innovation from client

Beberapa bulan lalu, petakumpet menangani klien dari MSi, perusahaan notebook terkemuka dari Korea untuk konsep campaign pameran di JEC. Ada banyak seri dari beberapa produk notebook, ada yang untuk game, office, netbook, entertainment, dan slim. Dari beberapa seri itu ada satu seri yang membuatku tertarik karena desainnya, yaitu seri Wind. Pada bagian tuasnya berbentuk seperti senter tabung atau senjata kapsulnya Phantom 2040, dimana pada bagian itu merupakan tempat untuk tombol power-nya.

Setelah dipikir lama, kok desainnya keren tapi fungsinya nggak begitu penting banget ya? Itu kalau untuk proyektor keren tuh… Hey tunggu dulu, laptop digabung dengan proyektor?! That was great innovation! Namun setelah dipikir panjang, bisa nggak ya proyektor sekecil itu pada sebuah laptop? Dan kebetulan IBM waktu itu juga mengeluarkan sebuah penemuan proyektor mini. Yeah, probably it can be applicate into the great innovation! Akhirnya aku mendesain sebuah konsep itu untuk Black Innovation Awards (BIA) dengan nama Laptor kepanjangan dari Laptop Proyektor hehe… Hasilnya inovasi itu masuk 50 finalis BIA 2010. Cuman sayang gagal masuk ke putaran 20 finalis. Sama seperti lomba logo 200 Bandung, meski masuk 14 besar, tapi gagal masuk ke 5 besar. Ah, kayaknya yang seperti itu sudah menjadi kebiasaan akhir-akhir ini.

Mungkin penyebabnya yang pertama adalah, ternyata Asus sudah memiliki konsep seperti itu, bahkan dipresentasikan. Informasi itu aku dapat dari comment Adi Widjaya yang uraian lengkap mengenai kemiripan 50 finalis BIA dengan inovasi yang sudah ada, dipaparkan semua di blognya.

Tapi hal itu nggak membuatku terkejut, karena aku juga sudah menduga sebelumnya. Meskipun konsepnya sama, tapi aplikasinya berbeda. Mengenai penempatan lensa aku memanfaatkan pada tuas poros laptop, sedangkan Asus ada di depan atas penutup laptop.

Penempatan di poros lebih efektif karena memungkinkan yang presentasi untuk mengoperasikannya secara langsung mengenai revisi dll. Kemudian ada sensor pada logo BLACK di bagian depan tutup laptop untuk pengoperasian menggunakan remote. Selain itu presentasi bisa di-set format landscape maupun potrait dengan memanfaatkan putaran pada poros laptop. Jadi tidak perlu harus men-dengkleng-­kan kepala saat harus menonton video-nya mirip Ariel-Cut Tari hehe…

Kemungkinan kedua penyebab gagal masuk putaran 20 finalis adalah; meskipun semua konsep sudah dijelaskan secara detail, aku masih sangsi apakah itu bisa dieksekusi oleh panitia BIA 2010. Karena untuk membuat dummy-nya saja susahnya bukan main, belum lagi nyari lensa proyektor mini. Belum lagi setting-an agar bisa dioperasikan secara potrait maupun landscape dan perlu pemikiran lagi untuk sensor dan remote. Kayaknya perlu tenaga profesional untuk menanganinya. Sebab pengalaman sebelumnya, untuk ekseskusi Stantar yang masuk 20 finalis BIA 2008 saja masih jauh dari sempurna. Bahkan panitia tidak berani mengaplikasikannya langsung pada sepeda motor, apalagi merevisi penyempurnaan yang aku kirimkan. Jadi daripada pusing-pusing mikirin bagaimana mengeksekusinya, mending nggak usah dimasukkan daftar finalis aja, hehe… mungkin.

Tapi terus terang seperti kejadian yang sudah-sudah, aku sangat puas bisa menemukan konsep seperti ini. Bahkan menurutku konsep ini lebih keren dan fungsional dibanding iPad. Hey Steve Jobs, would you consider these concept for Apple? You can hire me… Hehe ngarep

Tags: , , , ,

One Response to “innovation from client”

  1. Danang Says:

    karya yg inovatif, salut untuk kreator muda indonesia, berkarya terus! trus yang lolos 20 besar siapa aja bang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: