tertidur dengan pulas

.

Sejak kecil aku suka sekali menggambar apa yang kuamati

Ketika ada objek lurus, aku gambar objek lurus

Kalau ada objek melengkung, aku gambar garis melengkung

Waktu TK aku diberikan pulas

Pulas alias pensil warna

Aku nggak tahu kenapa dinamakan pulas

Tapi aku senang sekali mewarnai alias memulas, tapi bukan perut mulas

Melihat objek merah, di kertas gambar aku pulas dengan pulas merah

Melihat objek biru, di kertas gambar aku pulas dengan pulas biru

Hatiku sangat senang sekali

Aku suka dengan pulas

.

Suatu hari aku dipanggil ibu guru TK

“Mengapa dahan pohon kamu pulas dengan warna hitam?”

“Harusnya kan coklat?”

“Kenapa laut kamu pulas dengan hijau tua?”

“Harusnya kan biru?”

“Kenapa gunung kamu pulas dengan warna abu-abu?”

“Harusnya kan biru?”

.

Lalu aku jawab

“Bu Guru aku pernah ke Gunung Muria”

“Di sana aku naik undak-undakan dari batu yang disemen”

“Warnanya abu-abu”

“Aku juga pernah ke pantai Kartini”

“Saat aku kecek di sana warna airnya hijau bening”

Kemudian aku berlari keluar kelas

Lalu balik lagi sambil membawa potongan ranting

“Lihat Bu Guru, warnanya hitam!”

.

Bu Guru diam sebentar lalu berkata

“Iya, tapi yang benar warnanya coklat, biar bagus dan dapat nilai seratus”

Sejak saat itu aku nurut

Mewarnai dahan dan ranting dengan warna coklat

Lagian, gambar kiriman pembaca di majalah Bobo, warna dahan pohonnya juga coklat

Paling tidak itu membuatku semakin mantap

Saat itu aku selalu memakai pakem itu

Sehingga gambarku selalu dapat nilai bagus

.

Suatu hari aku disuruh mewakili TK untuk ikut lomba gambar

Aku pergi ke pantai Kartini tempat diselenggarakannya lomba,

bersama Ibu yang selalu setia menemaniku,

Sebelum aku masuk arena, beliau berujar

“Ingat, kalo ada gambar dahan, diwarna coklat, jangan lupa!”

.

Kertas gambar pun dibagikan

Ada gambar burung kakak tua bertengger di atas ranting

Semua objek aku warnai, hingga tinggal objek yang terakhir

Yaitu ranting…

Pikiranku bergejolak pada pulas coklat dan hitam

Aku teringat pesan ibu dan ibu guru

“Dahan warnanya coklat, biar bisa menang!”

Tanganku mengambil pulas coklat

.

Tidak! Aku harus berani!

Apa yang aku lihat, adalah apa yang seharusnya terjadi

Selama ini aku lihat ranting warnanya hitam

Persis dengan pulas hitam ini!

Kebenaran harus ditegakkan, meskipun pahit!

Aku mengukuhkan pendirianku

Kalau hitam ya harus hitam!

Akhirnya kupulas ranting itu dengan pulas hitam

.

Tibalah saat pengumuman

Para pemenang diumumkan dengan memperlihatkan karyanya

Semua karya pemenang dahannya berwarna coklat!

.

Tapi aku puas dengan apa yang kulakukan

Yang menurutku benar!

Siang yang panas itu akhirnya aku pulang

Di perjalanan kulihat dari jauh ada genangan air

Kukira genangan dari laut, ternyata setelah kudekati

Genangan itu tidak ada

.

Apa yang terjadi dengan dunia ini?!

Mengapa dunia ini banyak sekali tipu daya

Mengapa Gunung dari kejauhan berwarna biru

Tapi setelah aku ke sana kudapati warna abu-abu semen tanjakan?

Mengapa semakin jauh ukuran lebar jalan semakin menciut?

Padahal setelah kudekati, ternyata lebarnya sama

Aku berusaha mencari kebenaran!

sambil dengerin lagunya Gong 2000

“Menanti  kejujuran, harapkan kepastian…”

.

Ternyata dunia itu banyak menipu!

Aku telah ditipu oleh perspektif, fatamorgana, horizon, dll

Tak hanya itu,

Ternyata di dunia orang-orangnya juga banyak menipu!

Dengan dalih memperjuangkan kebenaran!

Tapi ternyata banyak dari mereka yang dzolim

.

Lihatlah bungkus Sarimi! (tunggu-tunggu, apa hubungannya?)

Terlihat gambar mie lezat disajikan di mangkok

Dengan ayam goreng paha, sayuran dan taburan kacang polong

Membuatku kepingin segera menyantapnya

Tapi apa yang terjadi setelah ibuku membuatnya?

Paha ayam goreng itu tidak ada, sayurannya tidak ada!

Hanya ada mie dengan kuah di mangkuk

yang mangkuknya tidak persis dengan mangkuk dalam gambar kemasan

.

Aku ditipu!

Lalu aku berkata dalam hati

“Kalau saja aku kaya dan punya pabrik mie..”

“Maka aku akan membuat yang namanya MIE PERSIS!”

“Hingga bila ada orang yang bikin mie…”

“…hasilnya sama dengan apa yang ada di kemasannya…”

“sampai mangkok-mangkoknya!”

.

Dan apa yang terjadi denganku sekarang?

Ternyata aku bekerja di Advertising

Mengomunikasikan dan mengemas produk menjadi lebih indah

Agar banyak orang yang beli

Hehhh…. tak jauh beda….

Aku adalah orang yang dzolim!

.

Habis subuh tadi aku ambil lagi pensil warna Faber Castle

yang dulu terkenal dengan sebutan pulas

Memandanginya sambil merenungi

apa yang pernah disampaikan Ustadz Didik Purwodarsono

Bahwa segala sesuatu yang ada di dunia hanyalah penuh dengan kemungkinan

tak nyata, fana, dan tak pasti

Dunia bukanlah segalanya

Kalau mau kehidupan yang pasti

Kejarlah Akhirat!

.

Aku merenunginya sambil memegang pulas

Sampai akhirnya aku tertidur dengan pulas

.

Tepatnya tertidur pulas dengan pulas

Tags:

5 Responses to “tertidur dengan pulas”

  1. Hikari Says:

    aku seneng pas bagian sarimi itu mas
    dulu waktu kecil soalnya pernah juga merasa ketipu (tapi supermie)

  2. namarov Says:

    hahahaa….

  3. trio Says:

    like this

  4. TELAP12 the untold story « No Time for Nggombal Says:

    […] malam dan tiba-tiba saja terlintas sebuah postinganku di blog yang berjudul tertidur dengan pulas, https://husnimuarif.wordpress.com/2010/09/01/tertidur-dengan-pulas/ Entah bagaimana bisa begitu. Pikiranku langsung flashback ke masa kecilku ketika ibuku mau […]

  5. firman (@firman_ciprutz) Says:

    gokil abis sob… gilak,,, 4 jempol dah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: