sunat massal ato khitan massal?

sunatan_massal

Foto di atas adalah foto waktu sunatan massal bukannya pas karnaval. Berpose bersama bapak yang mendampingiku sebelum diarak menuju pemotongan ’itu’ secara massal. Foto itu aku temukan di lemari kaca di atas jejeran gelas di tempat yang sudah sejak dulu mungkin tak pernah berubah. Maklum, lebaran kali ini sampai rumah aku terkaget karena semuanya berubah drastis. Tak ada lagi teras halaman yang luas kayak dulu, alesannya sering buat nongkrong orang-orang mabuk kalo malam. Semuanya letak ruangan berubah, kecuali letak foto sunatan massal itu. Perlahan aku mulai mengingat kembali peristiwa masa lalu.

Waktu SD dulu aku merasa diriku asing karena teman-temanku kebanyakan sudah pada dikhitan (kalau sekarang asing karena teman-temanku sudah banyak yang nikah.. hehhh) Selain itu juga merasa risih karena aku sendiri yang nggak pake shame-pack alias celana dalam kalo main, jadi sering diejek teman. Soalnya jaman dulu pake celana dalam biasanya setelah dikhitan (dan biasanya merk-nya ricSONY)

Waktu aku utarakan keinginanku bahwa aku ingin sunat, saudara-saudara dari keluarga ayahku sudah gempar dan gosip sunat itu selalu menjadi bahan perbincangan. Padahal belum akan sunat, cuman kepingin, males deh jadinya. Akhirnya perbincangan bahwa aku akan khitan itu perlahan surut juga, karena aku tak kunjung-kunjung khitan. Dulu bagiku laki-laki itu kalau sudah sunat sudah lega, nggak mikir yang lain, kalo cewek harus mikirin dirinya kalau mau melahirkan nanti. Jadi kesimpulannya kalo cewek sudah melahirkan anaknya berarti bebaslah dia dari tanggungan, begitu juga cowok yang sudah dikhitan. Perbedaannya antara cewek dan cowok ada pada melahirkan dan dikhitan, padahal kenyataannya tidak begitu. Belum sunat waktu itu adalah masalah terbesarku, hingga aku pun mulai berpikir, kalau begini terus kapan sunatnya?

Suatu siang sehabis Jum’atan tiba-tiba Pak Martabu (alm) datang ke rumah membawa sandal, kemeja putih panjang, sarung dll, pokoknya komplit deh kayak seperangkat alat sholat buat lamaran nikah. Ibuku kaget, ada maksud apa dia datang membawa barang-barang itu. Pak Martabu lalu menjawab: ”Loh bukannya anakmu itu ikutan sunat massal? Aku ini panitianya!” Ibu langsung kaget: ”Enggak kok, Bapak mungkin salaah” Langsung saja aku jawab: ”Aku sendiri yang ndaftar, pas istirahat sekolah madrasah” Ibuku langsung: ”HE..!!” Aku cuman nyengir. ”Kok nggak bilang-bilang?” Aku jawab: ”Kalo bilang-bilang nanti pada rame, udah deh aku mau kok sunat massal, kasihan panitianya udah capek-capek ngukurin badanku buat baju sama sandal” Pak Martabu lalu menambahi: ”Iya, kan enak, nggak usah capek-capek mbayar dokter sunat, dapat sangu lagi”

Akhirnya aku khitan tanpa dirayain (istilahnya dirame-rame) soalnya namanya saja sunat massal, jadi udah rame sendiri hehe… Apalagi pake diarak naik Jeep atau kuda diiringi ratusan anak madrasah bersepeda hias, didandanin pakaian Arab lagi, apa nggak heboh tuh? Dan memang heboh ketika berita itu terdengar saudara-saudara dari keluarga ayahku secara mendadak, sehingga meskipun nggak dirame-rame, rumah tetap saja membludak penuh orang (dan penuh amplop hehehe…)

Setelah aku pikir-pikir lagi, mendaftar sendiri sunat massal adalah tindakan jantan seorang lelaki untuk menjadi lelaki sejati yang lebih jantan (disini jantan termasuk mubaligh alias sudah disunat) Aku nggak tahu apakah suatu saat aku akan pulang ke rumah tiba-tiba memberi pakaian bagus pada ayahku dengan seluruh akomodasi lengkap lalu berkata: ”Pak seminggu lagi aku nikah di kota X, aku sudah khitbah (meminang/melamar) sendiri langsung ke wali calonku” Heh, tapi kayaknya nggak mungkin, meskipun jaman jebot dulu ada, tapi hari gini? Katrok tauk! Biasanya melamar itu sama orang tuanya diikuti saudara-saudaranya, turun dari mobil-mobil sambil membawa keranjang-keranjang yang sudah dihias indah.

Kalo dipikir-pikir lagi laki-laki jaman dulu sama jaman sekarang mungkin lebih jantan jaman dulu. Bayangkan, jaman dulu mereka ada yang khitbah sendiri ke wali perempuan, apa nggak berani banget tuh? Kalo sekarang seumpama ada yang gitu mungkin sudah ditendang sama wali perempuan sekalipun bermodal hafalan surat Al-Kahfi 110 ayat. Modal jaman sekarang jelas perlu sebuah persiapan materi yang akan menunjukkan citra seorang laki-laki sejati yang mumpuni, yang akan mendampingi hidup dan membuat bahagia istrinya. Tapi setelah itu, belum bisa dipastikan kelanjutannya bisa harmonis atau tidak. Di jaman yang katanya serba romantis sekarang modal hafalan ayat-ayat Al-Qur’an sudah nggak jaman, katanya bisa diketawain kecoa’. Tapi aku yakin jaman sekarang masih ada meskipun sedikit.

Ada yang berani nyoba khitbah sendiri? Kalo aku nyoba, mungkin akan menjadi tindakan paling berani yang kedua setelah mendaftar sunat massal. Tapi kayaknya nggak mungkin, boro-boro pacaran, lhawong menyatakan cinta ke cewek aja nggak berani, apalagi langsung ke walinya. Tapi nggak tahu ding, kadang segala sesuatu itu tak terduga. Wallahu a’lam. Liat aja fotoku lagi di atas, kayaknya culun dan imut, tapi gitu-gitu ndaftar sunat massal sendiri nggak bilang-bilang ortu! Dasar kurang ajar!

Jangan-jangan selanjutnya aku ikutan kawin massal? Masya’Allah!

(eh, kawin massal ato nikah massal?)

Tags: ,

6 Responses to “sunat massal ato khitan massal?”

  1. Joni Balbo Says:

    pengalaman masa kecil yg menurutku unik, soalnya kl di jogja tradisine bedo bos.

    btw, pertama aku klik blogmu td, tak pikir itu foto cewek berjilbab e.. ternyata dirimu toh? hehe..

  2. el Says:

    husni kamu cantik sekali di foto itu. hmmmpppfffhh…

  3. arifyanti Says:

    cilike jilbaban, pantes gedene ngono kui ^^

  4. Cholish Says:

    sin, walah jan koe ki….sing jenenge nglamar dikancani wong tuo dg segala uborampene temrasuk almpope kui bar koe nembung dewe nang calon camer eh camer mertua duh blibet eh nganu..calon mertua..,nah sadurunge koe wani nembung nang calon morosepuh kui sengayogyokartone njaluk ijin lan dongo pangestu sik ro wong tuamu ngono kui tak kandani yo Ngger…^.^ hehe aku jane yo rung mrakteke tp reti seko mbakyuku sing bar nikah n jane sing arep tak kenalke awakmu tp dirimu jirih je.hehehe

  5. alfone Says:

    busyet!! tak kiro adikmu mas…au au au..manisnyaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: