menyewakan wajah

Sabtu kemarin aku ngobrol dengan seseorang yang sebenarnya aku kenal namun aku lupa, hehe… Awalnya ngomong biasa, aku menyimak omongannya dan setelah selesai, giliran dia menyimak omongan balasan dariku. Namun tiap kali giliran dia yang ngomong lalu aku menyimak, tiba-tiba dia tersenyum dan mau tertawa. Sampai akhirnya tertawa juga, lalu bilang “Kenapa ya kok tiap ngomong sama masnya aku selalu pingin ketawa?” Entah sudah keberapa kali orang yang bilang kayak gitu. Penyebabnya juga aku nggak tahu. Padahal omongannya juga biasa-biasa saja tak ada yang lucu. Mungkin penyebabnya adalah ketika saat menatapku. Aneh juga, emang wajahku itu bikin orang geli? Tapi memang benar, dari beberapa orang yang ketemu aku, mimik mukanya berubah menjadi kepingin tersenyum dan tertawa.

Bicara soal wajah, ada juga wajah yang bila dilihat, bikin orang ingin nempeleng. Orangnya nggak ngapa-ngapain, tapi wajahnya kelihatan sombong dan mengejek. Aku pernah punya beberapa teman seperti itu. Sedang jalan-jalan atau duduk-duduk, nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba ada orang tak dikenal entah dari mana datang dan nempeleng. Kenal aja nggak, dan temanku yang ditempeleng itu juga nggak pernah bermasalah dengan orang yang nempeleng. Wajah juga ada yang menipu. Kelihatannya cakep namun ternyata jahat, kelihatannya jahat tapi baiknya bukan main, kelihatannya garang tapi ternyata cengeng, atau kelihatannya berkharisma tapi ternyata korupsi. Dan yang namanya mengendalikan wajah agar sesuai dengan perilakunya itu susahnya bukan main. Dulu banyak ibu-ibu yang ketika melihat AA Gym merasa menentramkan, namun ketika tahu AA Gym berpoligami, keadaan menjadi berubah. Kadang ada juga wajah yang nyebelin yang sesuai dengan sifat dan perilakunya sehingga setiap orang yang melihatnya benar-benar kepingin nempeleng. Misalnya ketika melihat Anggodo atau Nurdin Halid. Melihat gambar Nurdin Halid saja muak, apalagi kalau melihat dia ngomong.

AlhamduliLLAH, aku sangat bersyukur dikaruniai wajah seperti sekarang ini. Sebab sebelum wajahku hampir hancur lebur kayak Swamp Thing alias terkena cacar (baca blog-ku: the beast) aku sempat berbicara dalam hati “Ya Allah, wajah ini adalah bikinan-Mu dan juga titipan-Mu, kalau wajah ini bermanfaat bagi orang lain maka peliharalah, jangan jadikan wajah ini membuat orang lain benci dan iri” Padahal saat itu ceritanya cuman mempermasalahkan satu jerawat saja. Dan batinan-ku itu akhirnya terjawab, hanya dengan penyakit cacar, wajahku sangat tidak enak untuk dipandang. Aku sendiri nggak suka memandangnya apalagi orang lain. Hingga saat terkena cacar aku berkata dalam hati lagi “Ya Allah, wajah ini memang bikinan-Mu, jadi terserah mau diapain wajah ini, tapi aku kan cuma bercanda, gitu aja dimasukin dalam hati” hehe… Memang saat aku terkena cacar, yang bergembira adalah kaum lelaki, dan ketika aku pulih mereka nggak suka “Biangane, mbalik ngganteng meneh” Begitulah, senang melihat orang susah, susah melihat orang senang.

Melihat orang yang tersenyum ketika berbincang-bincang denganku, tiba-tiba aku teringat saat aku mahasiswa dulu waktu kos di Ledok Blimbing Sari. Saat itu ada penghuni kos baru, pasangan suami istri dengan anak kecil. Nama anaknya kalau tidak salah Rafli. Ya, aku masih ingat betul, karena saat itu sedang hangat-hangatnya gosip Tamara Bleszynski cerai dengan suaminya Teuku Rafli. Rafli adalah anak yang lucu dan sangat periang. Setiap ketemu denganku dia pasti tertawa sambil tersipu malu. Tapi kalau nangis, suaranya keras banget dan susah berhenti.

Suatu pagi, Rafli nangis dengan kerasnya, aku tak sengaja lewat mau mandi. Ketika berpapasan tiba-tiba Rafli berhenti menangis dan mereda. Hal itu berulang berkali-kali, dan hanya ketika melihat wajahku Rafli berhenti nangis, bukan anak-anak kos yang lain. Saat Rafli nangis, ibunya sering menggendongnya dan mengajaknya jalan-jalan mengunjungi kamar-kamar anak kos. Dan ketika sampai di kamarku lah Rafli baru berhenti menangis. Pernah malam-malam saat aku terlelap, kamar kosku di-gedok-gedok. Saat kubuka ternyata ibunya Rafli dan dari kejauhan terdengar suara anak kecil nangis. “Maaf Mas Husni malam-malam mbangunin, bisa pinjam wajahnya sebentar, Rafli nangis nggak berhenti-berhenti…”

Busyet!

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: