gojek

Aku punya seorang teman asli orang Jawa Timur dan banyak tinggal di Surabaya. Orangnya sangat kreatif, mandiri, aktif, kritis, cerdas, enak diajak bergaul, dan suka gojek (guyon, bercanda) Temannya pun sangat banyak, sehingga dia sering ajak teman-temannya untuk mengerjakan beberapa project. Kadang aku sering ngobrol dengannya tentang iklan, logo, dan segala hal tentang kreativitas atau bahkan tentang entrepreneurship. Tapi yang paling aku suka adalah, dia senang gojek dan bisa diajak gojek. Gojek boso jowonan alias gojek kere istilah lainnya.

Meski begitu, ternyata tak selamanya dia bisa diajak gojek. Karakter Jawa Timur-nya yang terkenal keras dan kasar untuk hal-hal tertentu bisa langsung keluar. Begitulah orang Jawa Timur, kalau serius ya serius, kalau nggak ya enggak. Suatu hari saat ngobrol-ngobrol bareng di rumahnya, ada satu teman yang menyalakan rokok. Lalu dia bilang “Eh tolong, aku tahu ini sedang santai. Tapi bisa nggak kalau ngerokok di luar” Mendengar hal tersebut, orang yang merokok ini malah meniupkan asap rokok ke wajahnya lalu ketawa. Yang terjadi adalah temenku tersebut langsung memukul beneran orang yang ngerokok tersebut. Suasana yang semula gayeng berubah menjadi hening dan serius.

“Dikandani nek ngrokok nang njaba! Gojek yo gojek, malah kebule ditatapke nang raiku! Asu tenan kowe!” (dibilangin kalau ngerokok di luar! Bercanda ya bercanda, asapnya malah ditiupkan ke wajahku! Anjing lu!) Semua pada tidak menyangka, karena selama ini dia adalah orang yang suka bercanda dan bisa diajak bercanda. Menurut mereka ini hanyalah masalah rokok dan hanya bercanda. Tapi baginya yang seperti itu namanya bukan bercanda.

Di kantor, di departemen kreatif, cuman aku yang nggak ngerokok. Ya ada sih satu copywriter cewek yang nggak ngrokok, tapi dia awalnya perokok berat, dan baru bisa berhenti merokok gara-gara punya momongan. Aku sendiri sebenarnya juga sangat benci dengan rokok. Apalagi kalau yang merokok tak bisa menghormati orang yang bukan perokok di sekitarnya. Kalau melihatnya seperti pengin mukulin kayak temenku tadi, hehe…

Namun masalah sebenarnya adalah, benarkah tindakan yang dilakukan oleh teman Surabaya-ku tadi? Menurutku sih benar (lhawong sudah dibilangin tapi malah ngeledek), tapi karakterku bukan seperti itu. Aku sebenarnya juga pengin mukulin,­ tapi nggak langsung mukulin, melainkan lebih suka melampiaskannya dengan sesuatu yang lain. Dan aku melampiaskannya dengan membuat iklanTV. Aku tahu, sekeren apapun iklan anti rokok, tetap saja tak bisa membuat orang yang merokok berhenti merokok. Tapi setidaknya TV PSA ini bisa memberi informasi, peringatan, yang bisa menghibur (entertain-gojek). Dan tentunya pelampiasan🙂 Toh memang disetiap bulan Mei aku berusaha untuk bikin iklan anti rokok untuk Hari Anti Tembakau Sedunia yang jatuh pada akhir bulan Mei (lihat postingan bulan Mei 2010)

Idenya sebenarnya berasal dari isu lama tentang orang-orang yang sok peduli dengan lingkungan namun tak sadar kalau mereka sendirilah penyumbang pencemaran lingkungan. Mereka para aktivis lingkungan berdemo dengan spanduk-spanduk sambil memegang rokok. Padahal rokok pencemar udara 10 kali lebih dahsyat daripada mesin diesel dan merupakan penyumbang bocornya lapisan ozon. Ide dari artikel tersebut sebenarnya sudah sangat kuat, namun aku tak mau mencomotnya mentah-mentah. Aku berusaha untuk mengemasnya sebagai sebuah gojekan ala Thailand yang sebenarnya tak jauh-jauh amat dengan gojekan ala Srimulatan. Dan ide besarnya kudapat dari temenku Surabaya tadi🙂

Dengan mendayagunakan anak magang dari UPN (Thank’s to Diaz and team), proses pengerjaan iklan ini sangat panjang dan penuh dengan revisi. Harusnya iklan ini mulai proses produksi hari Sabtu tanggal 28 Mei 2011. Berhubung ada acara Media Strategic Planning Workshop yang diadakan P3I dan Fortune pada tanggal 27-28 Mei, maka produksi dilaksanakan justru setelah Hari Anti Tembakau 31 Mei. Akhirnya iklan ini rencana akan ditayangkan pada tanggal 5 Juni yang bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Masih relevan, karena ada isu tentang lingkungan di content iklannya.

Sambutan awal cukup baik, semua suka dan terhibur dengan iklan ini, namun ternyata durasinya terlalu panjang. Iklan ini memang rencananya juga dimasukkan entry Pinasthika, sehingga durasinya haruslah maksimal 60 detik. Maka mulalilah diakukan take ulang dan perombakan skrip-nya. Halangannya pun semakin banyak dari kabel sound yang putus, dan ada saudara dari salah satu kru yang meninggal, sehingga take harus dilakukan di hari berikutnya dan sangat mepet dengan deadline batas tanggal penayangan. Tapi alhamdulillah, hasilnya lebih baik dan sesuai target. Beginilah kira-kira iklannya (tayang dua kali di RBTV)

Sebenarnya dari beberapa karya yang dimasukkan Petakumpet di kategori Bawana Pinasthika, yang paling kuandalkan adalah iklan ini. Namun ternyata masuk finais pun enggak. Aku merasa seperti de javu dengan kejadian dua tahun yang lalu dimana iklan anti rokok yang pernah aku bikin tak ada di list semua entry (lihat postingan terulang kembali, https://husnimuarif.wordpress.com/2009/08/10/terulang-kembali-ada-apa-dengan-quit-tobacco/) Pikirku mungkin jurinya nggak paham saat melihat iklan TV yang nggak ada subtittle-nya. Aku penasaran, karena waktu pengiriman aku sertakan dua file, yang satu hi-res namun nggak ada subtittle-nya, dan satunya low-res dengan subtittle. Mungkin jurinya nonton yang nggak ada subtittle-nya, pikirku. Tapi saat kulihat pas Pinasthika, entry yang masuk finalis kebanyakan kok durasinya lebih dari 60 detik yah? Ealah…

Setelah Pinasthika selesai, aku memasukkan iklan ini ke Citra Pariwara. Sebenarnya dari bos tidak setuju jika iklan ini dimasukkan ke CP, karena sudah gagal di Pinasthika. Namun aku nekat memasukkannya ke entry CP tanpa sepengetahuan bos dengan uangku sendiri tapi atas nama Petakumpet. Maklum kalau entry atas nama perorangan biayanya Rp. 1.500.000 sedangkan kalau anggota P3I biayanya Rp. 700.000. Aku berani menanggungnya. Ini bukan tentang ego, ini tentang tanggung jawab seseorang Director untuk memperjuangkan karya yang telah dibuatnya. Aku tak mau mengecewakan hasil kerja dan semangat yang luar biasa dari kru anak-anak UPN (Cikal). Lagian Petakumpet tak memasukkan satu pun entry di CP.

Beberapa minggu kemudian, aku mendapatkan email dari bos yang katanya dari panitia Citra Pariwara. Awalnya kupikir undangan untuk rangkaian acara CP karena mungkin karyanya masuk finalis. Tapi ternyata surat teguran dari Ridwan Handoyo, Ketua Badan Pengawas Periklanan, yang isinya memberitahukan bahwa entry iklan TV yang dikirimkan melanggar etika sehingga didiskualifikasi dan himbauan agar tidak lagi menayangkan iklan TV tersebut. Pelanggaran Etika pariwara Indonesia Bab III.A No. 1.10 (Kekerasan) yang berbunyi: “Iklan tidak boleh – langsung maupun tidak langsung – menampilkan adegan kekerasan yang merangsang atau memberi kesan membenarkan terjadinya tindakan kekerasan”. Oalah, kenapa ngasih tahunya nggak pas Pinasthika? biar sebelum-sebelumnya aku nggak masukin ke CP. Sebab dulu Ridwan Handoyo pernah melayangkan surat yang sama ke Petakumpet karena salah satu karya ada yang melanggar etika pas Pinasthika 2007.

Namun dari kejadian tersebut justru aku merasa lega dan nggak menyesal sama sekali atas apa yang aku lakukan. Paling tidak rasa penasaran terhadap karyaku terjawab sudah. Lebih baik aku berkorban untuk mendapatkan pelajaran yang berharga daripada tidak mengirimkan entry tersebut dan memendam rasa penasaran yang mungkin akan terus mengusikku. Dan aku yakin pengorbanan ini suatu saat akan diganti oleh Allah kalau kita ikhlas.

Aku juga tak habis pikir, ternyata yang namanya gojek itu relatif dan harus tahu penempatannya. Sebenarnya iklan PSA Anti Tembakau ini kan hanya gojek kere. Adegan mukulnya kan nggak serius, hanya permainan make up, dan pemerannya pun sehat-sehat saja dan tak ada yang dilarikan ke rumah sakit. Yang nonton iklan ini juga nggak ada yang protes. Ini kan mirip-mirip dengan iklan Thailand di bawah ini (referensinya memang dari iklan ini)

Tapi jujur saya sangat berterimakasih atas kepedulian Pak Ridwan yang mau berjuang menegakkan Etika Periklanan agar iklan-iklan yang ada di Indonesia ini bisa lebih berkualitas dalam memberi informasi yang benar kepada konsumen. Hanya saja mungkin Pak Ridwan nggak tahu yang namanya gojek kere. Sebab saya yakin iklan di bawah ini bukanlah gojek dan sangat tidak lucu. Saya tiap hari Minggu kalau nonton kartun selalu melihat iklan ini, dan berpikir: gawat nih, bisa-bisa akan banyak anak-anak yang habis makan permen lalu bunuh diri nyungsep ke jurang!

Tags: , , , , , ,

4 Responses to “gojek”

  1. idr Says:

    *ngekek*
    mungkin di BPP banyak yang ngrokok takut diantemi . . .

  2. Devina Says:

    Iklan layanan masyarakat rokok boleh menampilkan orang yang sedang merokok ya? Kalau menampilkan anak yang sedang merokok bagaimana?

    • husnimuarif Says:

      Menurut Etika Periklanan Indonesia sepertinya nggak boleh. Apalagi kalo anak-anak. Pemberitaan yang menayangkan anak kecil yg merokok pun harus disensor.
      Sebenarnya ogut nekat bikin iklan ini. Dan terus terang, para kru yg bikin iklan ini para perokok semua🙂 Tapi paling tidak mereka mendapatkan informasi akan bahaya asap rokok meskipun masih belum bisa membuat efek jera. Ya paling enggak udah tersindir dikit lah…

      Pokoknya susah deh bikin iklan anti merokok yg bisa membuat orang berhenti merokok! Apalagi kalo sudah ke anak2. Mungkin sebaiknya dikau kunjungi web ini; http://lipsus.kompas.com/suaraanakindonesia

      terimakasih

  3. Devina Says:

    terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: