Nyamuk dalam Milo

Puasa hari ke-12, tak ada waktu untuk nge-blog, badan pegal-pegal ditambah dengan flu berat dan masuk angin gara-gara memaksakan brainstorm untuk printAd BRI sehabis tarawih kemaren malam, pas mau balik, hujan lagi! Rabu ini hasil brainstorm UAD masih kurang sreg, harus digodog lagi dan besok Kamis harus langsung siap presentasi jam 9 pagi. Semua konsep mengalami perombakan penuh, dan siang itu semua sepakat dengan perombakan itu. Artwork dikerjakan dengan sangat sempurna, hmm… copy-nya juga harus keren nih. Dengan kondisi badan yang kurang mendukung akhirnya jadi juga copy-nya, habis buka aku langsung pulang untuk tarawih dan istirahat total berharap besok bisa ikutan presentasi ke UAD.

Pas bangun untuk sahur, biasanya setelah istirahat sakitku sedikit mereda, tapi ini malah semakin parah. Paginya mau nggak masuk, tapi aku ingin sekali ikutan presentasi di UAD untuk melihat respon mereka. Rencananya habis presentasi mau ijin pulang untuk istirahat, tapi pas presentasi ada sms masuk: Sore nanti AD dan CW harus ke Jkt, besok ketemu brand manager GGM yang baru, nanti baliknya pake pesawat. Blaik!

Akhirnya presentasi selesai, hasilnya sudah sangat sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Tentu saja, aku sudah menduga sebelumnya, ini memang sempurna! Sampai di kantor aku konfirmasi dengan AD mengenai keberangkatan ke Jakarta. Dianya males, akunya sendiri sedang sakit. Berulang kali aku di-sms Pak Arif untuk memastikan agar bisa datang, masalahnya sesuai mandatori sebelumnya AD dan CW harus selalu hadir disetiap pertemuan dalam membahas konsep iklan. Penentuan untuk akhirnya berangkat atau tidak berlangsung sampai jam 2 siang. Pokoknya kalau AD berangkat, aku juga berangkat meskipun sakit-sakitan, namun akhirnya AD nggak bisa berangkat, entah dengan alasan apa. Saat aku beralasan bahwa aku flu berat, dijawab Pak Itok: ini tugas kantor, masak alasannya flu? Nggak ada alasan lain yang masuk akal apa? Lhah ini sakit beneran tauk, kalo nggak percaya lihat aja kondisiku sedang kayak apa sekarang!

Namun daripada nggak selesai-selesai urusannya, akhirnya aku mengalah dan berkorban untuk berangkat ke Jakarta meskipun sendiri (dan sakit-sakitan) Mengeluh dan nggresulo tak menyelesaikan masalah, hadapi sajalah, toh nanti juga dimudahkan. Semua tiket sudah dipersiapkan, dan sehabis berbuka aku langsung menuju stasiun dengan naik ojek pitung yang tak ada pijakannya untuk kaki (trembelane, sikilku keju!)

Di stasiun pas isya’ dan aku masih bisa mengikuti tarawih di stasiun. Habis tarawih, pas pula kereta Taksaka datang. Para pramugari menyambut dengan pakaian orange berbalutkan jilbab (mungkin karena bulan puasa), cantik-cantik, dan seumpama aku disuruh milih acak sambil merem aku mau (gilak! sakit-sakitan bisa-bisanya mikirin kayak gitu) Bangku sebelahku ternyata tidak ada penghuninya, sedangkan bangku depan terlihat dua orang pasangan (suami-istri kayaknya) sedang mesra-mesraan. Aku cuek saja sambil membaca buku affair-obrolan tentang jakarta-nya Seno Gumira Ajidarma dengan snack kentang keriting. Posisiku sangat nyaman, sehingga aku terlarut dalam bacaan sampai setengah dari buku, dan aku benar-benar merasakan nikmatnya kesendirian malam itu.

Jam 10 akhirnya aku memutuskan untuk tidur. Karena sebelahku kosong, akhirnya aku memanfaatkan dua bangku itu plus bantalnya untuk tidur. Sangat nyaman sekali, dan tak ada yang mengangguku, ini posisi tidur terbaik selama aku berkereta api. Dalam tidurku aku bermimpi sedang menikah dengan seseorang yang aku sendiri nggak tahu wujudnya kayak apa. Saat akad di sebelahku ada seorang cewek yang dulu pernah sangat naksir aku membantu menuntunku membaca akad nikah. Tiba-tiba aku dibangunkan oleh seorang cewek dengan senyum manis membawa segelas Milo hangat. Masih dalam keadaan setengah sadar, aku merasakan bahwa saat itu aku benar-benar sudah menikah, bangun dari tidur dan dibangunkan sang istri dengan membawa Milo. Tidak! Aku belum menikah! Lama sekali aku melihat-lihat di sekelilingku untuk menyadarkanku. Aku belum menikah! Ini di kereta, ya aku sedang dalam perjalanan…Huffhh!!!

Jam 3 pagi ternyata aku dibangunkan sahur oleh pramugari kereta dengan Milo hangat yang aku pesan sebelumnya. Kemudian datanglah nasi goreng spesial hangat, mmm… Tak lama pramugari itu datang lagi mencatat habis berapa yang aku pesan. Tak seperti yang lainnya, berani-beraninya dia duduk di sebelah bangkuku sambil mencatat dan memberi kembalian. Seperti biasanya, aku pun sok acuh (meskipun mungkin sebenarnya butuh) namun malam itu aku acuh bukan karena sok low profile, namun justru aku sedang berpikir karena ada sesuatu yang aneh malam itu. Aneh bukan karena mimpi barusan (mimpi menikah adalah mimpi burukku waktu SD), aneh karena aku tak merasakan seperti berada di kereta api, tapi justru terasa seakan berada di rumah, tapi apa ya? Aku berpikir-pikr sambil menggaruk-garuk leherku yang gatal. Hey ini bukan gatal biasa! Ini gatal seperti akibat gigitan nyamuk! Rasa gatal seperti digigit nyamuk inilah yang membuatku merasa tidak seperti di kereta eksekutif. Tapi masak sih di kereta eksekutif ada nyamuk? padahal biasanya dinginnya minta ampun. Kemudian aku ambil Milo-ku. Aku terkaget karena ada nyamuk gemuk yang mengambang dalam gelas Milo. Oh ternyata benar, ada nyamuk… Kemudian aku ambil nyamuk itu (dan memotretnya untuk blog hehe…) lalu aku minum Milo hangat itu.

Biarin bekas nyamuk, toh darahnya darah-darahku sendiri….

nyamuk

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: