DNA Menuju Kemenangan

Jum’at malam, tanggal 3 Agustus mungkin boleh dikatakan sebagai tanggal pertama kalinya aku memberikan tausiyah. Karena seumur-umur, yang namanya memberikan wejangan, petuah, atau, nasihat, lebih-lebih dalam hal agama adalah hal yang tidak (atau belum) aku kuasai. Toh, kalau dilihat-lihat juga nggak pantas kalau aku dipanggil ustadz, karena ilmunya masih cetek banget. Nggak pantes deh! Baju koko, atau baju muslim pun aku tak punya kecuali OMUS (Oblong Muslim-Dagadu) dan itupun hadiah dari THR tahun 2008. Mungkin salah satu yang pantas hanyalah namaku yang kedengeran agak islami;Husni, hehe…

Dus, ketika Mas Rizal (panitia tarawih di sarang desainer-petakumpet) memintaku untuk mengisi tausiyah, aku merasakan bahwa ini adalah tantangan sekaligus kesempatan untuk peningkatan di bulan Ramadhan. Dua Ramadhan yang lalu aku sudah bertugas menjadi imam sholat tarawih. Jadi, mengisi tausiyah di Ramadhan tahun ini, adalah suatu tahap peningkatan bagiku. Lalu dengan santainya dan tanpa mikir, aku langsung bilang oke pada Mas Rizal, padahal setelah itu kalau dipikir-pikir lagi dalam hatiku berkata modiyar kowe! Aku hanya berharap akan ada keajaiban datang pada orang yang nggak punya pengalaman dalam mengisi tausiyah sama sekali. Meskipun kelihatan belum ada kesiapan sama sekali, tapi sepertinya semuanya memang sudah disiapkan dengan sendirinya.

Beberapa hari sebelum Ramadhan, saat aku baru datang dari present ke klien perusahaan rokok di Malang untuk yang kedua kalinya, Mas Rizal sudah menanyaiku tentang judul tausiyah yang akan aku bawakan. Baru datang dari Malang, badan masih capek-capek, belum sempat istirahat, pikiran serasa disumpel dengan revisi, sudah ditanyain judul. Welah! Alasannya biar cepet karena mau segera diinfokan. Waduh, opo yo?

Dan pikiranku tiba-tiba teringat pada sebuah banner di web-nya kakek Jamil Azzaini. Nama bukunya DNA Sukses Mulia dengan gambar untaian DNA yang terbentuk dari bulatan-bulatan. Bentuk bulatannya bagiku tampak seperti susunan untaian tasbih. Dan aku pernah punya stock fotonya, yang aku foto sendiri, siapa tahu bisa untuk iklan lebaran Suara Merdeka pada tahun 2011 lalu. Aku merasa untaian tasbih yang berbentuk DNA nggak cocok untuk brand Suara Merdeka, jadi saat itu aku nggak kemukakan ide tasbih itu saat brainstorm.

 

 

Nah, daripada sudah susah-susah motret nggak kepake’, bagaimana kalau tema DNA ini aku jadikan tema tausiyah saja? Selain menarik, tampak kelihatan sedikit ilmiah. Lalu sekonyong-konyong aku bilang ke Mas Rizal, judulnya “DNA Menuju Kemenangan”. Mengenai kontennya seperti apa, pikir belakangan. Search di Google aja gampang🙂

 

 

Celakanya, saat aku search judul tersebut di Google ternyata tak ada. Mekrok! Piye iki? Apa yang akan kujadikan bahan DNA Menuju Kemenangan nih? Tiba-tiba pikiranku tertuju pada film dari BBC yang aku tonton lewat laptop saat perjalanan ke Malang. Film Touch Season 1 dalam DVD yang dikirimkan Pak Eko-ecodezign (mantan Creative Director Petakumpet) Sebelum puasa Pak Eko pernah mampir ke kantor untuk membicarakan pekerjaan yang dialihkan ke Petakumpet. Beliau menyempatkan untuk ngobrol denganku tentang project semacam Do Good-nya David Berman, tapi ini lebih ke menyeru kebaikan tanpa ada unsur menggurui.

Pesan yang mau disampaikan adalah tentang Sabar-Ikhlas-Syukur (yang beliau rumuskan S-I-S). Meskipun cuma untuk meminta pendapat tentang project-nya itu, namun bagiku terlihat seperti meminta ijin ke aku, karena jauh-jauh sebelumnya aku memang pernah men-twit kata Sabar sebanyak 114 kali, Syukur (Alhamdulillah) sebanyak 75 kali, dan Ikhlas yang memang sengaja tidak kuhitung dan tak tahu sampai kapan aku berhenti men-twitnya. Dari twit itu seakan tampak bahwa yang berhak menyeru Sabar-Syukur-Ikhlas adalah aku, padahal semua orang juga bisa.

Pak Eko pun menunjukkan sket Sabar-Ikhlas-Syukur dalam bentuk ambigram yang rencananya akan diaplikasikan ke berbagai media yang semuanya tujuannya bukan untuk komersil. Dan saat itu aku menyempatkan membuat artwork ikhlas sebagai reflection of life. Mungkin ini pakai ejaan EYD-English Yang Dipaksakan, karena ichlas-nya pake c🙂

 

 

Setelah itu Pak Eko bercerita tentang film seri dari BBC, Touch yang katanya aku banget (emangnya aku ini kayak apa?) Ini film tentang pola-pola di dunia ini yang semuanya saling terhubung dan melibatkan angka-angka dan tanda-tanda tak terduga yang tersaji dengan sangat cerdas, plus karakter pemainnya yang sangat brilian.

Dari kejadian itu aku bermaksud untuk menghubung-hubungkan pola Sabar-Syukur-Ikhlas sebagai bahan DNA Menuju Kemenangan. Yang aku lakukan adalah dengan men-simplifikasiatau membuat bentuk paling sederhana dari DNA dan memecahnya dengan rumusan S-S-I bukan S-I-S, karena menurutku Ikhlas adalah yang paling berat. Selain itu singkatan  S-S-I lebih terdengar sebagai SoluSI dalam menjalani kehidupan🙂 Memang terlihat sedikit maksa, tapi layaknya dalam film seri Touch, semuanya (seperti) serba terhubung.

Kebetulan saat itu-tanpa aku ketahui, Bima mendesain foto iseng diriku yang berlagak seperti Bruce Wayne dalam film The Dark Knight Rises yang dicomotnya dari twitterku menjadi poster tausiyah. Saat aku melihat poster itu, aku langsung berkata dalam hati “Ini adalah trilogi!”

 

 

Kalau trilogi Batman dari Batman Begin tahun 2005, The Dark Knight tahun 2008, dan berakhir di TDKR tahun 2012, bila diurutkan temanya adalah tentang Fear-Chaos-Pain, maka tausiyah ini merupakan perjalanan trilogi Sabar-Syukur-Ikhlas. Daripada aku ngetwit ikhlas terus kayak orang nggak jelas, maka sudah saatnya trilogi itu harus dituntaskan di DNA Menuju Kemenangan ini.

Ini seperti menceritakan rangkaian pengalaman pribadiku yang dikaitkan dengan trilogi itu. Aku tak bisa menjelaskan keseluruhan tausiyah di blog ini, karena untuk menjelaskan sabar saja (saat itu) hampir satu jam, padahal itu sudah ngebut dan belum semuanya. Tapi yang jelas Sabar-Syukur-Ikhlas seharusnya bisa menjadi DNA bagi kita untuk meningkatkan kualitas diri menjadi pribadi yang muhsin menuju muttaqin. Apalagi mumpung di bulan puasa, karena fungsi dari puasa itu adalah la’alakum tattaqun, alias menjadikan kita orang yang paling mulia di hadapan Allah, yaitu orang yang bertaqwa.

Materi DNA ini secara tak sengaja memberikan rumusan Dien-Nikmat-Aqidah.

Artinya kita harus sabar dalam menjalankan Dien (agama) Islam secara kaffah (keseluruhan), harus bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah, dan harus ikhlas di setiap denyut aktivitas kita, karena ini menyangkut aqidah yang harus selalu melibatkan Allah dalam diri kita.

Sabar itu luas dan tak terbatas. Aku pernah mengulas sabar di blog-ku, hanya saja yang ini agak berbeda. Ini tentang macam-macam bentuk sabar yang sebenarnya bisa di-search di Google. Sabar bisa menjadi kunci amal yang sempurna bila dilakukan sesuai tuntunan Allah dan Rasulnya. Allah pasti akan memberikan musibah bagi setiap hamba-hambanya untuk menyeleksi siapa yang terbaik dan bisa lulus menghadapi ujian itu. Orang yang nggak sabar itu gampang menyerah saat ditimpa masalah, atau boleh dikatakan mereka tidak naik kelas menuju tingkatan iman yang lebih baik. Bahkan bisa jadi mereka akhirnya drop out alias melepas keimanannya begitu saja. Lebih-lebih dalam menjalankan agama Islam. Mereka yang nggak sabar menjalankan Islam cenderung melihat Islam bukan sebagai penyelamat mereka. Mereka akan sangat berat dan malas-malasan untuk melaksanakan sholat, puasa, dll sampai akhirnya mereka anggap itu nggak penting. Apalagi mau menjalankan Islam secara kaffah. Padahal sabar dan sholat itu bisa menjadi penolong seperti yang difirmankan dalam surat Al-Baqarah:153

Aku sering melihat orang-orang yang pada awalnya taat, saat ditimpa masalah yang begitu beratnya dan nggak sabar, akhirnya ninggalin sholat, puasa, dll. Padahal sebenarnya ujian atau musibah yang ditimpakan Allah di dunia itu sangat kecil bila dibandingkan nikmat yang diberikan Allah pada kita. Teruslah mendekatkan diri kepada Allah dengan bersabar. Karena sebenarnya bersabar itu aktif dan di dalamnya ada potensi dalam bentuk kekuatan besar yang tersembunyi.

Sedangkan hakikat syukur adalah “menampakkan nikmat” lawannya adalah kufur atau “menyembunyikan nikmat” Nikmat Allah begitu besar sampai kita takkan mungkin menghitungnya. Dunia itu nggak ada apa-apanya, jika jari yang kita celupkan ke samudera yang luas lalu kita angkat, maka basahan di jari itulah perumpamaan dunia.

Orang yang pandai bersyukur bila terkena musibah, mereka akan mengubah sesuatu yang negatif itu menjadi positif. Karena itulah mereka selalu optimis dan tak pernah mengeluh. Bersyukur menjadikan mereka kreatif karena mereka bisa memanfaatkan nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Dalam keterbatasan bisa tercipta jalan keluar. Mereka bisa membaca nikmat Allah itu, karena kalamnya bisa dari apapun itu. Intinya hanyalah Iqra’

Bagi orang yang pandai bersyukur, deraan masalah tidak menjadikan mereka lemah, justru semakin menguatkannya. Syukur mejadi pola pikir sukses, karena kegagalan-kegagalan itu bisa menjadi hikmah yang sangat berharga yang mengantarkannya pada kesuksesan sejati.

Ikhlas berhubungan erat dengan memurnikan (mentauhidkan) Allah, dan bagiku adalah yang terberat. Ada kesamaan ikhlas dengan ibadah puasa, yaitu sama-sama rahasia Allah dan urusan Allah dengan hambanya langsung. Ikhlas adalah intisari dari keimanan seseorang dan kualitas tertinggi kemurnian hati, karena segala sesuatu yang dikerjakan adalah “karena Allah dan hanya untuk Allah”. Orang yang ikhlas itu akan selalu berikhtiar dan bertawakal. Berikhtiar atau berusaha bersungguh-sungguh dan bertawakal dengan selalu melibatkan Allah disetiap aktivitas kita. Tawakkal atau berserah diri pada Allah harus dilakukan sebelum-pada saat-setelah melakukan sesuatu. Jika tidak, maka keimanan  dan aqidah kita pantas dipertanyakan.

Semua yang kita kerjakan, apa yang sudah terjadi, masalah yang muncul dalam keseharian kita, semuanya adalah materi. Tak ada yang lain, semua itu hanyalah materi. Ya sudah gitu aja. Tapi jika niat kita ditujukan kepada Allah alias ikhlas, maka materi tersebut tidak akan sia-sia, justru akan bernilai ibadah. Orang yang seluruh kegiatannya tidak ditujukan kepada Allah, maka sia-sialah apa yang dikerjakannya.

Lihatlah orang-orang yang sholat tapi tetap saja korupsi, padahal sholat itu seharusnya kan tanha ‘anil fahsyai walmunkar, mencegah perbuatan keji dan munkar. Kenapa mereka tetap maksiat? Itu karena sholatnya tidak diniatkan karena Allah, tetapi hanya sekedar prasyarat ritual, atau mungkin tujuannya riya. Yang lainnya mungkin semuanya juga karena riya. Sedekahnya karena riya, haji-nya karena riya, dlsb. Padahal riya itu salah satu cabang dari kemusyrikan.

Dan kalau sudah parah, orang yang nggak ikhlas akan oleng aqidahnya. Mereka tak percaya akan pertolongan dari Allah. Mereka berusaha mencari kebebasan dan keadilan dengan caranya sendiri. Dan yang terjadi kebebasan itu membuat hidupnya menjadi bablas tak terkendali. Bagi mereka Aqidah adalah batasan yang membelenggu. Padahal sebenarnya kalau kita ikhlas, kita akan melihat itu sebagai batasan yang membebaskan. Karena masalah ikhlas hanyalah masalah keridhoan. Ridho atau mempercayai sesungguh-sungguhnya bahwa apa yang menimpa kepada kita, baik suka maupun duka adalah terbaik menurut Allah. Dan apapun yang digariskan oleh Allah kepada hamba-Nya pastilah akan berdampak baik pula bagi hamba-Nya. Keikhlasan adalah kebebasan yang sebenarnya. Dengan ikhlas segala permasalahan berat yang datang ke kita akan terasa ringan. Tak ada kata menyerah dan rasa takut dalam menjalani hidup, karena yakin akan datang pertolongan Allah.

Kadang kita merasa hidup ini tidak adil. Tapi jika kita ikhlas dan menghadirkan Allah dalam hidup kita, kita akan bisa mengendalikan diri. Aku pernah punya kenalan seorang aktivis perubahan yang nggak percaya akan adanya surga dan neraka. Dan sekarang aku mau bertanya pada pembaca semua. Percayakah kalian akan surga dan neraka? Darimana kalian bisa percaya? Al-Qur’an?

Quraish Shihab pernah berkata, bahwa salah satu bukti selain dari Al-Qur’an tentang adanya surga, neraka, hari pembalasan, hari akhir, dsb adalah ketidakadilan di dunia ini. Lihatlah ketidakadilan di dunia ini, yang baik dan yang memperjuangkan kebenaran justru tersingkir dan ditentang, sedangkan yang jahat, korup justru semakin banyak bebas berkeliaran. Jangan kira itu tak ada balasannya. Jika kau merasa kecewa dengan hidup yang kau jalani, ikhlaslah dengan mengingat Allah.

Mengaplikasikan ikhlas memang sulit, namun mungkin kata-kata Ali Bin Abi Thalib ini bisa membangkitkan kita.

Bukan Kesulitan yang membuat kita Takut, tapi Ketakutanlah yang membuat kita Sulit, karena itu jangan pernah mencoba untuk menyerah dan jangan pernah menyerah untuk mencoba. Maka jangan katakan pada ALLAH aku punya masalah, tetapi katakanlah pada masalah Aku punya ALLAH yang Maha Segalanya

 

Pattern of Life: SABAR – SYUKUR – IKHLAS

Sahabatku yang super, saya bukan Mario Teguh, tapi perkenankan saya untuk mengingatkan dalam kebaikan. Sebentar lagi kita akan menyambut yang namanya Hari Kemenangan. Namun Kemenangan tak hanya datang setelah bulan Ramadan saja. Kemenangan tidak hanya Idul Fitri saja. Kita bisa menjadi pemenang kapan saja. Setelah digembleng di bulan Ramadan, tantangan selanjutnya adalah bagaimana agar kita bisa istiqomah. Mungkin kita akan dihadapkan dengan perang yang besar di bulan-bulan berikutnya. Justru disitulah sebenarnya kualitas Kemenangan kita akan benar-benar kelihatan teruji.

Sabar – Syukur – Ikhlas adalah pola yang saling terhubung. Ketika hidup kita meningkat, begitu juga permasalahan kita. Jangan sampai hubungan kita dengan Sang Pencipta terputus. Ketika kita terhubung dengan Allah, maka dengan qudrat-Nya seluruh alam semesta akan terhubung untuk menolong kita. Kita semua saling terhubung, dan aku yakin termasuk tulisan ini. Diantara pembaca tulisan ini mungkin ada banyak orang dengan permasalahan berat yang mungkin tidak tahu harus kemana lagi mengadu. Jadikanlah Sabar – Syukur – Ikhlas sebagai DNA-pola kehidupan dalam diri kita, sehingga kita bisa mencapai Kemenangan dan mendapatkan pertolongan dari Allah.

Sekian

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: