(belumlah) telat

April 2007, saat itu aku baru saja pindah kos dari Blimbing Sari ke Ngabean Godean. Anaknya Pak Kos yang pertama baru saja naik ke kelas 3 SD. Dia suka main ke kamarku disusul adiknya yang manis banget. Tak ada rasa sungkan sekalipun, dia masuk disaat melihatku sedang santai membaca komik di hari Minggu. Suatu saat dia melihat majalah ANIME yang mengulas banyak tentang Naruto. Aku sering mendapatkan majalah itu karena dapat paket kiriman dari Japan Foundation atas keikutsertaanku dalam pameran karikatur. Entah mungkin sekarang masih atau enggak, karena alamatku sudah pindah. Dulu aku sering dapat sms dari anak kos di Blimbing Sari tiap bulan, kalau ada kiriman dari Japan Foundation. Sekarang anak-anak yang ngekos di Blimbing Sari sudah pada pindah semua.

Nah, anak Pak Kosku itu suka sekali Naruto, hingga tiap kali main pasti cerita tentang Naruto. Cerita tentang shibuden atau apa, aku tak tahu istilahnya. Yang jelas dia memeragakan jurus-jurus dengan tangannya seolah-olah ada siluman yang bakalan keluar. Melihat aku punya majalah ANIME yang saat itu mengulas Naruto melulu, dia sangat senang sekali, bahkan akhirnya majalah itu kuberikan ke dia. Suatu hari anak Pak Kos yang pertama ini memintaku untuk menggambarkan tokoh-tokoh yang ada di Naruto. Ada Sakura, Sasuke, Tenten, Gara, dll, aku nggak hapal semuanya. Aku gambar di kertas HVS ukuran A4. Awalnya disket pakai pensil lalu aku tebelin pakai Drawing Pen dengan permainan arsir dan blok hitam. Dia sangat suka gambar itu, karena aslinya gambar yang kucontoh dari majalah ANIME sangat kecil. Seninnya saat mau berangkat sekolah, dia perlihatkan hasil fotokopian gambarku. Aku tak tahu mengapa gambarku difotokopi.

Minggu berikutnya dia memintaku menggambarkan tokoh-tokoh yang ada di Naruto lagi. Kemudian Senin malam dia mampir ke kamarku untuk ngasih uang seribu. “Mas ini bayaran buatmu” katanya. Aku jadi bingung dan berkata “Heh, nggak perlu, lhawong cuman nggambarin begitu kok, gampang bagiku..” Terus dia bilang “Bukan itu Mas, ini dari hasil keuntungan” “He? Keuntungan apa?” Lalu dia njelasin “Gambar Naruto Mas Husni aku fotokopi seribu, dapat sepuluh lembar. Satu lembarnya aku jual ke temanku seribu. Besoknya yang pesen jadi banyak!”

Meskipun lama-kelamaan teman-temannya akhirnya bosan dengan gambar fotokopian itu, sehingga kemudian dia menghentikan aktivitas-(bisnis)nya itu, tapi aku salut ke dia. Bayangkan, seorang anak kelas 3 SD bisa memperkerjakan seorang lulusan D3 Komunikasi Advertising UGM! (yang cumlaude lagi). Apa nggak malu kalo udah sekolah tinggi-tinggi, lama lagi bertahun-tahun, bisa-bisanya diperintah anak yang baru berumur 8 tahunan.

Saat itu pikirku hanya begini; Welah! Pinter kali ini anak, baru kelas 3 SD sudah pandai mencari peluang untuk bisnis. Mungkin bakat itu menurun dari ayahnya yang pekerjaannya hanyalah sebagai distibutor teh, bekerja mulai jam 08.30, jam 11.30 sudah pulang, tapi punya usaha beras yang tiap minggu menjual puluhan karung.

Sudah begitu saja, dan kejadian itu tidak menyadarkanku sama sekali untuk bergerak melakukan usaha. Mungkin hal itu wajar, karena saat itu aku baru pertama kalinya merasakan kerja setelah lulus kuliah.

Ingatan itu kembali menyadarkanku ketika aku mengikuti Sharing Bisnis yang diadakan oleh Makelar Sedekah di markasnya di Jl. Parangtritis hari Rabu kemarin. Saat itu pengisinya adalah Mas Firly pemilik bubur Syarifah yang sudah memiliki 3 cabang di Jogja (kalau tidak salah). Temanya adalah: Meski Nasi Sudah Menjadi BUBUR, Tiada Kata Terlambat untuk Memulai Usaha. Sengaja dikait-kaitkan biar ada kata ‘bubur’nya hehe… Beliau menjelaskan dan menyadarkan semua yang hadir di situ, ketika berdagang merupakan sunnah nabi, mengapa sampai sekarang masih menunda-nunda untuk memulai usaha? Tak perlu pakai ilmu ekonomi atau teori lain yang selalu berubah, kuncinya hanya menggunakan yang namanya ‘ilmu rejeki’. Dan hanya dengan meyakini kalau rejeki itu dari Allah, lalu berikhtiar, semuanya jadi mudah dan berkah. Dari situ kita diajarkan untuk menghilangkan paradigma kita sebagai pegawai atau pekerja kantoran dan saatnya jadi pengusaha. Karena dengan berdagang, sebenarnya intinya adalah agar bisa berdakwah dan bermuamalah seperti yang dilakukan nabi.

Pikiranku saati itu langsung flashback kemana-mana. Kenapa nggak dari dulu-dulu yah? Padahal dulu aku sudah diingatkan sama anaknya Pak Kos? Kenapa baru mulai usaha setelah bekerja kurang lebih 6 tahun? Kenapa baru sekarang? Sungguh tahun-tahun yang sia-sia! Bukankah waktu kuliah dulu aku juga pernah punya produk yang sampai sekarang masih tertahan di HAKI? Aku merasa telat dalam memulai usaha dibandingkan dengan teman-teman yang ada baru semester 2 sudah punya usaha online yang maju. Tapi kalau dipikir-pikir lagi ternyata everything happens for a reason. Allah itu punya skenario yang luar biasa.

Kalau dirunut kembali dari perjalananku mendirikan TELAP12, aku jadi ngerti kenapa ide yang seharusnya sudah ada waktu kecil itu baru bisa terealisasi sekarang. Ternyata memang harus melalui sebuah proses yang panjang dulu. Bukankah saat aku mendirikan TELAP12 modalnya adalah dari tabunganku selama bekerja di petakumpet? Bukankah ilmu strategi, promosi, penelusuran target konsumen, dan yang berkaitan dengan semua itu kudapatkan dari pengalamanku bekerja di petakumpet?

Dulu saat aku mendirikan TELAP12 dan masih sambil bekerja di petakumpet dengan gaji yang boleh dikatakan lumayan, yang akhirnya baru bisa kudapatkan di akhir tahun 2011 (dulu diperjuangkan mati-matian nggak dapet-dapet) aku mendapati buku berjudul “½ Karyawan, ½ Bos” yang dipromosikan di milisnya CCI (Creative Circle Indonesia) Buku panduan bagaimana agar kita bisa berbisnis tanpa harus meninggalkan pekerjaan kita sebagai pegawai dengan gaji yang sayang kalau dilepas. Buku yang sangat menarik. Aku merasa beruntung karena sudah melakukannya lebih dulu (dengan TELAP12) sebelum buku ini terbit. Hanya saja masih belum selancar yang kuharapkan.

 

setengah-bos-karyawan

 

Tak diduga setelah lebaran departemen kreatif melakukan resign berjamaah. Dan seperti tanpa berpikir panjang aku memutuskan untuk ikut resign meninggalkan pekerjaanku meski gajinya cukup lumayan. Kakakku tak setuju dengan keputusan yang kuambil. Aku tak tahu apakah tindakanku itu benar atau salah. Hingga lama-lama aku tersadar kalau punya usaha yang disambi, atau setengah-setengah, maka hasilnya ya setengah-setengah pula. Dan aku harus meninggalkan jauh-jauh paradigmaku sebagai pegawai selama ini. Nggak bisa setengah bos, setengah karyawan lagi. Kalau jadi bos ya jadi bos, kalau jadi karyawan ya jadi karyawan. Fokus. Lhawong usaha itu yang nyiptain aku sendiri masak harus disambi? Lalu apakah buku itu kemudian jadinya nggak berguna? Ya tetep berguna. Aku bisa belajar bagaimana mengelola keuangan secara sederhana (yang sekarang masih belum aku aplikasikan, hehe) dan masih banyak lagi tentang bisnis. Malah kalau aku baca, buku ini sebenarnya justru mengajak pembaca untuk memilih menjadi pengusaha.

 

financederhana01financederhana02

 

Setelah kejadian itu, semuanya seperti serba terhubung dengan sendirinya. Aku secara tak sengaja bertemu dengan pengusaha pemilik bakpiapia, Mbak Rizna dan akhirnya bergabung di JCI (Junior Chamber International) hingga bisa belajar banyak dari pengusaha-pengusaha yang sudah sukses. Bertemu dengan pengusaha-pengusaha yang masih mahasiswa HIPMI-PT.  Lalu belajar banyak ilmu bisnis dari acaranya Makelar Sedekah. Tak hanya itu, ada yang tak kalah menarik, yaitu Islamic Business Coaching yang diadakan 2 minggu sekali oleh Ust. Dwi Condro dimana kita dilatih untuk menjadi Muslimpreneur. Karena bisnis itu bukan hanya menyangkut profit, tapi urusannya sudah akhirat (surga-neraka) Bagaimana agar setiap langkah usaha kita mendapat berkah dan manfaat  yang nyata dengan menghindari yang namanya riba.

Dan tak terasa 9 Maret kemarin TELAP12 sudah genap berumur satu tahun. Alhamdulillah, usaha yang semula dari kaki lima kini bisa menempati ruko, dan semakin hari semakin ramai. Melihat perkembangan Januari-Februari kemarin, pencapaian pun sudah melampaui apa yang kita targetkan setiap bulan. Padahal sebelumnya mendekati target aja susaaah banget… Perlahan TELAP12 sudah mulai dikenal masyarakat Jogja, menjadi tempat destination para pecinta kuliner dan dengan sendirinya mulai diliput banyak media. Tapi seperti biasa, masih banyak PR yang harus dikerjakan untuk mengejar banyak keter tinggalan. Harus bikin sistem, aturan main, pendelegasian pekerjaan, dll. Masih banyak belajar, dan belumlah telat.

Dunia entrepreneurship menjadi semakin menarik bagiku. Sepertinya Allah memiliki cara tersendiri. Jangan-jangan termasuk urusanku dalam menikah. Kenapa harus berputar-putar dulu, kenapa nggak dari dulu? Seperti halnya cerita bisnis, sepertinya yang ini punya cerita yang tak terduga dan tak kalah menarik juga, hehe…

Tags: , ,

2 Responses to “(belumlah) telat”

  1. deetskoink Says:

    keren ig di hire cah sd🙂

  2. penggembira Says:

    oiyo,aku motret..artikel TELAP12 di magz edisi februari..hehehe.lali aplot e..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: