salaman

Beberapa waktu yang lalu temanku pernah curhat padaku saat dirinya sholat di Masjid Kampus UGM. Sehabis sholat, dirinya menyalami orang yang di samping kanan-kirinya. Saat menyalami orang yang di sebelah kanannya, orangnya mau diajak salaman, tapi ketika menyalami orang di samping kirinya, orangnya menolak dan berujar “Jangan diulangi lagi Mas, itu bid’ah” Dan temenku menganggap orang yang nggak mau salaman itu orang yang sombong. Aku nggak tahu mana atau siapa yang benar, dan aku juga nggak tahu apakah salaman sehabis sholat itu bid’ah atau enggak. Tapi yang jelas rasul tidak menyalami jama’ahnya setelah menyelesaikan sholatnya, tapi melanjutkannya dengan dzikir dan doa (kalau nggak salah)

Namun masalah soal salaman ini terus mengusikku, apalagi kalau di wilayah masjid yang aku nggak tahu kebiasaannya, apakah setelah sholat salaman ataukah nggak perlu salaman. Sedangkan aku sendiri lahir di Jepara yang mana salaman setelah sholat sudah menjadi kebiasaan. Aku jadi agak susah menyesuaikan saat hijrah di Jogja. Karena sulit mendeteksi masjid mana di Jogja yang tidak memakai kebiasaan salaman setelah sholat. Masalahnya ketika aku nggak salaman di masjid yang biasanya salaman, orang juga menganggapku sombong, atau nggak akrab dan srawung.

Di beberapa masjid aku pernah memiliki pengalaman dengan orang yang nggak mau salaman di masjid yang memiliki kebiasaan salaman setelah sholat. Pas iqomah, para jama’ah enggan berada di sampingnya saat mulai membuat barisan, karena sudah tahu nanti sehabis sholat nggak mau diajak salaman. Hingga selalu aku yang berada di sampingnya saat jama’ah. Dan tentunya aku nggak mengajak dia salaman sehabis sholat. Tapi aku merasakan bahwa orang-orang di masjid itu menganggapnya sombong. Nah, ngerjain yang benar malah dianggap sombong. Pilih mana? Salaman atau dianggap sombong? Saya rasa langkah yang tepat adalah orang itu harus menjelaskannya pada mereka, tapi minoritas dan… Aaakh! pusing deh…

Nah, masjid di daerahku adalah masjid yang memiliki kebiasaan setelah sholat salaman. Kebetulan pas kultum subuh disinggung oleh pengkultumnya, bahwa rasul tidak pernah menganjurkan setelah sholat salaman. Setelah sholat harusnya berdzikir dan berdoa. Baru setelah itu terserah mau ngapain, salaman, dll. Kemudian hari berikutnya, setelah sholat isya’ kebingungan lah orang-orang yang biasa salaman setelah mendengarkan kultum kemarin subuh. Rasanya kurang lengkap dan afdol kalo sehabis sholat nggak salaman. Horotoyooo… Aku lihat di sampingku, kakek-kakek yang biasanya salaman, tangannya terlihat ragu. Mau diangkat tapi tertahan, tapi akhirnya salaman juga, karena sebelahnya (mungkin) kemarin nggak ikutan kultum subuh.

Hingga akhirnya sekarang aku putuskan pada diriku sendiri; oke, habis sholat aku nggak salaman, tapi kalau ada yang menyalamiku maka aku akan menyalaminya. Artinya kalau nggak ada yang menyalami ya sudah aku juga tidak menyalaminya. Daripada nggak mau salaman dianggap sombong? Tapi masalah muncul ketika yang di sebelahku adalah orang-orang tua. Rasanya nggak pantas kalau orang yang menawarkan salaman pertama ke kita adalah orang tua, seharusnya yang muda-lah yang pertama menyalami ke orang tua. Wah… wah…

Dan katanya yang namanya salaman itu, ketika dua tangan saling bertemu (dan muhrim) bisa meleburkan dosa dari kesalahan yang pernah diperbuat kepada yang disalaminya. Bukankah itu baik? Tapi meskipun kebiasaan yang tampaknya baik, kalau tidak dianjurkan rasul ya tetep saja namanya bid’ah. Tak ada yang namanya pengkategorian bid’ah baik dan bid’ah buruk. Sebab bid’ah adalah perkara yang diada-adakan dalam  agama. Nah lo, tambah mumet lagi.

Kalau kita tilik ke belakang, ada beberapa kebiasaan selain salaman yang dilakukan orang sehabis sholat. Diantaranya yang paling sering adalah mengusap wajah dengan kedua tangan (atau satu tangan) sehabis salam. Kalau dilihat dari sejarahnya, kebiasaan itu dilakukan orang-orang jaman dahulu, karena alas yang digunakan untuk sholat adalah tanah yang suci. Sehingga sehabis wudlu, wajahnya kan basah, otomatis pas sujud debu-debu di tanah menempel di kening mereka. Dan ketika tahiyyat akhir kemudian salam, secara reflek mereka mengusap wajahnya untuk membersihkan debu-debu itu. Boleh-boleh saja kan? Kebiasaan itu akhirnya terbawa sampai sekarang meskipun alasnya adalah porselen, atau karpet/sajadah yang bersih dari debu. Nah kebiasaan itu termasuk bid’ah kah? Ada juga yang bilang bahwa niat sholat itu aslinya tidak diawali dengan kata ‘ushallii’ Aku tak tahu persis kayak gimana bunyi niatnya, tapi sebenarnya ‘ushallii’ itu digunakan agar memudahkan niat kita. Nah, bid’ah kah ‘ushallii’ itu? Bagaimana dengan kebiasaan lebaran yang saling bersilaturahmi, salam-salaman dan saling memaafkan? Padahal kalau di Arab setelah sholat Ied, ya sudah, orang-orang pada pulang ke rumah masing-masing.

Kembali ke salaman, mengulangi kultum yang disampaikan pengkultum tadi; selesai sholat nabi langsung dzikir dan berdoa. Tapi pengkultumnya, setelah selesai sholat subuh apakah yang dilakukannya? Beliau langsung menuju mimbar dan menyampaikan kultum bahwa setelah selesai sholat harusnya berdzikir dan bedoa. Nah bilangnya begitu, tapi ini kok setelah selesai sholat langsung kultum? Hehehe..

Mending gini aja deh, aku nggak mau ambil pusing tentang salaman ini, yang paling penting adalah apakah sholat kita ini sudah benar dan khusuk? Soalnya masalah salaman sudah membikin sholatku nggak khusuk. Atau marilah benahi dulu shaf kita agar sholat jama’ahnya sempurna, dll. Mau itu bid’ah atau enggak, alangkah lebih baiknya kalau kita berijtihad untuk memantapkan apa yang akan kita kerjakan. Saya rasa itu lebih baik dan sudah sesuai dengan hadits. Mohon petunjuk dan kritikan kalo ane salah, ilmu agama ane masih cekak. Wallahu a’alam bisshawab…

Tags: ,

2 Responses to “salaman”

  1. namarov Says:

    waah..betul betul betul mas..coba digali lagi tentang kebiasaan2 itu. bair ane makin paham..heheheheeee

  2. bimalizer Says:

    menegakkan sunnah dan “memerangi” bid’ah hendaknya dengan cara yang hikmah…
    waAllohu a’lam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: