kebakaran tsunami

(menyempatkan nge-blog bentar ah)

Mengingat peristiwa gempa Jogja 4 tahun yang lalu, rasanya banyak sekali momen-momen yang sangat sulit untuk dilupakan. Dari menolong korban di RS. Sardjito dengan jejak kaki basah amis berlumeran darah korban-korban gempa, sampai tentang isu tsunami. Saya nggak mau cerita yang tragis dan sedih deh, bikin trauma. Karena diantara kejadian tragis gempa Jogja itu ternyata juga menyisakan sedikit cerita lucu.

Pagi itu, sehabis gempa, sekitar pukul 6, temanku merasa lapar dan mengajak makan, seolah kejadian gempa yang terjadi tadi nggak penting. Gila juga nih, pikirku, masak jam segini ngajakin nyari sarapan? Habis gempa lagi. Tapi karena jarang-jarang ada yang mau nemenin buat sarapan (karena biasanya banyak yang masih ngorok), yaudah aku ladenin aja.

Suasana di Ledok pinggir kali Code Blimbing Sari tersebut memang tidak ada yang parah, sehingga warga di situ menganggap gempa yang barusan menggoyang adalah gempa terdahsyat dari beberapa gempa yang sering lewat. Tidak begitu penting lah. Sampai di warung, ternyata masakan belum siap. Tak lama kemudian ibu yang punya warung datang sambil bawa kabar buruk. Pasar tutup! Para pedagang banyak yang nggak datang karena gempa, bahkan ada yang tewas! Wah ternyata memakan korban juga pikirku (padahal akhirnya korbannya ribuan) Yah, gak jadi sarapan deh.

Akhirnya kami berniat pulang saja. Belum sampai di kos, tiba-tiba banyak orang berhamburan berlarian nggak jelas. Ada yang teriak histeris, ada juga yang nangis, pokoknya semuanya panik. Semua orang pada teriak “Air… air…!!!” Lhadalah! ada apa ini?

“Lari Mas, air meluap!… tsunami!! tsunami!! rumah pinggir code sudah terendam semua!” kata orang yang mengajak untuk berlari menuju ke arah Utara “Waduh!, TA-ku? hancurlah sudah!” Akhirnya aku dan temanku ikutan untuk mengungsi. Suara teriakan untuk mengajak warga keluar mengungsi masih berlanjut “Keluar! semuanya keluar! air…air!..” Suara air-air (tsunami mungkin maksudnya) terus diteriakkan.

Tiba-tiba di salah satu rumah keluar seorang bapak berkumis, berperut buncit, telanjang dada, dan masih memakai sarung  sambil membawa ember berisi air. Orang-orang yang melihat bapak itu heran sambil menanyakan “Pak ngapain bawa ember?” Dengan masih dalam kebingungan dan ngantuk bapak itu menjawab “Rumah mana sih yang kebakaran? kok pada teriak air-air? Ini saya juga sudah siap air…”

“Wah, bapak ini!… Bukan kebakaran Pak, tapi tsunami! kayak di Aceh! Ayo lari!” kata orang yang lewat. Bukannya langsung ikutan lari, tapi  bapak tersebut dengan santainya masuk kembali ke rumah sambil menguap. Aku tengok terus rumah tersebut, kayaknya sebentar lagi bapak itu bakalan keluar. Ternyata tidak keluar-keluar! Busyet, santai amat nih orang, mungkin dilanjutin lagi tidurnya, pikirku.

Dan pada akhirnya bapak tersebut memang cerdas, tsunami itu tidak ada. Hanya isu. Kok bisa bapak tadi tidak terpengaruh oleh kepanikan orang ya? Hmmfhh… nggak seperti aku, yang mau lulus masih bisa tertipu. Tapi yang penting Alhamdulillah, Ledok tidak terendam air, dan aku bisa menyelesaikan TA-ku….

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: