Jiwa yang Merdeka

Bulan Ramadhan telah meninggalkan kita, berganti bulan Syawal yang identik dengan bulan penuh fitrah dan kemenangan yang sebentar lagi juga akan berakhir. Alhamdulillah, Selasa kemarin aku baru saja menyelesaikan puasa sunnah Syawal. Ada yang berbeda dari kebiasaanku menyelesaikan puasa Syawal. Biasanya tiap tahun aku menyelesaikannya 6 hari berturut-turut dan lebih awal, tapi tahun ini aku baru menyelesaikannya pada tanggal 24 Syawal dan lompat-lompat alias harinya nggak berturutan. Karena kebetulan habis mudik tiba-tiba aku sakit selama hampir seminggu. Memang nggak ada anjuran untuk menyelesaikan puasa Syawal 6 hari berturut-turut, tapi gimana gitu rasanya kalau nggak berturutan. Sepertinya momen ‘Kemenangan’ terasa kurang afdol. Dan tiba-tiba saja aku tersadarkan oleh hakikat dari kemenangan atau jiwa yang fitrah saat mendengarkan khotbah jum’at di masjid Al-Wahyu Kwarasan kemarin. Semuanya itu berhubungan erat dengan ‘keikhlasan’ yang merupakan bagian dari ‘DNA Kemenengan’ yang pernah kusampaikan di tausyiah ‘tarawih di Sarang Desainer’ di kantor petakumpet Ramadhan lalu.

Hakikat dari kemenangan adalah memerdekakan jiwa. Jiwa yang fitrah, bersih dan kembali ke orisinalitas kita. Kalau kita introspeksi pada diri kita, kadang kita akan menyadari bahwa jiwa kita masih terpenjara oleh wilayah luar kita. Kita belum bisa memisahkan jiwa kita dari wilayah, materi, keakuan, ego, pamrih, pujian, ashobiyah atau kelompok kita, dll. Kalau jiwa kita sudah terikat dengan wilayah luar kita, maka kita hanya akan bahagia bila kita bisa memaksakan ego kita. Kita baru bisa merasa bahagia bila kita mendapatkan materi, pujian, atau pamrih. Kita belum bisa memisahkan jiwa kita kepada Dzat Yang maha Pemberi Kebahagiaan yaitu Allah SWT.

Kita belum bisa menjadi ikhlas sehingga kefitrahan belum bisa kita raih, begitu juga kebebasan sejati. Kalau kefitrahan bagaikan bayi yang baru lahir, maka kebebasan itu layaknya seorang anak kecil. Lihatlah anak kecil yang tidak terpengaruh oleh materi. Yang mereka butuhkan adalah kebebasan untuk berekspresi. Aku jadi teringat dengan lebaran tahun kemarin, saat anaknya kakakku menolak dikasih uang oleh Pak Lik-ku. Dan ketika beranjak dewasa maka mulai terikat dengan kebutuhan-kebutuhan. Lebaran kemarin begitu aku pulang kampung, anaknya kakakku langsung meminta uang untuk membeli sesuatu. Begitu juga kita, semakin kita dewasa, kita mulai terikat dengan yang namanya materi, pamrih, keakuan, ego, pujian, ashobiyah­, kelompok, dll.

Kadang kita terikat dengan pekerjaan kita sehingga ketika mendengar suara adzan maka kita bilang “Ah, nanti saja” Kita bersedekah begitu banyak karena kita terikat oleh pamrih atau pujian, dll. Kalau sudah seperti itu, berarti kita belum bisa memerdekakan jiwa kita. Kita belum bisa mengikhlaskan hati kita karena hati kita tidak terikat oleh Allah Yang maha Pemberi Segalanya.

Kebetulan saat ini aku sedang berada diantara dua pihak yang (mungkin bisa dikatakan) jiwanya masih terikat dengan wilayah luar mereka. Dua pihak yang saling mempertahankan dan mementingkan ego masing-masing, sehingga tidak ada jalan keluar. Aku sampai tak bisa berkutik, speechless, dan seolah menjadi penonton saja. Yang bisa aku lakukan hanyalah menulis di blog ini. Aku akan menjelaskan melalui sebuah analogi yang logis. Semoga membantu.

Ketika semuanya saling mementingkan ego, yang dibutuhkan hanyalah keikhlasan masing-masing. Keikhlasan seperti menuangkan air dalam botol ke dalam gelas. Ketika air masih berada di dalam botol maka yang pertama dilakukan adalah membuka dulu tutup botolnya. Artinya kita perlu membuka hati kita, agar semua bisa transparan dan saling memahami. Ketika botol sudah terbuka, dan saat air akan dituangkan, supaya air bisa masuk ke gelas, maka gelas itu posisinya harus lebih rendah. Artinya, diperlukan kerendahan hati, buang jauh ego masing-masing! Ketika kondisi ini sudah tercipta, maka itu bisa menjadi jalan terbaik dan menjadi Kemenangan bagi kita semua.

Ini masih bulan Syawal, belum telat. Jangan sampai kita tidak memperoleh momen Kemenangan hanya karena kita tidak bisa memerdekakan jiwa kita masing-masing. Selamat Lebaran, Ja’alanallahu wa iyyakum minal a’idina wal faizin. Semoga Allah menjadikan kami dan Anda sekalian dari orang-orang yang kembali dan menang, dan semoga tulisan ini dibaca oleh pihak yang bersangkutan🙂

Tags: , ,

2 Responses to “Jiwa yang Merdeka”

  1. namarov Says:

    masee..”DNA Kemenengan” itu bener?po lgi salah tulis..?
    btw, nyimak aja deh yg inih…😀 smoga dibukakan skenario yg hepi ending yo maaas…

  2. Jeng CreT Says:

    Mungkin hidup ini adalah pilihan mas Bro….Jadi apa yang menjadi pilihan kita itu yang terbaik buat kita, dengan segala kerendahan hati disertai hati yang iklas untuk menjalani semoga yang menjadi pilihan kita dapat dimudahkan oleh Ida Sanghyang Widi Wasa (Tuhan kita). Dan Semua bisa lebih indah pada waktunya nanti……🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: