the beast (part 3)

Seminggu kemudian aku lihat hasilnya. Ada perubahan, tetapi keciiiil banget. Aku sempat berpikir, apa yang menyebabkan orang percaya pada cara ini? Aku sempat berencana untuk menghentikan cara yang (bagiku) tidak manusiawi ini. Hingga suatu saat tak sengaja parutan jagung yang sudah tercampur madu ini menetes di kaos putihku. Saat aku mencucinya, ternyata bekas kuning itu susah hilang meski sudah diremdam lama dan dikucek berkali-kali. Hmm… ternyata ampuh juga, kalau di kain seperti itu, kalau dikulit berarti bisa, pikirku. Akhirnya aku harus telaten dan sabar melumuri wajahku dan kulitku. Kalau dihitung-hitung sampai 13 minggu aku melakukannya dengan rutin. Bayangkan! 13 Minggu rutin setiap hari, pagi dan malam! hanya bolong 2 kali karena ada urusan yang membuatku tidak sopan bila menemui orang dengan wajah maskeran.

 

Alhamdulillah, setelah berjuang dengan penuh sabar dan keyakinan selama 13 minggu akhirnya wajahku tampak lumayan seperti sekarang. Keadaan kantor pun ikut lumayan, hingga akhirnya aku bisa konsultasi ke dokter kulit di RS. Condongcatur, rekomendasi temanku waktu KKN. Namanya dokter Nur Westu, setiap 2 minggu sekali aku harus datang ke situ untuk penyuntikan wajahku agar cekungan-cekungan itu bisa ditimbulkan dan disamarkan. Hasilnya cekungan itu bisa direduksi namun suatu saat balik lagi, malah semakin menimbulkan banyak bintik-bintik (mungkin jerawat) di wajahku. Suatu hari ada kabar bahwa alat dan obat dari Jakarta yang lebih efektif sudah datang. Aku ditawari operasi itu dan dijanjikan bahwa hasilnya akan jauh lebih baik. Bahkan biayanya pun aku sanggup membayarnya waktu itu. Tapi tiba-tiba pikiranku berkata lain. Biarlah cekungan itu menjadi tanda dan pengingat bahwa aku pernah menjadi orang paling buruk di dunia. Sekaligus sebagai tanda bahwa aku pernah berjuang habis-habisan penuh dengan kesabaran melawan penderitaan. Sebuah skenario berat dari Allah yang seharusnya aku bersyukur bisa memerankan dan menyelesaikannya dengan baik.

 

Akhirnya aku mengurungkan tawaran itu, dan bersyukur dengan bekas cekungan yang sampai sekarang masih ada di pipi sebelah kanan hidungku. Kalau suatu saat kalian bertemu denganku atau melihat fotoku, dan menemukan cekungan itu. Itu adalah sebuah tanda “Hey, aku pernah menjadi the beast, men!”

 

 

Dibuang sayang

 

Beberapa orang banyak yang bilang bahwa aku sedang diguna-guna orang saat aku terkena cacar. Karena terlihat sangat mengenaskan dan tidak seperti biasanya. Waktu aku terkapar dan tak bisa berbuat apa-apa pada awal aku terjangkit cacar, aku membaca doa dan sholawat syifa’ yang diberikan ayahku. Saat aku membacanya tiba-tiba tubuhku seakan bereaksi dan panasnya bukan main. Dan kala aku berhenti membaca sholawat itu tiba-tiba tubuhku seperti mati rasa. Pernah suatu hari aku membaca doa terus-menerus sehingga tiba-tiba rasa panas itu semakin memuncak seperti ada yang memberontak dalam tubuhku. Aku seakan melawan panas itu dengan doa-doa yang terus aku ucapkan, hingga akhirnya panas itu mereda seakan menyerah, lalu aku tidur. Entah itu guna-guna beneran atau hanya sugesti, aku hanya bisa berserah dan memohon perlindungan-Nya.

 

Sebelum aku terkena cacar sebenarnya aku sering menderita penyakit gatal yang menjalar di seluruh tubuh semacam biduran. Penyebabnya pun tak jelas. Pernah waktu aku kuliah aku memeriksakannya ke GMC (Gajah Mada Medical Center) Aku ditanyai macem-macem dari makanan yang aku makan, pakaian, dll. Dan sampai sekarang masih belum ketemu aku alergi apa. Nah, kata temenku lagi katanya aku sedang diguna-guna cewek yang pernah berhubungan (berpacaran) denganku, atau pernah aku sakiti atau acuhkan. Dan biasanya saat terkena biduran wajah cewek itu akan terus membayangi. Busyet! Lalu siapa?!! Soalnya pas aku kena biduran tak satupun aku temukan wajah seorang cewek. Membayangkan atau memikirkan seseorang pun tidak aku lakukan, karena di pikiranku yang aku rasakan cuma ada rasa panas dan gatal. Lagian kapan aku pernah pacaran?!! Nah kalau menyakiti? He? Aku nyakitin cewek? (kalau disakiti sih mungkin, hehe) Kalaupun iya aku menyakiti, mungkin itu kesalahpahaman.

 

Dugaan diguna-guna cewek itu juga terbawa saat melihat wajahku penuh dengan cekungan bekas cacar. Tapi aku berusaha menenangkan diriku dengan pendapat bahwa ini wajah yang ngasih Allah. Allah mau bikin wajah ini bagus atau jadi jelek seperti ini ya terserah Dia. Mungkin ini adalah sebuah pelajaran yang harus aku hadapi. Dan aku menghadapinya dengan fun. Iseng-iseng aku menghitung berapa lubang yang ada di wajahku dan mengira-ngira urutan lubang yang pertama muncul. Busyet! Bagian kanan wajah saja sudah hampir seratusan, gimana kalau digabungin sama yang kiri? Parah juga ya?

.

.

Waktu itu aku berpikir kalau satu cekungan itu adalah satu nama cewek yang aku sakiti, berarti ada ratusan atau sampai seribuan kalau ditotal seluruh tubuhku? Atau jangan-jangan ada banyak cewek sampai ratusan yang suka aku tapi aku diemin saja (ge-er banget!) Kalaupun memang iya, maka dengan ini aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Dan karena aku tak bisa menduga siapa saja nama itu, maka aku masukin saja nama-nama artis atau siapa saja sesuka-suka aku, hehe…. Lihatlah salah satu nama artis yang aku masukkan ke daftar, Mulan saja namanya masih Mulan Kwok waktu itu.

.

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: