“mamah”

Entah kenapa setiap kamar sebelah kos ganti penghuni, lagi-lagi penghuninya adalah pasangan suami istri yang baru saja memiliki bayi. Karena dua kamar yang saling bersebelahan ventilasinya digabung, maka tak heran aku sering mendengar percakapan mereka. Kalau dulu pasangan suami-istri yang sama-sama suka bola. Jadi tiap hari yang didiskusiin dan ditonton pasti seputar bola, dan anaknya yang belum genap satu tahun sepertinya menjadi pendengar yang baik, hehe…

Yang menjadi masalah adalah tangisannya malam-malam. Tak ada apa-apa nangis sendiri dan nggak berhenti-berhenti. Kalau yang dulu bapaknya sampai menaburkan garam disekitar depan halaman kamarnya. Katanya anaknya menangis karena melihat makhluk gaib, entah bener atau nggak. Dan anehnya anak ini suka banget dengan lagu Tak Ada Yang Abadi-nya Peterpan, hingga terus diputer berulang-ulang orang tuanya.

Kalau yang sekarang lebih parah lagi. Selain ngompol terus secara tak terduga, sehingga membuat ibunya jengkel (mungkin ibu yang mau ngirit, nggak beli popok) nangisnya nggak cuma malam, tapi kapanpun. Penyebabnya juga nggak diketahui, tahu-tahu nangis sendiri. Ibunya sampai heran sampai bilang “Wah sajen-e entek” (Wah, sesajinya habis) Dan nangisnya tuh berjeda, berhenti sebentar lalu lama-lama kenceng. Sehingga kalau sedang nangis nggak berhenti-berhenti, biasanya aku muter lagu River of Dreams-nya Billy Joel. Berbagai lagu sudah aku coba, tapi lagu inilah yang paling pas mengiringi tangisannya, hehe…

Ada lagi yang unik, anak ini bisa berkata “ayah” kalau mau memanggil ayahnya atau waktu ayahnya pulang kerja. Namun kalau disuruh memanggil “ibu” dia manggilnya “mamah” Padahal ibunya terus-menerus untuk mengajari mengucapkan “ibu” tapi nggak pernah berhasil. Anehnya lagi, nggak ada yang ngajarin anak itu mengucapkan kata “mamah” Ibunya sampai heran “Yang ngajarin kamu ‘mamah’ siapa?” Sebab sehari-hari anak itu bersama ibunya.

Karena jengkel dan nggak berhasil-berhasil mengajarkan mengucap kata “ibu”, setiap anak itu memanggil “mamah” lalu ibunya bilang “Mamah? Mamah gedhang?” (Kunyah? Kunyah pisang?)

Wah bisa untuk bahan #Jawavs Jkt nih, hehe…

Tapi btw, tadi pagi kebetulan aku juga nemu kata “mamah” di slebor belakang sepeda motor seseorang di garasi Petakumpet.

 

Kata-kata di bawahnya juga unik, mungkin terlalu fasih🙂

 

 

Tags: , , ,

One Response to ““mamah””

  1. bimalizer Says:

    wakakaka.. motore den Ayumaretaningtyas yo mas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: