bird view

Kalau kita melihat pertandingan sepakbola, kadang kita mendengar seorang komentator memberi sebuah masukan tentang lini mana yang harus dimaksimalkan oleh seorang pelatih. Kadang juga prediksi yang dilontarkan komentator itu tepat, artinya pelatih dalam pertandingan live itu akhirnya mengubah strategi permainan hampir persis apa yang menjadi usulan komentator. Sehingga kemudian kesebelasan tersebut bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik. Bagaimana itu bisa terjadi? Padahal itu kan live, dan komentator nggak mungkin telfon-telfonan dengan pelatih, sekalipun sms bisa, tapi kan nggak mungkin? Wong sibuk ngomentari pertandingan kok. Dan kayaknya nggak mungkin juga pelatih di situ ngeliat televisi.

Komentator bisa mengomentari sebuah pertandingan sepakbola dan melihat strategi permainan karena dia melihat dari layar televisi yang ada di studio. Dia tahu karena melihat dari sudut pandang bird eye view sehingga tahu persis bagaimana medannya. Lalu bagaimana dengan pelatih? Bagaimana dia bisa tahu medan permainannya sementara angle-nya berada di sudut lapangan, sebuah sudut yang sangat tidak memungkinkan untuk melihat medan secara keseluruhan? Itulah hebatnya seorang pelatih. Pelatih yang hebat adalah pelatih yang bisa membayangkan dan membaca medan seolah dia bisa melihat pertandingan dari atas alias bird view. Hal itu yang memungkinkan seorang melatih untuk menyusun strategi yang tepat bagi kesebelasannya.

Hal itu berlaku juga bagi seorang pemain sepakbola. Menjadi pemain bola yang handal itu sulit. Makanya aku agak nggak setuju jika ada penonton bola yang nggoblok-nggoblokin pemain. Penonton nggak sadar kalau sebuah permainan cantik dari kerjasama sebuah kesebelasan adalah hasil dari kerja keras dan latihan yang tidak mudah. Dan sebuah operan yang akurat tidak hanya mengandalkan latihan, tapi juga sebuah penguasaan medan. Bisa dibayangkan bagaimana susahnya seorang pemain yang notabene berada langsung di lapangan dengan sudut pandang yang horizontal bisa mengoper dengan tepat ke rekannya. Pemain juga harus pandai dan membiasakan dirinya peka, seolah dia bisa melihat dari sudut pandang bird view.

Nah dalam strategic planning, seorang strategic planner harus bisa memposisikan dirinya seperti seorang pelatih sepakbola. Seperti apa yang pernah dipaparkan oleh Mas Janoe Ariyanto (Dentsu Strat’) saat pertemuan terakhir cwmc, bahwa untuk menyusun sebuah strategic planning kita harus fly high and see from bird eye. Tujuannya adalah untuk melihat medan, sehingga kita bisa tahu step-stepnya. Nah kebetulan kemarin aku baru nyoba game untuk ngelatih otak, namanya rickshaw jam. Untuk ngedapetin gamenya pun harus melalui sebuah permainan yang menguras otak sampai level tertentu di www.gamesforthebrain.com

Permainannya sangat sederhana, yaitu mengeluarkan sebuah bajaj dari sebuah tempat parkiran dengan banyak kendaraan yang menghalanginya. Dan untuk bisa memindahkan kendaraan-kendaraan itu hanya bisa dilakukan dengan dua langkah, yaitu maju dan mundur. Semakin sedikit langkah yang kita lakukan untuk mengeluarkan bajaj, nilainya semakin besar. Nah, ketika kita melihat medannya dari view atas atau bird eye kita bisa tahu bagaimana harus menentukan step-step strategisnya. Hanya dengan 4 langkah kita bisa mengeluarkan bajaj, namun bisa juga kalau kita bingung, kita bisa sampai 200-an lebih langkah untuk mengeluarkan bajaj itu.

Dan kalau kita lihat gambar di bawah, bisa kita lihat bahwa masalah serumit apapun yang kayaknya nggak mungkin diselesaikan, ternyata ada jalan keluarnya. Bisa dengan beberapa langkah yang panjang, bisa juga hanya dengan beberapa langkah sederhana. Bayangkan seandainya kita nyata berada di bajaj itu dan harus keluar dari parkiran? Apa yang harus kita lakukan untuk memberi instruksi pada kendaran-kendaraan itu? Jawabannya adalah kita harus tahu map-nya, dan itu bisa dilakukan jika kita melihatnya dari atas alias bird view.

Nah kalau kita hubungkan dengan kerjaan di lapangan, sebenarnya masalah klien juga sebegitu rumitnya sehingga mempercayakan kita (agency) untuk menemukan jalan keluar dari objectivesnya. Kadang juga klien sendiri bingung menentukan objectivesnya dan menyerahkan sepenuhnya brandnya kepada agency untuk dicari strateginya (nah lo, kalo sudah begitu bagaimana?). Nah apabila kita as a strategic planner, maka sebelum menbuat strategi seharusnya kita melihat semua permasalahan itu dari sudut pandang bird view agar bisa menentukan step-step, map, template, dll. Kuasai dulu medannya, baru tentukan strateginya. Semoga bisa membantu, saya nggak tahu aplikasinya seperti apa, wong saya juga baru belajar dan sok strategic-strategican. Apalagi di cwmc aku banyak ketinggalan dan nggak ikutan 2 pertemuan awal. Di sana kerjaanku cuman terheran-heran dengan mahasiswa yang sangat luar biasa. Kayaknya aku ini nggak ada apa-apanya dengan mereka dan seolah mendengar sebuah teriakan: kill the old player!

Tapi anyway, akhirnya aku bisa menyelesaikan 50 level game rickshaw jam! Yeah! Dan asal kalian tahu, aku mulainya dari level 46, apa nggak hebring? (biasa aja kali)

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: