hiks, gagal menangis lagi

Minggu, 22 Mei lalu aku masih menginap di kantor. Seperti biasa, Sabtu-Minggu dihajar lembur untuk Satria Brand Award yang diselenggarakan Suara Merdeka 24 Mei. Padahal Sabtu-Minggu sebelumnya juga lembur, Seninnya tidak ikut cuti bersama lagi (komplit sudah). Namun sebelumnya aku memang sudah merasakan firasat kalau hari Minggu masih akan lembur. Kebetulan beberapa hari sebelumnya PKPU SMS CENTER memberikan informasi kalau akan ada Seminar Nasional: 7 Keajaiban Rezeki dengan pembicara Ippho Santosa di Hotel Saphir. Harga tiketnya 150.000 – 200.000. Aku nggak terlalu mempermasalahkan harga tiket, begitu tahu itu, aku langsung kontak temanku di PKPU untuk titip tiketnya. Karena aku tahu kalau hari Minggu pasti akan lembur, jadi sebisanya aku harus bisa ijin untuk sekedar keluar dari kerjaan kantor sejenak.

Pukul 10.30 aku ijin pulang karena acara Seminar ini. Aku harus rehat barang beberapa jam dengan cara mengikuti seminar ini. Bahkan kalau seumpama ijinku ini membuatku dikeluarkan dari pekerjaanku, aku lebih memilih itu (sampai segitunya sih?) Kebetulan acaranya dimulai pukul 13.00 – 16.00 Kukira yang datang paling banter cuman ratusan, eh ternyata banyak banget! Mencapai seribu lebih dikit peserta! Hingga saat acara dimulai masih ada yang mendaftar untuk ikutan, hingga akhirnya pembicaranya, Bung Ippho meminta panitia untuk menutup pendaftaran karena tempat duduknya tidak mencukupi dan mengganggu berlangsungnya acara. Acara seminar ini memang tidak dikhususkan untuk orang muslim saja, tapi semua agama. Bahkan yang sebelumnya pernah mengikuti seminarnya Bung Ippho berkali-kali, kali ini datang lagi. Dan katanya, seminar ini menjadi seminar yang paling laris dimana-mana, bahkan bukunya menjadi Mega Best Seller di indonesia.

.

.

Judul seminarnya adalah “7 Keajaiban Rezeki: Percepatan Rezeki dalam 40 Hari dengan Otak Kanan” Aku sendiri belum baca bukunya. Aku sendiri juga nggak tahu mengapa hitungannya 40 hari. Bahkan kata Bung Ippho sendiri bilang kalau judul 40 Hari itu sebenarnya bohong, itu hanya untuk penarik perhatian belaka, karena yang sebenarnya percepatan rezeki itu malah kurang dari 40 hari. Ealah, begitulah omongan khas dari motivator J. Karena aku belum baca bukunya, aku mencoba untuk mengoreksi kembali sifat-sifat Allah dari Asmaul Husna yang ke 88 dan 89, yaitu Al-Ghaniyyu – Al-Mughnii yang artinya Allah itu Kaya dan Mengayakan. Aku baca salah satu amalan dari Al-Mughnii yang menyebutkan: Siapa yang mau mengamalkan membaca “Yaa Mughnii” semaksimal mungkin hingga 40 hari lamanya, maka Allah berkenan memudahkan urusannya di bidang mencari rezeki. Mungkin inilah alasan judulnya mengambil 40 hari.

Bagi yang ingin mengamalkannya, berikut aku berikan tuntunannya yang kusadur dari buku Asma’ul Husna (lihat postiungan (The Last) Sabar) Caranya dibaca setiap pagi (mungkin sehabis sholat Dhuha) dan setelah selesai membaca “Yaa Mughniyyu” supaya membaca surat Adh-Duha lalu membaca doa: ALLAHUMMA BISIRRI ‘ALAL YSRIL LADZII YASSARTAHUU ‘ALAA KATSIIRIM MIN ‘IBAADIKA WA AGHITSNII BIFADLIKA ‘AMAN SIWAAKA WAWAZIBUN ‘ALAIHI. Aku nggak tahu semaksimal mungkin itu berapa kali. Tapi yang jelas sehabis sholat Dhuha aku selalu mulai mengamalkannya 100 kali, tapi aku tak menghitungnya sampai 40 hari. Yang penting dilakuin lalu percaya aja, udah.

Di seminar ini diterangkan juga bahwa di awal bab bukunya disebutkan judulnya “Sepasang Bidadari” Disini dimaksudkan, bila kita mau menyelaraskan impian, kita harus menyelaraskan niat dengan pasangan kita. Pasangan disini yang dimaksudkan adalah Ibu kita (dan yang kedua pasangan hidup kita). Bahagiakanlah dulu Ibu kita. Segiat apapun kita bersedekah, namun bila masih punya masalah dengan Ibu kita, maka percepatan rezeki itu akan sangat sulit. Bisa, namun tersendat-sendat. Jadi berbahagialah bagi yang masih memiliki ibu, bagi yang sudah kehilangan teruslah doakan ibumu. Mungkin kalau di perusahaan, kita harus menyelaraskan diri dengan anak buah kita. Nggak hanya sekedar shodaqoh, namun bereskan juga urusan anak buah kita. Insya’allah efek dari shodaqoh tersebut melancarkan rezeki dengan cepat. Toh perusahaan itu bisa berkembang karena ada anak buah kita kan? Memang dengan sedekah itu bisa, namun kalau tidak diselaraskan dengan membahagiakan keluarga (disini anak buah/karyawan) maka rezeki itu akan bermasalah  alias agak sulit dan lama dapat ridho dari Allah.

Bicara soal Ibu, sebenarnya inilah tujuanku yang sebenarnya mengikuti acara seminar ini. Kalau aku perhatikan orang-orang yang ikut acara seminar ini,  kelihatan dari wajahnya pingin kaya semua (sebenarnya aku juga sih) bahkan banyak yang kelihatannya sudah berduit, tapi tujuan utamaku malah kepingin nangis. Lho kok? Aku memang ingin menangis untuk melepaskan semua elemen yang membebani diriku. Karena kalau sudah menangis rasanya plong. Apalagi saat keluar sejenak dari kesibukan. Nangis itu perlu, dan terus terang saja, yang namanya mau nangis itu bagiku sangat susah. Padahal doa yang pasti dikabulkan adalah saat kita berdoa bersungguh-sungguh kepada Allah hingga meneteskan air mata. Tapi setiap selesai sholat Tahajjud aku berusaha untuk berdoa sambil nangis, nggak bisa-bisa. Kalaupun bisa itu pun dipaksakan dan belum bisa dikatakan sepenuhnya nangis. Pokoknya wagu banget lah! Kalau di manajemen artis, salah satu syarat terhebat agar bisa berakting adalah ketika melihat film sedih kamu bisa ketawa terbahak-bahak, tapi kalau melihat film kocak kamu bisa menangis terharu. Aku pernah mencobanya, tertawa melihat film sedih bisa, tapi menangis pas nonton film komedi susahnya minta ampun!

Terakhir kali aku benar-benar menangis adalah saat kehilangan ibuku. Yaitu menangis untuk mengikhlaskan kepergiannya. Ketika sudah ikhlas, maka kamu benar-benar menjadi manusia yang tangguh. Nah, sebenarnya di hotel Saphir inilah aku terakhir kali ketemu dengan ibuku. Jadi aku ingin mengenang saat-saat terakhirku dengan ibu dan berharap bisa nangis untuk bisa membangkitkan lagi semangatku.

Ada rasa menyesal yang sangat mendalam saat aku bertemu terakhir kali dengan ibu. Ceritanya saat itu ibuku datang untuk acara wisudaku. Lumrah saja kan? Masak anak diwisuda ibunya nggak boleh datang? Setelah itu, tak lama 2 minggu kemudian ibu datang lagi untuk menengok dan melihat kabarku yang sudah mulai bekerja di petakumpet. Bagiku itu sangat mengganggu sekali. Lalu seminggu kemudian ibuku datang lagi karena diajak piknik budheku dan menginap di hotel Saphir. Aku disuruh datang ke hotel untuk ketemu ibuku. Padahal saat itu aku sedang sibuk-sibuknya pindahan kos dan bilang aku tidak bisa. Ibuku memahami itu, dan bilang nggak papa kalau tidak bisa mengunjunginya. Tapi untung saja teman kosku terus mendesakku untuk menemui ibuku barang sebentar. Dan akhirnya setelah sampai di hotel Saphir juga cuman ketemu sebentar, sepertinya nggak lebih dari setengah jam. Ibuku nggak berpesan apa-apa, cuma menanyakan bagaimana kabarku. Lalu aku bilang kalau aku mau pindah kos. Sudah itu saja, dan aku nggak ada ekspresi apa-apa. Lalu siapa nyana tiga hari setelah ulang tahunku beliau sudah tiada. Aku merasa menjadi orang paling egois di dunia!

Nah di acara seminar ini yang menarik dari sesi “Sepasang Bidadari” adalah ada semacam renungan dan doa yang menyadarkan sekaligus mengingatkan kita pada orang tua selama 15 menit sebelum istirahat sholat Ashar. Semua peserta disuruh untuk rileks dan memejamkan mata, lalu mulalilah terdengar iringan musik syahdu dan suara seperti announcer dengan kalimat-kalimat yang men-trenyuh-kan hati. Karena terlalu rileks dan badanku memang sudah capek sedari lembur maka aku pun tertidur. Dan ketika terbangun terdengarlah isak tangis dari seluruh peserta. Cowok aja nangis, apalagi cewek! Pokoknya semua cewek (dan ibu-ibu) nggak ada yang nggak megang tisue. Suara dari announcer semakin lama terdengar seperti suara orang yang berpuisi sambil nangis. Sehingga menyebabkan suara isak tangis dari peserta semakin ramai. Sementara aku kembali memejamkan mataku lagi sambil berkata dalam hati “Keterlaluan! Bisa-bisanya ketiduran??!!” Strategi ini memang benar-benar sangat luar biasa untuk membuat orang nangis.

Saat semuanya disuruh membuka mata, maka Bung Ippho berkata “Bagaimana rasanya? Apakah Anda merasa lega?” Semua peserta hanya bisa diam saja sambil tersenyum menyeka air mata. Wajahnya terlihat lega semua setelah mengeluarkan air mata. Orang-orang yang berada di sekitarku terlihat agak sedikit kaget melihatku yang tidak menangis sendiri. Mungkin dalam hatinya bilang “Orang ini nggak punya perasaan apa ya?” Bukan! Bukannya aku nggak punya perasaan, aku juga pingin nangis tauk! Ini gara-gara ketiduran!

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: