mie instant

Sebenarnya, selain TELAP12, aku punya banyak cerita tentang mie instant. Cerita mie instant di sebuah keluarga pas-pasan. Mungkin bukan pas-pasan, namun penuh dengan keterbatasan. Dan aku beruntung tumbuh dalam keluarga itu. Aku tidak menyebutnya sebagai keluarga yang kekurangan, tapi keluarga yang sedang berjuang. Karena dengan serba keterbatasan itu maka akan ada banyak pelajaran tentang sebuah perjuangan dan pengorbanan menuju ke arah yang lebih baik. Ibuku yang mengajarinya. Dan yang diperlukan hanyalah keikhlasan. Dari keikhlasan itu maka kamu akan percaya bahwa yang namanya mukjizat itu masih ada meski di jaman sekarang.

Hidup dalam serba keterbatasan biasanya identik dengan hidup hemat. Dan di lingkungan keluargaku hal itu banyak membuat sebagian orang tercengang. Aku sendiri merasa hal itu biasa-biasa saja. Wajar, tak ada yang perlu dikagetkan. Tapi kadang aku merasa malu.

Aku ingat saat SD kelas 3 banyak teman-temanku tidak percaya saat jajan aku masih mengeluarkan kepingan dua puluh lima rupiah dari sakuku. Padahal saat itu uang Rp.25 buat pengamen pun dianggap merendahkan. Aku lapor pada ibuku dan akhirnya beliau menaikkan uang jajanku menjadi Rp.50 karena ada istirahat pertama dan istirahat kedua. Bersamaan dengan harga KRIP-KRIP, jajanan favoritku yang naik dari Rp.25 menjadi Rp.50. KRIP-KRIP adalah snack ringan yang packagingnya berwarna merah putih dengan gambar bocah berwarna hijau yang isinya berupa remukan mie kering dengan bumbu. Dulu aku heran ketika membaca komposisinya yang banyak banget dan bisa dibeli dengan harga Rp.25. Benda berharga seharga dua puluh lima rupiah pikirku. Dan aku tak sadar bahwa komposisi yang banyak banget itu adalah MSG dan sejenisnya.

Dibandingkan uang jajan, ibuku memang selalu mengutamakan anak-anaknya agar bisa sarapan dengan makanan yang bergizi. Setelah sholat subuh ibuku pasti langsung masak. Masakan sederhana, murah, hemat, tapi bergizi. Tempe goreng atau telor dadar dengan jangan kunci (sayur bening) sudah sangat cukup untuk memberikan tenaga sampai siang. Dan tiap hari menunya pasti selalu berbeda. Kadang sayur bobor (daun ketela), sayur asam, sayur lodeh, oseng kangkung, semur ikan dengan soun, dll. Kalau persediaan belanja habis, barulah bikin mie instant. Bukan sekedar mie instant, namun ditambahi sayuran seperti tomat, kol, daun seledri, atau kadang ditambahi wortel.

Suatu minggu siang aku pergi ke temanku untuk mengerjakan tugas kelompok membuat rangkain listrik seri. Ternyata dia habis bikin mie instant. Setelah menunggu dia habis memakannya, dia bilang “Ah kenyang, makan mie itu kalo nggak dua nggak kenyang” Rupanya itu adalah mie instant yang kedua. “Lalu aku bilang “Ah, kata siapa, keluargaku makan mie instant satu cukup” Temanku nggak percaya, “Keluargamu jumlahnya berapa?” “Empat!” “Satu mie instant buat berempat, cukup?” Dia lebih kaget lagi saat aku bilang dengan polos “Loh, itupun buat sarapan, makan siang, sampai makan malam..” “He?!!!”

Aku ceritakan kekagetan temanku itu ke ibuku, seolah aku protes dan nggak ikhlas. Aku merasa selama ini ibuku pandai memainkan kamuflase dengan sayuran dan panci sehingga mie instant yang cuma satu ketika diolah menjadi sangat banyak. Merasa keadaan tersebut seperti orang miskin, dengan tertawa kecil ibuku bilang “Ya sudah besok kalau masak mie, bikin dua” Hari berikutnya ketika aku selesai mandi dan melewati dapur, ibuku menunjukkan dua bungkus Sarimi rasa ayam warna merah “Nih, dua..” katanya sambil memasukkannya ke dalam panci air yang sudah mendidih. Aku sarapan dengan semangat, tapi siangnya mie tersebut tinggal sedikit dan sepertinya hanya menyisakan untuk satu orang, lalu sore-nya aku lihat panci tersebut sudah berada tempat pencucian. Untungnya, malamnya ternyata ayahku dapat kenduri. Aku heran, kalau 1 mie bisa untuk 4 orang dan bisa buat 3 kali, pagi-siang-malam, harusnya kalau 2 mie bisa lebih dari itu, tapi baru sampai siang buat 2 orang saja sudah habis? Atau mungkin mumpung masak mie 2, aku ambil porsi lebih banyak dari biasanya hingga akibatnya sampai siang mie tersebut sudah ludes? Tadi pagi aku ngambilnya memang banyak, tapi tidak banyak-banyak amat?

Jawabannya ada pada keikhlasan.

Ketika cuma masak 1 mie, dan ketika harus berbagi dengan yang lain, kalau kita ikhlas, mie tersebut bisa sampai untuk makan malam. Mungkin saja waktu itu ibu ikhlas dan mengambil mie lebih sedikit agar mie tersebut bisa bertahan sampai malam. Dan ketika aku tidak ikhlas, maka yang terjadi adalah selalu tidak puas dan lupa bersyukur atas nikmat yang ada. Apapun itu meskipun sedikit dan kita mau berbagi dengan ikhlas, maka balasannya adalah kenikmatan yang luar biasa. Saat ibu hanya memasak 1 mie instant untuk 4 orang untuk 3 kali makan, aku merasa cukup dan baik-baik saja (mungkin tidak bagi orang lain) Dan ketika disadarkan oleh temanku, jadinya aku tidak ikhlas dan selalu minta lebih. Orang yang tidak ikhlas itu akan selalu kekurangan! Aku bersyukur punya ibu yang secara tak sadar sudah mengajariku tentang keikhlasan.

Sampai sekarang pun aku masih tersenyum seolah tak percaya kalau mengingatnya. Bayangkan, satu mie instant buat 4 orang untuk makan pagi-siang-malam sama saja satu mie instant dibikin 12 porsi. Suatu hal yang tidak wajar. Ini seperti mukjizat ketika nabi yang bisa memberikan makanan sedikit tapi bisa dimakan sebanyak 800 orang pada Perang Khandaq. Aku yakin pada jaman sekarang masih ada mukjizat bagi orang-orang yang berjuang dengan ikhlas, baik itu bagi dirinya, terlebih-lebih bagi keluarganya. Sudah banyak aku dengar cerita dari orang-orang yang berjuang dengan ikhlas untuk keluarganya. Dengan keikhlasan mereka bisa langgeng.

Dan aku sendiri mendapatkan pelajaran tentang keikhlasan (salah satunya) dari mie instant, yang sekarang aku mendapatkan manfaatnya setelah bermetamorfosis menjadi TELAP12. Kadang saat aku pesan Mie Persis di TELAP12 aku memandanginya sebentar komposisi komplit mie itu dengan garnisnya sambil bergumam “Dulu kau buat makan tiga kali empat orang…”

Sambil tersenyum geleng-geleng aku habiskan Mie Persis itu kemudian berpikir lagi,

“Kok bisa ya?”

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: