parsial

Ahh… habis libur lebaran. Masuk kantor lagi, mulai ngeblog lagi. Meskipun sekarang aku bekerja di sebuah perusahaan advertising dan mengaplikasikan beberapa teori dan praktek dari kuliah, tapi entah kenapa aku masih merasa menjadi orang yang berkhianat terhadap apa yang kupilih dan kujalani ketika aku di SMA. Aku dulunya adalah anak exact, dan ketika lulus SMA, aku masuk jurusan komunikasi alias non exact. Yah, meskipun aku sangat menikmati dunia yang tak selalu “pasti” dan kadang tak bisa dihitung dan ditangkap logika ini, tapi tetap saja aku merasa berkhianat. Soalnya waktu SMA aku mati-matian ikut banyak les dan latihan soal.

Aku kadang juga heran, banyak temanku yang dulunya mati-matian belajar memecahkan soal-soal dengan rumus-rumus yang membuat rambut jadi keriting, tapi tidak pernah sekalipun mengaplikasikannya saat terjun di dunia kerja. Aku sering bertanya “Apakah kamu memakai semua yang diajarkan waktu kuliah dulu?” Dan jawabannya seringkali; tak satupun “terpakai”. Setidaknya sekarang aku konsisten dan masih tetap istiqomah di advertising, jurusanku waktu kuliah di komunikasi. Hey, meskipun aku mantan anak exact, tapi aku pernah mengombinasikan teori exact ke dalam Strategic Planning, you know? Sepertinya inilah jalan yang ditunjukkan Sang Pencipta untukku. This is my way..

Anehnya, yang menjadi masalah dari mantan anak exact yang dulunya hanya percaya pada yang “pasti-pasti” saja ini adalah; kerap bermimpi dihadapkan pada sebuah tes ujian exact. Dan di mimpi itu terus terang aku panik, karena aku sudah hampir lupa semua pelajaran exact yang waktu SMA dulu aku tak bisa terlepas darinya. Kadang di mimpi itu aku disuguhi sebuah tes persamaan linier, trigonometri, alogaritma, matriks, fisika, reaksi kimia, dll. Dan waktu lebaran di Jepara kemarin, entah bagaimana tiba-tiba muncul persamaan diferensial parsial di mimpiku.

Setelah bangun, yang aku pikirkan bukanlah bagaimana persamaan matematika yang rumit itu, melainkan kata parsial. Dan tiba-tiba saja aku langsung teringat dengan kartun strip yang pernah aku bikin untuk mading saat aku kelas 2 SMA (suatu saat nanti akan kuceritakan di blog ini Insy’Alloh kalau sempat). Hmm.. sepertinya aku pernah menyimpannya dan menyuruh Masku untuk merawat kumpulan kartun yang kubuat waktu SMA itu. Aku tanyakan ke Masku katanya sekarang kondisinya ada yang sudah berjamur dan dimakan rayap. Kumpulan kartun itu tersimpan di kamar pembantu bersama dengan mainan anak Masku yang sudah rusak. Akhirnya ketemu bagian kartun strip yang berhubungan dengan parsial.

Aduh gimana yah nyeritainnya..?

Oke begini… Kalau melihat Persamaan Diferensial Parsial, maka kata yang diulang adalah kata sial. Dan kalau melihat kata Parsial, maka bisa kita katakan artinya ‘Par’ yang sial. Dan aku langsung teringat dengan orang yang dipanggil ‘Par’ yang (mungkin) dalam kehidupannya memang penuh dengan sial. Beliau adalah guru geografiku paling senior waktu aku SMA dulu. Nama lengkapnya adalah Adriana Supartijah, dan kalau nggak salah beliau nggak menikah, karena beliau adalah seorang suster atau biarawati gitu pokoknya. Sial, karena sering dijadikan bahan olok-olok muridnya. Apalagi kalau soal ngerjain dan macar-macarin temen, ‘Nyi Par’ selalu menjadi bahan. ”Eh kamu mau nggak tak kenalin cewek cakep? Namanya Ana” “Wah kayaknya lumayan tuh. Ana anak mana?” “Itu-tuh AdriANA Supartijah…” Semua langsung ketawa. Atau kalau enggak ditambahin “Lumayan loh masih perawan”. Gelak tawa bertambah riuh. Begitulah kira-kira kelakaran yang sangat keterlaluan dari murid-murid.

Bagi alumni SMA 1 Jepara angkatan akhir 80-an sampai tahun 2000, pasti tak asing dengan panggilan ‘Nyi Par’. Dipanggil ‘Nyi’ karena memang beliau sudah sangat tua sekali. Dan wajarnya manusia, semakin tua kelakuannya akan kembali seperti pada awal alias seperti anak kecil. Saat mengajar, beliau tak tampak seperti seorang pengajar, tetapi seperti seorang nenek yang memberi nasehat kepada anak kecil yang sebenarnya sudah dewasa dan tidak perlu dikasih tahu. Tak heran banyak murid-murid yang jengkel dan berani memanggil ‘Nyi Par’. Beliau sepertinya sudah terbiasa tahan dengan panggilan itu dan tak mungkin membalas karena melihat kondisinya. Benar-benar orang yang sabar.

Lalu apa hubungannya dengan komik strip di mading? Begini ceritanya… Saat itu aku kelas 2 SMA dan aktif di OSIS sebagai ketua Sie. Mading. Aku ini orangnya suka nggak tahan kalau melihat sesuatu yang wajar-wajar saja, terutama cover LKS (Lembar Kegiatan Siswa) Geografi yang bergambar gunung Merapi dan tak pernah ganti-ganti. Suatu hari aku iseng ngasih balon kata di asap yang keluar dari gunung Merapi seolah-olah ada orang di balik asap itu dan berkata “Wah kebul (asap)”. Nah mulailah LKS dikerjakan lalu dikumpulkan untuk ditandatangani. Setelah ditandatangani, maka LKS tersebut dikembalikan ke murid sambil dipanggil satu persatu namanya oleh Nyi Par. Wah pokoknya kayak anak SD deh.

Saat giliranku, kebetulan Nyi Par melihat balon kata itu. Maka balon kata yang sebenarnya sangat kecil banget itu akhirnya menjadi masalah yang besar. Busyet! Tua-tua matanya jeli juga. Maka akupun maju dan berdiri lama dinasehati kayak anak kecil dan dikatain macem-macem. Aku disuruh menghilangkan balon kata itu, tapi tidak boleh ditipe-x bagaimanapun caranya. Kalo itu mah gampang, tinggal nyari LKS lama Geografi, dipotong covernya, ditempel, beres. Yang menjadi masalah adalah saat itu aku menjadi bahan tertawaan murid-murid, dan mulai mendapatkan panggilan baru yaitu “kebul”. Yaelah, panggilanku di sekolah dan di luar aja sudah banyak dan macam-macam, ini masih ditambah panggilan baru lagi. Lagian kebul itu kalau di Jawa image-nya mengarah ke asap yang baunya nggak enak alias kentut.

Karena jengkel maka saat itu aku bikin kartun strip untuk Nyi Par. Ceritanya aku ambil dari majalah HumOr. Disitu aku membuat twist tentang seorang murid yang jatuh cinta pada guru geografi yang sangat cantik dan ingin mencari perhatian. Di akhir strip ternyata guru geografi tersebut tak lain adalah Nyi Par. Begitu semangatnya aku ingin balas dendam, sampai-sampai saat aku bikin wajah karikaturnya tak ada satupun yang tak mengenali kalau itu adalah wajah Nyi Par. Semua murid terasa terwakili dengan joke ejekan ke Nyi Par itu. Aku pun puas, apalagi di komik strip itu aku buat tubuh Nyi Par sangat seksi. Cerita kontras yang membuat murid-murid tertawa.

Lalu apa maksudnya aku ceritakan semua ini? Eng.. gini, aku tiba-tiba teringat Nyi Par pas lebaran. Artinya di hari yang penuh maaf itu sebenarnya aku diingatkan oleh Allah bahwa sebenarnya aku masih punya banyak kesalahan. Meskipun kartun strip tersebut akhirnya baik-baik saja, tidak berbuntut pada kasus yang panjang, hanya joke untuk menghibur murid-murid penikmat mading, tapi aku benar-benar ingin meminta maaf kepada Bu Par (wah panggilannya jadi berubah nih) Aku tak tahu apakah Bu Par masih hidup. Mencari di facebook pun mungkin nggak bakalan ketemu karena nggak mungkin beliau bikin akun (apalagi twitter). Sudah bukan jamannya, sebab dulu beliau adalah guru yang paling senior. Dan sekarang sudah ada beberapa dari guruku di SMA dipanggil Yang Maha Kuasa.

Dan melalui blog ini aku ingin minta maaf kepada Bu Par secara… (secara apa ya?) Aku nggak tahu apakah aku yang pertama menyatakan permintaan maaf kepada Bu Par, tapi yang jelas aku adalah salah satu dari banyak murid yang pernah berbuat jahat pada Bu Par. Ini beneran dari lubuk hati yang terdalam, lebih dalam daripada saat bersalaman langsung dengan Bu Par pada acara Syawalan di SMA dulu. Meskipun sepele, aku akan selalu ingat ajarannya untuk selalu mencantumkan nomor saat jawabannya ada banyak, daripada dengan point atau tanda strip. Walau bagaimanapun juga Bu Par meninggalkan kenangan yang tak terlupakan di SMA 1 Jepara.

Bagi alumni SMA 1 yang ingin meminta maaf secara… (eh, beneran ini secara apa ya?) bisa melalui komen di blog ini. Selamat Idul Fitri, semoga kita termasuk orang-orang yang mau memaafkan dan meraih kemenangan.

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: