It’s rain now!

June 1, 2014

Aku nggak tahu, mungkin grammar judul di atas salah, seharusnya it’s raining now. Tapi sebenarnya ada sebuah pesan terselubung di dalam kalimat itu untuk someone special pada waktu itu. Waktu itu aku masih SMA. Dan dulu aku ingin sekali membuat kata-kata itu untuk dibikin stiker cutting (manual). Aku bahkan sudah menentukan jenis font apa yang mau aku ambil dari sebuah iklan di Koran Singapura, The Straits Time yang kudapat dari kakakku. Kakakku bisa dapet koran itu dari bos-nya. It’s rain now! Aku selalu mengatakan itu saat hujan tiba sambil tersenyum memandang ke langit. Seolah ada semangat untuk menghadapi situasi. Orang biasanya males kalau hujan turun. Banyak rencana yang gagal gara-gara hujan. Tapi ketika aku bilang It’s rain now! Justru membuatku bersemangat. Bahkan aku mengharapkan hujan datang membersamaiku. I love rain!

Sekarang hujan sangat sulit ditebak. Di Jogja akhir-akhir ini panas dan gerahnya bukan main. Sementara saat aku telepon istriku di Sumedang, di sana sedang hujan deras. Sekarang aku memang sedang terpisah jarak dengan istriku karena dia sedang hamil muda. Kondisi awal kehamilan yang serba tidak memungkinkan, mengharuskannya untuk lebih baik dia di Sumedang saja. Bukan hanya menjaga kalau tiba-tiba mual-mual dan muntah, tapi istriku merasa tak cocok dengan panasnya Jogja. Baik-baik di sana ya sayangku…

Kalau tak pikir-pikir kok Jogja sudah tidak seperti dulu lagi ya? Sekarang suka gak jelas, kadang suasana gerah dan sepertinya pertanda mau turun hujan, tapi malah nggak hujan-hujan. Aku ingat, dulu pada tahun 2012, awal aku mendirikan TELAP12, hujan sudah nggak turun lagi di bulan April. Sekarang bulan Mei masih turun hujan meskipun kadang cuman sebentar. Setiap mau nyuciin motor dan nggak jadi, sorenya hujan. Lalu aku berujar; “Untung tadi nggak jadi nyuciin motor, hehe…” Karena hujan yang kadang datang nggak jelas itulah yang bikin aku selalu menunda-nunda untuk nyuciin motor.

Pertengahan Mei kemarin, sebelum istriku balik ke Sumedang, aku sempat bikin tulisan “I LOVE RAIN I LOVE PROBLEM” di jas hujan, dengan menggunakan selotip kertas dalam rangka menyambut hujan sekaligus menyambut masalah yang kadang datang terus bertubi-tubi. Aku memang sengaja membuat tulisan itu untuk menjadi penyemangat diriku agar selalu berpikir positif dan tidak nglokro (malas) dalam menghadapi masalah. Dan setelah aku bikin itu di jas hujan, hujan nggak pernah turun-turun! Eh maunya mau mancing hujan malah nggak turun-turun. Aku sampai kasihan pada motorku karena debunya sudah naudzubillah.

Melihat motorku yang sudah lusuh dan kumel karena sering di parkir dekat jalan berdebu dan berbaur bersama motor-motor para pelanggan TELAP12 tiap harinya, aku jadi nggak tega. Aku merasa tidak pernah mengurusi motorku. Motorku seolah bilang kepadaku; “Apa kau tidak malu menumpangi aku yang kayak gini?” Malu banget sih, tapi tunggu waktunya yah? Kamu nggak tau apa, akhir-akhir ini aku sibuk banget? Maka Minggu pagi tadi aku berniat mencuci sendiri motorku itu. Aku memang sengaja tidak menyerahkannya ke tempat cuci motor biasanya. Selain untuk menciptakan kedekatanku dengan motor, juga ngirit karena tanggal tua. Sebab uang yang tersisa mau untuk dibelikan kado bayi. Nggak apa-apa lah, kan Senin gajian… dan bisa puasa sunnah Senin dulu :) Mas Arif, temanku di Syafa’at sudah lahiran putri keduanya. Rencananya nanti sore mau nengok.

Mulailah aku mencucinya dengan 2 shampo Head&Shoulders Mint. Biar adem pikirku. Aku cuci sampai pada detil-detilnya. Setelah dibilas, motor terlihat bersih dan mengkilap. Lalu aku tinggalkan sebentar biar kering. Ketika balik lagi, kok masih kelihatan kusam ya? Terlihat masih ada bekas-bekas bulir-bulir air yang mengering. Bahkan hasilnya masih kalah sama tempat cuci motor, meskipun di sana bagian detil motor masih banyak yang terlewatkan. Apa karena ini motor emang sudah kotor banget ya? Sampe kalah meski sudah dishampo. Tunggu dulu, di tempat pencucian motor kan pake dipoles kit biar mengkilap? Akhirnya siangnya aku ke Pamela 2 untuk beli kit yang spray, sekalian beli kado buat bayi.

Setelah dapet tuh kit, saatnya menyemprot dan memoles pakai kain lap. Eh semprotannya rusak. Terpaksa ambil semprotanya pledge yang biasanya dipakai warung buat ngelap meja. Agak susah juga ngaturnya soalnya semprotannya gede, sedangkan tabung spray kit-nya kecil. Semua bagian aku semprot, lalu aku poles tiap sampai sedetil-detilnya. Hasilnya? Nih motor cakep banget dah! Tau gini dari dulu aku nyuci motor sendiri aja. Lebih bersih, lebih irit! Aku puas dengan hasil kerjaku. Setelah itu aku mulai bikin ucapan dan bungkus kado, ngashar, mandi, trus berangkat deh nengokin bayi. Sebelumnya aku sms untuk janjian sama Mas Antok Syafa’at dulu. Dia mau kuajak menemaniku sekaligus nunjukin tempatnya Mas Arif. Jadi ke kantor Syafa’at dulu, baru ke rumahnya Mas Arif.

Keluar dari warung, semua mata pelanggan yang baru datang, tertuju pada motorku yang kuno tapi cakep. Di jalan pun aku sangat pede mengendarai motor. Dan sampailah pada lampu merah kali Mambu. Lampu merah di sana memang sangat lama. Tapi tak mengapa, biar orang bisa ngeliat lebih lama motorku yang kece ini. Tak sengaja aku melihat selebor belakang pengendara yang ada di depanku. Di selebor itu ada stiker merah dengan tulisan ITS RAIN di bawahnya ada alamat http://www.itsrainwear.com kalau nggak salah. Sepertinya itu merek clothing. Aku langsung teringat dengan It’s Rain Now! (nyambung kan sama pengantar di awal? Hehe..) Ketika sampai di pertigaan Sop Merah, dari kejauhan terlihat hujan deras di Pojok Benteng Kulon. Seolah ada sekat yang jelas bagian yang hujan sama yang tidak. Ealah, It’s Rain Now! beneran…

Aku pun langsung menepi, soalnya sayang sama motorku. Baru aja dicuci dan dibanggain, eh malah hujan! Pengendara lainnya pun juga menepi untuk berteduh. Kulihat cahaya matahari sore masih bersinar terang diantara hujan yang semakin lama semakin deras. Ah, paling cuma sebentar. Eh bukannya mereda, tapi malah semakin deras. Sebenernya sih jas hujan ada, tapi motor baru aja dicuci. Sampai pengendara-pengendara yang berteduh itu pada ngeliat aku, seakan ikut setuju bahwa sayang kalau motor yang kencling itu dipake’ hujan-hujanan. Wah sepertinya aku dipermainkan hujan nih. Tapi tak apa, toh kapan-kapan motor ini juga bisa dicuci lagi. Mungkin inilah saatnya aku memakai jas hujan “I LOVE RAIN I LOVE PROBLEM” hahaha…

Aku langsung menggulung celanaku, dan kupakai jas hujanku. Orang-orang pada memandangku. Aku sengaja mempertontonkan bagian belakang jas hujan yang bertuliskan “I LOVE RAIN I LOVE PROBLEM”. Hehe, keren kan? Lalu kustarter motorku dan siap menerjang hujan. Sengaja aku keluar perlahan dari tempat berteduh itu, biar orang-orang yang berteduh di situ semuanya membaca pesan yang ada di jas hujanku. Dan mulailah aku pede lagi dengan jas hujanku itu menerjang hujan di jalanan, menyalip motor dan mobil (biar mereka bisa membaca pesan di jas hujanku yang keren, hehe..) Tapi baru saja mau sampai di perempatan Prawirotaman hujan mereda. Bahkan sampai di warung Bu Ageng, aspal tidak kelihatan basah-basah amat. Ternyata di daerah situ cuman gerimis aja. Sampai di Suryodiningratan pun sudah tidak hujan, hanya basah sedikit. Dengan santai dan pandangan kosong ke depanaku bergumam; “Hey hujan, aku tahu, kau mencoba mempermainkanku… aku sudah menduganya dari tadi kok…”

Lalu sampailah aku di kantor Syafa’at. Cahaya matahari dari arah barat bersinar begitu hangat. Aku suruh Mas Antok untuk memotretku bersama jas hujan dan motorku. Aku sedang merencanakan sesuatu. “Kau boleh mempermainkanku hujan, tapi awas.. setelah dari Mas Arif nanti……., aku akan langsung nge-blog!”

 

i-love-rain

 

Hujan pun tersenyum dan membalasnya dengan pelangi. Seolah senang kalau aku ngeblog lagi malam ini…

 

rain_mbuh

what are you wedding for?

December 15, 2013

Tidak, tidak mungkin! Ya Allah, sudah bulan Desember. Cepat sekali rasanya. Dan seperti biasanya aku selalu tidak siap menghadapinya. Namun seperti yang pernah kukatakan berkali-kali dengan pede-nya pada orang-orang yang masih single (termasuk diriku sendiri); siap tidak siap, harus siap! Apa itu? Pernikahan. Segala peristiwa yang terjadi di 4 bulan terakhir tahun 2012, sebenarnya telah mengkondisikan diriku untuk memutuskan bahwa di tahun 2013 ini aku bermaksud untuk sendiri dulu. Sendiri dulu, bukan sendiri lagi. Maksudnya aku tidak memikirkan dulu perihal penjajakan ataupun pendekatan dengan wanita yang aku targetkan untuk diajak serius, aku mau fokus untuk mengurus warung TELAP12 dulu. Berbeda dengan sendiri lagi yang memang ada usaha untuk mengajak serius dengan berbagai pengorbanan, strategi jitu yang terencana dengan apiknya, namun selalu berakhir dengan kegagalan. Kesian..

Namun ternyata Allah berkehendak lain. Subhanallah! Allah memang punya cara tersendiri untuk mempertemukan jodoh yang Insya’Alloh tepat bagiku. Bahkan untuk menghubungkannya pun aku tak habis pikir. Sumedang. Sebuah kota yang tak pernah sekalipun terbesit di kepalaku selain tahu. Tak hanya aku, begitu aku kabarkan ke kakakku, dia langsung bilang; tak ada yang lebih jauh apa? Ditambah lagi dia itu orang Sunda. Ada banyak versi cerita dari kakakku yang menjelaskan karakter orang Sunda dengan segala ketidakcocokannya dengan orang Jawa. Dan ternyata memang sudah dari dulu, orang Jawa itu banyak diwanti-wanti jangan sampai dapet orang Sunda. Rak ilok, atau bahasa Sundanya Pamali (yang sekarang kalau nggak salah sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia EYD). Tapi apakah itu sudah menjadi jaminan? Memangnya yang bisa menjamin pernikahan itu bisa langgeng kalau orang Jawa dapet orang Jawa? Kok bisa-bisanya itu menjadi standar? Bukannya yang menjamin semuanya itu Allah?

Untuk itulah dalam menghalau segala keraguan dan kebimbangan itu, aku meniatkan bahwa menikahku adalah karena satu tujuan, yaitu Allah. Menjadikan tujuan menikah untuk ibadah, menyempurnakan agama dan melaksanakan sunnah. Kalau sudah begitu, Insya’Allah dijamin berkah dan menjadi mawaddah dan rahmah. Sekalipun begitu, bagi diriku sendiri untuk meyakinkanku menjadikan agama sebagai landasan dalam menikah itu susahnya bukan main. Dibutuhkan keikhlasan. Sepertinya ini berurutan dengan SABAR – SYUKUR – IKHLAS yang selalu aku ketik tiap mau ngetwit. Aku ingin memantapkan bahwa rumusan dari Buya Hamka itu benar dan tidak akan membuat menyesal dikemudian hari. Buya Hamka pernah memberikan rumusan sederhana alasan orang menikah. Karena agama diberi poin 1, karena kecantikan atau fisik diberi poin 0, karena harta diberi poin 0, dan karena kedudukan diberikan poin 0. Jika menempatkan agama di urutan pertama maka poinnya 1-0-0-0 alias 1000. Jika kecantikan di urutan pertama, agama di urutan kedua, maka poinnya adalah 0-1-0-0 alias 100. Jika agama ditempatkan di urutan terakhir maka poinnya 0-0-0-1 alias cuman dapet 1. Semua itu pilihan, dan tergantung kita mau milih yang mana.

Sejak awal aku diperkenalkan dengan ‘dia’ ada banyak keraguan saat pertama kali aku lihat facebooknya (seperti biasa, lewat facebook temenku) Lalu kemudian di bulan Maret mulailah kami berkorespondensi lewat email (yang dimoderatori oleh yang mengenalkanku), sehingga aku tahu sifat dan karakternya. Sholat Istikhoroh pun gencar aku kerjakan. Sebelum-sebelumnya, ketika aku mulai melakukan pendekatan pada (beberapa) wanita, meskipun aku mantap terhadap pilihanku itu, tapi tiap sholat Istikhoroh aku masih merasakan keraguan dan selalu menanyakan benarkah dia ‘wanita terbaik’ yang memang ‘terpilih’ untukku? Tapi kali ini berbeda. Meskipun aku ragu terhadap dia, setiap kali aku sholat Istikhoroh, ada semacam bisikan dalam hati yang justru mempertanyakan padaku; apa yang kamu ragukan? Kalau kamu mencari ‘wanita terbaik’ apa yang kamu ragukan dengan wanita sholehah yang menjadikan agama sebagai landasan? Dan saat itu aku merasakan dialah ‘wanita terbaik’ yang memang dipilihkan oleh Allah untukku. Seorang wanita dengan nama Chaerunnisa di belakangnya. Chaerunnisa ataupun Choirunnisa yang berarti sebaik-baiknya wanita. Semoga.

Hingga akhirnya ada kesempatan untuk pertama kalinya bertemu langsung dengannya di bulan April, kebetulan saat itu dia liburan di Jogja dengan teman-teman kantornya. Sebuah pertemuan yang kemudian direncanakan sedemikian rupa dan ada mahrom sebagai pihak ketiga tentunya, yaitu Mbak Rani beserta suami dan anaknya. -Mbak Rani adalah yang memoderatori korespondensi kami lewat email, yang mana suaminya adalah temenku, Mas Hysa – Di Dixie Jl. Affandi itu aku, Mbak Rani, dan suaminya, menunggu kedatangannya. Ketika dia sudah datang, lalu mulailah ngobrol banyak hal. Dugaanku ketika melihat fotonya sih orangnya kelihatannya kalem dan pendiem, tapi ternyata dia sangat suka ngobrol (hehe maaf). Maklum selama ini kami hanya berta’aruf lewat korespondensi di email. Dan yang kuperlukan dari semua perkenalan adalah apapun bentuk perkenalan itu, berikan aku kesempatan untuk bertemu secara langsung meski hanya beberapa menit. Itu yang selalu kutanyakan kepada Mbak Rani, pihak Moderator. Karena rasanya pasti akan sangat berbeda. Itu semacam untuk memantapkan saja.

Dan ternyata memang benar, di akhir pertemuan ketika ditanyakan tentang keseriusan dan kepastian, aku langsung menjawab siap melanjutkan hubungan ke yang lebih serius (pernikahan). Lalu ketika ditanya kapan, aku semerta-merta dengan mantap menjawab tahun ini (2013). Entah kenapa saat itu aku tak ada keraguan sedikitpun dengannya. Semua seolah terabaikan ketika apa yang dilihat dan dirasakan hatiku secara langsung adalah calon istri yang sholehah. Bahkan pikiran untuk memperbaiki hubunganku dengan wanita sebelumnya langsung lenyap saat aku yakin bahwa perhiasan terindah di dunia ini adalah istri yang sholehah. Padahal saat itu ada hati kecilku yang berontak dan bilang; goblok, bukankah masalah warungmu belum sepenuhnya tuntas? Kenapa nggak nunggu kaya dulu? Bukankah sekarang kondisimu sedang terbatas?

Aku hanya bisa menjawab; kenapa harus terus menunda-nunda? Emang rejeki itu siapa yang jamin? Bukankah dalam surat An-Nur: 32 dikatakan; jika mereka miskin Allah akan mengkayakan dengan karuniaNya? Ini adalah kesempatan yang jika tidak aku ambil, mungkin tidak akan ada yang seperti ini lagi. Dan malam itu mungkin adalah malam dimana aku mengambil keputusan terberani dan terjantan selain keputusan beraniku untuk mendaftar sunatan massal waktu kecil (baca: http://husnimuarif.wordpress.com/2009/09/28/sunat-massal-ato-khitan-massal/) Aku tak mau jadi lelaki pengecut yang tak bisa memberi kejelasan atau kepastian dan beraninya hanya pacaran (hehe..)

Alhamdulillah, dia mau menerimaku dan tak mau lama-lama menunggu tahun 2014. Sepertinya doaku di twitter 4 tahun yang lalu setelah selesai menonton pertandingan antara Spanyol melawan Belanda terkabul; Ya Allah, semoga tahun depan aku bisa menonton World Cup 2014 bersama istriku. I can’t wait…

Setelah pertemuan itu, di luar hujan turun rintik-rintik. Dia pamit duluan karena teman-temannya sudah menunggu di luar. Aku, Mbak Rani, Mas Hysa, dan Aray anaknya, menyusul turun dari lantai atas Dixie. Setelah membayar, kami berhenti di teras Dixie sebentar untuk saling pamitan. Mbak Rani bilang “Alhamdulillah, tak kusangka prosesnya bisa secepat ini” sembari menengok ke Mas Hysa “Kita dulu berapa lama?” Mas Hysa hanya tertawa kecil. “Bismillah Hus, disiapkan segalanya dengan baik” Mbak Rani menambahkan. “Iya, terima kasih atas semuanya” hanya itu yang bisa aku ucapkan. Matik aku! Tahun 2013 aku akan menikah.

Malam itu aku benar-benar mendapati apa yang sudah aku prediksikan. Aku pernah meyakini, bahwa dari serentetan usahaku dalam mengajak serius dengan wanita-wanita sebelumnya dengan berbagai perjuangan maksimal, pada akhirnya, aku akan mendapati seseorang yang terbaik yang benar-benar terpilih tanpa keribetan itu. Ya, hanya begitu saja. Tanpa harus ngasih sesuatu yang spesial dan bikin sesuatu yang susah-susah yang orang lain nggak bisa lakukan. Memberikan perhatian lebih layaknya orang mau nembak untuk mau jadi pacarnya. Karena pemberian terbaik bukanlah itu, melainkan keberanian dan keseriusan untuk menikahinya dengan segera. Meskipun dengan mahar yang tak seberapa, tapi itu jauh lebih bernilai. Aku merasa bahwa perjuangan yang kulakukan dulu terbalaskan pada waktu itu.

Kuanggap perjalanan-perjalananku sebelumnya sebagai usahaku untuk memantaskan diri menjadi orang yang spesial. Dan hanya orang yang spesial pulalah yang nantinya pantas mendampingiku. Memang dalam perjalanan hidupku aku sangat ingin merasakan apa yang namanya pacaran. Namun setiap ada kesempatan itu, aku merasa selalu digagalkan oleh Allah. Tapi itu tak kuanggap sebagai kutukan sebagai orang yang menyandang status tidak pernah punya pacar. Aku justru menganggap bahwa Allah selalu menjagaku dari itu. Menjagaku dari memperturutkan hawa nafsuku dan meyakinkan aku bahwa mungkin wanita yang aku perjuangkan saat itu bukanlah wanita yang pantas untukku. Mungkin bagiku mereka yang terbaik, tapi apa iya bagi Allah? Dan aku sangat-sangat bersyukur karena bisa menjadikan hanya karena Allah alasanku untuk menikah. Aku yakin bahwa kesempatan pacaran yang diberikan padaku setelah menikah nanti akan melampaui kenikmatan orang berpacaran pada umumnya. Lebih bebas, lebih berkah, dan ditanggung 100% halal :)

Setelah pertemuan itu, segalanya seperti berjalan begitu cepat di tahun 2013 ini. Aku langsung sampaikan ke kakakku bahwa aku serius dengan orang Sumedang. Aku tahu kakakku tak akan setuju dengan bermacam alasan. Dari segi jarak yang lumayan jauh, dari segi kondisi finansial yang serba terbatas karena masih mengurus warung, dan yang paling mendasar yaitu; dia orang Sunda. Segala informasi ketidakcocokan orang Sunda kakakku kumpulkan. Kakakku memberikan berbagai kriteria yang cocok untukku.

Tapi apakah harus menunggu kriteria yang (menurutnya) sempurna dan cocok untukku? Sampai kapan? Kalau mencari pasangan yang benar-benar sempurna, dijamin tak akan dapet-dapet sampai tua sekalipun. Sudah begitu lama aku berpetualang. Yow, umurku kan sudah 29 my age, begitu kata Vicky. It’s time! Kalau aku masih mikir-mikir lagi, dan yakin suatu saat nanti akan ada yang cocok dengan apa yang aku impikan, aku mencoba berkata pada diriku sendiri, still waiting and waiting? What are you waiting for? Kalau aku menunda dan menolak kesempatan itu dan menunggu hingga aku benar-benar sukses, siapa yang tahu kapan aku akan sukses? What are you waiting for? Apakah syarat untuk menikah harus sukses dulu? Sampai kapan? Tujuan menikah itu untuk apa? Mengapa tidak jadikan pernikahan sebagai solusi untuk menyempurnakan apa-apa yang belum sempurna itu?

Lalu aku mencoba untuk meyakinkan kakakku dan mengajaknya bersilaturahim ke sana. Seperti kataku, tak ada yang bisa mengalahkan efek pertemuan secara langsung. Pas silaturahim, kakakku pun setuju :) Selanjutnya setelah lebaran di bulan Agustus, kami sekeluarga dengan mengajak Pak Dhe ke Sumedang lagi untuk lamaran dan menentukan tanggal pernikahan. Semua berjalan begitu sederhana dan cepat. Tak ada acara perhitungan berdasarkan wethon (tanggal lahir) yang biasanya dilakukan orang Jawa untuk menentukan tanggal pernikahan. Kelamaan dan tak ada jaminan. Selain tidak disyariatkan, bisa-bisa malah nanti harinya nggak dapet-dapet. Masak ya nunggu dan nunggu lagi? Yang menentukan hari itu jadi baik atau buruk kan ya kita sendiri.

Akhirnya diputuskan akad dan resepsinya Insy’Alloh diselenggarakan pada hari Sabtu tanggal 21 Desember 2013. Tak ada maksud apapun dengan angka 21. Memilih tanggal itu hanya karena mencari pas hari weekend saja. Tak ada permainan bolak-balik angka 21-12 yang sering aku alami. Jika itu dipas-pasin sama ayat Al-Qur’an tentang pernikahan, yaitu surat Ar-Ruum ayat 21, itu hanya kebetulan belaka. Ya harapannya sih sesuai dengan tujuan dari ayat tersebut, yaitu mawaddah warahmah. Untuk itulah aku mengangkat kaligrafi surat Ar-Ruum:21 dengan menonjolkan mawaddah warahmah sebagai tema dan harapan dari pernikahanku nanti. Alhamdulillah meski dengan keterbatasan waktu, aku bisa menyempatkan untuk mendesain undanganku sendiri. Insya’Alloh nanti aku akan cerita banyak mengenai desain undangan ini. Berikut bentuk digitalnya. Ini undangan beneran loh, bukan sampel, bukan hoax, aku beneran mau nikah di tahun 2013 :)

 

ica-husni-wedd-cover-back

ica-husni-wedd-cont

 

Nah karena waktunya sudah sangat mepet, sudah tanggal 15 Desember nih.. (Ya Allah hidupku akan berubah setelah tanggal 21) melalui blog ini Husni dan Ica meminta doa restu kepada teman-teman semuanya termasuk pembaca blog ini. Semoga diberi kelancaran dan membawa berkah. Yang namanya berkah itu adalah, di dalamnya akan bertambah kebaikan-kebaikan. Harapannya kebaikan itu bisa menjalar ke yang lain terutama yang belum menikah semoga disegerakan, dan yang masih pacaran, segeralah diputusin dan nyusul. Ngenteni opo? What are you waiting for?

Bagi yang mau dateng silakan datang dan lihat denah di bawah. Buat pembaca blog ini (siapa tahu ada yang di Sumedang), ya mangga atuh datang saja. Nanti aku pasti mengira kalau kamu adalah temannya Ica, dan Ica akan mengira kamu adalah temenku, hehe…

Barakallah….

 

denah-lokasi-undangan

 

mohon-doa-restu

sedang apa #3

November 11, 2013

“Sedang apa… sedang apa… sedang apa sekarang. Sekarang sedang apa.. sedang apa sekarang?”

Kelompok kami memulai permainan sambung kata ini. Babak pertama kami sudah kalah. Entah di babak kedua ini lawan menjawab apa. Aku tegang.

“Sedang senam… sedang senam… sedang senam sekarang. Sekarang senam apa.. senam apa sekarang?”

Aku terdiam sejenak untuk berpikir, kelompokku pun ikut terdiam (pasrah). Kalau pembaca sekalian melihat jawaban itu, mungkin akan bisa melanjutkan. Bisa senam-pagi, senam-sehat, senam-jantung, dll. Tapi saat itu aku panik. Lalu mengapa aku diam sebentar? Karena yang kudengar bukan senam, melainkan senang. Saat itu aku nggak sempat berpikir kalau bukankah senang itu kata sifat? Dan permainan ini kan seharusnya dimulai dengan kata kerja? Tapi yang namanya panik mau gimana lagi. Aku berpikir selanjutnya senang apa? Ada maksud apa mereka menjawab sedang senang? Maka aku jawab saja;

“Senang hati… senang hati… senang hati sekarang. Sekarang hati apa.. hati apa sekarang?”

Lalu gemparlah lagi suasana di kelas.

“Huu… apaan tuh senam-hati? Mana adaa?…Ha-ha-ha…”

Aku pun tersadar, ternyata aku salah dengar. Aku mau membela kalau aku salah denger, tapi mau gimana lagi. Kelompok lawan meledek habis-habisan. Kelompok kami semakin terpuruk dan kelihatan bego-nya. Kekalahan ini lebih parah daripada kekalahan babak pertama. Aku merasa bersalah karena tidak bisa membantu mengangkat kelompok yang dianggap rendah kastanya ini. Kalau aku ingat peristiwa ini aku jadi bertanya; Ya Allah adilkah ini? Tapi apapun itu, aku mencoba untuk ber-husnudlon alias berprasangka baik. Apa jadinya jika saat itu aku nggak salah dengar? Mari kita balik lagi ke belakang , lalu prediksikan ke depan. Siap? Oke, kita mulai dari;

“Sedang senam… sedang senam… sedang senam sekarang. Sekarang senam apa.. senam apa sekarang?”

Saat itu jika aku mendengar kata senam, pasti aku geram dan berpikir; pintar sekali mereka memilih kata kerja. Jadi aku harus membalasnya dengan yang lebih pintar. Tak mungkin aku menjawabnya senam-pagi atau senam-sehat. Terlalu gampang buat mereka. Bagaimana dengan senam-massal? Hal ini mungkin terjadi, karena saat itu aku paham betul dengan kata massal, karena populer di acara sunat massal. Mereka pasti susah jawabnya.

“Senam massal… senam massal… senam massal sekarang. Sekarang massal apa.. massal apa sekarang?”

Meski susah tentunya mereka nggak mungkin menyerah. Karena mereka nggak hanya bandel, tapi juga pandai berkelit dan maunya menang sendiri. Peluang terbesar mereka adalah, mereka akan menjawab ngawur tapi masuk akal.

“Massal-lah buat lo?… massal-lah buat lo?… massal-lah buat lo sekarang. Sekarang lah buat lo apa.. lah buat lo apa sekarang?”

Lagunya pun jadi semakin ngawur dan keluar dari aturan.

“Lah, buat gue gak ada masalah apa-apa.. emang masalah buat lo?”

 “Iya, masalah buat gue, lu nantangin gue? Hah? Nantang lo!!??”

Akhirnya kelas pun ribut, saling berkelahi karena nggak terima dan berujung pada dendam yang tak selesai-selesai. Ibu guru tak kuasa untuk melerai kedua kelompok itu.

Untung saja kelompok kami kalah, kalau tidak? Akan terjadi permusuhan terus-terusan dan mungkin akan semakin parah. Kekalahan kami membuat semuanya kembali normal dan kegiatan belajar-mengajar tidak berubah menjadi kegiatan hajar-menghajar.

Begitulah kira-kira prediksinya. Hehe.. ada-ada aje

 

sedang apa #2

November 11, 2013

Ini lagi-lagi mengenai permainan sedang apa. Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, aku sangat suka sekali dengan permainan ini meskipun sering kalah. Dan ada satu lagi ingatanku waktu SD yang sampai sekarang masih aku ingat. Aku selalu ingat karena ini ada persoalan gengsi kalau kalah dalam permainan ini. Sialnya aku berada di kelompok yang boleh dikatakan kelompok yang mana di situ kumpulannya orang-orang yang pendiem, pasif, kurang pandai bergaul, dan biasanya tidak pinter-pinter amat. Sehingga mereka benar-benar mengandalkan aku, karena aku dianggap yang terpintar diantara mereka. Aslinya sih sama saja.

Dan lawanku kebetulan adalah kelompoknya anak-anak yang bandel tapi otaknya pada encer semua. Aku sih biasanya bergaul dengan mereka, tapi entah kenapa minggu itu aku berada di barisan anak-anak yang boleh dikatakan termarjinalkan. Di kelasku ada empat baris tempat duduk dan tiap minggu pindah satu baris. Di permainan sedang apa ini dibagi dua kelompok, dan kebetulan pas banget aku dengan 2 barisan anak-anak yang mereka itu seolah berada dalam kasta terendah. Jaman dulu memang begitu, biasanya yang pintar senengnya ngumpul sama yang pintar-pintar, yang merasa bodoh ngumpulnya sama yang bodoh, dan mereka seakan minder dan nggak pantas kalau bergaul sama anak-anak yang pintar. Seakan mereka itu berada di tingkatan kasta terendah.

Melawan orang bandel yang kritis dan cerdas itu susahnya bukan main. Apalagi aku seperti harus melawan mereka sendirian, soalnya yang lain pada ngikut. Jadi sedang apa dan selanjutnya itu tergantung aku. Tak ada yang ngasih ide atau saran karena mereka merasa bodoh dan takut kalau jawabannya keliru. Dan ketika aku diam karena bingung, maka mereka diam dan menyerah. Lalu kalah deh..

Permainan pun dimulai, lawan yang mulai duluan.

“Sedang apa… sedang apa… sedang apa sekarang. Sekarang sedang apa.. sedang apa sekarang?”

Aku pun menjawab dengan kata kerja “pergi”, yang lain sudah tentu otomatis setuju. Kenapa saat itu aku jawab sedang pergi? Karena tiba-tiba aku teringat dengan gantungan yang biasanya di pasang di pintu kos-kosan. Ada tulisan nama, lalu di bawahnya ada tulisan sedang, dan di bawahnya ada beberapa option, yaitu: belajar, tidur, pergi. Ya aku jawab sedang pergi saja, kayaknya mereka akan agak susah menjawab kelanjutannya.

“Sedang pergi… sedang pergi… sedang pergi sekarang. Sekarang pergi apa.. pergi apa sekarang?”

Aku pun berprediksi ke depan dengan cepat, mungkin mereka akan menjawab;

1. Pergi-Pulang, maka selanjutnya akan kujawab pulang-kampung

2. Pergi-Jauh, maka selanjutnya akan kujawab jauh-hari

3. Pergi-Lama, maka selanjutnya akan kujawab lama-nunggu

4. Pergi-Aja, kayaknya yang ini nggak mungkin deh

Tapi jawaban mereka diluar dugaanku;

“Pergi ke bank… pergi ke bank… pergi ke bank sekarang. Sekarang ke bank apa.. ke bank apa sekarang?”

Apa-apaan ini? Pintar sekali mereka. Mereka membubuhkan kata “ke” tapi tetap bisa dengan 2 suku kata, yaitu ke-bank. Bagaimana mereka bisa dapat jawaban serperti itu? Licik sekali mereka. Kalau aku jawab ke bank BRI (yang aku tahu saat itu hanya BRI dan BNI), maka itu akan lebih dari 2 suku kata, dan nggak pas kalau dinyanyikan. Aku sangat panik dan bingung saat itu seakan nggak bisa mikir apa-apa lagi.

Karena aku merasa mereka sangat kebangetan sebab seenaknya saja menjawab, maka aku jawab seenaknya saja;

“Ke-bank-ngeten… ke-bank-ngeten… ke-bank-ngeten sekarang. Sekarang ngeten apa.. ngeten apa sekarang?”

Lalu mereka langsung meledek “Huuu…. apaan tuh ngeten? Ha-ha-ha..”

Ibu guru yang bertugas sebagai juri langsung menyetop permainan yang baru sebentar ini. Lalu sambil tertawa beliau bilang “Yak, kelompok sebelah kanan kalah… Mana ada bank namanya bank-ngeten? Yang ada itu bank BRI, BNI, atau BPD..”

Lalu aku protes “Tadi aku mau jawab BRI Bu, tapi nanti jadi maksa lagunya.. gak pas..”

Lalu Bu guru bilang “Ya nggak apa-apa, kan memang jawabannya yang ada itu. Kalau tadi kamu jawab bank BRI kamu bisa ngalahin kelompok kiri. Pasti mereka nggak bakalan bisa jawab BRI apa…”

Apa? Dipaksain lagunya boleh meski tidak 2 suku kata? Ah nyesel banget aku tadi nggak jawab BRI. Kalau saja aku jawab itu, mereka pasti diam tak berkutik, karena waktu itu belum ada yang namanya BRI syariah, BRI junior, dll. Atau kalau aku jawab ke bank plecit, pasti mereka nggak bisa jawab selanjutnya plecit apa. 2 suku kata lagi. Tapi bagi anak seumuran itu, dan di tahun itu, mana tahu plecit itu apa?

Entah bagaimana aku bisa jawab kebangeten, tapi memang karena mereka benar-benar kebangetan. Ah, coba aku tadi jawab kebangetan? Ngetan itu kan dalam bahasa Jawa artinya ke Timur, lawannya Ngulon alias ke Barat. Ah, nantinya lagunya jadi acak-kadut.

Baiklah aku mengaku kalah, tapi yang jelas dalam peristiwa ini bisa diambil pelajaran, yaitu; jangan panik dan jangan takut keliru. Saat itu aku sudah panik duluan karena merasa berada diantara kelompok anak-anak bodoh, dan melawan anak-anak pintar yang bandel. Itu yang membuatku tak berani mengambil keputusan hingga akhirnya takut kalau jawabannya keliru. Padahal keliru itu wajar. Dan yang kualami itu, yang tadinya kukira keliru, malah justru bisa membuat skak-mat lawan.

Nah selanjutnya babak kedua giliran kelompokku yang memulai. Hasilnya sudah bisa ditebak, kalah lagi. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, aku selalu kalah dalam permainan ini. Tapi dari kekalahan itu kalau aku prediksikan ke depan, justru kekalahan itu bisa menyelamatkan 2 kelompok dari pertikaian.

Penasaran? Ikuti kisahnya di sedang apa #3

“Sedang apa… sedang apa… sedang apa sekarang. Sekarang sedang apa.. sedang apa sekarang?”

Bersambung…

sedang apa #1

October 30, 2013

Ada nggak yang tiap hari selalu dapat sms dari teman atau pacar dengan sms “sedang apa sekarang?” Maka kalo dijawab “sedang makan” dia akan sms lagi “makan apa?” Lalu kamu jawab “makan mie rebus” Dan setelah itu mungkin nggak selesai-selesai nanyainnya sampai kamu mengakhirinya dengan “udah dulu ya, sekarang mie rebusku udah menjadi mie goreng”. Tapi tahu nggak, kalo ada juga permainan semacam itu yang mungkin bisa nggak selesai-selesai? Bahkan sampai kiamat sekalipun.

Tahu permainan sedang apa? Ini adalah permainan sambung kata yang saling sahut-sahutan. Lagu awalnya kayak gini nih;

“Sedang apa… sedang apa… sedang apa sekarang. Sekarang sedang apa.. sedang apa sekarang?”

Lalu pihak lawan harus membalasnya bahwa dia sedang ngapain. Lalu ngapainnya itu dilanjutkan lagi ngapain apa. Begitu terus sampai pihak lawan sudah kehabisan  apanya itu mau apa lagi. Entah permainan ini awal mulanya dari mana dan siapa penciptanya, tapi biasanya permainan ini ada dalam kegiatan Pramuka dan dilakukan oleh 2 kelompok. Aku sangat suka dengan permainan ini meskipun sering kalah. Biasanya jawabnya terdiri dari 2 suku kata, misalnya sedang nya-pu, sedang nge-pel. Pokoknya kalau lebih dari 2 suku kata, nggak banget deh, meskipun ada yang maksain begitu. Misalnya sedang me-nya-pu, sedang me-nge-pel, sedang ber-se-pe-da, sedang nye-tri-ka, sedang wa-wan-ca-ra, sedang ko-res-pon-den-si, dll

Dan yang namanya sedang ngapain, maka menjawab awalnya tentu saja dengan kata kerja. Nggak bisa dengan kata sifat (adjektif) berupa perasaan seperti sedang gembira, sedang marah, atau sedang sedih. Apalagi kata benda. Baru setelah itu bebas nyambunginnya pakai kata apa. Kata benda, kata keterangan, dll. Coba kalau awalnya dijawab sedang sedih maka lanjutannya “Sedih apa sekarang?” Maka kalau dijawab “Sedih banget” maka “Banget apa sekarang?” Mau dijawab apa? Banget sedihnya? Balik lagi dong? Atau mungkin kalo dijawab “Sedih sekali.. sedih sekali… sedih sekali sekarang. Sekarang sekali apa sekali apa sekarang?” Lalu dijawab “Sekali lagi… sekali lagi… sekali lagi sekarang. Sekarang lagi apa.. lagi apa sekarang?” Maka akan balik lagi “Lagi sedih… lagi sedih.. lagi sedih sekarang…” Dan lagu ini sampai kiamat pun takkan selesai-selesai. Hehe…

Sebenarnya ada yang aku ingat waktu SD akan permainan mengasyikkan ini. Yaitu sedang apa yang nggak selesai-selesai kalau dilanjutkan sampai kiamat. Yang aku ingat seperti ini:

Sedang apa… sedang apa… sedang apa sekarang? Sekarang sedang apa.. sedang apa sekarang?

Sedang goreng… sedang goreng… sedang goreng sekarang. Sekarang goreng apa… goreng apa sekarang?

Goreng nasi… goreng nasi… goreng nasi sekarang. Sekarang nasi apa… nasi apa sekarang?

Nasi goreng… nasi goreng… nasi goreng sekarang. Sekarang goreng apa… goreng apa sekarang?

Silakan kalau mau dilanjutkan, dilanjutkan dengan kalimat sebelumnya… Begitu seterusnya sampai kiamat, hehe…

daleman

September 30, 2013

Pagi ini aku telat subuhan. Aku keluar menuju balkon depan, melihat mentari sudah menampakkan sinaran buram yang tak terlalu menyilaukan. Lampu jalan masih menyala seolah tak mau kalah menyaingi sinarannya. Mengingatkanku pada para pekerja lembur yang masih bertahan menyelesaikan pekerjaannya sampai pagi.

 

lampu-jalan-vs-mentari

 

Tak terasa mulai hari ini sudah bulan Oktober. Dan tepat setahun aku istirahat dari dunia Advertising dari pertengahan September tahun lalu. Sebenarnya aku ingin melewatkan blog-ku melewati bulan September begitu saja. Bulan September adalah bulan yang sangat sibuk bagiku. Karena terhitung mulai hari Ahad tanggal 1September, aku sudah pindahan dari kosku yang di Godean, menuju Umbulharjo dan menempati ruko bagian atas warung TELAP12. Dan yang namanya pindahan (seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya) tak segampang yang diduga. Aku perlu sampai 3 hari untuk menata barang-barangku, itupun belum sepenuhnya beres hingga sekarang. Ah, yang penting semua barang-barangku sudah dipindahin dulu.

 

barang_pindahan

 

Tapi sebenarnya yang paling penting adalah masalah adaptasi. Diantaranya, aku harus giliran menggunakan kamar mandi dengan pegawai-pegawaiku. Kemudian masalah mencuci pakaian, aku hampir susah mencari waktu yang tepat untuk mencuci pakaian. Tapi perbedaan yang paling mencolok dibanding tempatku dulu di Godean adalah nyamuknya. Kalau di Godean aku hampir tak pernah merasakan gigitan nyamuk kalau malam. Aku bisa tidur dengan nyaman tanpa ada gangguan nyamuk. Sekalipun ada, itupun tak sebanyak dan seganas nyamuk di Umbulharjo. Pegawai-pegawaiku sampai harus siap sedia Autan biar bisa tidur enak. Sedangkan aku hanya bermodalkan selimut atau memakai celana panjang dan baju lengan panjang. Dan tetap saja nyamuk-nyamuk itu selalu mengusik tidurku.

Tapi hari Ahad kemarin sepertinya aku sudah menemukan solusinya. Begini ceritanya…

Minggu terakhir bulan September adalah puncak-puncaknya hari yang sibuk bagiku. Tak hanya itu, cucian juga menggunung sampai 10 hari. Saking susahnya mencari waktu buat nyuci, kalau dihitung-hitung dalam bulan September aku mencuci hanya 3 kali. Laundry? Nggak mau. Dari hitung-hitungannya saja, sekali laundry biasanya mentok-mentoknya 20-ribuan. Tapi hanya dengan deterjen 800 gram seharga 17-ribuan, itu bisa buat nyuci pakaian dalam sebulan, bahkan selalu lebih. Maklum awal-awalan pedagang itu mikirnya kayak gitu, menekan pengeluaran seminimal mungkin tapi hasilnya harus bisa semaksimal mungkin.

Ceritanya hari Kamis lalu, jam 2-an pagi aku baru mulai mencuci pakaian kotorku yang sudah 10 hari itu (bayangin coba). Karena cucian banyak dan harus menghemat tenaga, aku pakai Molto sekali bilas 8-ribuan. Ya pada kenyataannya sih aku nggak tega kalau habis nyuci langsung aku masukin ke rendaman Molto sekali bilas. Meskipun namanya sekali bilas, tapi aku bilas dulu pakaianku sekali (dari biasanya yang 3 kali bilas), baru aku masukin ke air rendaman Molto. Toh meski instruksinya “hanya cukup setengah tutup botol” kebanyakan orang nggak melakukan seperti itu, tapi lebih dari setengah. Bukan hanya karena nggak tega, tapi juga ada tanda bintang di instruksi itu yang berbunyi untuk jenis pakaian tertentu. Jenis pakaiannya apa, nggak dijelaskan. Apalagi setengah tutup botol itu untuk 10 liter air, sedangkan rendamanku lebih dari itu.

Sehabis subuh langsung kujemur di tempat yang tidak terkena matahari langsung, namun mendapat akses udara yang cukup. Selain biar awet pakaiannya, juga biar wanginya nggak berubah jika langsung terkena sinar matahari. Dan memang wangi banget, sampai wanginya itu membekas terus di tanganku dan memenuhi ruangan itu. Setelahnya, mulailah aku dihajar habis-habisan oleh kesibukan yang lain. Dari menyiapkan desain buat yang mau kerjasama dengan warung TELAP12, mengurus Surat Keterangan Usaha, sampai lembur buat ikutan lomba logo lagi. Hari Jum’at kupunguti jemuran itu. Yang dihanger aku kumpulkan dan letakkan di atas tumpukan kardus bekas lemari es, sementara yang daleman (CD dan kaos sporet) aku lemparkan saja berserakan di kasur. Tak ada waktu untuk melipatnya dengan rapi dan menatanya untuk dimasukkan di lemari. Aku tidur pun di kasur dengan daleman-daleman yang berserakan itu.

Sabtu habis maghrib barulah aku bisa istirahat sejenak dan melepaskan beban pekerjaan. Hanya tinggal pekerjaan melipat daleman-daleman yang masih berserakan diantara bantal dan guling. Habis isya’ rencananya pingin aku lipetin dan masukin ke dalam lemari pakaian, tapi begitu tubuhku sudah tersungkur duluan di kasur, niatan itu nggak kunjung dikerjakan juga. Karena sudah capek luar biasa, dan daleman-daleman yang berserakan di kasur itu membawa suasana wangi dan aroma terapi yang bikin rileks, maka aku langsung terlelap.

Jam 3 pagi aku sudah bangun. Badan terasa fresh dan bugar. Saat itu aku merasakan kondisi yang begitu beda dibandingkan hari-hari biasa waktu aku bangun. Aku mencoba berpikir sebentar, kok rasanya ada yang beda ya? Tapi apa? Oh iya, biasanya waktu bangun, tangan dan kaki gatal-gatal, panas, dan bentol akibat gigitan nyamuk, tapi ini nggak. Apa ya penyebabnya? Setelah dipikir-pikir ternyata yang membuat nyamuk enggan mendekatiku adalah karena aroma wangi dari daleman-daleman yang berserakan disekitar kasur. Daleman-daleman itu berfungsi layaknya tanaman pengusir nyamuk macam lavender atau zodia. Mungkin Moltonya wangi bunga lavender kali. Dan rasanya inilah solusi yang lumayan ampuh buat ngusir nyamuk-nyamuk Umbulharjo yang ganas-ganas itu.

Akupun berpikir logis, daleman-daleman itu aku rendam pake Molto siapa yang mau nyium wanginya coba? Aku aja nggak. Kalau baju kan wajar karena dipakai di luar. Jadi daleman yang wangi itu seolah tak memiliki fungsi apa-apa alias sia-sia. Toh, itu juga nggak ngaruh sama alat vital yang dilindungi oleh daleman kan? Lagian kalau daleman disebar di kasur buat tidur dan ngusir nyamuk… Yaa fine-fine aja bagiku. Justru itu bisa memberikan sensasi relaksasi buat tidur jadi nyaman. Hanya saja mungkin (bukan mungkin sih kayaknya) terlihat nggak etis dan benar-benar diluar batas kewajaran. Bisa-bisa dikira ada kelainan. Bahkan lebih parah. Soalnya bagi orang yang  fetishism biasanya yang dicium adalah daleman wanita, ini malah dalemannya sendiri, apa namanya kalo gitu?

Jadi kesimpulannya adalah daleman ini merupakan solusi yang efektif tapi tak wajar. Yang kedua, sepertinya sangat nggak etis dan tak patut kalau aku menceritakannya di blog ini. Tapi yang ketiga, gara-gara daleman yang berserakan ini, aku jadi diingatkan untuk sebuah urusan yang sangat penting. Saat itu aku berdiskusi perihal daleman dengan seseorang lewat telepon, tapi bukan soal pengusir nyamuk… Sangat serius. Swer!

with the beatles again

July 28, 2013

Entah sudah berapa kali aku membuat sandal selop Bata menjadi sandal dengan cover kaset album Beatles yang kedua, with the beatles. Ini adalah kaset pertama yang aku beli seumur hidupku. Bukan karena suka dengan lagunya (yang akhirnya aku pun suka) tapi karena fotografinya. Aku nggak tahu siapa itu Robert Freeman alias fotografer yang bertanggung jawab atas cover album kedua ini, tapi aku ingat benar kenangan di waktu kecilku pada iklan kolom di koran yang memuat promosi khusus program radio. Ada kolom dengan foto hitam-putih dengan pencahayaan dari samping yang sempurna. Dan karena saat itu aku masih kecil banget dan belum bisa baca, aku nggak paham kalau radio itu mempromosikan program radio yang memutar musik-musik The Beatles (mungkin).

Lama-kelamaan, iklan itu akhirnya sudah tidak nongol lagi di kolom koran. Tapi lagi-lagi aku diingatkan lagi oleh gambar itu saat aku kelas 4 SD. Tepatnya saat tahun baru, dan majalah MOP (media pelajar) yang didapat kakakku pas mulai masuk kelas 1 SMA saat itu memberikan poster kalender 1994 sekaligus mengumumkan juara lomba komik ketoprak mbeling. Juara I saat itu adalah Dadhiek dari Mungkid Magelang dengan komik ketopraknya yang berjudul “Kawung sukampret” (nama-namanya mirip dengan Sawung Kampret-nya Dwi Koen)

 

kawung-sukampret

 

Dan aku menemukan gambar with the beatles dengan teknik mix media di bagian ending-nya.

 

wtb-mix-media

 

Kalau nggak salah ini orang juga pernah mengikuti Sayembara MOP ini sebelumnya, yaitu pada tahun 1990, saat aku baru masuk kelas 1 SD. Namun dia  dapet juara harapan III. Judulnya “Siluman Cucak Ijo” yang mana ada Raden syahid alias Sunan Kalijaga di dalam komik itu. Uniknya, di setiap komik ketoprak buatannya, selalu menampilkan gambar hitam-putih with the beatles ini. Dan lagi-lagi aku nggak paham apa maksud dari gambar itu. Kok kayaknya legendaris banget gitu..

 

wtb-draw

 

Aku baru ngeh kalau itu The Beatles waktu aku lulus SMA dan hijrah ke Jogja. Gara-garanya melihat kaset-kaset baru di toko kaset Bulletin. Sebuah ritual setelah belanja dari Mirota Kampus satu geng bersama anak-anak kos baru. Entah sekarang toko kaset Bulletin pindah kemana. Kalau nggak salah waktu itu The Beatles merilis album #1, alias kumpulan lagu-lagu The Beatles yang nomer satu di tangga Billboard. Dan ketika melihat album-album The Beatles yang lain, aku merasa mendapatkan jawaban dari rasa penasaran yang begitu lama setelah melihat cover album kedua, with the beatles.

 

wtb-album

 

Dan mulailah saat itu aku keranjingan The Beatles, bukan karena aku membeli kaset itu, tapi karena mendengarkan lagu-lagunya di radio Yasika tiap jam lima pagi bersama pembawa acara Mas Rocky. Sekarang acara itu sudah tidak ada. Dan kalau tahu ada saluran radio lain yang ada program The Beatles-nya, langsung aku pantengin terus meskipun yang request ya orangnya itu-itu aja :) Saat itu kalau nggak salah ada Rasialima, Star FM, sama Chanel Five.

Tahun itu adalah tahun dimana aku sedang persiapan SPMB kedua dengan ikut bimbingan belajar di NEUTRON sambil kuliah di D1 CITS-UGM jurusan desain grafis (lihat postingan CITS-UGM, https://husnimuarif.wordpress.com/2012/12/09/cits-ugm/ ). Saat itu aku berikrar, aku nggak mau beli kaset with the beatles sebelum aku lolos SPMB kesempatan kedua. Dan akhirnya nggak lolos. Namun akhirnya aku tetap membelinya karena aku keterima di D3 Advertising Komunikasi UGM. Aku merasa itu adalah pencapaian yang pas, dari desain grafis ke advertising. Aku sangat-sangat bersyukur, karena aku merasa itu adalah jurusan yang memang ditakdirkan untukku, dan aku begitu menikmatinya. Namun hanya dengan membeli kaset Beatles, aku merasa ada yang kurang dengan perayaan simbolik itu.

Hingga waktu mudik lebaran di tahun 2003, aku dibelikan sandal selop hitam Bata oleh kakakku. Begitu aku bawa ke Jogja, kayaknya sandal yang kupakai itu biasa-biasa saja, tak ada yang spesial. Dan ketika aku berencana mau ngasih gambar The Beatles di sandal itu, langsung terpikirkan cover with The Beatles. Awalnya ini hanyalah eksperimen, karena yang namanya asesoris di sandal terdengar sangat aneh kalau pakai tempelan stiker. Sepertinya cuma aku yang baru ngelakuin. Biasanya stiker itu di sepeda motor, helm, kaca mobil, dll. Lha ini kok di sandal. Tapi karena hasilnya memuaskan, dan aku bisa me-maintain dengan baik, maka sejak tahun 2003 hingga sekarang aku nggak pernah bosen untuk bikin sandal with the beatles. Dan selalu sandalnya Bata. Ini bukan promosi, dan bukan karena Bata dengan Beatles itu tulisannya awalannya sama-sama B. Tapi karena aku susah menemukan sandal dengan kriteria ini di merk yang lain. Bahkan sandal ini sudah menjadi trademrk-ku. Artinya ketika ada sandal The Beatles diantara sederetan sandal-sandal yang lain, pasti ada aku di sana. Tak mungkin orang lain (kecuali ada yang pinjam sandal itu)

Dan ini seakan menjadi rutinitasku setiap mendekati lebaran. Biasanya sandal The Beatles yang umurnya lebih dari satu tahun atau hingga dua tahun, biasanya sandalnya sudah terepes atau sampai jebol, sehingga aku harus ganti dengan yang baru. Maka mulailah aku kelilingin seluruh counter Bata di Jogja hanya untuk mencari sandal selop hitam polos dengan space yang cukup luas untuk ditempeli stiker The Beatles. Bahkan ketika mendapat sandal selop yang sudah cocok sekali, namun tidak hitam polos, aku rela menyemirnya sampai hitam (baca: sandal beatles, https://husnimuarif.wordpress.com/2010/09/24/sandal-beatles/ )

Yang menjadikan istimewa dari sandal ini adalah semuanya dikerjakan manual alias hand made. Ini semacam karya seni bagiku, karena setiap bikin hasilnya tidak pernah sama meskipun ukurannya sama. Pasti ada beberapa bagian yang beda, terutama bagian rambut. Aku tidak pernah membuat mal-nya, patokanku hanya cover kaset with the beatles. Dan yang namanya pekerjaan manual, pasti sayang banget kalau bekas dari kertas stiker hasil cutting dibuang. Untuk logonya saja bagian yang diapositif, aku tempel di laptop.

 

sisa-with-the-beatles

beatles-on-laptop

 

Sayangnya susah untuk bisa mempertahankan diapositif di empat kepala personil itu karena terlalu detil. Tapi aku selalu menyimpan sisa kelupasan dari stiker yang sudah aku tempel. Sisanya selalu aku simpan entah dimana kadang lupa, dan tak tahu kapan aku akan memanfaatkannya lagi.

 

wtb_process

 

Bekas dari karyaku pertama aku tempel lagi dengan lem kertas dan aku tempel di rak kayu. Bisa dilihat perbandingan karya pertama dengan karya terakhir, meskipun hanya sedikit saja pada bagian tertentu.

 

wtb-on-wood

with-the-beatles-sandal

 

Karya yang terakhir ini agak beda dibandingkan dengan rutinitas sebelum-sebelumnya. Biasanya aku kalau bikin tiap mepet mau lebaran, namun yang terakhir ini aku bikin di 10 hari pertama bulan Ramadhan. Itu karena sebelum Ramadhan aku sudah beli sandal selop hitam polos. Dan untuk ngedapetinnya sama-sama susah dan sama-sama tinggal satu. Anehnya ketika aku memakai sandal The Beatles di counter Bata, setiap pelayan yang melayani tak ada yang tahu dan hampir tidak percaya kalau sandal The Beatles yang aku pakai adalah produk Bata. Lebaran kali ini aku merasa (sedikit) lebih siap, apalagi ada acara penting setelahnya.

Well, aku nggak tahu sampai kapan aku akan benar-benar bosan dengan with the beatles. Setiap melihat guratan wajah yang tampak separo itu di sandalku, sepertinya tak ada yang bisa menggantikannya. Fotografi itu seakan tak pernah usang ditelan waktu. Aku sempat memikirkan untuk membuat stiker ini dengan bantuan mesin computer cutting. Lebih mudah, dan bisa jadi banyak.  Ah tidak, biarkan aku melaluinya dengan proses ini, karena sandal ini merupakan serentetan kepingan yang menarik dari masa laluku.

Dan aku benar-benar menikmatinya :)

signal and sign

July 2, 2013

Wah tak terasa, sudah lama jarang ngeblog, ternyata sekarang blog-ku tepat sudah berumur empat tahun. Dan selama itu sepertinya aku belum pernah ingat kapan blog-ku ulang tahun. Ini pun tak sengaja saat ngecek email yang mengharuskanku membuka dashboard. Pas di warung lagi. Sepertinya aku perlu memposting tulisan untuk memperingati ultah-nya blogku ini. Ini ada hubungannya mengapa aku ngeblog di warung, biasanya kan di kos. Ikuti saja ceritanya, meskipun mungkin agak memusingkan.

Semenjak aku resign dari petakumpet, salah satu hal yang terputus darinya adalah aku nggak bisa online gratis lagi :) Nah, ini adalah salah satu tantangan bagiku untuk tidak terlalu bergantung pada fasilitas nge-net gratis itu. Sudah saatnya aku bisa online kapan saja dan dimana saja, nggak harus pas di kantor, dan pake gocek sendiri. Masalahnya adalah, aku ini orangnya gaptek bukan main. Maka kemudian aku minta saran sama yang biasa online terus, baik pakai smartphone, android, mobile phone, atau gadget apalah itu namanya. Aku ajak Emyr untuk main ke rumahnya Mbak Yanti sekaligus konsultasi sama Mas Hendrik, suaminya Mbak Yanti.

Intinya adalah, aku nggak mau beli smartphone dulu, tapi bagaimana biar aku bisa online dengan laptop peninggalan dari petakumpet itu (yang sampai sekarang belum pernah diinstal ulang, hehe..) Maka satu-satunya ya pakai modem. Aku juga gak paham mau pakai GSM atau CDMA, terus bayarnya gimana, isi ulangnya gimana, dsb-nya. Aku hanya bilang, pokoknya berikan yang terbaik dan sekiranya cocok bagiku apapun itu yang penting aku bisa online dengan laptopku, nanti totalnya berapa. Akhirnya aku dirokumendasikan pakai modem at&t sama Mas Hendrik dan kartunya pakai GSM AXIS PRO. “ Terus kalau habis gimana?” tanyaku. “Pokoknya tiap habis beli aja AXIS perdana terus, lalu suruh aktifin sama operatornya” jawab Mas Hendrik.

Beli perdana terus? Berarti ganti kartu terus ya? Dan itu bukan salah satu kebiasaanku. Namun mau bagaimana lagi, orang gaptek. Dan sejak saat itu aku menjalani dengan situasi yang seperti itu terus. Dengan Rp. 50.000 untuk satu bulan, kuota 1,5 GB unlimited. Karena unlimited aku masih bisa menggunakan sampai 2 GB lebih, karena unlimited. Hanya saja nggak sekenceng ketika belum habis sampai 1,5 GB. Jika masa berlaku habis, ganti kartu AXIS perdana lagi. Dan di kosku yang di Godean sinyal Axis ini kenceng banget, tapi pas dipake di warung nggak sekenceng di Godean. Sehingga aku jarang update apa-apa di warung. Pernah aku berganti pake kartu 3 karena penasaran, tapi akhirnya balik ke Axis lagi.

Akhirnya saat itu aku bisa update dimana saja kapan saja, yang paling sering sih di kos. Kalau dulu waktu masih di petakumpet, aku hanya bisa update pas ada di kantor, itupun kalo internetnya nyala. Sehari-hari setiap aku update image, aku seperti update pakai mobile phone. Padahal aku potret pakai kamera digital lalu transfer ke laptop, baru aku update ke twitpic atau blog. Pokoknya yang namanya aku seberapapun canggih teknologi, caranya masih suka pakai cara primitif. Kesian ya?

Nah di laptopku connector at&t tidak bisa berjalan dengan baik, maka Mas Hendrik memberikan connector Airband (aduh, aku lupa namanya, mungkin benar itu) Awalnya berjalan lancar sekali, namun tiba-tiba ketika pemakaian sudah melebihi 1,5 GB, tiba-tiba Airband nggak respon sama Windows lalu mati sendiri. Tapi masih bisa buat internetan. Nah ketika aku ganti pake perdana lagi, semua kembali normal. Suatu hari aku mencoba untuk isi ulang Axis, tanpa ganti beli perdana terus. Meskipun sebenarnya lebih baik beli perdana saja, isi ulang malah bayarnya lebih mahal, Rp.52.000. Awalnya baik-baik saja, namun ketika sudah ter-connect Airband hilang dengan sendirinya karena nggak compatible sama Windows. Namun masih bisa buat internetan. Aku yang terbiasa dengan cara primitif masih bisa bersabar :)

Entah kenapa pas bulan Maret, modem ini jadi aneh. Ketika connect pakai Airband, dari tombol disconnest, di-klik jadi connect, lalu airband itu hilang sendiri karena nggak compatible sama Windows. Internet jalan. Tapi ketika aku membuka google image, facebook (fb-nya orang), blog, email, atau yahoonews tiba-tiba jadi nggak connect sama internet. Lalu Airband tersebut muncul dengan sendirinya dengan tombol connect yang harus di-klik agar bisa nyambung lagi, setelah itu Airband ilang dengan sendirinya. Dan ketika aku refresh google image, atau email, tiba-tiba nggak connect lagi, lalu Airband muncul agar aku mengklik tombol connect, karena kalau nggak nanti Airband keburu ilang lagi, lalu aku harus mencabut modem dan memasangkannya kembali agar Airband muncul dengan tombol connect. Dan anehnya kalau buat twitteran bisa, tapi kalau untuk membuka gambar-gambar dari twitpic atau foursquare pasti akan nggak connect lagi. Aku seperti dipermainkan oleh modem. Onlineku hanya bisa untuk twitter saja?!

Akhirnya aku harus menambah kesabaranku bila mau kirim email. Buka email – nggak connect – diconnect lagi – refresh – email inbox keliatan – nggak connect lagi – di connect lagi – refresh – klik compose – nggak connect lagi – diconnect lagi – refresh – attachment – nggak connect lagi – diconnect lagi – attachment – nggak connect lagi – diconnect lagi – attachment – nggak connect lagi – diconnect lagi – attachment – nggak connect lagi – diconnect lagi – sampai kalau aku beruntung tiba-tiba attachmentnya bisa, padahal file yang diattach hanya sekitar 80 KB. Lalu send, dan berhasil dan nggak connect lagi. Sabar, yang penting misi mengirim file berhasil. Saking capeknya, pernah aku print screen lalu aku update di twitter. Sampai 13 kali  kali aku harus bersabar nyambungin ke internet. Aslinya malah lebih!

 

modem-mati2

 

Suatu hari aku mencoba untuk online di tempat lain. Modem berjalan baik meski Airband hilang sendiri setelah connect. Oh, berarti sinyal di Godean nggak bagus dan mungkin sudah banyak yang make’ Axis. Tapi lama-lama jadi nggak connect ketika aku buka image atau email. Apa sinyal di sini juga nggak bagus ya? Karena ketika aku online di warung, modem itu nggak mati saat aku buka apa saja. Dan karena hanya bisa untuk twitteran saja, kadang aku baru memakai kurang dari kuota 1,5 GB pas masa berlakunya sudah habis. Sayang banget kan? Lalu bagaimana jika aku harus search image atau posting blog? Biasanya aku mampir main ke kantor petakumpet hanya buat numpang internetan doang pake’ wifi. Kasihan memang, tapi daripada aku klik bolak balik connect-nggak connect? Mau sampai tua?

Daripada bingung, aku konsultasikan ke Mas Hendrik. Ketika modem dicoba di komputernya, bisa berjalan dengan baik. Tapi ketika di laptopku, saat untuk buka image, blog, email dan sebagainya jadi nggak connect lagi. Mas Hendrik menyimpulkan bahwa ada virus di laptopku. Sepertinya perlu diinstal ulang. Maklum sejak pertama aku pakai laptop sampai sekarang, belum pernah diinstal ulang. Masalahnya adalah aku nggak punya waktu untuk itu karena sibuk mengurus warung TELAP12. Lalu solusinya adalah aplikasi Airband diilangin diganti dengan cara yang lebih primitif dengan dial *99#. Entahlah, aku adalah orang gaptek yang selalu dipermainkan dengan teknologi. Ada nggak sih teknologi yang bikin semuanya jadi simpel? Ini kompleks dan ribet banget!

Oke masalahnya adalah virus, tapi kenapa kalau aku aktifin di warung, internetnya baik-baik saja, nggak pernah mati, dan malah lebih kenceng daripada yang dulu? Termasuk untuk memposting blog ini dan kemarin. Nah lho? Apakah ini karena virus? Atau sinyal di Umbulharjo bagus? Apa sebenarnya yang diinginkan modem ini hingga mempermainkan aku seperti ini? Aku hanya merenung sebentar, mengambil pelajaran, dan mencari tanda-tanda apa yang bisa kuhubungkan. Sepertinya ini adalah ‘sign’ atau tanda sebagai peringatan bagiku. Sign bahwa sudah semestinya aku harus pindah dari Godean ke warung TELAP12. Karena rencana pindah sebenarnya sudah sejak Maret dulu, namun sampai sekarang belum pindah-pindah juga. Sepertinya modem ini mencoba mengingatkanku dengan cara ini, agar aku tidak terlalu menunda-nunda kepindahanku. Toh ketika aku sudah ada di warung aku jadi lebih mudah mengurus semua bisnis ini dan berinteraksi lebih dekat dengan pegawaiku. Aku hanya bisa berprasangka baik. Mungkin seperti itu. Wallahu a’lam…

pindahan dan su’udzon

June 30, 2013

Januari 2007, setelah melewati beberapa test dengan kandidat yang cukup berat, akhirnya aku dipanggil HRD petakumpet. “Bolanya ada pada kamu” kata Mbak Dwi -HRD pada waktu itu- sembari mengajakku berjabat tangan. Lalu muncullah OB (Bojes kalau nggak salah panggilannya waktu itu) datang menyuguhkan teh. Aku harusnya puasa sunnah Kamis waktu itu, tapi akhirnya terpaksa membatalkannya pada pukul 16.15. Satu setengah jam lagi sebelum berbuka. Sementara di luar terdengar rame suara anak TK latihan drum band. “Kamu mulai kerja Senin ya? Eh, Jum’at besok kamu bisa dateng ke sini nggak? Akan ada kejutan lho” Aku tak tahu kejutan itu apa, tapi sore itu aku datang ke kantor petakumpet yang masih beralamatkan di Gedongkiwo MJ1000.

Beberapa anak departemen kreatif masih terlihat sibuk dengan kerjaanya sambil melihatku yang sedang duduk di ruang tunggu. A new boy. Tak lama kemudian mulailah HRD memerintahkan semua pegawainya untuk pergi ke suatu tempat dengan mobil kantor berwarna orange yang kata mereka seperti angkot itu. Tapi mereka menyebutnya tank. “Kamu tahu kejutannya? Kantor petakumpet mau pindah. Ayo, sekarang kita mau ke sana” Sore itu akhirnya semua ke Godean. Sebuah daerah yang menurutku adalah pinggiran paling barat dan jarang didatengin orang, termasuk diriku. Aku pernah ke sini, bahkan lebih jauh lagi, saat ke rumah partnerku waktu kuliah, Nur Cholis. Atau saat mengirimkan karya untuk kompetisi Communication Awards yang diadakan UMY waktu itu. Sebuah daerah yang asing bagiku.

Menyusuri Jl. Godean, akhirnya masuk ke cabang jalan, yaitu Jl. Kabupaten. Dan tibalah di sebuah bekas restoran Jepang di antara petak-petak sawah. Bangunannya besar dan bertingkat dengan cat warna pink. Di teras atas dekat hamparan sawah, aku mulai memperkenalkan diriku pada kru-kru petakumpet. Sekaligus dikerjain disuruh nyanyi dan joget. Tradisinya, kalau masih ada yang kurang puas, berarti belum sah perkenalannya. Aw, saat itu aku harus membuang jauh-jauh urat maluku. Menyanyi lagu Cucak Rowo sambil joget senam SKJ, dipotret lagi. Saat itu juga sekalian dengan perkenalan anggota baru selain aku, Tita –satu-satunya desainer cewek di petakumpet- sekaligus pelepasan seorang Account Executive, yaitu (almarhumah) Mbak Ochan. Lalu ada juga yang habis ulang tahun, yaitu Mbak Rina, Supporting Account. Jadi komplitlah acara dikerjainnya waktu itu. Lalu Kang Apep (Head Account saat itu) mulai memberitahuku untuk mengamankan hp, karena mungkin ada acara penceburan di kolam ikan depan restoran. Dan untungnya saja nggak jadi.

Melihat kejelasan akan pindahan itu, akhirnya aku harus menyiapkan diri. Aku belum pindah kos saat itu dan masih di Blimbing Sari. Jadi daripada pindah kos ke Gedongkiwo, mendingan sekalian pindah kos ke Godean, karena petakumpet mau pindah ke sana. Sebenarnya berat bagiku untuk meninggalkan Blimbing Sari. Namun kini kos-kos 77 itu keadaannya tidak seguyub dan seharmonis dulu lagi. Lagian aku sudah di situ semenjak tahun 2002. Awalnya kulihat akan terasa berat untuk memindahkan barang-barangku yang sudah banyak banget. Bayangin, sejak 2002 sampai 2006. Tapi ternyata semua barang bisa dipindah hanya dengan satu angkatan dengan menggunakan mobil temanku kuliah. Begitu aku pindah dari Blimbing Sari, aku harus merelakan genjot sepeda Godean-Gedongkiwo pulang pergi dengan jarak 15 km untuk sementara. Untuk sementara? Ternyata tidak. Kantor petakumpet baru pindah ke Godean bulan Agustus, tepatnya beberapa minggu sebelum penyelenggaraan Pinasthika dimulai.

Aku nggak tahu kenapa sangat lama. Lha wong cuman pindahan? Tiap hari aku selalu menunggu dan menunggu kabar kapan kantor akan pindah sampai aku harus genjot tiap hari selama 6 bulan. Heran, susahnya apa sih?

Masalah pindahan itu ternyata enggak mudah. Dulunya aku dengan remeh ngatain ke petakumpet; apa sih susahnya pindahan? Sekarang balik aku yang merasakannya sendiri. Coba pikir, harusnya aku sudah pindah dari kosku di Godean untuk menempati ruko bagian atas warung TELAP12 yang sudah disekat dan dicat. Rencananya Maret aku harus sudah menempati tempat itu, tapi sekarang bulan apa coba? Sudah akhir Juni. Mau puasa lagi. Pindahan itu memerlukan tenaga, waktu, dan (mungkin)biaya yang ekstra. Semoga sebelum puasa aku sudah di warung TELAP12 sepenuhnya.

Dan herannya meskipun barangnya sudah dicicil untuk dipindahin sedikit-demi sedikit, namun sepertinya nggak habis-habis juga. Aku sampai heran, aku sudah memindahkan berang-barang sampai 3 angkatan. Ketika bongkar-bongkar dan beres-beres, aku bingung, bagaimana bisa barang sebanyak itu bisa muat masuk semua ke dalam kamar ukuran 3 X 2,75 meter?

 

pindahan

 

Dan yang nggak pernah habisnya adalah buku dan majalah. Setiap ditata pasti langsung memenuhi seluruh ruangan kamar. Nggak cuma nggak habis-habis, tapi beberapa buku dalam satu kardus beratnya minta ampun. Kukira yang paling berat adalah peralatan komputer atau lemari pakaian, ternyata satu kardus penuh buku lebih berat.

Tapi dari pindahan itu aku mendapatkan banyak hal menarik, terutama bahwa su’udzon alias berburuk sangka itu sampai kapanpun tetap tidak menghasilkan kebaikan. Ceritanya begini.. Dulu, waktu aku nyari kos di Godean, bingungnya minta ampun. Aku minta bantuan sama partnerku waktu kuliah, Nur Cholis yang memang kebetulan rumahnya di bagian Godean tapi lebih pelosok lagi di bagian paling Barat. Lalu aku juga ngajak Dimas, yang rumahnya berada di sekitar Jl. Godean. Tiba-tiba saja teringat oleh temanku kuliah bernama Bagas. Kebetulan tinggalnya di Godean tapi di tengah-tengah, antara rumahnya Dimas dan Nur Cholis :). Bagas ini dengan siapapun dan dimanapun, dia kenal. Istilahnya, daerah mana saja premannya siapa, dia tahu. Tapi dia di kampus dikenal seorang trouble maker. Dimana ada dia pasti ada masalah. Apapun yang dia pegang pasti terjadi masalah.

Namun aku tak terlalu peduli dengan pandangan orang yang seperti itu, meskipun mungkin kenyataannya seperti itu. Soalnya dia pernah punya andil yang besar dalam Pameran waktu kuliah dulu. Dia pernah menawarkan dirinya tanpa dibayar, naik kereta ke Solo hanya untuk menempelkan poster pameran di UNS. Hasilnya, beberapa peserta workshop ada yang dari Solo.

Nah, saat aku sedang nyari kos di Godean dan main ke Bagas, lalu minta tolong untuk dicarikan kos. Tanpa ragu dia langsung melesat, dan tak lama kemudian Bagas sudah menemukan tempat yang tepat untukku, yang saat ini mau kutinggalkan. Saat itu kalau nggak salah Dimas sama Nur Cholis sepakat untuk bilang “Wah biasanya trouble maker, tapi sekarang problem solver” hehe. Bagaimanapun Bagas adalah orang yang berjasa mencarikanku kos yang sudah kutempati selama 6 tahun. Lalu dimanakah Su’udzonnya?

Begini… Ketika aku sudah pindah ke Godean, Bagas sering mampir tiap weekend. Yah sekedar ngobrolin kerjaan dan desain. Kebetulan saat itu dia tertarik untuk bekerja di perusahaan majalah apapun di Jogja. Sepertinya menyenangkan, bisa mendesain dan melayout majalah dan dinikmati banyak orang, katanya. Nah suatu pagi kebetulan aku sedang buka-buka majalah lama yang menjadi salah satu benda paling sulit dicari. Adalah majalah Hai lama yang meliput segalanya tentang film X-MEN, edisi tahun 2000 dan Spider-Man, edisi tahun 2002. Saat Bagas mampir dan melihat layout serta beberapa iklan kreatif di majalah itu, dia bermaksud untuk meminjam kedua majalah itu. Aku agak ragu dengannya, apakah dia bisa merawat majalah itu. Masalahnya ada potongan Comic Ad (iklan komik) menarik dari koran yang aku masukkan ke dalam majalah itu, yang merupakan sambungan cerita dari iklan AXE EFFECT versi Hamelin Si Peniup Seruling.

 

comicAd

 

Akhirnya aku ninggalin pesan ke dia “Tapi dijaga baik-baik ya, soalnya majalah ini susah lagi nyarinya, dan ada selipan Comic Ad keren di dalamnya” Akhirnya aku mempercayakan kedua majalah itu sekaligus aku pinjamkan ke dia sebagai sampel untuk layout majalah.

Selang beberapa minggu kemudian aku mulai disibukkan dengan pekerjaanku. Saat ketemu Bagas, dia bilang “Majalahmu ada di rumahku lo” terus aku jawab “Jaga baik-baik lo”. Aku tak bermaksud untuk mengambilnya karena mungkin dia sedang memerlukannya, dan aku sedang sibuk-sibuknya. Setiap kali dia bilang “Majalahmu kapan kau ambil?” aku selalu bilang “Bawa aja dulu”

Hingga suatu hari entah kenapa tiba-tiba aku kepingin banget  bikin sandal Wolverine vs Magneto yang ada di majalah Hai X-MEN. Aku cari majalah itu di kos nggak ada, sampai aku obrak-abrik semuanya. Aku sampai bernazar waktu itu, kalau ketemu mau aku bacain Surat Yasiin sepuluh kali. Hingga akhirnya aku ingat-ingat lagi kira-kira siapa yang yang biasa pinjam majalahku. Aku sms Nur Cholis yang biasanya pinjam majalahku, katanya nggak pinjam. Lalu teringatlah “Mungkin Bagas..” Aku yang saat itu sedang mood, tiba-tiba jadi males dan berencana untuk bikin sandal itu kapan-kapan saat Bagas mengembalikan majalah itu.

Dan pada sebuah pertemuan semacam reuni setelah lebaran, aku dan teman-teman kuliah yang masih ada di Jogja kumpul-kumpul. Di situ ada Bagas, dia sudah bekerja di percetakan ternama di Jogja saat itu. Lalu aku tanya ke dia “Gas, kamu bawa majalahku nggak yang X-MEN sama Spider-Man?” “Oh, yang Spider-Man yang covernya putih semua itu ya?” “Iya yang itu..” Wah ternyata benar, dibawa dia, syukurlah.

“Wah, dulu aku suruh ambil nggak diambil-ambil? Sekarang nggak keurus entah kemana. Udah dikilo mungkin. “Heee?!!” aku kaget setengah mati “Loh kan dulu aku suruh rawat baik-baik? Padahal ada iklan kerennya lo..”

“Yah kamu sih, udah lama banget, kan?”

“Loh, nggak bisa gitu Gas, itu majalah berarti banget bagiku” Ah, menyesal kenapa tidak langsung aku ambil saat dulu-dulu itu.

“Gini aja, kamu inget gak nomor sama tanggal edisinya? Ntar aku cariin di majalah bekas”

Wot?!!! Begimana aku bisa ingat nomor dan tanggal edisinya? Mana ada orang setiap habis beli majalah lalu diingat-ingat nomor sama tanggal edisinya? Sebuah pembeelaan dengan solusi yang begitu wagu. Hingga saat itu, akhirnya aku anggap itu sebagai musibah bagiku. Kehilangan majalah yang waktu SMA dulu aku mati-matian mendapatkannya. Sejak saat itu aku nggak mau minjem-minjemin dan udah nggak percaya lagi sama Bagas. Aku telah su’udzon padanya, dan aku meyakini bahwa su’udzonku itu benar. Namun ternyata salah.

Kemarin-kemarin aku mulai serius untuk memindahkan beberapa barang-barang sedikit demi sedikit saat mau ke warung. Dengan membawa kronjot yang biasanya dipakai Pak Kos untuk mengantarkan teh, aku bisa membawa enam kardus besar sekaligus dengan sepeda motor. Mulailah aku agendakan apa yang mau aku angkut dulu. Saat itu aku mulai beres-beres beberapa goody bag dari beberapa festival yang pernah aku ikuti. Banyak sekali kenangan teringat kemabli saat satu persatu aku bersihkan isi di tiap goody bag dari debu. Dan tiba-tiba dari salah satu tas itu aku menemukan dua majalah dalam satu plastik dengan posisi cover belakang semua yang kelihatan. Aku seperti sangat familier dengan Print Ad yang ada di cover belakang majalah itu. Setelah aku buka, ternyata majalah X-MEN dan Spider-Man. Aku senang sekaligus terkejut bukan main.

 

X-MEN_Spidey

 

Dan langsung saja ingatanku tertuju pada Bagas. Ya Allah aku sudah su’udzon padanya. Aku nggak tahu bagaimana majalah itu bisa sampai di situ. Mungkin karena aku terlalu malas untuk mengembalikan majalah itu ke tempat yang semestinya, sehingga langsung kuselipkan ke goody bag begitu saja. Dan kemungkina besar aku dan Bagas sama-sama nggak ingat kalau buku itu sudah dikembalikan ke tanganku. Subhanallah, ini sudah sangat begitu lama, dan Allah menyadarkanku melalui pindahan ini. Maafkan aku yang sudah su’udzon padamu sobatku Bagas. Mungkin setelah kepindahanku ini aku akan sulit menemuimu. Astaghfirullohaladziim… Seharusnya aku bertabayyun dulu.

” Ya Allah, lapangkanlah dada kami, tenangkanlah jiwa dan fikiran kami, karuniakanlah sifat tabayyun pada diri kami, sehingga kami dapat menyikapi semua berita yang sampai kepada kami dengan benar sesuai kehendak-Mu”. Sumber: http://bit.ly/vQv3cW


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers