just hujan

Hrrr… malam Jum’at ini aku memaksakan diri untuk menikmati basahan hujan dari sepanjang Jalan Imogiri menuju Godean. Tidak langsung pulang, namun mampir ke kantor untuk ngeblog sebentar. Karena sepertinya hujan malam ini sangat pas sekali. Hujan mulai serius turun dari sehabis Isya’ tadi ketika aku mulai keluar untuk berburu mainan yang rencananya mau dibuat animasi. Bersama Gepeng (ilustrator Petakumpet) melawan sambutan awal hujan yang kelihatan sangat bersemangat sekali turunnya. Setelah itu menikmati panas dan pedasnya sop merah di pertigaan Jalan Imogiri. Pas sekali momennya. Tapi sebenarnya yang mau kuceritakan tidak hanya sekedar hujan, namun juga jas hujan.

Sore tadi tiba-tiba aku dikejutkan oleh kehadiran Pak Mahfud, dosen komunikasi UIN yang juga teman waktu peserta CWMC. Beliau datang sambil meminta maaf mengembalikan jas hujan yang kupinjamkan kepadanya 2 minggu yang lalu. Karena berbagai kesibukan dan halangan (pokoknya ceritanya panjang deh), akhirnya jas hujan tersebut baru bisa dikembalikan hari ini. Loh, lalu apanya yang spesial?

Aku ingat betul bagaimana awal mula aku meminjamkan jas hujan itu kepada Pak Mahfud. Mumpung besoknya weekend, malam itu kalau tidak salah aku sudah berniat untuk ngeblog. Hari itu tanggal 16 Desember aku sedang mengetik postingan “i’m not fear” selepas Isya’. Kebetulan acara Lecturer for Lecturer yang diadakan selama tiga hari, saat itu diselenggarakan di kantor Petakumpet. Acaranya selesainya sampai malam. Dan kebetulan pas acara selesai, hujan turun sangat deras.

Saat sedang asyik-asyiknya menulis postingan, tiba-tiba Mas Andhika (Syafa’at) mau pinjam jas hujan untuk mengambil mobilnya. Kebetulan jarak parkir mobilnya di depan kantor agak jauh, sehingga parkirnya mau didekatkan ke kantor biar gampang dan tidak harus basah-basahan menuju mobilnya. Aku langsung menuju ke garasi untuk mengambil jas hujanku yang ada di motor dan memberikan kepada Mas Andhika. Ternyata Pak Mahfud ada di garasi, sedang sedang membungkus tasnya dengan plastik.

“Loh Pak Mahfud belum pulang? Pake mobil kan?”

 “Nggak, ini kebetulan pas bawa motor. Nggak bawa mantol (jas hujan), soalnya tadi siang yakin banget kalau nggak hujan. Eh ternyata malamnya deres banget..”

Sepertinya Pak Mahfud pengin nekat hujan-hujanan malam itu. Kebetulan pas juga dengan kedatangan Mas Andhika yang sudah memarkirkan mobilnya dan kembali ke garasi mengembalikan jas hujan. Dan tanpa berpikir panjang aku langsung menawarkan jas hujanku ke pak Mahfud.

“Ya udah, Pak Mahfud pake mantolku saja”

“Lha sampeyan gimana?”

“Ah, gampang besok kan weekend. Kalau malam ini masih hujan, aku bisa nginep di kantor”

“Mbalikinnya gimana?”

“Ah gampang, bisa kapan saja”

“Ya udah, besok kan masih ada LFL, ntar tak titipin Mas Arief aja yah?”

“Tenang aja, daripada nggak pake mantol, besok bisa nggak ikutan LFL”

“Makasih ya, maunya sih mau nostalgia kayak jaman kuliahan dulu, hujan-hujanan pake motor, tas dibungkus plastik, hehe… Wah kalau nggak ada Mas Husni gimana nih aku”

Waduh, kepalaku langsung rasanya tambah gede.

Malam itu akhirnya aku melanjutkan memosting “i’m not fear”. Soalnya udah direncanain nih, harusnya kemarin-kemarin diposting habis syuting, masak mau dipending lagi? Setelah selesai memosting di blog, tiba-tiba saja hujan reda. Wah asyik, bisa tidur di rumah nih sambil bikin Sekoteng. Akhirnya malam itu aku pulang. Dan Sabtu-Minggu sepertinya nggak hujan. Seninnya aku ke kantor, sepertinya jas hujannya sudah dititipin ke penjaga malam atau Pak Arip. Eh, ternyata nggak ada titipan jas hujan untukku.

Hari berikutnya sepertinya mau turun hujan. Untuk jaga-jaga akhirnya aku pinjam jas hujan ke Ibu Kos, tapi ternyata malah nggak hujan. Saat aku kembalikan jas hujannya, Ibu Kos bilang “Walah, nggak usah terburu-buru balikinnya, di sini ada tiga kok”. Hari berikutnya jas hujanku belum ada kabarnya juga, lalu aku pinjam lagi jas hujan Ibu Kos. Namun kali ini kubawa terus aku jepitkan di jepitan sepeda motor. Ajaibnya, selama aku pinjam jas hujan, aku tak pernah satu kali pun memakainya. Karena kalau kebetulan nggak hujan, ya hujan baru turun saat aku sudah di rumah atau kantor. Wah sepertinya jas hujan ini semacam alat pawang hujan, hehe…

Seminggu sudah berlalu, namun jas hujanku belum ada kabarnya. Dan kebetulan hari Sabtu aku ada di Mirota Kampus untuk beli kertas kado buat mengado temanku yang baru punya anak. Aku bawa uang banyak saat itu, namun entah kenapa aku merasa tertahan saat berencana sekalian beli jas hujan. Dan kemarin Minggu pas hujan, Ibu Kos mengambil jas hujan itu “Mas, mantolnya aku ambil ya, mau aku pake”. Otomatis saat itu aku merasa seperti kehilangan alat pawang hujan. Aku hanya bisa pasrah, kalau pergi aku nggak bisa apa-apa selain berteduh bila hujan datang. Ajaibnya, hujan selalu turun saat aku sudah sampai di tujuan, dan begitu aku mau keluar, hujan reda. Kejadian selalu bisa terhindar dari guyuran hujan itu bertahan hingga 2 minggu, tepatnya pas kemarin sore Pak Mahfud mengembalikan jas hujan ke aku. Hebat banget yah? Meski cuman hujan, tapi ternyata kalau kita ikhlas dan yakin untuk berbuat baik, keajaiban Insy’Allah akan datang.

Dan tadi malam, Gepeng mengajakku untuk prepare alat-alat buat animasi. Baru keluar sebentar tiba-tiba, bresshh… Hujan turun dengan sangat deras. Dan jas hujanku sudah kembali ada di jepitan motor. Aku lalu memakainya dan tersenyum sambil berkata dalam hati “Pas banget, Ya Allah!”

*Tulisan ini diposting pada malam Jum’at jam 23.22. Karena tiba-tiba ada yang nggak bisa tidur dan ngajak ngobrol sampai 2 jam lebih, akhirnya postingan ini dilanjutkan Jum’at paginya. Harap maklum🙂

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: