SIM-Salabim (Part II)

Seminggu laginya satu hari sebelum ujian, siangnya aku bikin lintasan di depan halaman kantor petakumpet dengan kapur buat latihan sesuai dengan bentuk lintasan ujian praktek, hehe…. Sampai-sampai temen kantor take picture untuk dicaci di facebook (silakan, aku gak duwe facebook) Setelah lama berlatih menyesuaikan diri dengan sepeda motor, dan membuat strategi keseimbangan di jalur berbentuk angka 8, akhirnya aku sudah merasa siap untuk besok.

foto pas latihan di-upload di fb buat bahan

Pulang dari kantor pas maghrib, makan malam, dan selepas isya’ hujan sudah mengguyur dengan derasnya. Maunya aku mau tidur biar bisa istirahat penuh buat besok, tapi aku lupa kalau aku belum mempersiapkan uang buat bikin SIM. Uang di saku tinggal 20 ribu, mana cukup? Mau keluar ke ATM, hujan, besok pagi sajalah, hujan-hujan gini enakan tidur. Saat aku mau tidur dengan nyaman, eee…hujan malah reda. Akhirnya kuputuskan keluar ke ATM, daripada besok pagi-pagi kemungkinan juga hujan. Habis ambil uang di ATM, tiba-tiba gerimis. ”Wah enak juga nih kalo sampai di kos bikin Milo hangat ditambah OREO” pikirku. Kemudian aku mampir ke sebuah toko, yang ada malah TOGO isi 18. Yadah beli, wong sama saja kok, lebih murah lagi.

Pas mau balik ke kos, eh lho kunci stang motorku kok nggak bisa dibuka!? Ya Allah, jangan bercanda, besok aku mau ujian praktek SIM. Setelah dicoba-coba lagi, tetep saja nggak bisa, dan hujan tiba-tiba semakin deras. Aku pun tersenyum kayak orang gila, Ya Allah, seharusnya aku sudah di kos dengan selimut hangat, Milo, dan biskuit coklat sambil dengerin lagu the rain-nya Roxette. Aku pun berpikir keras, apa yang harus aku lakukan? Aku tanya sama penjaga toko, dimana tempat ahli kunci, tapi katanya malam-malam gini udah tutup. Aha, siapa tahu dengan kunci cadangan bisa dibuka. Lalu aku telpon malam-malam ke pak kos agar menjemputku untuk ngambil kunci cadangan di kos. Hujan semakin deras, pak kos datang dengan jas hujan robek. Aku merasa sudah mengganggu ketenangannya bersama keluarganya. Sampai di kos langsung kembali ke TKP dengan kunci cadangan yang ada gantungan kunci pemotong kuku dan paper clip. Ngapain juga ada gantungan paper clip di kunci ini….pikirku. Akhirnya! Tetep saja tidak bisa! Berkali-kali pak kos dan aku mencobanya tetep saja tidak bisa.

Ya Allah jangan bercanda dong, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menunggui motorku di sini sampai pagi? Besok aku mau ujian praktek SIM! Akhirnya pak kos menyarankan agar motorku diangkut dengan pick up-nya dan dibawa ke kos, agar esoknya aku bisa manggil ahli kunci. Pak kos kembali pulang untuk mengambil pick up, sementara aku masih mencoba mengutak-atik kunci stang. Tiba-tiba penunggu toko datang kepadaku, kali ini sudah ganti, mungkin dia pemilik tokonya. ”Ngapain Mas?” ”Ee, ini kunci stangku nggak bisa dibuka Pak”aku menjawab dengan lemas. ”Loh panggil Mas Nung saja, dia ahli kunci, rumahnya dibelakang situ lo” ”Ha? Bukannya kalo malam sudah tutup Pak?” ”Dipanggil bisa kok, meski malam-malam gini, saya panggil gimana?” ”Waduh Pak, aku sudah terlanjur manggil mobil pick up buat ngangkut motorku” “Wah ya sudah, kalau masnya sudah manggil pick up, besok juga bisa” Astaghfirullah…..Ya Allah, apakah Kau benar-benar sedang mempermainkan aku?

Tak lama kemudian mobil pick up datang, dan hanya berdua, aku dan pak kosku mengangkat motor ke atas bak. Setelah itu kusarankan agar motorku di titipkan di kantor petakumpet dulu, mengingat letaknya lebih mudah. Lagian aku mau manggil ahli kunci yang di depan Mirota Godean, buat nggampangin ahli kunci nyari tempatnya, kalo petakumpet kan mudah. Sampai di kantor jam 10 malam, masih hujan, untung saja ada 2 orang yang sedang asyik main game. Lalu kuminta tolong untuk menurunkan motorku ke garasi. Setelah itu aku pulang ikut pick up pak kos. Sampai di kos, langsung tepar…….

Paginya aku berangkat ke kantor naik sepeda Polygon lama kesayanganku yang telah menemaniku semenjak kelas 6 SD. Sampai di kantor aku mulai berpikir, motor siapa ya yang mau aku pinjam buat ujian praktek SIM? Padahal aku sudah hapal banget dengan motorku sendiri untuk ujian. Akhirnya bimalizer datang dengan Supra X terbarunya meskipun belum lunas hehe…. dan langsung aku pinjam. Aku pun harus menyesuaikan dulu dengan motor itu, lalu aku buat lagi lintasan latihan lagi dengan kapur di depan kantor, karena bekas kemarin yang aku buat sudah terhapus oleh hujan.

Setelah latihan barang 15 menit, aku langsung ke Mirota Godean untuk nyari ahli kunci, biar sementara aku ujian SIM, ahli kunci bisa kutinggal sambil memperbaiki. Tapi kata tukang parkir di Mirota Godean ”Wah mas, ahli kuncinya sedang pulang selama seminggu” Akhirnya aku ke pemilik toko yang tahu tempatnya ahli kunci semalam. Saat diantarkan ke rumah ahli kunci, kata istri ahli kunci ”Sedang pulang selama seminggu mas”. Lhadalah, apa-apaan ini? Apakah sesama ahli kunci udah pada janjian pulang seminggu nih? Pemilik toko yang mengantarkanku lalu bertanya ”Wah untung tadi malam nggak jadi manggil ahli kunci sini ya mas? Lha sudah pulang….” Aku pun mengangguk, Ya Allah tadi malam ternyata kau benar, kirain bercanda. ”Eh mas, di depan pom bensin situ juga ada, tak anterin yo….” Tapi sampai di sana masih tutup. ”Wah kayaknya buka’nya siang mas” Yadah pak, entar siang aja, aku ada keperluan lain, terima kasih ya pak…”

Setelah itu aku pun langsung meluncur ke polres (eh polres apa polsek ya? Ya pokoknya bikin SIM lah)

Sampai di tempat ujian praktek suasana sangat sepi, aku langsung ke petugas polisi yang baru saja menggagalkan satu orang cewek ujian praktek SIM. ”Pak mau ngulang” ”Namanya siapa?” ”Husni Mu’arif Pak” langsung dicarilah namaku di tumpukan stopmap folio yang banyak. Lama dicari, ternyata namaku ada di stopmap yang paling bawah. “Oke mas Husni, langsung saja” Aku menjalani 5 tahapan ujian praktek tanpa ada cacat dan kesalahan sedikit pun. Dan setelah aku selesai menjalani ujian praktek itu, tidak ada lagi setelah aku. Apakah barenganku yang gagal kemarin akhirnya pada nembak ya?

 

Kemudian aku sadar, kunci motorku dibuat tidak bisa dibuka, mungkin agar aku bisa lulus ujian praktek dengan motor yang lebih baik  yang aku pinjem dari bimalizer. Soalnya, kalo pake’ motorku sendiri (Honda Grand tahun 1992), kemungkinan aku akan kesulitan saat harus berkecepatan 30 km/jam dengan persneling satu saat ujian praktek. Honda Grand dengan persneling satu kecepatan 5 km/jam aja udah ngeden….. Ternyata Tuhan tidak mempermainkan aku, tapi memberiku arah yang benar. Itu bukanlah lelucon, hanya saja aku sendiri yang su’udlon…..

Tags: , ,

One Response to “SIM-Salabim (Part II)”

  1. Adi Says:

    Wah hebat ya.. selalu dekat pikirannya dengan Allah. Aku iri..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: