Lailatul Qadr setiap hari

Pagi itu habis sahur, hujan masih begitu deras, aku tidur dengan nyamannya, berselimut hangat, memeluk guling, dan terbuai di atas bantal yang empuk. Tiba-tiba aku mendapat goncangan yang hebat “Eh, ayo bangun! Subuhan!” Ibu membangunkanku dengan masih memakai rukuh karena habis sholat Tahajjud. Dengan suasana hujan deras dan dingin seperti itu, siapapun pasti akan merasa malas untuk melakukan sesuatu, mendingan tidur dan menunggu hujan reda. Dengan malesnya aku jawab “Eng-hhh… aku sudah tidur bu”

Ibuku tak kalah menyahut “Ayo to subuhan, ini kan sepuluh puasa yang terakhir, Lailatul Qadaar…Lailatul Qadaaar…”

Aku juga tak mau kalah menjawab “Lailatul Qadr kok hujan, Lailatul Qadr itu langit cerah, banyak bintang, hawanya nggak panas nggak dingin!”

Ibuku menjawab “Loh justru kalo hujan deras, semakin berat halangannya, pahalanya semakin besar pula, ayo bangun!”

Akhirnya aku terpaksa bangun, kemudian setelah sudah terlanjur berwudlu, aku baru sadar “Lailatul Qadr itu kan sampai terbit fajar? Ini sudah subuh, berarti Lailatul Qadr-nya sudah habis dong, sialan dikibulin ibu nih…”

Cerita di atas hanyalah sepenggal kisah waktu aku masih SD, sebenarnya malam Lailatul Qadr yang lebih baik dari 1000 bulan itu kapan toh?

Didalam suatu hadist Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam : “Carilah malam lailatul qadar dimalam-malam 10 akhir di bulan Ramadhan”. Namun ada juga pendapat lain dari ulama yang bilang jatuh pada tujuh malam terakhir (Ini kan juga masuk sepuluh?), ada yang bilang jatuh pada tanggal 21, ada yang 27 dll. Bahkan juga ada tanda-tanda keistimewaannya, diantaranya adalah Malam langit sangat cerah, rembulan bersinar terang, dan ketika Lailatul Qadr meninggalkan bumi, pagi harinya matahari bersinar cerah, tetapi sinarnya tidak terlalu panas dan hari itu penuh dengan ketenangan dan ketenteraman sehingga dikatakan tidak terdengar gonggongan anjing, dan banyak lagi tanda-tanda yang lainnya.

Disini saya tidak akan mengeluarkan semua hadist maupun pendapat dari ulama tentang Lailatul Qadr (cari aja di internet) karena ada lebih dari empat puluh pendapat. Namun justru ada pendapat (mungkin lemah) dari ulama (saya lupa namanya, di internet tak cari belum ketemu) yang mengatakan bahwa malam Lailatul Qadr sebenarnya tidak jatuh pada bulan Ramadhan. Ada juga pendapat lain yang mengatakan: Jika kau tiap hari dalam setahun beribadahsungguh-sungguh dan mengharap kedatangan Lailatul Qadr, niscaya engkau akan mendapatkannya (Ya, iyalaah, wong tiap hari kok)

Saya tidak meremehkan pendapat yang kelihatannya dagelan itu, namun cobalah kita tengok asal turunnya ayat tentang Lailatul Qadr saat para sahabat merasa kecil hati waktu nabi cerita tentang Sam’un, pejuang Bani Israil yang selama 1000 bulan atau delapan puluh tiga tahun tidak pernah meletakkan senjata atau beristirahat dari perang Fii Sabilillah. Sahabat, kita, umat nabi Muhammad, diberi keringanan dan keistimewaan bisa beribadah lebih baik dari Bani Israil dengan adanya malam Lailatul Qadr. Itu dikarenakan rata-rata umur kita sekarang tak lebih dari enam puluh sampai tujuh puluhan, beda dengan Bani Israil jaman dulu yang bisa berumur sampai ratusan. Dan bila kita bandingkan, 1000 bulan dengan satu malam yang bisa lebih baik dari itu, apa salahnya bila kita setiap hari kalo beribadah niatan dan semangat kita, kita samakan dengan semangat dalam mencari malam Lailatul Qadr?

Pendapat lemah yang mengatakan jika setiap hari dalam setahun beribadah bersungguh-sungguh dan mengharap kedatangan Lailatul Qadr, niscaya kita akan mendapatkannya, jangan sampai diremehkan. Coba komparasikan: bersungguh-sungguh selama 12 bulan (satu tahun) dibandingkan dengan Sam’un yang 1000 bulan. Kita seumpama kalo 12 bulan beribadah sungguh-sungguh pasti dapet lebih baik dari 1000 bulan kok, tanpa harus seperti Sam’un sampai 1000 bulan.

Dan mengenai tanda-tanda tentang Lailatul Qadr, sebenarnya saya sendiri pernah merasakan tanda-tanda seperti itu (baik malamnya ataupun sesudahnya) sehingga pada malam itu langsung melaksanakan Sholat Lail. Dan itu terjadi bukan di bulan ramadhan, nah lho?

Imam Thabari pernah mengatakan: Lailatul Qadar tidak selamanya harus diiringi keajaiban atau kejadian-kejadian aneh, karena Allah lebih mulia kedudukannya untuk membuktikan dan memberikan segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya. Sehingga ada yang mendapatkan malam Lailatul Qadr hanya dengan beribadah tanpa melihat adanya keanehan, dan ada sebagian lain yang melihat keanehan tanpa di sertai ibadah, maka penyertaan ibadah tanpa disertai keanehan kedudukannya akan lebih utama di sisi Allah.

Jadi, apa yang sudah dilakukan ibu terhadapku, mungkin sudah benar. Menjadi umat nabi Muhammad itu jangan manja, apalagi dengan adanya keringanan itu seharusnya tak membuat diri kita melempem, tapi bagaimana agar kita bisa lebih meningkatkan ibadah kita. Waallahu a’lam…

Semoga Lailatul Qadr bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua…

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: