keras kepala

Bulan Desember tahun lalu kakakku main ke Jogja untuk melihat-lihat warung TELAP12. Selama aku mendirikan TELAP12, ya baru sekali itu kakakku mampir. Banyak agenda yang kami lakukan diantaranya merenovasi ruko, dari bersih-bersih, menata dapur, beli karpet, dll yang ternyata tak cukup dikerjakan hanya sehari. Kedatangannya cukup membantu, tapi seperti biasa pasti banyak komentar dan kritikan darinya. Padahal dia sendiri belum tahu, bahwa bisnis itu tak semudah yang diucapkan dan direncanakan. Daripada aku sendiri yang mendengarkan semua komentar, maka aku bermaksud mengajak ke seseorang untuk berkonsultasi. Aku jadi teringat pada Mas Edy SR, dosenku dulu. Pengalamannya dalam bidang hal sangat banyak, namun beliau sekarang lebih konsen ke masalah branding dengan brandpreneur-nya. Entah makhluk satu ini sebenarnya spesialisasinya apa, tapi beliau adalah orang yang bisa ngasih advice yang luar biasa sehingga kuanggap sebagai konsultan. Kebetulan Mas Edy ada di Jogja, maka diadakanlah agenda ketemuan di Angkringan Pak Min.

Aku menceritakan semua tentang TELAP12 ke Mas Edy SR dan perkembangannya serta rencana apa yang harus aku lakukan kedepannya. Habis itu kakakku menyela dan menceritakan segala sesuatu yang tidak terkontrol di dalamnya. Dan dia bilang “Masalahnya adikku ini keras kepala Mas!” Heh, apa?! Keras kepala?! Sebenarnya aku nggak terima kalau disebut keras kepala. Entah aku ini keras kepala atau enggak, tapi sebenarnya kakakku itu lebih keras kepala daripada aku. Namun saat itu aku nggak mau protes. Diam saja dan membiarkan semuanya mengalir hingga akhirnya ketemu ujung permasalahannya. Kalau aku langsung protes, berarti aku adalah orang yang keras kepala hanya karena nggak mau dianggap keras kepala (nah lho?).

Mas Edy berbicara panjang mengenai pentingnya sebuah sistem dalam bisnis. Dan ujung-ujungnya yang harus dimulai adalah dengan mengubah habits. Karena menjadi owner pada dasarnya adalah seorang leader yang harus bisa mengatur tim. Menciptakan kekuatan dan budaya yang disiplin untuk kesuksesan bisnis. Dan intinya semuanya kembali pada diri sendiri yang harus mau dipaksa untuk merubah habits. Malam itu akhirnya semua komentar dan kritikan kakakku kepadaku seakan terbungkam dan terjawab oleh pemaparan yang disampaikan oleh Mas Edy SR. Sepertinya kakakku menyadari kalau berbisnis itu ternyata juga nggak segampang yang dikira dan banyak yang harus dilakukan. Dan kayaknya aku nggak salah ketika memutuskan Mas Edy SR sebagai konsultan malam itu. Kenapa? karena sebenarnya Mas Edy SR itu yang aku tahu orangnya keras kepala bukan main. Dibutuhkan orang yang lebih keras kepala untuk mengatasi orang-orang yang keras kepala. Malam itu sebenarnya adalah malam dimana kepala-kepala yang keras saling bertemu  :)

Anyway, sifat keras kepala sebenarnya bukanlah sifat yang buruk. Bahkan justru dibutuhkan untuk bisa mendisiplinkan dan merubah seseorang. Tentunya sifat keras kepala yang positif dan bisa memberikan memotivasi yang kuat. Coba ingat-ingat, waktu kita sekolah siapakah guru yang paling berpengaruh bagi kita hingga kita ingat terus? Tentunya guru-guru yang cerewet dan keras kepala, hehe.. Waktu aku bekerja di peetakumpet, aku juga bertemu dengan atasanku yang keras kepala. Bahkan karena aku keras kepala juga, kami sering berdebat. Meskipun sering pada akhirnya dirikulah yang ikhlas untuk mengalah, hehe.. Apakah itu baik? Baik, asalkan dari semua argumen, semuanya bisa menerima keputusan dengan ikhlas dan tidak berakhir dengan perseteruan serius yang tak berujung. Sekalipun diri kita masih tetep ngeyel 🙂 Tapi pada akhirnya keputusan yang disepakati akan kelihatan apakah keputusan itu baik apa tidak. Dan masing-masing bisa saling menyadari.

Bahkan sifat keras kepala sangat dibutuhkan dalam keluarga. Siapa yang keras kepala, biasanya dialah yang memimpin keluarga. Meskipun pada hakikatnya yang memipin keluarga adalah seorang suami, namun seorang istri yang keras kepala juga bisa mengatur keluarganya. Aku pernah bertemu dengan ibunya Mas Edy SR di Surabaya beberapa tahun yang lalu, dan Mas Edy juga sering cerita tentang ibunya. Ibunya adalah seorang yang keras kepala, tapi ternyata itu bisa mendidik, mendisiplinkan, dan berguna bagi anak-anaknya. Almarhumah ibuku pun juga sama. Kuakui, ibuku adalah seorang pemimpin di keluargaku. Dan jelas, ibuku adalah orang yang keras kepala. Keras dan omongannya nylekit. Apalagi ketika melihat anak-anaknya yang sedang malas dan nganggur.

Ibuku sangat keras dalam mengatur waktu. Apa yang bisa dikerjakan sekarang, kalau bisa semuanya ya dikerjakan sekarang. Sama seperti slogannya Nike, the time is now! Waktu, bagi ibuku sangatlah berharga. Rugi besar kalau melewatkan banyak waktu dengan tidak melakukan apa-apa. Termasuk menunda-nunda pekerjaan yang sudah menjadi kebiasaan burukku (mungkin sampai sekarang, hehe..) Ibuku sangat tidak suka melihat orang yang menghabiskan waktu tanpa berbuat apa-apa kecuali untuk istirahat karena capek bekerja. Pernah pas hari libur, ibuku baru pulang dari pasar lalu mendapatiku baru bangun tidur sore, beliau bilang “Ditinggal dua jam, malah buat tidur? Dua jam itu kalau sekarang sudah sampai Semarang tauk?! Kernet bisa dapet lima ribu rupiah!!” Itu adalah kritikan nylekit dari ibu yang dilontarkan padaku karena tidak menggunakan waktu buat nyapu rumah, ngepel, mandi, atau sholat, dll. Selalu begitu. “Satu jam nggak ngapa-ngapain? Satu jam tuh sudah sampai Kudus!” Terus aku jawab “Iya, dua ribu lima ratus! Dapet kecap satu botol” hehe… Begitulah aku, selalu ngeyel meskipun aku tahu kalau aku salah.

Dan salah satu sifat orang yang keras kepala adalah ngeyel (nggak mau kalah) Meskipun tahu dan sadar kalau dirinya salah, tapi akan selalu mencari celah. Pokoknya nggak mau kalah, namanya juga keras kepala. Nah, dalam hal waktu, entah kenapa sampai sekarang aku butuh orang yang keras kepala untuk mengingatkanku agar tak menyia-nyiakan waktu. Berkali-kali disadarkan, biasanya balik lagi. Dengerin lagunya Raihan yang ‘Demi Masa’ biasanya aku sadar dan bangkit, tapi lama-lama kumat lagi. Pernah aku mendapat suatu quote yang sangat berharga dengan gambar jam pasir bertuliskan “Jangan siakan waktumu, karena kamu tidak bisa membaliknya” Quote itu benar, tapi yang namanya orang keras kepala pasti akan selalu ngeyel. “Siapa bilang aku tidak bisa membalikkan waktu? Waktu itu kan jam? Kata siapa jam tidak bisa dibalik?” Maka jadilah seperti ini jika kalian mampir di warung TELAP12.

 

abekonde_clock

 

Entah itu maksudnya apa, tapi yang jelas hiasan itu untuk mengingatkanku dan semua orang agar tidak menyiakan waktu. Dan juga sebagai tanda, kalau aku ini orangnya keras kepala, hehe…

Nggak juga ah🙂

Tags: ,

One Response to “keras kepala”

  1. Prabowo Says:

    Kalau sampeyan nggak keras kepala, mungkin TELAP12 nggak akan bertahan lama sampai sekarang,mas. Pasti sampeyan udah nyerah duluan kalo ada halangan😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: