i’tikaf di masjid kampus

Ahad, malam 21 Ramadhan

Tidur pukul sembilan, bangun jam dua pagi

Menyalakan kompor listrik yang sudah terisi air untuk bikin indomie

Ditambah satu bungkusan nasi kucing sama gorengan yang kubeli setelah berbuka

Lumayan lah buat sahur, minumnya coklat milo campur kopi, biar gak gampang tidur

Habis itu sikat gigi, ambil wudlu dan bersiap untuk pergi i’tikaf

 

Pukul tiga kurang seperempat,

sepertinya pagi ini tidak terlalu dingin

Hp-ku kutinggalkan, tapi bawa jam tangan agar tahu kalau sudah syuruq

Katanya kalau habis sholat shubuh dan setelah itu tak beranjak dari tempat duduk

sampai terbit matahari, lalu berdoa, pasti dikabulkan

 

Aku juga bawa sajadah,

soalnya dulu aku pernah gemetaran karena dinginnya keramik masjid kampus

Dingin? berarti pas malam ganjil itu bukan malam Lailatul Qodar?

Kan kalau malam LQ itu katanya hawanya nggak dingin nggak panas?

Apa aku nggak bawa sajadah saja ya?

Biar bisa tahu, kalau keramiknya nggak dingin, berarti dapet tuh LQ

 

Eh, bukankah dulu pernah merasakan keramiknya nggak dingin?

Awalnya dingin, namun karena nggak pindah-pindah duduknya, lama-lama jadi hangat, hehe..

Ah, nggak usah mikirin itu, yang penting niatnya i’tikaf,

masalah berburu LQ itu tergantung kegigihan kita

 

Sampai di masjid kampus pukul tiga lebih dikit

Tuh, banyak yang bawa tikar untuk tidur

Sepertinya baru Ramadhan ini aku melihat pemandangan seperti ini

Dulu nggak ada yang bawa tikar (kalau tidak salah)

 

Aku jadi teringat waktu i’tikaf  jaman kuliah dulu

Tapi nggak pas bulan Ramadhan

Jam tiga keluar dari kos pake sepeda polygon lama

Sampai di masjid kampus suasana gelap gulita

Aku berusaha untuk mencari sorotan cahaya lampu dari pojok masjid

untuk mengkhatamkan Al-Qur’an kecil yang kubawa di saku baju

Berusaha membaca setiap ayat-ayat yang tercetak sangat kecil

Hingga akhirnya lampu dinyalakan, pertanda akan masuk shubuh

Habis sholat shubuh lalu mendengarkan ceramah,

kemudian salam-salaman diantara jama’ah

Aku ingat ada seorang berjanggut dengan dahi bekas sujud yang tebal

datang tidak hanya salaman, tapi memeluk dan menciumku

Kalau di Arab hal seperti itu adalah sebuah penghormatan

tapi kalau di negara kita yang seperti itu adalah maho, hahaha…

 

Sepertinya kultum shubuh pagi itu terlalu lama

Kayaknya setengah jam lebih deh

Setelah selesai ceramah, aku mencoba untuk menyelesaikan 1 juz lebih

sambil menunggu syuruq, alhamdulillah nggak ngantuk

tapi kebelet pipis! Gara-gara kopi paling nih…

Wah, kalau kutinggal pipis berarti aku beranjak dari tempat dudukku dong?

Untung bawa sajadah, kalau alas keramik bisa tambah kebelet nih

Ayo 10 menit lagi! Kutunggu sambil berzikir,

 

Akhirnya tiba juga waktu syuruq! Saatnya berdoa dengan khusuk

Habis berdoa langsung ke belakang

Pipis dengan lega, ambil wudlu, sholat dhuha, lalu pulang

Wah pagi ini rasanya nyaman sekali

 

Senin, 22 Ramadhan, pukul tiga kurang sepuluh pagi

Keluar nyari makan sahur di warung

Brrr… dingin sekali pagi ini

Jangan-jangan kemarin adalah malam LQ?

 

Jangan girang dulu, bisa saja malam 23, 25, 27, atau 29

Wah berarti nanti malam i’tikaf lagi di masjid kampus

Ah, tapi sore ini ada revisi, iklan untuk Idul Fitri

ditambah ada yang lain lagi, harus lembur nih

Niat mencari Lailatul Qodar dadi bubar

 

Duh, piye iki?

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: