Jangan pakai celana batik lagi di Jakarta

”Kamu orang etnik yah?”

Pertanyaan itu selalu dilontarkan padaku ketika aku memakai celana batik di Jakarta. Pertama saat aku magang, kemudian aku seakan merasakan de javu saat pertanyaan itu dilontarkan lagi padaku sebelum tampil di acara Kick Andy bagi finalis Black Innovation Awards 2008. Apa ada yang aneh bila aku memakai celana batik? Apa kurang sopan bila orang Indonesia memakai celana batik? Sungguh ironis, nggak boleh memakai produk karya asli Indonesia oleh orang Indonesia di Indonesia (dengan bahasa Indonesia pula)

Sebenarnya untuk mencari diriku di Jogja, ciri-cirinya sangatlah gampang. Pertama atasan memakai T-Shirt putih atau hitam, kedua sandal selop hitam Bata “With The Beatles” dan yang terakhir celana batik.

ingsun, waktu masih culun (Pinasthika 2006)

ingsun, waktu masih culun (Pinasthika 2006)

Sialnya, pas dateng di acara Kick Andy aku memakai ketiga ciri-ciri tersebut. Dari pihak produser, aku langsung dipinjami jas dan celana, dan untuk sepatu aku meminjam temenku yang ikutan nonton acara Kick Andy.

Celana batik seakan sudah melekat padaku dan menjadi pakaianku sehari-hari. Sehingga saat Pinasthika 2007 dan 2008, ada mahasiswa Undip yang mendekatiku bersalaman, berbincang-bincang, akrab banget pokoknya, padahal aku nggak kenal siapa dia. Dan dia mengenali siapa itu husni dari celana batik. Weleh-weleeeh…

Sekarang untuk mencari identitas diriku tinggallah sandal The Beatles, karena aku udah agak jarang memakai celana batik. Bukan karena trauma, tetapi karena keseringan memakai batik sampai–sampai bagian lutut celana robek, sehingga jumlah celana batik yang kumiliki sekarang tinggal 2.

Pengalaman celana batik lainnya tentu sangat banyak, suatu hari aku pernah mendapatkan tawaran untuk bekerja di Jakarta.

”Udah deh hus, di sini aja… ngapain di Jogja?”

”Enggak mas, anu… petakumpet copywriternya cuman satu, kalo tak tinggal kan kasihan”

”Heh? Kamu copywriter?”

”Iya mas, lagian banyak urusan personal yang belum terselesaikan di sini”

”Urusan aaapa sih…udah deeh… di sini enak kook…”

”Enggak mas.. sori…”

”Udahlah… di Jakarta aja… kamu boleh pake celana batik deh…”

”…(aduh)”

Tags:

3 Responses to “Jangan pakai celana batik lagi di Jakarta”

  1. Elin Says:

    huakakaka…mesakke tenan, batik’e

    komiknya tulisane kekecilan hus.

    dah di jogja aja…damai disana (kecuali kl lagi lembur sampe pagi juga)

  2. jogjaportrait Says:

    hmm.. ide yang menarik.. berhubung jeans pada mo abis n dekil, batik jadi pilihan yang aszik.. cari (celana) batik aaahhhh….

  3. kayin Says:

    ada blog competition ni
    http://www.autoblackthrough.com/blogcompetition/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: