(tak mau) gampang menyerah

Aw, seharusnya ini postingan di bulan Januari. Memang akhir-akhir ini banyak sekali yang terlambat. Bukan karena penyesalan (tapi bisa jadi juga ding), tetapi karena waktu, kelelahan, dan banyaknya kepentingan yang berkaitan dengan pekerjaan yang menyerangku bertubi-tubi. Ini tentang buku the LOGO (lihat postingan the LOGO pada bulan Januari 2010) yang seharusnya pertengahan Desember tahun lalu sudah tinggal gladi resik. Aku nggak tahu apakah aku akan menyelesaikan buku itu, atau selesai membiarkannya begitu saja. Aku sudah menyelesaikan tulisannya sebanyak 145 halaman. Dan sekarang tinggal visualnya saja yang baru kuselesaikan 6 halaman dari 145 halaman. Aw

Mungkin terlalu menunggu banyak referensi. Sebenarnya buku Graphic Novel POWERS sudah cukup untuk referensi, namun hingga saat bulan puasa tahun lalu aku masih mencari referensi yang pas buat gaya visual untuk bukuku itu.

.

.

Salah satunya adalah buku Trilogi Kontrak dengan Tuhan karya Will Eisner (pencipta karakter The Spirit dan pendobrak gaya komik). Aku mendambakan buku itu sudah lama dan berharap ada di Indonesia. Dan ternyata tak sengaja aku menemukannya setelah penasaran dengan tas bertuliskan logotype Will Eisner (yang tulisannya seperti logotype Walt Disney) tergantung di Toga Mas. Aku penasaran dengan isi tas itu. Ternyata isinya kaos Will Eisner dengan visual A Contract with God di bagian depannya dan The Neighborhood Dropsie Avenue di bagian belakangnya. Aku langsung membelinya dan mengklik www.nalar.co.id yang tertulis di bagian punggung kaos untuk mengetahui apakah buku ini ada. Dengan susah payah aku bisa mendapatkan buku ini, karena tinggal satu. Itupun hanya di Toga Mas Galeria, dan sudah ada yang memesannya. Akhirnya dapat juga, meskipun aku tahu Will Eisner adalah seorang Yahudi, namun dialah perintis sebuah Graphic Novel. Dan kata novelis John Updike “Eisner bukan hanya mendahului zaman, bahkan pencipta sekarang pun masih harus berusaha meraih kualitas karyanya”

.

.

Yang terjadi setelah membeli buku tersebut adalah semakin bingung. Ceritanya memang keren dengan angle visual yang menarik, tapi sepertinya sangat susah sekali bila diterapkan ke dalam vektor. Ini adalah gambar goresan tangan dengan gaya arsir yang menawan dan tak mungkin diterapkan untuk visual the LOGO yang lebih ke arah vektor deco. Akhirnya pada awal Desember aku iseng membuka buku the Quitter (Gampang Menyerah) karya Harvey Pekar penulis American Splendor. Kebetulan ada satu yang tidak disegel di Gramedia. Setelah kubuka, inilah referensi visual yang pas untuk visual the LOGO! Sial, aku tahu buku ini sudah lama, mengapa aku tidak membelinya sejak awal waktu aku memulai membuat buku? Aku benci Yahudi! Dulu aku tidak membelinya karena aku tahu pengarangnya adalah orang Yahudi. Mengapa di seluruh belahan dunia ini orang Yahudi selalu lebih dominan? Lagu-lagu keren datang dari orang Yahudi. Joe Suster dan Jerry siegel, pencipta Superman juga orang Yahudi. Einstein, Steven Speilberg, atau Mark Zuckerberg! Aku benci facebook! Tapi ya mau bagaimana lagi? Secara tak sadar seluruh kehidupan kita sehari-hari juga sudah didominasi oleh orang Yahudi.

Tapi cobalah berpikir positif, jangan lihat darimana background orang Yahudi. Ambil yang positif, orang Yahudi ada juga yang baik, dan orang Yahudi yang tidak setuju dengan penyerangan Israel ke Palestina juga banyak. Cobalah melihat cara berpikir mereka. Tiru, lalu jadikan menjadi lebih baik lagi. Kembali ke buku The Quitter-Gampang Menyerah. Percuma kalau beli buku hanya diambil gambarnya saja sebagai referensi, baca juga ceritanya. Waw, ceritanya ternyata tak jauh beda dengan perjalanan hidupku yang selalu gampang menyerah. Setidaknya Harvey Pekar tidak menyerah dengan mengisahkan kisahnya ke dalam buku (novel grafis ) ini meskipun sepertinya agak terlambat. Setiap membacanya aku selalu berhenti untuk mengingat dan menghubungkannya dengan kejadian apa yang pernah kualami. Hmm.. buku ini bukan hanya bisa dijadikan referensi, tapi juga memang ogut banget, hehe…

.

.

Nah bagaimana dengan nasib buku the LOGO? Sepertinya aku mendapatkan feeling bahwa aku tak bisa menyelesaikan buku itu selama bulan Desember. Dan memang benar feeling-ku itu, pada bulan Desember kerjaan semakin banyak dan beban semakin kacau, ditambah dengan pembagian tim untuk perekrutan tim baru. Baiklah, aku benar-benar tak bisa menyelesaikan buku ini dan perlu manajemen waktu yang lebih disiplin antara kepentingan pribadi dengan pekerjaan. Tapi apakah aku menyerah begitu saja? Sepertinya aku tidak mau, dan aku berusaha untuk mencari jalan bagaimana untuk menutupi kegagalanku ini.

Kucek kembali beberapa visual yang sudah kubuat. Ada halaman dimana saat aku mengalami kegagalan yang sangat menyakitkan, aku selalu mendendangkan lagu Let It Be-nya the Beatles. Lagu Let It Be merupakan lagu dari pengalaman pahitnya Paul McCartney yang melibatkan ibunya. Di dalam lagu tersebut ada nama “Mother Mary” yang dalam mimpi Paul dengan berkata “it will be all right, just let it be”. Di halaman itu aku visualkan aku sedang di kursi bus memandangi jendela dan mendendangkan lagu Let It Be seolah ada paul McCartney sedang main piano di kaca bus tersebut. Visual Paul tersebut aku ambil dari video klip-nya di Apple Records. Lalu aku berpikir, bagaimana kalau visual itu aku jadikan kaos saja sebagai pelipur lara saat kaos itu kupakai. Akhirnya di bulan Desember tersebut aku fokuskan untuk membuat kaos itu. Dan jadilah. Kalau gagal bikin buku, ya dijadiin kaos aja.

.

.

Lalu memasuki bulan Januari tiba-tiba aku seolah mengalami keterpurukan yang kedua. Sepertinya aku perlu satu desain kaos lagi untuk menguatkanku. Tiba-tiba aku teringat dengan kaos Superman-ku pada saat SD kelas 5 dengan tulisan Can’t Hurt Me! Aku nggak tahu siapa yang bikin Superman gondrong yang baru saja bangkit dari kematiannya itu. Mungkin sih buatan Dan Jurgens. Aku cari-cari di Google nggak nemu-nemu. Akhirnya aku memotretnya lagi dan langsung aku path di Corel. Waktu nge-pathnya pun cukup lama, hampir 3 harian. Tapi aku bersemangat sekali mengerjakannya. Lalu saat jadi, aku hampir tak percaya, aku seperti kembali pada masa SD-ku dulu. Dan saat memakainya aku merasa kuat dan berkata seperti apa yang tertulis di kaos itu CAN’T HURT ME! Maksud sebenarnya sih ‘nothing can’t hurt my heart!’ hehe….

.

.

Begitulah caraku agar tidak gampang nglokro (menyerah) Aku sering melakukannya dulu. Aku nggak tahu bagaimana dengan melakukan hal seperti itu membuatku menjadi tenang. Dulu kalau sedang suntuk, cuma bikin pin-nya The Comedian-Watchmen atau stiker MAD bisa membuatku bersemangat kembali. Sebenarnya dulu aku juga sering membuat kaos untuk mengatasi keterpurukanku, tapi cuma satu doang. Dan sekarang aku tidak hanya membuat satu kaos saja, tapi sepuluh. Sekalian memanfaatkan peluang, seperti saat Anang bikin lagu setelah cerai dari Kris Dayanti, hehe… Yang mau pesan bisa lihat di pages => kaos. Persediaan terbatas!

Tags: , , , ,

One Response to “(tak mau) gampang menyerah”

  1. Hikari Says:

    yg the beatles bagus banget mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: