the beast (part 1)

Aw, Desember. Ada banyak kejadian satu-dua-tiga tahun lalu yang sebenarnya mau aku posting di blog ini. Tapi 4 minggu sejak akhir November aku terpaksa terlarut dengan banyak kerjaan. Lembur, nginep di kantor, berangkat pagi pulang pagi, dan nggak sempat menyisakan waktu untuk yang lain. Aku ingin sekali sharing cerita tentang salah satu kejadian yang memberikan pengaruh banyak padaku, yang seharusnya aku ceritakan di blog-ku Desember tahun lalu. Namun karena Desember yang lalu keadaannya hampir-hampir sama dengan Desember tahun ini (banyak lembur) sehingga membuat aku nggak sempat nge-blog waktu itu. Untuk itulah pada tahun ini setidaknya kusempatkan memostingnya meskipun sebenarnya sudah sangat telat.

 

Ya, sangat telat, harusnya aku menyempatkan waktu untuk memosting cerita ini pada hari Rabu 8 Desember setelah libur kemarin. Karena selain pas dengan peringatan kematian John Lennon, juga sekaligus memperingati awal dimulainya aku menjadi the beast (apa kaitannya?). Begini ceritanya… Tepatnya hari Sabtu tanggal 8 Desember 2007, aku pernah menjadi orang yang paling buruk di dunia. Ya, aku tak bisa melupakan kejadian saat sekujur tubuhku terkena cacar. Dari ujung kepala yang tertutup rambut gondrong, sampai ujung kelingking kaki. Dan kurasa dengan postingan ini, merupakan momen yang sangat tepat untuk mengucapkan syukur alhamdulillah karena Allah telah memberikan penyakit yang bisa memberiku banyak pelajaran tentang sebuah perjuangan dan kesabaran sehingga aku bisa keluar dari penderitaan itu. Sebuah peringatan bahwa Allah bisa merubah keadaan diriku yang mana sedang dalam performa terbaiknya, menjadi performa yang paling buruk di dunia, hanya dengan cacar. Subhanallah!

 

Ceritanya bermula saat tetangga kos seberang terkena penyakit cacar. Aku jarang bertemu dan bertatap muka dengannya karena kosku berada di deretan sebelah Timur, sedangkan tetanggaku itu berada di deretan sebelah Barat. Aku tahu dia terkena cacar karena kedengeran, meski terhalangi tembok. Memang kos kami tepat bersebelahan, hanya dihalangi oleh tembok dengan ventilasi kecil dan tinggi karena tidak ada eternitnya. Aku sempat khawatir kalau-kalau aku ketularan, tapi ternyata tidak. Karena 2 minggu kemudian dia sembuh total, dan aku masih sehat waktu itu. Bahkan porsi waktuku banyak kuhabiskan di kantor daripada di kos karena banyak lembur. Aman banget lah dari ancaman cacar.

 

Kemudian pada hari Kamis leherku terasa berat seperti habis salah tidur. Jum’atnya rasa itu sangat terasa sekali bahkan ada benjolan kecil aneh di tengkuk kepalaku. Tubuhku terasa capeknya bukan main, lalu muncullah bintik-bintik gatal di bagian dada dan perut. Sepertinya aku pernah merasakan kejadian itu setiap tahun, pikirku. Aku menganggapnya itu alergi. Lalu aku pergi membeli pil anti alergi, tapi ternyata tak kunjung reda. Sehabis isya’ aku minum lagi obat alergi itu lalu tidur dan berharap saat bangun bintik-bintik itu hilang. Namun Sabtu pagi-nya malah muncul semacam jerawat besar persis di samping bekas jerawat terbesar yang pernah aku dapat sewaktu SMA. Kakakku menelepon pagi itu, kata istrinya itu mungkin penyakit cacar. Tanpa pikir panjang, langsung aku pinjam sepeda motor pak kos lalu pergi ke RS. Sardjito. Sayangnya hari Sabtu bagian spesialis kulit libur. Kemudian aku pergi ke UGD untuk menanyakan siapa tahu ada yang tahu aku terkena gejala apa. Ternyata benar aku terkena cacar. Dan karena yang lainnya pada tutup, aku dilarikan ke UGD saat itu juga. Busyet!

 

Sialnya, aku lupa membawa KTP, dan untuk bisa periksa harus mendaftar dulu pakai fotokopi KTP. Waduh, aku harus balik jauh lagi ke Godean nih?, padahal tubuhku sudah terasa lelah luar biasa. Otakku bereaksi cepat, lalu menanyakan apakah pakai SIM bisa. Ternyata bisa. Aku keluarkan saja SIM punya pak kos yang kebetulan diberikan padaku untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada razia, karena fotonya agak buram. Dan bisa! Aku keluar sebentar tak jauh dari RS. Sardjito untuk memfotokopi. Setelah diproses aku diberikan kartu berobat dengan nama pak kosku. Peduli amat, habis perkara! Untungnya saat itu alat untuk mencetak kartunya sedang dalam perbaikan, sehingga aku diberikan kartu sementara. Ah sudahlah, cepat periksa diriku! Badanku sudah sangat lemas. Ternyata pemeriksaannya cuman sebentar, hanya dilihat lalu diberikan obat dan salep yang biasanya dipakai untuk cacar (aku lupa namanya). Semuanya habis 100 ribu lebih untuk pendaftaran dan pemeriksaan. Aw, padahal baru seminggu gajian, pakai acara dicicil pula!

 

Sampai di kos aku langsung tergeletak karena lemasnya sudah tak tahan lagi. Malam harinya aku minum obatnya dan mengoleskan salep pada bintik-bintik di tubuhku. Lalu paginya badanku terasa diinjak-injak. Untuk bangun saja memerlukan waktu setengah jam, dan aku tidak mau melewatkan waktu subuh. Kulihat bintik-bintik di sekujur tubuh semakin bertambah banyak. Dan ketika melihat cermin, Astaghfirullah! Seluruh tubuhku persis kayak Suzana di film Nyi Loro Kidul saat tubuhnya terkena guna-guna. Aku keluar kamar, tetanggaku pada kaget melihatku. Mungkin mereka tak pernah melihat cacar yang seperti itu. Mereka bahkan mengatakan kalau diriku sedang diguna-guna! Dan rasanya pagi itu aku sudah tak kuat lagi untuk berbuat banyak sehingga aku melewatkan sholat subuh. Lalu aku telepon kakakku untuk datang merawatku dan memanggil temanku untuk melayaniku membelikan makanan dll, sembari menunggu kedatangan kakakku. Sorenya kemudian kakakku datang dengan membawa banyak fotokopi doa dan sholawat syifa’ yang dititipkan ayahku. Aku membacanya tiap hari setelah sholat.

 

Mau tak mau Senin-nya aku harus dipulangkan ke Jepara. Naik bus pula! Ya mau bagaimana lagi? Di sepanjang perjalanan pandangan orang-orang banyak tertuju padaku. Mungkin dalam hati, mereka ingin mengucapkan satu kata: monster. Tidak, bagiku ini lebih mengerikan. Lebih mengerikan daripada Swamp Thing! Aku menghabiskan waktu seminggu untuk memulihkan diriku di rumah. Dan sangat tidak nyaman, karena aku berharap ada bunda yang merawatku. Kurasa serentetan timeline dari pertengahan tahun 2007 merupakan tahun yang sangat tidak menyenangkan bagiku. Sudah kehilangan ibunda, berangkat kantor masih nggenjot sepeda Godean-Gedungkiwo yang berjarak pulang-pergi 15 km, lalu seminggu sebelum kantor benar-benar pindah, disrempet orang saat pulang malam-malam pukul 10 dan tidak ada yang menolong, lalu diakhiri dengan cacar. Komplitlah sudah penderitaanku.

Tags: ,

7 Responses to “the beast (part 1)”

  1. alfone Says:

    huahahaha..the beast get the great😛

    award for you bro
    selamat yach?? hahay~

    http://alfonevici.blogspot.com/2010/12/my-first-award-from-cit-chici-o.html

  2. yulita Says:

    oalah mas,, masa brti ada bekas cacar dimuka ya,, sampe skrg ga bisa ilang, gr2 kn cacarnya pas awal masuk kuliah kie,,,

  3. bonkie Says:

    Om critanya sangat inspiratif.saat INI ane lg berjuang sama kayak kejadian ente . ITU beneran 13 minggu marut jagungnya?

    • husnimuarif Says:

      Betul🙂 Kesabaran itu butuh perjuangan keras, namun hasilnya akan sangat indah. Berjuanglah! Kamu pasti bisa menghadapinya. Semoga cepat pulih ya🙂

  4. bonkie Says:

    ane dah 24 hari om n muke horor abis ngeri pokoke.berarti muke ane bersih nya masih lama yak?

    • husnimuarif Says:

      Jgn punya pikiran negatif. Sabar dan tetap optimis! Berjuanglah dan berdoa.🙂 Insya’Allah bisa pulih. Syukur2 malah lebih baik. Aku hbs pake jagung kulitku skrg jadi lebih putih drpd yg dulu😀

  5. bonkie Says:

    ane lg treatment di erha om n skrg kulit muke pada kelupas semua .nasib yah kena nih penyakit tetapi ane jadi orang yg lebih sabar dengan nih penyakit om.thx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: