamkan kepadanya 2 minggu yang lalu. Karena berbagai kesibukan dan halangan (pokoknya ceritanya panjang deh), akhirnya jas hujan tersebut baru bisa dikembalikan hari ini. Loh, lalu apanya yang spesial?

Aku ingat betul bagaimana awal mula aku meminjamkan jas hujan itu kepada Pak Mahfud. Mumpung besoknya weekend, malam itu kalau tidak salah aku sudah berniat untuk ngeblog. Hari itu tanggal 16 Desember aku sedang mengetik postingan “i’m not fear” selepas Isya’. Kebetulan acara Lecturer for Lecturer yang diadakan selama tiga hari, saat itu diselenggarakan di kantor Petakumpet. Acaranya selesainya sampai malam. Dan kebetulan pas acara selesai, hujan turun sangat deras.

Saat sedang asyik-asyiknya menulis postingan, tiba-tiba Mas Andhika (Syafa’at) mau pinjam jas hujan untuk mengambil mobilnya. Kebetulan jarak parkir mobilnya di depan kantor agak jauh, sehingga parkirnya mau didekatkan ke kantor biar gampang dan tidak harus basah-basahan menuju mobilnya. Aku langsung menuju ke garasi untuk mengambil jas hujanku yang ada di motor dan memberikan kepada Mas Andhika. Ternyata Pak Mahfud ada di garasi, sedang sedang membungkus tasnya dengan plastik.

“Loh Pak Mahfud belum pulang? Pake mobil kan?”

 “Nggak, ini kebetulan pas bawa motor. Nggak bawa mantol (jas hujan), soalnya tadi siang yakin banget kalau nggak hujan. Eh ternyata malamnya deres banget..”

Sepertinya Pak Mahfud pengin nekat hujan-hujanan malam itu. Kebetulan pas juga dengan kedatangan Mas Andhika yang sudah memarkirkan mobilnya dan kembali ke garasi mengembalikan jas hujan. Dan tanpa berpikir panjang aku langsung menawarkan jas hujanku ke pak Mahfud.

“Ya udah, Pak Mahfud pake mantolku saja”

“Lha sampeyan gimana?”

“Ah, gampang besok kan weekend. Kalau malam ini masih hujan, aku bisa nginep di kantor”

“Mbalikinnya gimana?”

“Ah gampang, bisa kapan saja”

“Ya udah, besok kan masih ada LFL, ntar tak titipin Mas Arief aja yah?”

“Tenang aja, daripada nggak pake mantol, besok bisa nggak ikutan LFL”

“Makasih ya, maunya sih mau nostalgia kayak jaman kuliahan dulu, hujan-hujanan pake motor, tas dibungkus plastik, hehe… Wah kalau nggak ada Mas Husni gimana nih aku”

Waduh, kepalaku langsung rasanya tambah gede.

Malam itu akhirnya aku melanjutkan memosting “i’m not fear”. Soalnya udah direncanain nih, harusnya kemarin-kemarin diposting habis syuting, masak mau dipending lagi? Setelah selesai memosting di blog, tiba-tiba saja hujan reda. Wah asyik, bisa tidur di rumah nih sambil bikin Sekoteng. Akhirnya malam itu aku pulang. Dan Sabtu-Minggu sepertinya nggak hujan. Seninnya aku ke kantor, sepertinya jas hujannya sudah dititipin ke penjaga malam atau Pak Arip. Eh, ternyata nggak ada titipan jas hujan untukku.

Hari berikutnya sepertinya mau turun hujan. Untuk jaga-jaga akhirnya aku pinjam jas hujan ke Ibu Kos, tapi ternyata malah nggak hujan. Saat aku kembalikan jas hujannya, Ibu Kos bilang “Walah, nggak usah terburu-buru balikinnya, di sini ada tiga kok”. Hari berikutnya jas hujanku belum ada kabarnya juga, lalu aku pinjam lagi jas hujan Ibu Kos. Namun kali ini kubawa terus aku jepitkan di jepitan sepeda motor. Ajaibnya, selama aku pinjam jas hujan, aku tak pernah satu kali pun memakainya. Karena kalau kebetulan nggak hujan, ya hujan baru turun saat aku sudah di rumah atau kantor. Wah sepertinya jas hujan ini semacam alat pawang hujan, hehe…

Seminggu sudah berlalu, namun jas hujanku belum ada kabarnya. Dan kebetulan hari Sabtu aku ada di Mirota Kampus untuk beli kertas kado buat mengado temanku yang baru punya anak. Aku bawa uang banyak saat itu, namun entah kenapa aku merasa tertahan saat berencana sekalian beli jas hujan. Dan kemarin Minggu pas hujan, Ibu Kos mengambil jas hujan itu “Mas, mantolnya aku ambil ya, mau aku pake”. Otomatis saat itu aku merasa seperti kehilangan alat pawang hujan. Aku hanya bisa pasrah, kalau pergi aku nggak bisa apa-apa selain berteduh bila hujan datang. Ajaibnya, hujan selalu turun saat aku sudah sampai di tujuan, dan begitu aku mau keluar, hujan reda. Kejadian selalu bisa terhindar dari guyuran hujan itu bertahan hingga 2 minggu, tepatnya pas kemarin sore Pak Mahfud mengembalikan jas hujan ke aku. Hebat banget yah? Meski cuman hujan, tapi ternyata kalau kita ikhlas dan yakin untuk berbuat baik, keajaiban Insy’Allah akan datang.

Dan tadi malam, Gepeng mengajakku untuk prepare alat-alat buat animasi. Baru keluar sebentar tiba-tiba, bresshh… Hujan turun dengan sangat deras. Dan jas hujanku sudah kembali ada di jepitan motor. Aku lalu memakainya dan tersenyum sambil berkata dalam hati “Pas banget, Ya Allah!”

*Tulisan ini diposting pada malam Jum’at jam 23.22. Karena tiba-tiba ada yang nggak bisa tidur dan ngajak ngobrol sampai 2 jam lebih, akhirnya postingan ini dilanjutkan Jum’at paginya. Harap maklum :)

gojek

December 28, 2011

Aku punya seorang teman asli orang Jawa Timur dan banyak tinggal di Surabaya. Orangnya sangat kreatif, mandiri, aktif, kritis, cerdas, enak diajak bergaul, dan suka gojek (guyon, bercanda) Temannya pun sangat banyak, sehingga dia sering ajak teman-temannya untuk mengerjakan beberapa project. Kadang aku sering ngobrol dengannya tentang iklan, logo, dan segala hal tentang kreativitas atau bahkan tentang entrepreneurship. Tapi yang paling aku suka adalah, dia senang gojek dan bisa diajak gojek. Gojek boso jowonan alias gojek kere istilah lainnya.

Meski begitu, ternyata tak selamanya dia bisa diajak gojek. Karakter Jawa Timur-nya yang terkenal keras dan kasar untuk hal-hal tertentu bisa langsung keluar. Begitulah orang Jawa Timur, kalau serius ya serius, kalau nggak ya enggak. Suatu hari saat ngobrol-ngobrol bareng di rumahnya, ada satu teman yang menyalakan rokok. Lalu dia bilang “Eh tolong, aku tahu ini sedang santai. Tapi bisa nggak kalau ngerokok di luar” Mendengar hal tersebut, orang yang merokok ini malah meniupkan asap rokok ke wajahnya lalu ketawa. Yang terjadi adalah temenku tersebut langsung memukul beneran orang yang ngerokok tersebut. Suasana yang semula gayeng berubah menjadi hening dan serius.

“Dikandani nek ngrokok nang njaba! Gojek yo gojek, malah kebule ditatapke nang raiku! Asu tenan kowe!” (dibilangin kalau ngerokok di luar! Bercanda ya bercanda, asapnya malah ditiupkan ke wajahku! Anjing lu!) Semua pada tidak menyangka, karena selama ini dia adalah orang yang suka bercanda dan bisa diajak bercanda. Menurut mereka ini hanyalah masalah rokok dan hanya bercanda. Tapi baginya yang seperti itu namanya bukan bercanda.

Di kantor, di departemen kreatif, cuman aku yang nggak ngerokok. Ya ada sih satu copywriter cewek yang nggak ngrokok, tapi dia awalnya perokok berat, dan baru bisa berhenti merokok gara-gara punya momongan. Aku sendiri sebenarnya juga sangat benci dengan rokok. Apalagi kalau yang merokok tak bisa menghormati orang yang bukan perokok di sekitarnya. Kalau melihatnya seperti pengin mukulin kayak temenku tadi, hehe…

Namun masalah sebenarnya adalah, benarkah tindakan yang dilakukan oleh teman Surabaya-ku tadi? Menurutku sih benar (lhawong sudah dibilangin tapi malah ngeledek), tapi karakterku bukan seperti itu. Aku sebenarnya juga pengin mukulin,­ tapi nggak langsung mukulin, melainkan lebih suka melampiaskannya dengan sesuatu yang lain. Dan aku melampiaskannya dengan membuat iklanTV. Aku tahu, sekeren apapun iklan anti rokok, tetap saja tak bisa membuat orang yang merokok berhenti merokok. Tapi setidaknya TV PSA ini bisa memberi informasi, peringatan, yang bisa menghibur (entertain-gojek). Dan tentunya pelampiasan :) Toh memang disetiap bulan Mei aku berusaha untuk bikin iklan anti rokok untuk Hari Anti Tembakau Sedunia yang jatuh pada akhir bulan Mei (lihat postingan bulan Mei 2010)

Idenya sebenarnya berasal dari isu lama tentang orang-orang yang sok peduli dengan lingkungan namun tak sadar kalau mereka sendirilah penyumbang pencemaran lingkungan. Mereka para aktivis lingkungan berdemo dengan spanduk-spanduk sambil memegang rokok. Padahal rokok pencemar udara 10 kali lebih dahsyat daripada mesin diesel dan merupakan penyumbang bocornya lapisan ozon. Ide dari artikel tersebut sebenarnya sudah sangat kuat, namun aku tak mau mencomotnya mentah-mentah. Aku berusaha untuk mengemasnya sebagai sebuah gojekan ala Thailand yang sebenarnya tak jauh-jauh amat dengan gojekan ala Srimulatan. Dan ide besarnya kudapat dari temenku Surabaya tadi :)

Dengan mendayagunakan anak magang dari UPN (Thank’s to Diaz and team), proses pengerjaan iklan ini sangat panjang dan penuh dengan revisi. Harusnya iklan ini mulai proses produksi hari Sabtu tanggal 28 Mei 2011. Berhubung ada acara Media Strategic Planning Workshop yang diadakan P3I dan Fortune pada tanggal 27-28 Mei, maka produksi dilaksanakan justru setelah Hari Anti Tembakau 31 Mei. Akhirnya iklan ini rencana akan ditayangkan pada tanggal 5 Juni yang bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Masih relevan, karena ada isu tentang lingkungan di content iklannya.

Sambutan awal cukup baik, semua suka dan terhibur dengan iklan ini, namun ternyata durasinya terlalu panjang. Iklan ini memang rencananya juga dimasukkan entry Pinasthika, sehingga durasinya haruslah maksimal 60 detik. Maka mulalilah diakukan take ulang dan perombakan skrip-nya. Halangannya pun semakin banyak dari kabel sound yang putus, dan ada saudara dari salah satu kru yang meninggal, sehingga take harus dilakukan di hari berikutnya dan sangat mepet dengan deadline batas tanggal penayangan. Tapi alhamdulillah, hasilnya lebih baik dan sesuai target. Beginilah kira-kira iklannya (tayang dua kali di RBTV)

Sebenarnya dari beberapa karya yang dimasukkan Petakumpet di kategori Bawana Pinasthika, yang paling kuandalkan adalah iklan ini. Namun ternyata masuk finais pun enggak. Aku merasa seperti de javu dengan kejadian dua tahun yang lalu dimana iklan anti rokok yang pernah aku bikin tak ada di list semua entry (lihat postingan terulang kembali, http://husnimuarif.wordpress.com/2009/08/10/terulang-kembali-ada-apa-dengan-quit-tobacco/) Pikirku mungkin jurinya nggak paham saat melihat iklan TV yang nggak ada subtittle-nya. Aku penasaran, karena waktu pengiriman aku sertakan dua file, yang satu hi-res namun nggak ada subtittle-nya, dan satunya low-res dengan subtittle. Mungkin jurinya nonton yang nggak ada subtittle-nya, pikirku. Tapi saat kulihat pas Pinasthika, entry yang masuk finalis kebanyakan kok durasinya lebih dari 60 detik yah? Ealah…

Setelah Pinasthika selesai, aku memasukkan iklan ini ke Citra Pariwara. Sebenarnya dari bos tidak setuju jika iklan ini dimasukkan ke CP, karena sudah gagal di Pinasthika. Namun aku nekat memasukkannya ke entry CP tanpa sepengetahuan bos dengan uangku sendiri tapi atas nama Petakumpet. Maklum kalau entry atas nama perorangan biayanya Rp. 1.500.000 sedangkan kalau anggota P3I biayanya Rp. 700.000. Aku berani menanggungnya. Ini bukan tentang ego, ini tentang tanggung jawab seseorang Director untuk memperjuangkan karya yang telah dibuatnya. Aku tak mau mengecewakan hasil kerja dan semangat yang luar biasa dari kru anak-anak UPN (Cikal). Lagian Petakumpet tak memasukkan satu pun entry di CP.

Beberapa minggu kemudian, aku mendapatkan email dari bos yang katanya dari panitia Citra Pariwara. Awalnya kupikir undangan untuk rangkaian acara CP karena mungkin karyanya masuk finalis. Tapi ternyata surat teguran dari Ridwan Handoyo, Ketua Badan Pengawas Periklanan, yang isinya memberitahukan bahwa entry iklan TV yang dikirimkan melanggar etika sehingga didiskualifikasi dan himbauan agar tidak lagi menayangkan iklan TV tersebut. Pelanggaran Etika pariwara Indonesia Bab III.A No. 1.10 (Kekerasan) yang berbunyi: “Iklan tidak boleh – langsung maupun tidak langsung – menampilkan adegan kekerasan yang merangsang atau memberi kesan membenarkan terjadinya tindakan kekerasan”. Oalah, kenapa ngasih tahunya nggak pas Pinasthika? biar sebelum-sebelumnya aku nggak masukin ke CP. Sebab dulu Ridwan Handoyo pernah melayangkan surat yang sama ke Petakumpet karena salah satu karya ada yang melanggar etika pas Pinasthika 2007.

Namun dari kejadian tersebut justru aku merasa lega dan nggak menyesal sama sekali atas apa yang aku lakukan. Paling tidak rasa penasaran terhadap karyaku terjawab sudah. Lebih baik aku berkorban untuk mendapatkan pelajaran yang berharga daripada tidak mengirimkan entry tersebut dan memendam rasa penasaran yang mungkin akan terus mengusikku. Dan aku yakin pengorbanan ini suatu saat akan diganti oleh Allah kalau kita ikhlas.

Aku juga tak habis pikir, ternyata yang namanya gojek itu relatif dan harus tahu penempatannya. Sebenarnya iklan PSA Anti Tembakau ini kan hanya gojek kere. Adegan mukulnya kan nggak serius, hanya permainan make up, dan pemerannya pun sehat-sehat saja dan tak ada yang dilarikan ke rumah sakit. Yang nonton iklan ini juga nggak ada yang protes. Ini kan mirip-mirip dengan iklan Thailand di bawah ini (referensinya memang dari iklan ini)

Tapi jujur saya sangat berterimakasih atas kepedulian Pak Ridwan yang mau berjuang menegakkan Etika Periklanan agar iklan-iklan yang ada di Indonesia ini bisa lebih berkualitas dalam memberi informasi yang benar kepada konsumen. Hanya saja mungkin Pak Ridwan nggak tahu yang namanya gojek kere. Sebab saya yakin iklan di bawah ini bukanlah gojek dan sangat tidak lucu. Saya tiap hari Minggu kalau nonton kartun selalu melihat iklan ini, dan berpikir: gawat nih, bisa-bisa akan banyak anak-anak yang habis makan permen lalu bunuh diri nyungsep ke jurang!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.