sembarang salaman Pak Sembiring

Februari 2007 – Siang itu kebetulan matahari bersinar dengan teriknya. Sehingga memberikan suasana yang semakin panas di dalam ruangan Graha Sabha Pramana yang dipenuhi ratusan mahasiswa D3 UGM. Siang itu adalah acara gladi resik wisuda lulusan D3 UGM. Dalam gladi resik itu, lulusan terbaik dari masing-masing fakultas dipanggil untuk menempati deretan paling depan. Termasuk diriku. Tapi ketika dipanggil namaku untuk ke depan, aku tidak menurut dan lebih suka berkumpul dan bercanda dengan teman-temanku Advertising. Kebetulan juga saat itu aku berada di lantai atas, sehingga untuk turun memerlukan waktu yang lama, karena sepertinya panitia ingin segera mempercepat acara gladi resik ini. Dan ketika tidak dipanggil untuk kedua kalinya aku jadi semakin yakin kalau panitia ingin segera menyelesaikan gladi resik di siang yang panas ini. Maka dimulailah acara gladi resik itu. Disaat sebelum dimulai sesi salaman dengan rektor, ada pengumuman dari panitia “Bagi mahasiswi muslim yang bukan muhrim untuk bersalaman diharapkan saat wisuda besok menggunakan sarung tangan, sehingga bisa bersalaman” Pengumuman itu diulang beberapa kali. (Fade Out)

Aku jadi teringat peristiwa itu saat tadi malam menonton berita di Metro TV kalau perihal salaman Pak Tifatul Sembiring dengan first lady Michele Obama menjadi kontroversi dan sampai menjadi bahan wacana di CNN. Bahkan kemarin malam headline dari 9 berita pilihan Metro TV berjudul Dusta Tifatul. Ngeri juga ya pengaruh jejaring media sosial itu? Saya tak bisa menyalahkan yang meliput berita maupun pernyataan tweet-nya Pak Tifatul Sembriring. Di Indonesia salaman adalah sebuah simbol dari apresiasi dan penghormatan. Seperi halnya saat mahasiswa diwisuda, salaman dengan rektor merupakan bentuk apresiasi atas apa yang telah dicapai mahasiswa itu. Dan kalau mahasiswi yang bukan muhrimnya itu tidak mau salaman, maka akan dianggap tidak menghormati meskipun baginya alasan muhrim itu benar.

Pak Sembiring saat diwawancarai juga berkomentar bahwa saat itu beliau mau salaman Sunda dengan tidak menempel ke tangannya Michele Obama. Tapi kayaknya waktunya dirasa tidak cukup untuk melakukannya karena saat itu giliran salaman terlihat sangat cepat. Lagian mana paham Michele Obama dengan salaman ala Sunda? Dan kalau ditelusuri, Pak Sembiring saat itu berada pada posisi yang dilema. Michele Obama adalah tamu negara yang harus dihormati, dan kalau saja beliau tidak salaman, tetap saja tindakan itu akan menuai kritik, baik di media maupun di twitter-nya.

Aku juga pernah mengalaminya saat di acara pernikahan temanku. Kebetulan aku tahu pasangan pengantinnya, sehingga saat akan mengucapkan selamat aku hanya bersalaman ala Sunda dengan tidak menempelkan ke tangan mempelai wanita. Tapi bagi yang lainnya yang tidak tahu, ketika mau mengajak salaman dan mempelai pria maupun wanita menolak salaman itu dengan alasan muhrim, akan terlihat muka kecut dari orang yang mau ngajak salaman itu.

Bicara soal muhrim, sebenarnya aku sendiri juga sudah menerapkannya sejak aku sudah beranjak baligh saat kelas 3 SMP. Terutama saat wudlu. Suatu hari saat istirahat kedua aku berencana untuk sholat dhuhur di mushola. Sehabis wudlu tiba-tiba aku dicolek temanku yang bukan muhrim. Kemudian aku wudlu lagi, tapi tiba-tiba guru agamaku (perempuan) yang kebetulan ada di situ mencolekku juga sambil berkata “Tidak apa-apa, tidak batal kok asal tidak ada nafsu. Yang batal itu ketika bersentuhan saat berhubungan badan” Tapi saat itu aku tetap berpegang teguh dan mengambil air wudlu lagi. Cuman saat itu aku tidak menuliskannya di twitter, jaman itu kan belum ada, hehe… Kadang saat aku bertemu dengan alumni SMA maupun alumni kampusku, aku menerapkan salaman Sunda dengan alasan muhrim. Namun aku juga berjabat tangan dengan mereka yang bukan muhrim yang non muslim atau muslim tapi yang nggak muslim-muslim amat, hehe… maksudnya yang menganggap berjabat tangan itu tidak masalah.

Bagiku sebagai orang Islam hukum muhrim ini berlaku bagi semua umat muslim, meski temanku bilang “Ya jangan Islam-Islam amat lah” Namun ini bukan masalah terlalu Islam. Karena sekarang banyak sekali orang Islam yang menjalankan aktivitasnya secara benar sesuai dengan tuntunan agamanya dianggap aneh. Misalnya aku akan terlihat aneh oleh teman-temanku saat suatu petang berada di pesta ulang tahun temanku, kemudian aku bilang “Eh aku mau sholat maghrib dulu yah…” Sholat dianggap aneh dan tidak gaul babar blas.

Tapi ini kan masalah sepele, wong cuma sentuhan sama bukan muhrimnya kok? Meski sepele, kalau memang hukumnya begitu dalam Islam maka ya harus begitu. Apalagi bagi orang yang benar-benar berpegang teguh dan menuliskannya di twitter. Saat Pak Tifatul Sembiring memperjelas pernyataan muhrim di twitter-nya, maka pernyataan itu menjadi sebuah amanah yang harus diemban beliau. Dan menurut Imam Ghazali, sesuatu yang paling berat di dunia ini adalah amanah. Nah, saat Pak Tifatul Sembiring ini berjabat tangan dengan Michele Obama artinya dia tidak memegang teguh amanah yang terlanjur dia tulis di twitter yang akhirnya menjadi sebuah perbincangan yang sangat besar. Jadi hati-hati dengan twitter, karena setiap yang kita tulis bisa menjadi amanah yang harus kita penuhi seperti saat peristiwa bugilnya sutradara Joko Anwar.

Saranku bagi Pak Tifatul Sembiring; tak ada salahnya membuat pernyataan seperti itu di twitter. Untuk mempertahankan kebenaran itu sangat sulit, tapi pasti ada jalan keluarnya. Masalah muhrim itu benar, dan saat dihadapkan pada acara salaman dengan Michele Obama kemarin, memang sangat sulit untuk mengelak, namun ada jalan keluarnya. Lain kali pakailah sarung tangan! Beres! Lebih elegan dan Insya’Allah aman. Jangan mau kalah sama protocol yang menyambut kedatangan Presiden Obama. Mereka (mungkin) pakai sarung tangan meskipun tidak untuk salaman tapi untuk memegang senjata laras panjang. Wassalam

.

.

.

.

Mari kita selesaikan cerita pembuka dari artikel ini:

(Fade in)

Kemudian tibalah waktunya wisuda yang sesungguhnya, dengan diawali rintik hujan tipis di luar, seperti serpihan moto cap Mobil yang bertaburan. Aku berada di baris depan di deret keenam setelah fakultas filsafat. Mulailah dipanggil lulusan terbaik Fisipol untuk maju bersalaman dengan rektor. Aku berjalan dengan biasa saja (padahal dalam hati nyombong) menuju ke rektor untuk menerima penghargaan dari jalur yang sudah diatur dari arah kiri. Tali di topi toga-ku mulai diubah posisinya, lalu rektor menyalami dengan mantap. Setelah bersalaman aku melihat posisiku sangat dekat dengan tempat dudukku semula yang ada di depan. Kemudian langsung aku menuju tempat dudukku itu. Tiba-tiba ada teriakan pelan dari panitia yang kebetulan mengatur di depan “Aaargh! Bukan motong lewat situ! Tapi mutar lewat jalur kanan! Pasti kemarin nggak ikutan gladi resik!”

“He? Apa mau diulang lagi? Saya kembali ke posisi rektor ya?”

“Nggak usah! Kamu sudah terlanjur duduk!”

Pikirku, ngapain juga sih harus muter lewat jalur kanan? Kelamaan tauk! Beginilah kalau ada acara resmi, nggak wisuda, nggak kunjungan Presiden. Merepotkan! Hehe….

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: