Aw, (lagi-lagi) harusnya ini postingan lebih dari seminggu yang lalu. Hari Ahad kemarin, 2 Oktober adalah hari Batik Nasional. Dan bicara soal motif batik, motif yang paling sering diangkat adalah motif kawung. Kawung meskipun cara membuatnya manual, namun ternyata memiliki struktur konstruksi yang geometris dan matematis. Kalau tak salah Intel juga telah mengeluarkan software yang memudahkan untuk mendesain batik. Ada videonya kok, judulnya Batik Fractal yang disutradarai oleh Hannah Hilliard.
Pola batik seperti motif kawung memang sangat arsitektur dekoratif, tapi aku lebih suka menyebutnya dengan Escher. Cobalah untuk melihat gambar motif di bawah. Apanya yang menarik?
Sepertinya biasa saja, namun untuk bisa menyusun, menduplikasi, ditambah dengan meng-invers gambar biar bisa pas seperti ini bukanlah perkara mudah.
Itulah Escher. Untuk lebih jelasnya mengenai Escher bisa dicari di Google.
Escher itu seperti memasukkan prinsip dan konsep yang matematis ke dalam sebuah karya seni. Dengan memainkan shape, figur, ruang, dan warna, yang hasilnya membuat otak berpikir keras. Menakjubkan! Karena karya dari Escher yang terlihat tidak mungkin inilah akhirnya melahirkan cabang matematika yang irasional yang disebut mobius. Dulu waktu SMP aku pernah mempraktekan contoh sederhananya dari majalah MOP lama tahun 80-an. Prakteknya yaitu dengan membagi dua sebuah persegi panjang yang disambung sehingga membentuk melingkar. Namun apa yang terjadi setelah aku memotongnya dan mengikuti alur lingkarannya? Bukannya lingkaran menjadi ada dua, namun tetap satu lingkaran dengan panjang keliling 2 kali lebih besar.
Sebenarnya awal perkenalanku (secara tidak sadar) dengan seni Escher sudah sangat lama. Kira-kira waktu aku mulai kelas 1 SD. Yaitu saat melihat cover buku matematika SMP milik kakakku. Begitu melihat cover itu, aku langsung jatuh cinta dan mulai meniru gambarnya. Namun kemudian lama-lama aku mulai melupakannya. Selepas SMA aku gagal SPMB dan mencoba mengulang lagi setahun. Lalu untuk persiapan ke SPMB berikutnya aku ikut bimbel sambil menyibukkan diri kuliah D1 desain grafis di CITS-UGM. Dan sebelum aku beranjak hijrah ke Jogja, entah bagaimana bisa buku SMP milik kakakku itu seakan memanggilku. Aku mendapatkannya secara tak sengaja setelah mengacak tumpukan buku-buku lama di gudang. Aku mengamatinya lagi cover itu, lalu bergumam “sebuah karya yang luar biasa”. Aku lalu mengguntingnya siapa tahu bisa menjadi bahan untuk kuliah desain grafisku. Sampai sekarang aku pun masih menyimpan potongan itu. Cuma aku lupa naruhnya dimana, hehe… Tapi gambarnya kira-kira seperti ini. Aku sangat senang sekali ketika menemukannya di Google.
Ternyata selama kuliah aku tak pernah menyentuh potongan gambar itu. Aku baru perhatian banget dan mulai mempelajari seni ini saat aku bergabung dengan Petakumpet pada tahun 2007. Gara-garanya adalah saat itu majalah desain grafis CONCEPT sedang mengadakan “Kompetisi 1001 Cover Concept” Hadiahnya pun tak tanggung-tanggung, mobil Chevrolet Kalos. Untuk itulah aku berusaha berhari-hari menemukan rumusan pola guntingan gambar cover itu. Dan ketika menemukannya aku sangat bersemangat sekali dan yakin kalau ini akan menjadi karya yang luar biasa. Konsepnya adalah dengan mengangkat desain tersebut ke dalam motif batik yang orang belum pernah lihat sebelumnya.
Aku lalu mengambil referensi dari bermacam motif batik di buku-buku batik. Kebetulan Petakumpet punya dari hasil hunting di shoping. Maklum, dulu referensi buku batik tersebut sering digunakan Petakumpet untuk mendesain undangan pernikahan. Kebetulan saja aku menemukan motif batik Buraq dengan menara Masjid.
Aha! Ini ide yang brilian! Karena nama acaranya adalah 1001 cover, maka aku korelasikan dengan 1001 malam. Nah, dalam cerita 1001 malam ada sebuah perjalanan ala dunia fantasi yang menggunakan kendaraan yang namanya Buraq. Lalu aku masukkan ‘si Jambul’ (ikon majalah CONCEPT) sedang menaiki Buraq dengan posisi tangannya yang menyimbolkan angka 1001. Sedangkan angka 1001 diwakili oleh duplikasi si Jambul yang sedang menaiki Buraq (meskipun duplikasinya tidak sampai 1001) dan membentuk motif batik. Sangat Indonesia, meskipun mungkin di Indonesia belum ada.
Prosesnya pun sangat panjang, dari sketsa manual dengan perhitungan lekukan kurva yang harus pas pada setiap kotak skala, hingga membuatnya presisi saat diubah menjadi vector di komputer. Dan begitu aku berhasil menyusunnya, rasanya aku seperti seorang ilmuwan digabung dengan seniman maestro yang paling hebat.
Suatu hari dengan agak berlagak sombong, aku bermaksud memperlihatkan karya itu ke CD Petakumpet dulu, Eko Eddisucipto. Kebetulan tempat kerjaku satu ruangan dan dekat dengan beliau. Dan sebelum-sebelumnya kalau sudah selesai kerja, aku minta ijin untuk memakai komputer beliau kalau malam buat bikin Buraq ini. Ketika aku ditanya “Mana desain buat cover Concept yang sudah kamu buat semalam” Lalu dengan agak low profile aku memperlihatkan satu pose si Jambul sedang menaiki Buraq. “Kok cuman gini?” katanya. Hehe, belum tahu die.. Aku memang sengaja mau bikin kejutan. Tunggu saja kalau aku sudah selesai menyusunnya, pasti akan terperenjat!
Tapi ketika aku sudah menyusunnya lalu memperlihatkan ke beliau, “Nih, maksudnya begini lho kalo sudah jadi…” Ternyata responnya biasa saja, sambil menjawab “Oh, kamu mau bikin Escher tho?” Yang kaget malah aku, “He?!! Apa namanya tadi?” “Escher… nih tak liatin di Google Image” Lhadalah! aku memang sudah membuatnya dengan sukses, namun tidak tahu kalau aliran seni semacam itu namanya Escher. Beliau benar-benar CD terhebat yang pernah aku kenal selama ini. Kesombonganku langsung drop ketika aku diliatin karya-karya Escher di Google. Namun beliau memberiku ucapan salut karena aku bisa membuat desain Escher. Karena untuk membuatnya memang sulitnya bukan main, dan beliau belum bisa membuatnya, hehe…
Nah atas saran Pak Eko, akhirnya cover Concept yang aku kirimkan seperti ini.
Meskipun nggak menang dan gagal mendapatkan Chevrolet Kalos, namun alhamduliLLAh masuk desain unggulan. Tapi yang paling penting, aku sangat puas bisa membuat desain Escher.
Awalnya cover yang mau aku kirimkan adalah warna-warni seperti gambar di bawah. Pikirku, kalau seumpama desain Escher itu menang, bisa juga buat backdrop acaranya hehe…
Dan sekali berhasil mendesain Escher, maka rasanya kepingin mencoba lagi dan lagi. Sehingga waktu ada Black Urban Art pada awal 2008 aku mengirimkan karya dengan konsep Escher. Temanya aku lupa, tapi di situ aku gambarkan seorang Dewi Sri yang tertarik oleh pusat energi yang berbentuk segitiga (Segitiga Djarum BLACK) Cuma sayang permainan komparasinya terlihat kurang kontras.
Tapi aku pernah menerapkan konsep Escher ini pada sebuah kompetisi logo Departemen Sosial. Dan alhamduliLLAH menang, meskipun bukan yang terpilih untuk diaplikasikan, hehe…
Sayangnya kini aku tak punya banyak waktu. Kalau saja ada, aku ingin sekali melakukan banyak eksperimen dengan konsep Escher ini. Karena ternyata Escher tak hanya berlaku pada desain saja, tapi juga typografi. Bahkan nama Escher pun bisa dimainkan (bisa dibaca dari dua sisi)
Mungkin istilah ini lebih dikenal dengan nama Ambigram. Kalau kalian pernah melihat film Angels & Demons yang diperankan oleh Tom Hanks, akan ada adegan dengan Ambigram bertuliskan “Earth, Air, Fire, Water” yang bisa dibaca bolak-balik.
Nah, kalau bisa menemukan bentuk tulisannya rasanya sangat senang sekali. Dan sepertinya sekarang malah sudah ada software yang bisa membuat Ambigram secara otomatis, tinggal ketik tulisannya apa. Bahkan Kalau tak salah 2009 lalu, ada seorang desainer grafis yang aktif di milis CCI, namanya Hariadi membuat project ambigram, (kayaknya yang ini manual) bisa klik di http://ambigramproject.wordpress.com/
Aku juga pernah menjajalnya dalam kompetisi desain logo. Yang pertama adalah desain logotype untuk kahitna (grup musik) dan speak, sebuah nama merek dan logo usulan untuk perusahaan telekomunikasi. Namun gagal
Tapi yang paling mengejutkan adalah, ternyata namaku, husny (pakai y) juga membentuk pola Escher secara alami tanpa harus susah-susah memodifikasi hurufnya. Yang akhirnya kujadikan logo dan sekaligus brand identity-ku
Well, sepertinya hidupku selalu diliputi oleh pengaruh Escher.
Tags: 1001 cover, batik, Black urban Art, desain, desain grafis, escher, konsep, majalah desain grafis concept, typography, yang tersingkir














