the beast (part 2)

Sebenarnya aku perlu lebih dari seminggu untuk memastikan bahwa aku benar-benar pulih, namun karena banyak kerjaan yang kutinggalkan, aku merasa sudah waktunya aku kembali ke Jogja. Dan ketika aku berangkat kantor, semua orang di kantor kaget melihatku. Sebab aku yang biasanya dijadiin talent buat bikin iklan ataupun desain rough, sepertinya sudah tidak mungkin lagi. Bahkan Mas Amenth (desainer grafis saat itu) bilang “Wah bakalan lama nih digital imaging-nya, touch up kulitnyanya jadi tambah susah, hehe…” Sungguh kasihan, satu kata yang pantas bagiku adalah “eman-eman” Seminggu kemudian masih belum hilang juga bekas cacar itu. Aku masih tak jauh beda dari sesosok mutant. Ditambah lagi kondisi petakumpet yang saat itu yang juga memprihatinkan, membuatku tak tega untuk memberikan slip pengobatan ke HRD agar diganti sebagai asuransi kesehatan. Selain itu Mas Amenth menyatakan resign pada akhir Desember. Gila! Departemen Kreatif  tinggal 3 orang!

Penderitaanku tak berhenti sampai di situ, karena seminggu kemudian aku harus datang ke acara pernikahan teman kuliahku pada hari Minggu tanggal 23 Desember. Artinya, aku harus berjumpa dengan teman-teman kuliahku dengan keadaan yang sangat tidak nyaman di setiap detiknya. Dan, terjadilah… Tidak cuman sekali, tapi dua kali bahkan lebih parah. Karena selanjutnya aku harus menghadiri acara pameran tahunan Advertising UGM yang saat itu dinamakan Pekik (Pekan Iklan) kedua setelah tahun baru. Aku tak hanya bertemu dengan alumni angkatanku, tapi juga alumni 2 angkatan di bawahku. Aw, I’m down! Really-really down!

Tak lama kemudian aku disarankan Mas Amneth ke Natasha (klien-nya dia dulu) Wot?!! Facial atau bahkan ke gym aja aku belum pernah (sampai sekarang), ini ke perawatan kecantikan. Nggak salah tuh? Tapi tak ada salahnya kalau dicoba siapa tahu ada harapan untuk mengembalikan keadaanku. Akhirnya jadilah aku ke Natasha. Seperti biasanya, semua orang yang ada di situ pada terfokus ke arahku. Dan ketika sampai di Customer Service, si mbak-nya bertanya “Ada yang bisa saya bantu Mas” Aku diam saja sambil memperlihatkan wajahku, dan dia langsung mengerti. Kemudian aku diberikan kartu. Gilak men, aku punya kartu Natasha, dan setiap ada informasi entah itu diskon atau pindah kantor aku selalu dihubungi lewat sms sampai sekarang. Setelah itu wajahku dipotret untuk dianalisis. Aku sudah berpikir, wah kayaknya bakalan operasi plastik nih, dapet duit dari mana? Tapi ternyata dokter yang melihat wajahku tak berkomentar apa-apa, seperti sudah menyerah. Aku nggak diberikan treatment apa-apa waktu itu, hanya diberi beberapa produk (ada 3 kalau nggak salah) dengan merk nama dokter (aduh aku lupa lagi namanya) “Masnya coba pakai ini dulu, nanti kalau sudah agak mendingan, ke sini lagi” begitu katanya. Kupikir-pikir kalau disimpulkan kok seperti ini: sekali masuk kamu harus beli produk dari sini terus. Begitulah….

Baiklah, Natasha gagal apalagi dokter spesialis kulit, bisa tambah panjang urusannya, dan tambah terkuras habis anggaranku. Akhirnya aku mencoba untuk menganalisis sendiri apa yang terjadi pada diriku di internet. Aku mengorek data dari bagaimana asal mula penyakit cacar itu. Dan orang yang berjasa mengembangkan teknik vaksinasi adalah Edward Jenner. Dia masuk urutan ke 72 dari Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah karangan Michael H. Hart. Ternyata di Eropa dulu cacar adalah penyakit yang menyeramkan karena telah menghilangkan nyawa antara 10-20% serta gampang pula menjalar. Bagi yang bisa bertahan hidup, kacau balaulah wajah mukanya, bolong-bolong seperti parutan (tepatnya seperti aku waktu itu), seumur-umur. Busyet! Seumur-umur?!!

Untuk itu berterimakasihlah kita kepada Jenner karena penyakit cacar praktis sudah tersapu dari muka bumi berkat vaksinnya. Hey? Terimakasih begimana? Lalu aku teruskan membaca. Dari hasil pengamatan, barang siapa mampu bertahan hidup dari serangan cacar, sesudah itu malahan kebal dan tidak bakalan lagi tersisksa penyakit itu untuk yang kedua kalinya. Oke, aku nggak bakalan kena untuk kedua kalinya, tapi wajah parutan seumur hidup? Tunggu dulu, vaksin cacar? Ternyata vaksin cacar adalah vaksin yang diambil dari bintik penyakit “cacar sapi”. Sehingga kalau boleh aku simpulkan orang yang divaksin cacar suatu saat akan menderita “cacar sapi” yang mana cacar itu tidak berbahaya, meskipun gejalanya mirip cacar biasa. Dan bila sudah divaksin (cacar sapi) tak akan pernah tertimpa penyakit cacar. Oh, berarti orang yang sudah divaksin akan kena cacar (sapi), tapi ringan dan gampang hilangnya. Berarti… Cacarku ini bukan cacar sapi!!!

Aku mencoba flashback ke masa kecilku, ternyata benar. Waktu kecil aku tidak divaksin karena aku sedang menghadapi masalah dengan kepalaku sewaktu lahir. Dan yang kualami sekarang adalah cacar yang sebenarnya (kayaknya lebih tepat disebut cacar manusia), bukan cacar sapi! Aku bisa bertahan hidup, tapi wajah parutan bekas cacar ini akan terus ada selama-lamanya! Tidoaaaak!!!

Aku mencoba menguras informasi lagi bagaimana cara untuk menghilangkan bekas cacar yang parah ini. Tetanggaku bilang dilulurin jagung yang sudah diparut, dan ternyata di internet juga mayoritas menyarankan seperti itu. Bahkan ada penderita yang terkena cacar persis kejadiannya dengan aku, baik waktunya maupun gejala sebelumnya. Baiklah, saatnya melawan wajah parutan dengan jagung yang diparut. Kemudian ada yang menyarankan, agar afdol dicampur madu. Akhirnya aku lakukan itu rutin tiap pagi dan malam sebelum tidur. Berangkat ke kantor pagi-pagi, lalu maskeran jagung, tak peduli apa kata orang. Bahkan saat keluar di warung atau di supermarket sekalipun aku tetep pede aja. Soalnya lebih baik wajahku ini ditutupin masker jagung daripada kelihatan seperti mutant (bisa dibayangkan buruknya kayak apa wajahku ini kan?). Malamnya aku harus bisa mempertahankan tidur terlentang, alias muka menghadap ke atas terus. Kalau tidak bantal kasur bisa penuh dengan bekas parutan jagung. Pokoknya aku harus bisa menahan malu dan menahan posisi tidur. Sangat menderita, tapi lumayan lah, setidaknya wajahku kayak The Thing, It’s Clobberin Time!

.


Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: