Tertawa

16 Desember 2001

Aku berada di lantai tingkat satu gedung ITB

Pagi itu sesudah sahur, dinginnya tidak seperti biasanya

Aku tak bisa menjelaskannya

Apakah malam ini malam Lailatul Qadr?

Kurasa tidak,

meskipun bintang-bintang banyak bertebaran di langit

Katanya tanda-tanda malam Lailatul Qadr, langit terlihat bersih

Tapi aku melihat ada awan berarakan di sana

Membentuk sampan yang sedang belabuh di langitan ombak

Tapi kok rasanya malam ini seperti malam Lailatul Qadr yah?

Tiba-tiba ada yang datang menghampiriku

Oh tidak, itu dia….

Mendekatiku dengan sangat tenang…

Justru membuat aku jadi keringetan dingin…

Kudekapkan saja tanganku

Sambil memandang dedaunan pohon pisang

Dia sekarang berada dekat disampingku

Aduh, aku harus ngomong apa nih?

Angin bertiup dan menerpa rambutnya yang lebat

Aku melihatnya dari bayangan di daun pohon pisang itu

Aku yakin bila melihatnya langsung ke wajahnya

Pasti cantik sekali…

Sekarang masalahnya adalah

Aku harus memulai pembicaraan ini

Tapi mau ngomong apa?

Aku seolah tak bisa bergerak

Mulutku menggigil terdiam

Mataku terus memandangi daun pisang

Aku harus bertindak

Otakku mulai berpikir keras

untuk menciptakan kata-kata

Bagaimana kalau kuraih daun pisang itu

Merobek tulang daunnya menjadi dua

Lalu kujadikan ulat-ulatan lucu yang akan kuberikan ke dia?

Yaa…

Tapi saat aku mau menggapai daun pisang itu

Tiba-tiba tanganku berontak tak mau bergerak

Otakku bilang

Itu bukan ide yang bagus husni…

Aku tersenyum

Lalu tertawa kecil

Mendadak pandangannya langsung beralih ke arahku

”Mengapa kau tertawa?”

Aduhh, aku harus bilang apa?!!

Tenang husni…. tenang…

Ahhh aku tak bisa berpikir!!!

”Aku tak tahu….(aduh)”

”He?….”

”Aku tak tahu apa yang aku tertawakan….

Sehingga aku tertawa”

”Hahaha….haha…”

Kami berdua tertawa

Kuberanikan untuk memandang matanya

Kami berdua berpandangan

Saling tersenyum

Angin kembali menerpanya

Apa kubilang? dia cantik sekali…

Kemudian suara adzan subuh berkumandang

Semakin keras…

Keras….

Lalu membangunkanku…

Sialan, aku bermimpi…

Dasar mimpi! Bisa-bisanya!

Seumur-umur aku belum pernah mengunjungi gedung ITB tauk!

Kemudian semenjak itu, bulan Ramadhan dari tahun ke tahun mulai bergeser dari bulan Desember. Tapi disetiap bulan Ramadhan, mimpi tentang tertawa itu tak pernah hilang dari ingatanku. Bagiku, bulan Ramadhan adalah bulan yang luar biasa bagi orang yang sedang jatuh cinta. Namun yang terpenting adalah, kita harus menempatkan cinta kita ke tempat yang paling atas, yaitu cinta kepada-Nya.

Marhaban Ya Ramadhan…. I always miss you…

(sudah lama aku ingin menuliskan ini)

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: