my first typography

Betapa sangat disayangkan saat aku pulang mudik ke Jepara melihat tumpukan majalah dan komik jaman dulu yang aku kumpulkan di kardus kini rusak karena terkena trocohan air hujan. Banyak sekali, ada komik Petruk & Gareng, majalah TEMPO, MOP, Ananda, Bobo tahun 80-an yang di dalamnya ada seri Deni Si Manusia Ikan dan masih banyak lagi majalah yang penuh iklan-iklan dengan ilustrasi yang sangat keren. Benda-benda tersebut merupakan harta yang sangat berharga bagiku, karena sekaligus catatan perjalanan pembelajaranku waktu kecil.

Aku sangat iri ketika melihat presentasi Wahyu Aditya (Hello Motion Animation) di acara OBAH-DESIGN THAT CHANGE yang memperlihatkan kenangan perjalanannya waktu kecil. Namun aku cukup bersyukur ketika menemukan beberapa majalah Ananda yang masih terselamatkan. Aku mengenal majalah Ananda dari tahun 89-an hingga awal 90-an, yang saat itu banyak mengulas tentang grup band musik dan film-film box office. Diantaranya NKOTB, Tommy Page, Ninja Turtles The Movie, Robin Hood, dll. Nggak Cuma itu, rubrik yang lainnya juga tak kalah menarik, ada pengetahuan, cerpen, cerita lucu, dan tentunya kuis dengan hadiah yang sangat lumayan (kalau tak salah saat itu yang menyelenggarakan sustagen Hp)

Tapi ada satu yang menjadi kenangan, yaitu serial komik pada bagian belakang majalah. Adalah NBC Sukma dengan cerita dan gambar yang begitu luar biasa. Jauh sebelum global warming dan teknologi canggih  yang ditayangkan film-film box office saat ini, NBC Sukma sudah lebih dulu menyajikan imajinasinya ke dalam serial komik ini. Tak hanya itu, gambarnya pun sungguh luar biasa. Goresannya seperti Don Lawrence atau perpaduan antara Tony Wong dan alex Ross, menurutku. Tak banyak yang tahu mengenai kabar NBC Sukma saat ini, termasuk aku. Bisa saja karena ide dan karya yang luar biasa, beliau sudah ditarik negara luar (DC Comics atau Marvel) dan menjadi warga negara itu. Aku sempat mengikuti jejak cerita komiknya, yaitu 3 Jagoan dan Buyung Kilat.

Ada cerita yang menarik saat aku menginjak umur 5 tahun. Berbeda dengan anak jaman sekarang yang sudah bisa membaca pada umur 4 tahun, bahkan sudah bisa bahasa Inggris (di playgroup yang biayanya masya’ala), anak TK seumuran 5 tahun pada jamanku belum bisa membaca dengan lancar. Apalagi untuk tulisan yang panjang. Seingatku, aku baru mengenal huruf pada umur 4 tahun dengan kartu abjad yang dimasukkan dalam amplop yang saat itu aku malah lebih senang melihat gambarnya untuk mainan. Umur 5 tahun, ibuku baru mengajariku membaca secara otodidak. Aku bahkan tak ingat satupun kalau pernah diajari membaca sama ibu guru sekolah.

Rasanya sangat senang sekali saat pertama kali bisa membaca. Setiap majalah yang kulihat, aku selalu berusaha mencoba untuk membacanya lalu kutanyakan kepada ibuku apakah bacaan itu benar. Tak hanya itu, secara tak sengaja aku juga mulai belajar yang namanya bentuk huruf atau tipografi. Salah satunya saat aku mulai membaca komik 3 Jagoan yang berjudul “Terowongan Maut” pada sampul belakang majalah Ananda.

.

.

Saat itu aku bilang pada ibukum “Bu, ini bacanya Tiga Uagoan ya?” lalu dijawab “Salah, ayo coba lagi” Aku perhatikan dengan serius bentuk huruf tersebut, dan aku yakin sekali kalau bacaanku benar. Kemudian aku ngotot “Bener kok, ini bacanya Tiga Uagoan!” Lalu ibuku suruh aku untuk menanyakan ke kakakku. Kakakku langsung menjawab “Tiga Jagoan” Meskipun aku tahu kalau aku salah (karena umur segitu aku tahu apa maksud dari jagoan), tapi tetap saja aku tidak terima dengan kesalahan ini. Aku menyalahkan komposisi tipografi yang menurutku itu adalah huruf U yang tertutup angka 3.

Aku rasa itulah pengalaman pertamaku mengenal tipografi. Dan sejak itu aku menjadi tertarik dengan tipografi. Setiap ada acara nikahan, sunatan, atau orang punya gawe, ibuku selalu menyuruhku untuk membuat kartu ucapan secara manual untuk dipasang di kado. Tentunya dengan jenis huruf-huruf yang menarik dan komposisi yang pas. Bahkan untuk logo-logo yang menggunakan inisial aku perhatikan dengan serius. Seperti logo BRI (yang tidak berubah sampai sekarang) aku mempertanyakan, dimanakah huruf “I”-nya? Karena aku hanya melihat komposisi huruf B dan R yang berada dalam kotak. Atau kadang dulu aku menyalahkan tulisan “Tugas Kita” yang biasanya ada di belakang mobil Suzuki. Sepertinya itu bisa juga dibaca “Zugas kita” karena huruf T depannya yang miring dengan penambahan lengkung pada kaki serif-nya menjadi seperti huruf Z. Menyulitkan yang mbaca saja…

.

.

Sampai saat ini aku masih sangat menyukai tipografi dan bereksperimen untuk ambigram maupun logo-logo yang kuat menggunakan logotype-nya. Hmm… aku baru sadar awal mula aku mengenal tipografi.

Tags: , ,

4 Responses to “my first typography”

  1. Hikari Says:

    ini ada penggamar juga mas🙂
    http://damuhbening.multiply.com/photos/album/71/Komikus_NBC_SUKMA_apa_kabarnya

  2. Komik Indonesia Says:

    Komik ini dibuat oleh NBC Sukma yang terinspirasi oleh isu rusaknya lapisan OZON pada tahun tersebut.

  3. Prabowo Says:

    Jaman saya SD, di majalah Ananda, NBC Sukma nggambar komik Ksatria Tengkorak Putih, mas. Versi KW-nya Ghost Rider. Gambar NBC Sukma memang bagus, biasanya jadi ilustrator cerita kriminal di majalah Intisari.

    Tentang tulisan Zugas Kita… heheh, saya waktu SD juga seperti itu mbacanya. Adalagi yang saya salah baca gara-gara typografi logonya aneh: Truk/bis Hino. Dulu saya baca Jlino.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: