Mie Goreng Pedas

Banyak sekali pengalaman dan cerita yang kudapat saat mendirikan usaha kuliner Mie Persis TELAP12. Diantaranya mengapa kalau makan mie instant di warung borju lebih nikmat daripada membuat sendiri di rumah. Rahasianya adalah air rebusan yang dipakai berkali-kali untuk merebus mie yang masih kering. Itu yang kami lakukan di TELAP12. Lalu mengapa kalau buat mie instant rebus di rumah, bumbu dan minyaknya nggak boleh dimasukin ke air yang mendidih bersamaan dengan memasukkan mie keringnya. Ternyata buat kesehatan memang tidak baik saat mie instant tersebut bila nantinya sudah dingin. Makanya informasi petunjuk penyajian di bungkus mie instant yang dulunya memasukkan bumbu bersamaan dengan mie kering yang direbus diganti dengan; sementara mie direbus, campurkan bumbu, minyak bumbu, dll ke dalam piring.

Lalu ternyata netto dan jenis mie pada varian indomie itu nggak sama. Sehingga awak di TELAP12 sampai hafal betul saat mengangkat rebusan mie. Oh ini mie untuk vegan, ini untuk kari ayam, ini untuk rendang. Lebih-lebih bentuk mie dari varian Mie Kocok Bandung yang sangat berbeda. Jadi saat merebus dua mie yang berbeda variannya, nggak bisa asal memasukkan mie untuk dicampurkan ke bumbunya. Kalau terbalik maka rasanya nggak match. Setiap bungkus dari varian indomie memang sudah dikomposisikan pas sesuai takarannya. Tak bisa ditukar-tukar.

Dan satu pengalaman yang menurutku penting dan unik adalah tentang susahnya istiqomah atau menjaga komitmen. Komitmen TELAP12 adalah menyajikan mie instant ‘persis’ seperti pada tampilan bungkusnya. Bahan pelengkap seperti sayuran, telur, dsb atau yang disebut garnis itulah yang membuat mie itu persis dengan bungkusnya. Meski mie-nya sama tapi kalau dilengkapi dengan garnis, akan ada sebuah experience/pengalaman yang berbeda dibanding tanpa garnis. Sangat beda. Untuk itulah saat kami kehabisan beberapa garnis, kami akan selalu bilang kepada pelanggan yang datang pada masa-masa penghabisan. “Maaf acarnya habis” atau “Maaf tomatnya pakai tomat yang warna merah, enggak pakai tomat ijo seperti pada bungkusnya” meskipun pada akhirnya tomatnya nggak dimakan :) Kami juga tak jarang menawarkan ke pelanggan saat menyajikan Mie Goreng yang ada telur mata sapinya, apakah mau matang atau setengah matang. Karena pada bungkus tampilannya setengah matang. Menjaga komitmen yang seperti itu ternyata susahnya bukan main. Dan aku mendapatkan tantangan bagaimana agar bisa tetap istiqomah gara-gara kemasan indomie Mie Goreng Pedas.

Sejak awal sebelum TELAP12 buka, kami trial dulu beberapa varian indomie yang bisa dieksekusi sekaligus dipotret untuk publikasi spanduk dan promosi. Awalnya tiap varian yang selesai dieksekusi berjalan lancar. Eksekusi sudah hampir persis dengan bungkusnya. Begitu sampai memotret Mie Goreng Pedas, aku bertanya “Loh, ini ayamnya kok nggak paha?”. Heru, si kokinya berkata “Nggak papa.. yang penting sama-sama ayam..” “Lha tapi jadinya kan nggak persis?” “Ya mau gimana lagi? Apa mau beli paha dulu? Udah sekalian masak ini… Tak ada waktu”.

 

tak-persis

 

Karena baru mulai pertama kali, aku memakluminya, tapi hatiku tetap merasa ada yang kurang sempurna. Meskipun akhirnya gambar yang dipublish di spanduk ayamnya nggak pakai paha, namun saat menyajikan ke pelanggan kami memakai paha. Kami masih memegang amanah untuk menyajikan dengan persis. Tapi tetap saja kejadian itu mengusikku, karena ada pelanggan yang pernah nanya “Mas ini Mie Goreng Pedasnya pakai apa aja?”

Waktu pun berselang, memasuki tahun 2013. Waktu yang tepat untuk mulai berbenah dan membentuk sistem yang baik.  Aku dikejutkan dengan sms dari Bosiran awak TELAP12, yang mengatakan kalau kemasan Mie Goreng Pedas ganti. Aku pun ngecek ke supermarket, dan ternyata benar. Yang ganti adalah tampilan komposisi  garnisnya. Bukan lagi pakai paha ayam, tapi sepertinya pakai galantin ayam yang dibumbu pedas.

 

new_mie_goreng_pedas

 

Aku mencoba membandingkan kemasan lama dan kemasan baru. Di kemasan baru ada tambahan background transparan gambar cabe-cabenya. Saat aku bandingkan lagi dengan seksama, kemudian aku tersadar bahwa ternyata selama ini tampilan sajian pada bungkus indomie adalah olahan Digital Imaging dari hasil fotografi. Jadi untuk membuat komposisi seperti itu, tinggal ambil gambar stok telur, acar, ayam yang diatur dan ditempatkan menjadi sajian yang menggugah selera. Jadi bukan murni hasil fotografi dari sajian yang sudah dikomposisi komplit, melainkan dari gambar yang sudah terpisah-pisah. Kalau diperhatikan akan ada beberapa titik-titik bagian yang sama antara kemasan lama dan kemasan baru indomie Goreng Pedas.

 

old_&_new_Mie Goreng Pedas

 

Aku pun langsung berembug dengan para awak TELAP12. Meski gambar tersebut adalah olahan Ditigal Imaging, apakah kita akan eksekusi persis seperti itu atau tidak. Heru si koki bilang “Nggak perlu, tetep pakai paha ayam saja” “Tapi nanti jadinya nggak persis?” kataku. “Pelanggan nggak ada yang tahu, masih tetep enak pakai paha ayam. Pakai galantin nanti jadinya tambah mahal” katanya. Hatiku tetap nggak tenang dalam hal menjaga komitmen yaitu menyajikan dengan persis. Meyakinkan dan memberitahu pegawai itu susah-susah gampang. Apalagi ngasih tahu di bidang yang bukan wilayahku, ke orang yang memang disitu bidangnya, yaitu memasak. Banyak sekali alasan-alasan. Dari yang harganya mahal, rasanya yang nggak match, sampai nanti kalau diolah bagian tengah galantin nggak bisa putih seperti di bungkus dan harus ditambah dengan bahan-bahan lagi. Tapi aku mencoba untuk meyakinkan “Ya nggak bisa begitu dong… Pelanggan emang mungkin nggak tahu. Tapi ingat, warung ini namanya Mie Persis lho… Coba aja dulu besok trial pake galantin!”

Besoknya aku bawa satu irisan galantin ayam yang sudah diolah bumbu semur yang aku beli di warteg. Aku bawa sorenya ke warung dan memperlihatkan kalau bagian tengah galantin tetap kontras (putih) dibanding bagian luar pinggirnya meski diolah bumbu kecap. Akhirnya sore itu mulailah mengeksekusi gelondongan galantin yang baru saja dibeli untuk diolah dengan bumbu pedas. Setelah jadi dan dipotong-potong seperti pada bungkusnya, barulah kami mencoba. Ternyata rasanya lebih enak! Dan yang paling penting adalah kombinasinya match/cocok sama bumbunya. Aku nggak ngerti, kemungkinan penggantian kemasan ini memang sudah dipertimbangkan masak-masak dari pihak indomie. Meskipun tampilannya memang hasil dari olahan Digital Imaging, namun setelah dieksekusi rasanya sangat pas. Apalagi ada tambahan acar yang sangat cocok bila beradu dengan rasa pedas.

 

Mie-goreng-pedas+galantin

 

Alhamdulillah, menjaga komitmen dan tetap istiqomah dengan pendirian kita itu susah, tapi hasilnya akan sangat indah. Rencananya, Insya’Allah sore nanti sudah mulai perlahan-lahan memperkenalkan Mie Goreng kemasan baru yang pake galantin kepada pelanggan. Meskipun di web-nya indomie, pada bagian product, tampilan bungkus Mie Goreng Pedas belum diganti dengan yang baru. Harganya pun naik seribu :) Tapi pantas lah. Mie goreng dengan tambahan telor mata sapi, 3 irisan galantin ayam, acar, irisan cabe merah, jamur, dan daun selada, plus nasi lagi! Hanya Rp. 10.000,- Cobain deh, dijamin ped-hoshh..!!!

 

mie-goreng-pedhaashh

About these ads

Tags: , ,

4 Responses to “Mie Goreng Pedas”

  1. namarov Says:

    nyicipp aaahh… :D

  2. maspoeloeng Says:

    wewewww…mesti uenak iki reekk

  3. ira dewi Says:

    Izin save gambarnya ya mas, seksi banget mie nya:3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers

%d bloggers like this: