Menjadi yang terbaik dengan meninggalkan atsar yang baik

Prelude

 

Alhamdulillah, Senin minggu lalu tanggal 5 November, aku bisa mengikuti Seminar Kreatifa yang diselenggarakan oleh Indonesia Kreatif dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia di Hotel Grand Dafam Merapi Merbabu. Awalnya aku telat mendaftar, karena baru inget-nya hari Minggu, padahal seminarnya hari Senin. Saat aku kirim SMS untuk mendaftar di Minggu siang, ternyata kuota peserta sudah penuh. Wah, gagal-lah aku bisa ngeliat presentasi Mas Affi Khresna, Junno Mahesa, dan dosenku waktu kuliah dulu Mas Edy SR. Beruntung Junno membaca keluhanku di twitter, terus beliau sms aku dan akhirnya mendaftarkanku. Thanx So Max Mas Junno Mahesa🙂 Hanya saja pada sesi hari kedua oleh Mas Edy SR hanya bisa diikuti oleh para finalis lomba saja. Tapi tak apa aku bisa lihat materinya lewat live-tweet #brandpreneur.

Yang menarik adalah, di sana aku bertemu dengan beberapa asisten dosen audio visual dan forografi waktu aku kuliah dulu. Ada Mas Ad, Mas Adi, dan Mas Gunawan. Merekalah yang mengurusi segala hal-hal yang berkaitan dengan dokumentasi dan jalannya penyelenggaraan acara. Dari yang ngurus sound, tampilan video presentasi, dll. Yang lebih mengagetkan lagi, saat coffee break sebelum acara dimulai ada yang terus memperhatikanku sampai akhirnya beliau yakin untuk memanggil namaku “Husni! Sampeyan Mas Husni kan?” Aku memperhatikan wajahnya sepertinya tak asing. Lhadalah! Joni Martino alias Zi Balbo! Dan ini adalah pertama kalinya kami bertemu langsung, karena semenjak tahun 2008 ngobrolnya lewat online. Alhamdulillah, dengan perangainya yang grapyak dan suaranya yang lumayan keras🙂 akhirnya aku ada temannya juga. Jadilah waktu itu semacam acara kopi darat. Aku sangat beruntung sekali saat itu sampai-sampai lupa untuk foto bareng dengannya biar bisa ku-upload di blog ini.

Seminar pertama diisi dengan baik oleh seorang wirausahawan muda di bidang jasa fotografi Alfin Fauzi. Aku mendapatkan banyak pelajaran tentang entrepreneurship yang sangat mungkin untuk diterapkan di TELAP12. Kemudian seminar kedua dan ketiga diisi oleh Mas Affi Khresna dan Junno Mahesa. Aku merasa berada di beberapa acara reuni saat itu. Bagaimana tidak, baik pembicara maupun moderator adalah anak-anak alumni CWMC 2 tahun yang lalu.

Kejutan yang lain adalah, aku bertemu dengan orang-orang yang sepertinya nggak asing dan aku pernah melihatnya entah di mana. Dia berada di depanku saat giliran seminar yang mengisi Junno Mahesa. Tiba-tiba saja Junno menyinggung tentang TELAP12 dan menunjuk ke aku, barulah orang yang di depanku itu tersengak lalu menoleh ke arahku dan menyalamiku. “Mas Husni?! Kelihatannya dulu rambutnya belum segondrong ini. Cepat sekali” Aku lantas berpikir, aduh ini siapa dan pernah ketemu di mana ya? “He? kapan kita ketemu terakhir?” Aku lantas bertanya. “Puasa kemarin Mas, saat Mas Husni ngisi tausiyah di petakumpet” Aku baru ingat “Oalah, kamu yang nanya’ trus dapet doorprize voucher makan gratis TELAP12 dariku itu ya?”

Tak diduga aku ketemu dengan orang yang bertanya saat aku mengisi tausiyah tarawih di sarang desainer di petakumpet Ramadhan lalu. Dia pangling karena sekarang rambutku sudah gondrong kayak Lorenzo Lamos, hehe.. “Voucher-nya udah dipake’?” “Udah Mas, wah cepet banget gondrongnya, dan gak nyangka perasaan kemarin baru ngisi di petakumpet, sekarang udah nggak di petakumpet lagi kan Mas?” Lhadalah, dia juga sudah tahu soal itu. Setelah seminar usai, aku cerita banyak soal kesibukanku sekarang dan banyak hal. Ternyata dia adalah peserta finalis lomba yang diadakan oleh Kreatifa. Dia anak ISI dan suka sekali mengikuti kompetisi-kompetisi. Namanya Zia (ini cowok lo), dia bersama temennya dari Komunikasi UGM (aduh siapa ya namanya?) Jadilah kita ngobrol lebih panjang lagi sambil menikmati sajian coffebreak sore itu.

Setelah ngobrol lumayan agak lama, kami pun sholat ashar. Sebelum pulang (sambil memakai sepatu), aku nanyaLoh, ini pengumuman pemenangnya kapan? Besok ada penugasan lagi gitu?” “Iya Mas, besok masih ada workshop yang khusus diikuti oleh peserta finalis. Pengumumannya masih lama” “Wah padahal kepingin banget lo aku ikut workshopnya Mas Edy SR. Ya udah tetep semangat yah! Tak doain…” Dia langsung menyahut “Doain kita supaya menjadi yang terbaik ya Mas!” Aku langsung terdiam sebentar ketika mendengar kata ‘menjadi yang terbaik’.

Kira-kira seminggu sebelumnya seseorang dari Malang pernah mengatakan begitu padaku “Kudoakan Mas Husni semoga menjadi yang terbaik” Dan hari Minggu setelah acara Pinasthika usai aku baru saja sms ke dia untuk bilang terima kasih atas motivasi ‘menjadi yang terbaik’ itu, karena karyaku Young Film Director tidak menang. Boro-boro menang, masuk finalis aja enggak. Tapi kata ‘menjadi yang terbaik’ itu membuat semangatku tak patah arang. Karena aku sudah mencoba yang terbaik, dan yang paling penting aku bisa share karyaku itu ke banyak orang dan meninggalkan atsar yang baik. Setidaknya aku juga bisa share di blog ini. Dan apakah itu atsar? Baiklah, aku akan cerita, bagian ini hanyalah epilog saja. Kok panjang ya? Hehe…

Young Film Director

Pinasthika yang ke-13 ini mungkin adalah kesempatanku yang terakhir untuk mengikuti Young Film Director, karena syarat peserta maksimal berumur 28 tahun. Sudah lama aku tak ikut kategori ini setelah 6 tahun yang lalu. Temanya adalah tentang ‘kolaborasi’ yang bisa memotivasi dan menggerakkan semangat pemuda. Cukup susah karena terlalu general. Akhirnya aku mengangkat karya Sumpah Pemuda di blogku pada tahun 2011 ke dalam video berdurasi satu menit. Masalah selanjutnya adalah tim yang akan diajak untuk produksi. Aku mengontak teman-teman kuliahku dulu. Mereka bisa, tapi terbentur dengan rutinitas pekerjaannya yang menjadi PNS di KPU. Apalagi dekat-dekat ini ada verifikasi pemilu. Jelas-jelas tak mungkin bisa diajak produksi. Hari Minggu tanggal 21 Oktober aku memutuskan untuk tidak jadi berkolaborasi dengannya. Akhirnya pilihan jatuh pada anak magang di petakumpet dulu yang pernah ikutan L.A Indiemovie, yaitu Nindi. Waktu tinggal seminggu, belum lagi terbentur Lebaran Idul Adha. Seninnya aku konfirmasi dan membuat storyboard, lalu Selasa ketemuan di TELAP12 untuk membuat schedule dan persiapan yang diperlukan. Aku berencana syuting setelah Jum’atan pas Idul Adha. Aku juga minta bantuan Bima-bimalizer untuk bikin muralnya.

Rabu pagi tanggal 24 Oktober aku mulai survey tempat yang mau dibikin mural sambil membeli peralatan untuk bikin mal desain. Dari pagi sampai siang belum juga dapet tempat yang cocok, belum lagi masalah perijinan. Saat survey di Gedongkiwo tiba-tiba ada telepon dari Syafaat Marcomm, Pak Andhika mau bicara bentar. Karena jarak dengan kantornya dekat, akhirnya aku ke sana. “Sedang ngapain to Mas, di Gedongkiwo?” “Nyari tempat buat bikin mural. Mau tak shoot buat ikutan Young Film Director” “Wah berarti kemrungsung banget nuh sampeyan, deadline-nya kan 2 hari lagi, pas Idul Adha” “Hloh! Bukannya entry-nya paling lambat tanggal 28 Oktober?” “Untuk Young Film entry-nya terakhir tanggal 26” “He? Kok gitu sih, masak nggak kompak! Nggak bisa diundur aja? Soalnya aku mau mulai syutingnya tanggal 26, trus editing-nya tanggal 27, 28 kirim” Kebetulan Pak Andhika adalah ketua panitia di bagian entry. “Ya nggak bisa, wong tiket-pesawatnya udah dipesenin, tanggal 27 pagi semua karya YFD dibawa juri ke Jakarta”

Modiar aku!

Siang itu juga aku langsung telpon Nindi untuk ubah jadwal dengan mendadak, Bima juga kukabari. Aku harus langsung memutuskan lokasi sore itu juga dengan mengajak Bima, dan akhirnya diputuskan di Gedongkiwo. Setelah itu beli cat dan kuas, dan malamnya aku minta tolong OB petakumpet yang notabene adalah pemuda setempat Gedongkiwo untuk menemaniku meminta ijin ke Pak RT setempat. Pak RT-nya mengijinkan, tapi pemilik temboknya sedang pergi ke Papua. Waduh! Waktuku tinggal besok doang tanggal 25! Pukul 9 malam akhirnya aku memutuskan untuk take shoot di tempat itu. Aku sudah siapkan cat putih untuk menutupi gambar mural jika yang punya tembok nggak berkenan. Sampai kos, aku langsung bikin mal-nya sampai jam 2 pagi, lalu sahur hanya minum air putih untuk puasa sunnah Arofah, lalu tidur. Tidur cuma sekitar satu setengah jam. Habis subuhan lalu diteruskan bikin mal lagi. Alhamdulillah nggak sampai jam 9 pagi sudah selesai. Siap untuk syuting!

Jam 10 aku sudah siap di lokasi, rencana mau syuting habis dhuhur, karena kalau sore, temboknya sudah kejatuhan bayangan pohon. Siang yang panas ditambah puasa, dan ternyata mulai syutingnya molor jam 2. Bayangan pohon pun sudah menimpa tembok yang mau di-shoot. Oh, tidak! Akhirnya take pindah ke tembok sebelahnya. Awalnya berjalan dengan mengambil banyak alternatif shot, tapi sepertinya bayangan atap rumah sudah mulai menimpa tembok yang mau dibikin mural, sehingga semua harus bergerak cepat. Ditambah ada acara baterai habis dan harus nge-charge sebentar di rumah orang. Alhamdulillah jam 5 kurang sudah selesai, sehingga sholat ashar-nya nggak telat-telat banget. Setelah syuting, ternyata Nindi nggak bisa sekalian editing-nya. Waduh! Piye iki? Tenang…, berbuka dulu pake’ es campur buah.

Setelah berbuka aku telpon Nasyid-taketakee yang kebetulan juga ikutan Young Film Director bersama anak-anak UMY. Aku minta tolong untuk ikut nimbrung ngedit. Ternyata Nasyid belum juga ngedit karena nggak ada program Adobe Premier. Aku bingung mau ngedit di mana. Badan sudah luar biasa capek, perut masih keroncongan. Aku mampir ke Gudeg Bu Yati dulu di Jalan Wates. Tak lama ada sms masuk “Mas sudah dapet Adobe Premier, pake laptopnya anak-anak UMY, ke sini aja ngedit bareng” Syukurlah.

Habis isya’ aku mandi untuk menghilangkan kecapekan dan penat. Berbaring sebentar lalu jam 8 malam aku mulai berangkat ke Kotagede untuk ngedit. Diiringi dengan gema suara takbir aku meluncur. Sampai di Serangan hingga Malioboro aku harus melewati kemacetan arak-arakan takbiran yang luar biasa. Begitu juga di Jalan Pramuka. Aku harus mengambil alternatif jalan pintas yang sebenarnya malah  membuat rute-nya semakin panjang dan berliku. Jam 9.30 aku sampai di Kotagede, rumahnya Abdee. Disana sudah ramai dipenuhi mahasiswa UMY yang akan mengikuti Pinasthika. Aku langsung menemui Nasyid. Dia ketawa “Loh Mas, nggak baca pesen sms-ku po?” Aku baca sms di hp-ku yang tak sempat kubaca karena menerjang kemacetan. “Mas laptop-e sekarang udah diambil lagi sama yang punya” Wa-duh…

Trus enak-e piye ki?” aku merasa percuma jauh-jauh dateng ke Kotagede. “Ngeditnya di Macbook aja, pake’ iMovie” Beruntung aku pinjam hardisk eksternal-nya Bima, aku bisa mentransfer semua shot, memilih, memasukkan, dan  mengedit ke dalam iMovie, meskipun prosedurnya sangat bribet. Saat itu aku belum punya gambaran narasi sama music background-nya, sehingga yang aku perlukan adalah editing visualnya saja. Untuk narasi dan musik-nya akan kuedit di kos. Aku hanya memerlukan file dalam bentuk mpeg dengan resolusi tinggi saja. Dan sialnya, iMovie tak bisa mengexport dalam bentuk mpeg, yang ada hanyalah mov. Ha-duh… masak aku harus menunggu mahasiswa UMY mengedit sampai selesai di sini? Aku pasrah, ya sudah .mov pun tak apa, siapa tahu program pengubah format di komputerku bisa mengubahnya menjadi mpeg. Jam 1 pagi itu aku pulang menuju Godean. Jalan-jalan sudah mulai sepi, ada beberapa arak-arakan yang baru saja pulang. Di sepanjang jalan itu aku melantunkan takbir sendiri. So dramatic 🙂

Sampai kos, file langsung aku masukkan ke program Magic Movie Edit Converter 2005. Mungkin banyak yang nggak familier dengan nama program itu, aku sendiri juga sangsi mengingat itu program tahun 2005. Eh, tak disangka kok bisa🙂 Akhirnya aku berusaha untuk memasukkan beberapa background musik ke dalamnya. Isi kepalaku sudah sangat penuh bebal, dan sepertinya tak sanggup lagi digunakan untuk membuat konten narasi. Akhirnya aku tidur. Bangun-bangun sudah jam 05.30, di luar sudah mulai terang. Aku langsung sholat shubuh dan pergi ke lapangan infanteri nggak pakai mandi. Mataku sudah terasa berat, rasa kantuk kembali menyerang luar biasa. Untungnya aku bisa menjalani ibadah sholat Id dan khutbah dengan khusyuk.

Habis sholat Id, aku mulai memikirkan kontent narasi dan memilih background musik yang tepat. Kebetulan tetangga kos pada mudik, sehingga suasana lumayan sepi buat take voice. Tak perlu banyak pikir panjang, mengingat deadline-nya adalah hari itu juga. Aku tahu mungkin hasilnya tidak maksimal, tapi itulah usaha terbaik yang bisa aku lakukan. Dan aku cukup puas. Tak sampai jam 10 PSA tersebut selesai. Setelah itu aku langsung mandi, sholat Dluha, baru kemudian mengurus registrasi. Setelah Jum’atan aku berhasil mengirimkan karyaku ke P3I. Kebetulan mendung di siang itu tidak menjadi hujan. Suasan di kantor P3I sangat sepi saat itu, karena hanya ada dua orang panitia. Aku beruntung dengan kondisi itu. Kupikir akan sangat ramai dan antri. Semuanya berjalan lancar, karena prosedurnya dibantu sama panitia yang ada di sana.

Mission Accomplished!

 

Atsar

 

Sabtunya aku istirahat total, dan malamnya aku berkesempatan telpon-telponan dengan seseorang yang di Malang. Aku cerita tentang hari-hari yang luar biasa saat mengikuti Young Film Director yang baru saja aku lalui. Lalu aku minta doa, “Doain yah…” Dia menjawab “Semoga menjadi yang terbaik…” Aku diam sebentar, karena kukira jawabannya semoga menang atau juara. Dia lalu meneruskan “Yang terbaik itu nggak selalu yang menang”

Beberapa hari kemudian pengumuman 6 finalis diumumkan melalui twitter. Dan namaku nggak ada di daftar 6 finalis itu. Sementara itu Nasyid masuk finalis dan tak lama kemudian akhirnya dia mendapatkan Gold di Awarding Night Pinasthika. Aku ikut senang, dan well… sepertinya yang diomongin doski benar😀 “Yang terbaik itu nggak selalu yang menang” Kata-kata itu seakan memotivasiku, meskipun aku juga berharap bisa menang. Tapi aku jadi tak patah semangat, karena jika kita melakukan yang terbaik, maka itu nantinya juga akan meninggalkan bekas yang baik pula. Bekas yang ditinggalkan itulah yang dinamakan Atsar. Seperti yang terfirman dalam surat Yasiin ayat 12

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata”

Setelah syuting itu selesai, yang membuatku bahagia adalah ketika aku bisa meninggalkan bekas yang baik dan bisa membagi atsar itu dengan orang lain. Alhamdulillah pemilik tembok itu tidak memintaku untuk menghapus gambar mural itu, sehingga masyarakat Gedongkiwo bisa menikmati karya itu. Desain itu juga aku bikin kaosnya dan kubagi-bagikan ke crew yang membantuku syuting. Termasuk OB petakumpet yang membantuku mendapatkan ijin tempat untuk bikin mural. Dia sangat senang sekali dan bangga memakai kaos itu. Sepertinya KDRI (Kementrian Desain Republik Indonesia) juga berniat untuk mengeksekusi kaos itu. Karena sebelumnya aku pernah memasukkan desain itu, dan KDRI menanyakan file aslinya lewat email. Bagi yang mau kaosnya, mungkin bisa beli di KDRI :)  Entah jadi mau dieksekusi atau tidak.

 

 

Ada banyak tokoh-tokoh besar yang meninggalkan atsar bagi kita. Thomas Alva Edison meninggalkan penemuan lampunya dimana orang di seluruh dunia bisa menikmati terangnya saat ini, Imam Syafi’i meninggalkan madzab yang paling banyak dipakai umat muslim di Indonesia, dan masih banyak lagi. Memang atsar-ku ini tak ada bandingannya dibanding atsar-atsar tokoh besar, tapi setidaknya aku bisa membaginya ke banyak orang meski tidak bisa sebanyak mereka. Kebetulan aku baru saja menonton film Into the Wild dari mantan Creative Director (terbaik) petakumpet, Pak Eko. Ada sebuah petikan menarik di akhir film dari kisah nyata Christoper McCandless “Happiness only real when shared” Kalimat itulah yang semakin menguatkanku dalam setiap berkarya. Karyaku memang tidak mendapatkan penghargaan, tapi aku bisa share karyaku lewat mural, kaos, atau lewat blog ini, menjadi sebuah story telling yang menarik yang bisa dinikmati orang. Karya yang setidaknya bisa memberi atsar yang baik.

Sebenarnya yang paling susah dari meninggalkan atsar yang baik adalah keikhlasan. Artinya kita tidak terikat oleh pujian, penghargaan, pamrih, materi, dll, saat kita melakukan yang terbaik untuk apapun itu. Tak perlu banyak pikir, masalah menang atau kalah, berhasil atau tidak, urusan itu kita serahkan kepada Allah. Yang penting adalah kita harus selalu melibatkan Allah dalam setiap apa yang kita kerjakan. Baik itu sebelum, saat, atau setelah kita melakukan pekerjaan. Itulah yang dinamakan tawakkal, karena yang terbaik itu hanyalah dari-Nya. Bisakah kita menjalaninya?

 

Sweet…

Sore itu acara seminar Kreatifa selesai dengan acara coffe break. Sebelum menikmati coffe break beberapa asisten dosen audio visual menyapaku. “Inilah dia CEO Wangun Banget” Aku tertawa mengingatnya. Wangun Banget adalah nama kelompokku waktu kuliah iklan TV dulu, plesetan dari WB-nya Warner Bross.

“Wah, sudah bubar Mas. WB-nya sudah nggak Wangun Banget lagi tapi Wis Bubar, hahaha..”

“Tapi karya itu masih terus dipertontonkan terus lo. Jadi andalan referensi anak-anak komunikasi saat kuliah audio visual”

Aku kaget “Wah iya tho? Padahal togel sekarang sudah nggak ada ya? Hehehe…”

Asisten dosen tersebut mengakhiri “Ya mau gimana lagi, nggak ada karya yang sebagus itu sih…”

 

 

Hidup itu hanya sekali. Jadilah yang terbaik dengan meninggalkan atsar yang baik.

 

 

*Ditulis di akhir tahun Hijriyah 1433, sore. Semoga di akhir tahun ini ada atsar terbaik yang kita tinggalkan. Selamat Tahun Baru Hijriyah 1434!

Tags: , , , ,

6 Responses to “Menjadi yang terbaik dengan meninggalkan atsar yang baik”

  1. namarov Says:

    weeww….kisah keren!! karyanya juga keren!! TELAP teniin..😀

  2. insideheruw Says:

    koe ki ncen cah paling wangun…bangga pernah kenal ro koe..

  3. Lulu Says:

    Nice.. Inspiratif mas😀

  4. bimalizer Says:

    keren kisah!! keren juga karyanya !! tenin TELAP😀 .. wew

  5. CITS-UGM « No Time for Nggombal Says:

    […] dimanapun itu tempatnya. (lihat postingan menjadi yang terbaik dengan meninggalkan atsar yang baik https://husnimuarif.wordpress.com/2012/11/14/menjadi-yang-terbaik-dengan-meninggalkan-atsar-yang-baik…) CITS-UGM mungkin bukanlah tempat kuliah favorit dan terkenal, siapa sih yang pernah mendengarnya? […]

  6. jasa pindahan Says:

    Hello everyone, its my first visit at this web site, and article is genuinely fruitful in support of me, keep up posting such articles.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: