SIM-Salabim (Part III)

Setelah melalui prosedur pembayaran yang hanya Rp 75.000 kemudian aku harus melampirkan surat kesehatan dokter, dimana di sana sudah ada ruang tersendiri dan ada dokternya. Tiba-tiba aku teringat bahwa aku pernah bikin kartu kesehatan di Puskesmas buat mendaftar CPNS meskipun akhirnya nggak jadi, lalu aku bertanya ”Pak kalau dari Puskesmas bisa nggak?” ”Wah bisa mas, temennya yang lain tolong diberitahu juga, lebih mudah dan lebih murah itu…” Dan alhamdulillah kartu itu ada, meskipun terselip di buku bacaan. Setelah foto di ruang produksi akhirnya… AKU PUNYA SIM!!! Tapi  aku nggak bisa pake motorku sendiri, karena stangnya nggak bisa dibuka. Ya Allah, lelucon macam apa ini? Biasanya make’ motor tanpa SIM, ini punya SIM tapi terjebak nggak bisa make’ motor?

 

Siangnya, habis berbunga-bunga karena telah punya SIM (meskipun motornya gak bisa dipake) aku langsung meluncur (masih pake’ motornya bima tentunya) ke Garden Resto sebelah selatan Masjid Mujahidin UMY untuk brainstorm Gudang Garam Merah Special Packaging. Setelah itu sampai kantor langsung suruh ganti wardrop buat model dummy untuk lay out iklan Gudang Garam Merah Thematic 2 (sialan, gak pernah jadi model beneran). Sekalian ganti wardrop aku pun mampir ke ahli kunci depan pom bensin, dan ternyata ada. ”Pak bisa benerin kunci stang motor nggak” ”Bisa Mas, motornya mana?” ”Ya di kantor Pak, wong stangnya nggak bisa dibuka, ayo tak anterin ke sana” ”Wah Mas, aku tak nyelesein ini dulu, ntar tak ke sana, di mana toh kantornya?” Aku pun menjelaskan tempatnya petakumpet ”Yadah pak, tak tunggu ya…” ”Oke mas…”

 

Setelah pemotretan, lama kutunggu ahli kuncinya belum datang juga. Tiba-tiba kepala pusing, karena belum makan siang. Ah apakah aku memang ditakdirkan selamanya bersepeda ya, meskipun punya SIM? Mau makan di angkringan, ashar pun sudah berkumandang. Nanggung nih, ngashar dulu ah, trus ke angkringan sepuasnya. Setelah sholat ashar kepala jadi semakin berat, aku langsung ke angkringan pesan mie rebus, dan apa saja yang ada di situ untuk menghilangkan lapar dan pusing kepala. Setelah kenyang aku pun balik ke kantor menuju garasi ”Itu motor siapa ya, Mio merah?” Ternyata dari garasi keluar ahli kunci yang kusuruh datang tadi. ”Wah sori, sudah dari tadi atau baru nyampe Pak?” aku merasa nggak enak ”Nggak apa-apa kok Mas, baru saja kok” Langsung saja aku menuju ruanganku mau ngambil kunci untuk memberi penjelasan. Pas lewat ruangan Media ada yang bilang ”Hus, ada yang nyari…” ”Dah tauk!!!”

 

Begitu aku menuju ke sepeda motorku, aku memberi penjelasan kepada ahli kunci ”Nah, gini Pak, awalnya aku kalau mbuka’ kan seperti biasanya, (sambil memasukkan kunci) tapi kok tiba-tiba pas aku buka kok…” Tiba-tiba kunci stangnya sudah bisa terbuka. Lhadalah, Ya Allah pas malam hari, hujan-hujan, sendirian, aku nggak bisa mbuka’ kunci stang motor, ini aku sudah capek-capek manggil ahli kunci kok malah tiba-tiba bisa! Dagelan macam apa ini? Aku pun langsung minta maaf pada ahli kunci ”Eh maaf Pak, ternyata sudah bisa”

 

Tiba-tiba si ahli kunci ngomong ”Iya Mas, tadi sudah aku benerin kok, trus tak kasih pelumas”

”He?… berarti sudah dari tadi?”

”Nggak lama kok Mas, wong itu cepet kok”

”Apanya yang rusak Pak?”

”Itu per-nya gak mau balik, didudul saja pake kawat, bisa kok… Nha…pake itu kan bisa Mas, dibengkokin dikit…”

Arahnya tertuju pada gantungan kunci paper clip yang dulu sempat aku sepelein keberadaannya.

Lhadalah, Ya Allah, ternyata Kau pinter banget kayak di film-film Bourne. Petunjuknya sudah kelihatan jelas dari awal, tapi aku hiraukan saja. Ini adalah sebuah pelajaran bagiku dalam menghadapi masalah, jangan panik! Lihat apa yang ada di sekitarmu, lalu berpikirlah….

 

 

Kemudian aku pun membayar jasanya

”Berapa Pak?”

”Terserah Masnya saja…”

”Wah jangan begitu dong Pak, berapa…?”

”Yadah sepuluh ribu saja Mas…”

Sepuluh ribu hanya untuk me-ndudul saja dengan kawat, pekerjaan yang kelihatannya sepele, tapi sangat berarti. Allahu Akbar! BercandaMu hari ini benar-benar sangat cerdas, Ya Allah…

 

Ya sudah 1 juz untukMu habis shubuh… Sebenarnya aku nggak nadzar, aku hanya ingin berterimakasih saja atas peristiwa dibalik pembuatan SIM ini, alhamdulillah……

 

Aku tunggu kejutan lelucon berikutnya….

Tags: , ,

2 Responses to “SIM-Salabim (Part III)”

  1. adolf Says:

    halo mas, karya sendalnya bagus bgt..
    kira2 dijual ngga ya?

    thx u

  2. HozCat Says:

    wah mz..sangat inspiratif, banyak juga kejadian sehari-hari yang harusnya kita syukuri tapi lewat gitu aja tanpa meninggalkan makna apa2..

    blognya oke mz,,keep posting🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: