keyakinan

Habis dari warung  TELAP12 -Setelah mendapati beberapa kali lampu hijau dari Jl. Kusumanegara, kali ini aku tertahan di turunan perempatan Badran. Menunggu 99 detik. Padahal tadi hampir saja bisa kukejar lampu hijau itu dan mencatatakan rekor melewati 8 lampu hijau. Kumatikan mesin sepeda motorku, di depan ada asap dari sampah yang dibakar di tepi trotoar. Aku merencanakan saat lampu sudah hijau nanti, aku akan melewati asap itu dengan keren seperti di film Ksatria Baja Hitam. Detik ke 17, kunyalakan mesinku. Lampu sudah hijau, aku melaju kencang dengan senyuman percaya diri melewati asap itu. Ah, aku lupa menutup kaca helm. Uhuk-uhuk! Jadinya malah nggak keren.

Disepanjang perjalanan pulang setelah melewati asap itu, aku jadi teringat dengan masa kecilku. Aku sangat suka sekali dengan asap. Ketika melihat ada sampah yang di bakar di blumbang (kubangan untuk sampah-sampah) aku suka bermain-main dengan asap itu. Aku melompatinya beberapa kali dengan beberapa aksi. Ada yang seperti seorang jagoan dalam film, atau penyanyi rock di atas panggung. Dan tahukah? Aku suka melahap asap waktu itu. Hap-hap, asap-asap itu masuk ke dalam mulutku. Tak hanya itu aku kadang suka melahap asap yang keluar dari knalpot angkutan Isuzu yang berbahan bakar diesel. Dan yang paling aku suka adalah asap dari kompor sumbu setelah ditiup (untuk dimatikan). Aku suka baunya. Bahkan pernah ketika kepalaku pusing, dengan menghirup asap itu, aku jadi nggak pusing lagi. Hingga akhirnya kebiasaanku itu ditentang oleh keluargaku karena bisa berbahaya. Lama-lama aku meninggalkan kebiasaanku itu.

Pertanyaannya adalah, apakah aku sakit setelah menghirup asap itu? Ternyata tidak, padahal asap karbon dari hasil pembakaran tersebut sangatlah berbahaya. Mengapa bisa begitu? Jawabannya adalah keyakinan. Aku yakin ketika aku menghirup asap itu tidak akan terjadi apa-apa. Bahkan aku yakin ketika aku menghirup asap dari kompor sumbu, pusing kepalaku jadi hilang. Aku tidak berpikir apa-apa, hanya yakin saja. Namanya juga masih kecil, beda dengan saat kita dewasa. Saat dewasa kadang keyakinan kita masih dibayangi oleh rasa takut dan keraguan-keraguan.

Kalau dikonversikan di dalam kehidupan nyata, itu seperti orang gila di jalanan. Lihatlah orang gila yang makan dan minum apa saja. Kadang makan makanan dari sampah, minum air kali, bahkan ada yang makan dedaunan yang disobek dari entah itu tanaman apa di pinggir trotoar. Dan mereka sehat-sehat saja. Lebih sehat daripada orang-orang yang menjaga pola makanan sehat tiap hari tapi tetap saja kena penyakit jantung atau stroke. Lihatlah siapa yang lebih bahagia dan suka tertawa, hehe… Mereka tidak berpikir saat memakan atau meminum apa saja, karena mereka yakin itu tidak membahayakan dirinya.

Nah, bicara soal keyakinan, aku jadi teringat dengan ilmu rejeki yang disampaikan oleh Mas Firly, owner bubur Syarifah di acaranya Sharing Bisnis Makelar Sedekah (lihat postingan sebelumnya). Dalam memulai berdagang atau berbisnis, buatlah bisnis itu jadi REJEKI Anda. Dan dalam ilmu rejeki, kuncinya adalah keyakinan. Yakini dulu bahwa rejeki itu dari Allah. Lihatlah seekor cicak, apakah makanannya? Nyamuk. Nyamuk punya sayap sehingga bisa terbang, tapi apakah cicak perlu sayap hingga akhirnya bisa terbang mengejar dan melahap nyamuk? Nggak perlu. Dia hanya fokus pada rejekinya itu, berikhtiyar dan mengejar terus, hingga akhirnya rejeki itu mendekatinya, dan hap! Lalu ditangkap🙂

Setiap makhluk yang hidup di dunia ini, rejekinya sudah dijamin Allah. Lihatlah gajah. Gajah itu vegetarian, makannya rumput. Tapi bagaimana bisa badannya gede kayak gitu coba? Pohon, apakah dia berpindah atau berjalan untuk mencari makan? Tapi bisa tumbuh dan besar, bisa hidup puluhan tahun. Kalau sudah tahu begitu, kenapa kita sering putus asa atau mengeluh? Kita saja rejekinya sudah dijamin oleh Allah sejak 120 hari di dalam kandungan lho. Masih kurang bersyukur apa coba kita sama Allah? Mengapa kita tidak malu sama ibadah kita dimana kita sudah merasa ibadah kita itu bagus? Padahal ibadah kita tak cukup membayar rizqi-Nya dan usaha kita pun tak sebanding dengan karunia-Nya.

Hakikatnya kalau kita yakin sama Allah, apapun ikhtiyar kita harus tunduk sama perintah-perintahNya. Rejeki memang sudah dijamin sama Allah, kita tinggal menjemputnya. Tapi menjemput itu kan harus dengan usaha atau ikhtiyar. Kalau tujuan hidup kita adalah untuk mengabdi kepada Allah, jadikan usaha kita bernilai ibadah. Bagaimana menyikapinya? Ya dengan tawakkal. Kita harus selalu menyertai tawakkal kita dari sebelum, pada saat, ataupun setelah kita melakukan usaha. Yakin aja deh, sertakan Allah dalam setiap usaha kita, maka Allah pasti bakal ngasih rejeki banyak ke kita.

Tapi ada kalanya kita terlena dan lalai dengan keyakinan kita akan siapa yang ngasih rejeki. Habis isya’ tadi aku baru sampai di warung TELAP12. Harusnya sedari sore, tapi aku kena biduran sejak bangun pagi. Aku lupa kalau malam itu malam minggu, jadi akan sangat ramai sekali di TELAP12. Melihat biduranku sudah agak mereda, aku segera melaju ke TELAP12. Awak TELAP12 sepertinya butuh bantuan. Dan benar, malam itu ramai banget, aku segara berbaur dengan kesibukan melayani pelanggan. Malam itu, setengah sembilan malam garnis sudah habis, sehingga kita harus menolak banyak pelanggan yang datang. Nggak sampai jam sepuluh kita sudah tutup.

Ternyata ramenya sudah sejak jam 4 sore. Si Bosiran tak sekalipun bisa berhenti sejenak memasak, kecuali dipotong oleh sholat maghrib. Bayangkan, menyajikan 90-an porsi Mie Persis dan berdiri terus selama 5 jam. Bisa-bisa masuk rekor MURI. Sambil memasak, dia bilang ke aku yang sedang sibuk mencuci tumpukan piring yang menumpuk. “Aku tadi nggak sempat sholat ashar, tahu-tahu sudah adzan maghrib” Aku langsung terhenti sejenak. “Wah jangan diulangi, cari rejeki ya cari rejeki, tapi ya jangan ninggalin sholat. Lha yang ngasih rejeki emang siapa?” Rupanya dia disibukkan oleh pekerjaannya melayani pelanggan. “Lha biasanya kan kamu minta ijin sholat dulu toh sama pelanggan?” imbuhku. “Iya, tapi tadi pelanggannya banyak, tahu-tahu sudah adzan maghrib”

Lalu aku jawab, “Ya sudah, pokoknya besok kamu kudu meng-qodlonya. Soalnya yang dosa bukan kamu saja, aku juga kena tanggung jawab tauk! Lha yang punya ide ndiriin TELAP12 siapa? Dan sekarang TELAP12 sudah membuatmu lalai sholat” Untung saja saat maghrib dia sempat maghriban. Tujuanku mendirikan TELAP12 adalah untuk mencari berkah bareng-bareng. Aku sangat bersyukur sekali ketika dulu pegawaiku ada yang nggak sholat, sekarang sholatnya sudah mulai rajin. Hanya dengan ngasih contoh sholat tepat waktu dan meninggalkan semua pekerjaan saat adzan sudah berkumandang, perlahan bisa meyakinkan bahwa rejeki itu yang ngasih Allah. Aku juga beruntung melihat Al-Qur’an terletak di atas kardus pakaiannya pegawai baruku bersanding dengan sajadah. Dan aku yakin itu bukan untuk pajangan, ngapain juga majang Al-Qur’an di atas kardus? Alhamdulillah pegawai yang baru ini bekerja dengan baik. Semoga kejadian lalai sholat ini tidak terjadi lagi, dan semoga keberkahan terus mengalir untuk kami semua.

Astaghfirullah wa Barakallah..

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: