ember ijo

Musim hujan telah tiba, tapi seiring dengan pengaruh global warming, cuaca kadang susah diprediksi. Bahkan bagiku yang sering dipermainkan oleh apapun, boleh saja aku menyebutnya cuaca yang suka mempermainkan🙂 Kadang waktu pagi mendung sudah sangat gelap, namun nggak jadi hujan hingga sampai malam. Padahal kalau dilihat sudah pasti akan hujan. Kadang nggak ada tanda apa-apa, eh tiba-tiba hujan deras. Pernah di siang yang terik di Godean, pegawai TELAP12 sms aku kalau di daerah Umbulharjo (warung TELAP12) sedang hujan angin. Ternyata persebaran hujan untuk wilayah Jogja pun tidak merata. Aku sering mendapatkan kabar kalau di Jogja bagian timur sudah hujan, namun di daerah barat belum.

Hujan bagiku sangat penting. Boleh dibilang aku ini pemburu hujan. Apalagi hujan itu adalah salah satu waktu yang mustajab buat berdoa. Dalam hadits riwayat Al-Hakim disebutkan “Doa tidak tertolak pada 2 waktu, yaitu ketika adzan berkumandang dan ketika hujan turun” Nah selain itu, yang aku buru waktu hujan adalah airnya. Buat apa? Buat terapi kesehatan. Beberapa tahun yang lalu aku juga melakukan hal yang demikian. Aku dapat informasi tentang khasiat air hujan ini dari video Lentera Hati-nya Ust. Awan Abdullah. Ini juga dijelaskan di Qur’an Surat Al-Anfaal ayat 11. “…dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu).”

Jadi air hujan itu bisa menyucikan tubuh kita, menghilangkan dari gangguan setan, menguatkan hati dan memantapkan langkah kita. Cocok bagi siapa saja yang galau dan hidupnya serba nggak pasti, hehe… Nah air hujan ini ditampung langsung dari langit, bukan hasil tadahan dari genteng atau pipa talangan. Airnya bisa diminum atau untuk mandi. Kalau untuk diminum biasanya kalau ada kotorannya disaring dulu lalu sebelum meminumnya membaca doa seperti mau minum air zam-zam. Tapi kalau aku biasanya untuk mandi. Rasanya memang beda dengan air sumur. Lebih segar dan baunya sangat khas.

Nan, kebetulan di malam tahun baru Hijriyah, hujan turun begitu derasnya. Sepertinya Allah menurunkan banyak keberkahan di bulan Muharram ini. Kos sangat sepi, karena Pak Kos sekeluarga pergi ke Solo. Malam itu aku langsung mengeluarkan ember ijo gede buat menampung air hujan. Hujannya sangat deras, dan dalam bayanganku akan tertampung banyak sekali air hujan. Cocok nih buat mandi besok pagi, pikirku. Pukul 21.00 hujan agak mereda dan berubah menjadi gerimis kecil. Aku mau menengok keluar untuk tahu seberapa banyak air yang sudah kutampung. Begitu keluar terlihat simboknya Pak Kos (nenek) dan suaminya ada di depan rumah. Ternyata dia mau mengecek keadaan kos dan bangunan kos baru yang belum selesai. Maklum sebenarnya yang punya kos adalah dia dan yang mengelola adalah anaknya.

 

Muharrain

 

Kulihat keluar ember ijo-ku lenyap. Waduh. Lalu aku bertanya kepada simbok “Mbok, tahu ember ijo yang di depan situ nggak?” “Oh, itu punya sampeyan tho? Saya masukin di belakang pagar, biar nggak dicuri orang, baru saja kok” Untunglah. Tapi ketika kulihat tak ada air hujan yang tertampung di ember itu. Lalu aku bilang lagi “Airnya kok nggak ada?” “Air apa tho Mas, tadi saya buang e” Haduh, gagal-lah aku mandi air hujan, padahal tadi deras banget, pasti dapet banyak. Apalagi momennya spesial banget pas bulan Muharram atau sasi Suro yang kata orang Jawa bulan penuh keramat. Kan kalau bisa mandi air hujan, setan-setan yang seneng dateng di bulan Suro bisa pergi gangguin kita tuh🙂 Ah, biarlah mungkin lain kali lagi, toh bulan Muharram juga masih panjang.

Beberapa hari kemudian datanglah waktu yang dinanti, hari Sabtu pagi langit sudah sangat gelap. Pagi itu aku sedang mendesain logo dan akan ku-fast print hari itu juga di Graphico Jl. Kaliurang. Sebelum berangkat aku sudah merasakan firasat akan turun hujan. Lalu aku keluarkan ember ijo itu dan kutinggal pergi nge-print di Jl. Kaliurang. Aku lewat ringroad barat dan ternyata sebelum sampai perempatan terminal Jombor sudah macet total. Lalu hujan mulai turun. Saking macetnya aku lewat jalan pintas tembusan ke terminal Jombor. Dan ketika sampai di terminal Jombor aku langsung pakai jas hujanku, dan melanjutkan perjalanan karena dari arah terminal menuju ke perempatan, ke kiri jalan terus menuju Monjali. Hujan begitu deras hingga sampai aku selesai dan keluar dari tempat printing Graphico. Pulangnya aku lewat ringroad lagi menuju ke barat. Dalam perjalanan yang masih deras itu aku membayangkan betapa banyak tampungan air hujan di ember ijo tersebut. Namun ketika sampai di ringroad barat, jalanan aspal kering alias daerah Godean tidak hujan. Padahal Kaliurang tadi derasnya bukan main. Gagal-lah lagi aku menampung air hujan.

 

ember-ijo

 

Beberapa hari kemudian di hari Jum’at, menjelang Jum’atan suasana terasa gerah (sumuk). Ibu kos keluar mengambil jemuran yang dijemurnya sedari pagi, karena langit sudah sangat gelap dan ada beberapa rintik air hujan yang turun. Sebelum berangkat Jum’atan aku keluarkan ember ijo lagi. Hujan kecil sudah mulai turun sehingga banyak jamaah Jum’at yang datang ke masjid dengan membawa payung buat persiapan kalau mau hujan. Waktu khutbah Jum’at hawanya sangat gerah, untung ada kipas angin. Dan apa yang terjadi setelah sholat khutbah selesai? Langit yang tadinya gelap berubah menjadi panas terik. Ketika aku pulang Jum’atan kulihat ibu kos mengeluarkan jemurannya lagi untuk dijemur. Dan aku mengambil ember ijoku yang kosong. Suasana jadi benar-benar semakin gerah.

Di lain hari waktu siang menuju sore, aku berada di warung TELAP12, hingga jam lima akhirnya hujan. Selepas maghrib hujan agak mereda, aku pun pulang ke Godean. Sampai di perjalanan, pikirku nanti kalau sudah mau sampai Godean pasti nggak hujan. Eh, semakin ke barat hujannya malah semakin deras. Sampai di kos aku langsung mengeluarkan ember ijoku lagi, dan tak tak ada setengah jam hujan benar-benar reda. Kumasukkan ember ijoku lagi.

Hingga akhirnya aku memutuskan; hujan nggak hujan biarkan ember ijo di luar. Yang terjadi adalah dua hari nggak hujan. Ah, biarlah kutunggu sampai hari ketiga. Hari ketiga, pukul 10 malam mulailah aku mendengar suara rintik hujan. Sambil tidur aku seolah tak peduli dengan hujan. Mau hujan atau enggak terserah. Pukul 3 pagi kulihat langit sudah cerah dengan gumpalan-gumpalan awan kecil, bintang-bintang pun terlihat. Paginya aku melongok ke ember ijo. Ada beberapa air yang hujan yang tertampung. Kukumpulkan tapi cuma dapet dua pertiga gayung mandi. Ternyata semalam hujannya nggak begitu deras. Mau kuminum, tapi ada beberapa serangga yang mati di situ, dan agak kotor. Mungkin karena pas aku taruh, embernya agak dekat dengan posisi genteng, sehingga percikan tanah ada yang terbawa masuk. Akhirnya aku buat mandi pada guyuran pertama saja, guyuran selanjutnya pakai air kamar mandi.

 

2-ember-ijo

 

Hari berikutnya aku memutuskan untuk menyiapkan dua ember, biar yang tertampung dobel. Posisinya pun aku taruh di atas biar nggak ada percikan tanah yang masuk. Semakin dobel, intensitas air hujan malah semakin turun. Artinya hujan memang turun, tapi nggak deras banget, sehingga orang bisa kemana-mana tanpa memakai payung. Dan ketika kugabungkan isi dua ember itu, dapetnya malah nggak ada seperempat gayung. Hingga akhirnya paginya kubuat untuk membasuh muka. Lumayan buat mengurangi kelopak mata yang berat karena timbilen akibat terlalu banyak lembur. Pernah juga ketika aku ambil ember itu buat merendam cucian pakaian, pagi yang tau-tau cerah mendadak hujan deras. Padahal saat itu ada acara Ngayogjazz di Sleman. Apa panitia tidak manggil pawang hujan ya?

Jadi kesimpulannya, bagi kalian yang mau ngadain acara semacam pernikahan  atau yang lainnya di bulan Desember, bisa panggil saya. Saya bukan pawang hujan, tapi saya akan datang dengan membawa ember ijo. Dan kalau nanti masih hujan juga, jangan salahkan saya. Salahkan ember ijo, hehe…

*saat mulai memosting tulisan ini, tiba-tiba hujan turun membasahi 2 ember ijo itu🙂

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: