pindahan dan su’udzon

Januari 2007, setelah melewati beberapa test dengan kandidat yang cukup berat, akhirnya aku dipanggil HRD petakumpet. “Bolanya ada pada kamu” kata Mbak Dwi -HRD pada waktu itu- sembari mengajakku berjabat tangan. Lalu muncullah OB (Bojes kalau nggak salah panggilannya waktu itu) datang menyuguhkan teh. Aku harusnya puasa sunnah Kamis waktu itu, tapi akhirnya terpaksa membatalkannya pada pukul 16.15. Satu setengah jam lagi sebelum berbuka. Sementara di luar terdengar rame suara anak TK latihan drum band. “Kamu mulai kerja Senin ya? Eh, Jum’at besok kamu bisa dateng ke sini nggak? Akan ada kejutan lho” Aku tak tahu kejutan itu apa, tapi sore itu aku datang ke kantor petakumpet yang masih beralamatkan di Gedongkiwo MJ1000.

Beberapa anak departemen kreatif masih terlihat sibuk dengan kerjaanya sambil melihatku yang sedang duduk di ruang tunggu. A new boy. Tak lama kemudian mulailah HRD memerintahkan semua pegawainya untuk pergi ke suatu tempat dengan mobil kantor berwarna orange yang kata mereka seperti angkot itu. Tapi mereka menyebutnya tank. “Kamu tahu kejutannya? Kantor petakumpet mau pindah. Ayo, sekarang kita mau ke sana” Sore itu akhirnya semua ke Godean. Sebuah daerah yang menurutku adalah pinggiran paling barat dan jarang didatengin orang, termasuk diriku. Aku pernah ke sini, bahkan lebih jauh lagi, saat ke rumah partnerku waktu kuliah, Nur Cholis. Atau saat mengirimkan karya untuk kompetisi Communication Awards yang diadakan UMY waktu itu. Sebuah daerah yang asing bagiku.

Menyusuri Jl. Godean, akhirnya masuk ke cabang jalan, yaitu Jl. Kabupaten. Dan tibalah di sebuah bekas restoran Jepang di antara petak-petak sawah. Bangunannya besar dan bertingkat dengan cat warna pink. Di teras atas dekat hamparan sawah, aku mulai memperkenalkan diriku pada kru-kru petakumpet. Sekaligus dikerjain disuruh nyanyi dan joget. Tradisinya, kalau masih ada yang kurang puas, berarti belum sah perkenalannya. Aw, saat itu aku harus membuang jauh-jauh urat maluku. Menyanyi lagu Cucak Rowo sambil joget senam SKJ, dipotret lagi. Saat itu juga sekalian dengan perkenalan anggota baru selain aku, Tita –satu-satunya desainer cewek di petakumpet- sekaligus pelepasan seorang Account Executive, yaitu (almarhumah) Mbak Ochan. Lalu ada juga yang habis ulang tahun, yaitu Mbak Rina, Supporting Account. Jadi komplitlah acara dikerjainnya waktu itu. Lalu Kang Apep (Head Account saat itu) mulai memberitahuku untuk mengamankan hp, karena mungkin ada acara penceburan di kolam ikan depan restoran. Dan untungnya saja nggak jadi.

Melihat kejelasan akan pindahan itu, akhirnya aku harus menyiapkan diri. Aku belum pindah kos saat itu dan masih di Blimbing Sari. Jadi daripada pindah kos ke Gedongkiwo, mendingan sekalian pindah kos ke Godean, karena petakumpet mau pindah ke sana. Sebenarnya berat bagiku untuk meninggalkan Blimbing Sari. Namun kini kos-kos 77 itu keadaannya tidak seguyub dan seharmonis dulu lagi. Lagian aku sudah di situ semenjak tahun 2002. Awalnya kulihat akan terasa berat untuk memindahkan barang-barangku yang sudah banyak banget. Bayangin, sejak 2002 sampai 2006. Tapi ternyata semua barang bisa dipindah hanya dengan satu angkatan dengan menggunakan mobil temanku kuliah. Begitu aku pindah dari Blimbing Sari, aku harus merelakan genjot sepeda Godean-Gedongkiwo pulang pergi dengan jarak 15 km untuk sementara. Untuk sementara? Ternyata tidak. Kantor petakumpet baru pindah ke Godean bulan Agustus, tepatnya beberapa minggu sebelum penyelenggaraan Pinasthika dimulai.

Aku nggak tahu kenapa sangat lama. Lha wong cuman pindahan? Tiap hari aku selalu menunggu dan menunggu kabar kapan kantor akan pindah sampai aku harus genjot tiap hari selama 6 bulan. Heran, susahnya apa sih?

Masalah pindahan itu ternyata enggak mudah. Dulunya aku dengan remeh ngatain ke petakumpet; apa sih susahnya pindahan? Sekarang balik aku yang merasakannya sendiri. Coba pikir, harusnya aku sudah pindah dari kosku di Godean untuk menempati ruko bagian atas warung TELAP12 yang sudah disekat dan dicat. Rencananya Maret aku harus sudah menempati tempat itu, tapi sekarang bulan apa coba? Sudah akhir Juni. Mau puasa lagi. Pindahan itu memerlukan tenaga, waktu, dan (mungkin)biaya yang ekstra. Semoga sebelum puasa aku sudah di warung TELAP12 sepenuhnya.

Dan herannya meskipun barangnya sudah dicicil untuk dipindahin sedikit-demi sedikit, namun sepertinya nggak habis-habis juga. Aku sampai heran, aku sudah memindahkan berang-barang sampai 3 angkatan. Ketika bongkar-bongkar dan beres-beres, aku bingung, bagaimana bisa barang sebanyak itu bisa muat masuk semua ke dalam kamar ukuran 3 X 2,75 meter?

 

pindahan

 

Dan yang nggak pernah habisnya adalah buku dan majalah. Setiap ditata pasti langsung memenuhi seluruh ruangan kamar. Nggak cuma nggak habis-habis, tapi beberapa buku dalam satu kardus beratnya minta ampun. Kukira yang paling berat adalah peralatan komputer atau lemari pakaian, ternyata satu kardus penuh buku lebih berat.

Tapi dari pindahan itu aku mendapatkan banyak hal menarik, terutama bahwa su’udzon alias berburuk sangka itu sampai kapanpun tetap tidak menghasilkan kebaikan. Ceritanya begini.. Dulu, waktu aku nyari kos di Godean, bingungnya minta ampun. Aku minta bantuan sama partnerku waktu kuliah, Nur Cholis yang memang kebetulan rumahnya di bagian Godean tapi lebih pelosok lagi di bagian paling Barat. Lalu aku juga ngajak Dimas, yang rumahnya berada di sekitar Jl. Godean. Tiba-tiba saja teringat oleh temanku kuliah bernama Bagas. Kebetulan tinggalnya di Godean tapi di tengah-tengah, antara rumahnya Dimas dan Nur Cholis🙂. Bagas ini dengan siapapun dan dimanapun, dia kenal. Istilahnya, daerah mana saja premannya siapa, dia tahu. Tapi dia di kampus dikenal seorang trouble maker. Dimana ada dia pasti ada masalah. Apapun yang dia pegang pasti terjadi masalah.

Namun aku tak terlalu peduli dengan pandangan orang yang seperti itu, meskipun mungkin kenyataannya seperti itu. Soalnya dia pernah punya andil yang besar dalam Pameran waktu kuliah dulu. Dia pernah menawarkan dirinya tanpa dibayar, naik kereta ke Solo hanya untuk menempelkan poster pameran di UNS. Hasilnya, beberapa peserta workshop ada yang dari Solo.

Nah, saat aku sedang nyari kos di Godean dan main ke Bagas, lalu minta tolong untuk dicarikan kos. Tanpa ragu dia langsung melesat, dan tak lama kemudian Bagas sudah menemukan tempat yang tepat untukku, yang saat ini mau kutinggalkan. Saat itu kalau nggak salah Dimas sama Nur Cholis sepakat untuk bilang “Wah biasanya trouble maker, tapi sekarang problem solver” hehe. Bagaimanapun Bagas adalah orang yang berjasa mencarikanku kos yang sudah kutempati selama 6 tahun. Lalu dimanakah Su’udzonnya?

Begini… Ketika aku sudah pindah ke Godean, Bagas sering mampir tiap weekend. Yah sekedar ngobrolin kerjaan dan desain. Kebetulan saat itu dia tertarik untuk bekerja di perusahaan majalah apapun di Jogja. Sepertinya menyenangkan, bisa mendesain dan melayout majalah dan dinikmati banyak orang, katanya. Nah suatu pagi kebetulan aku sedang buka-buka majalah lama yang menjadi salah satu benda paling sulit dicari. Adalah majalah Hai lama yang meliput segalanya tentang film X-MEN, edisi tahun 2000 dan Spider-Man, edisi tahun 2002. Saat Bagas mampir dan melihat layout serta beberapa iklan kreatif di majalah itu, dia bermaksud untuk meminjam kedua majalah itu. Aku agak ragu dengannya, apakah dia bisa merawat majalah itu. Masalahnya ada potongan Comic Ad (iklan komik) menarik dari koran yang aku masukkan ke dalam majalah itu, yang merupakan sambungan cerita dari iklan AXE EFFECT versi Hamelin Si Peniup Seruling.

 

comicAd

 

Akhirnya aku ninggalin pesan ke dia “Tapi dijaga baik-baik ya, soalnya majalah ini susah lagi nyarinya, dan ada selipan Comic Ad keren di dalamnya” Akhirnya aku mempercayakan kedua majalah itu sekaligus aku pinjamkan ke dia sebagai sampel untuk layout majalah.

Selang beberapa minggu kemudian aku mulai disibukkan dengan pekerjaanku. Saat ketemu Bagas, dia bilang “Majalahmu ada di rumahku lo” terus aku jawab “Jaga baik-baik lo”. Aku tak bermaksud untuk mengambilnya karena mungkin dia sedang memerlukannya, dan aku sedang sibuk-sibuknya. Setiap kali dia bilang “Majalahmu kapan kau ambil?” aku selalu bilang “Bawa aja dulu”

Hingga suatu hari entah kenapa tiba-tiba aku kepingin banget  bikin sandal Wolverine vs Magneto yang ada di majalah Hai X-MEN. Aku cari majalah itu di kos nggak ada, sampai aku obrak-abrik semuanya. Aku sampai bernazar waktu itu, kalau ketemu mau aku bacain Surat Yasiin sepuluh kali. Hingga akhirnya aku ingat-ingat lagi kira-kira siapa yang yang biasa pinjam majalahku. Aku sms Nur Cholis yang biasanya pinjam majalahku, katanya nggak pinjam. Lalu teringatlah “Mungkin Bagas..” Aku yang saat itu sedang mood, tiba-tiba jadi males dan berencana untuk bikin sandal itu kapan-kapan saat Bagas mengembalikan majalah itu.

Dan pada sebuah pertemuan semacam reuni setelah lebaran, aku dan teman-teman kuliah yang masih ada di Jogja kumpul-kumpul. Di situ ada Bagas, dia sudah bekerja di percetakan ternama di Jogja saat itu. Lalu aku tanya ke dia “Gas, kamu bawa majalahku nggak yang X-MEN sama Spider-Man?” “Oh, yang Spider-Man yang covernya putih semua itu ya?” “Iya yang itu..” Wah ternyata benar, dibawa dia, syukurlah.

“Wah, dulu aku suruh ambil nggak diambil-ambil? Sekarang nggak keurus entah kemana. Udah dikilo mungkin. “Heee?!!” aku kaget setengah mati “Loh kan dulu aku suruh rawat baik-baik? Padahal ada iklan kerennya lo..”

“Yah kamu sih, udah lama banget, kan?”

“Loh, nggak bisa gitu Gas, itu majalah berarti banget bagiku” Ah, menyesal kenapa tidak langsung aku ambil saat dulu-dulu itu.

“Gini aja, kamu inget gak nomor sama tanggal edisinya? Ntar aku cariin di majalah bekas”

Wot?!!! Begimana aku bisa ingat nomor dan tanggal edisinya? Mana ada orang setiap habis beli majalah lalu diingat-ingat nomor sama tanggal edisinya? Sebuah pembeelaan dengan solusi yang begitu wagu. Hingga saat itu, akhirnya aku anggap itu sebagai musibah bagiku. Kehilangan majalah yang waktu SMA dulu aku mati-matian mendapatkannya. Sejak saat itu aku nggak mau minjem-minjemin dan udah nggak percaya lagi sama Bagas. Aku telah su’udzon padanya, dan aku meyakini bahwa su’udzonku itu benar. Namun ternyata salah.

Kemarin-kemarin aku mulai serius untuk memindahkan beberapa barang-barang sedikit demi sedikit saat mau ke warung. Dengan membawa kronjot yang biasanya dipakai Pak Kos untuk mengantarkan teh, aku bisa membawa enam kardus besar sekaligus dengan sepeda motor. Mulailah aku agendakan apa yang mau aku angkut dulu. Saat itu aku mulai beres-beres beberapa goody bag dari beberapa festival yang pernah aku ikuti. Banyak sekali kenangan teringat kemabli saat satu persatu aku bersihkan isi di tiap goody bag dari debu. Dan tiba-tiba dari salah satu tas itu aku menemukan dua majalah dalam satu plastik dengan posisi cover belakang semua yang kelihatan. Aku seperti sangat familier dengan Print Ad yang ada di cover belakang majalah itu. Setelah aku buka, ternyata majalah X-MEN dan Spider-Man. Aku senang sekaligus terkejut bukan main.

 

X-MEN_Spidey

 

Dan langsung saja ingatanku tertuju pada Bagas. Ya Allah aku sudah su’udzon padanya. Aku nggak tahu bagaimana majalah itu bisa sampai di situ. Mungkin karena aku terlalu malas untuk mengembalikan majalah itu ke tempat yang semestinya, sehingga langsung kuselipkan ke goody bag begitu saja. Dan kemungkina besar aku dan Bagas sama-sama nggak ingat kalau buku itu sudah dikembalikan ke tanganku. Subhanallah, ini sudah sangat begitu lama, dan Allah menyadarkanku melalui pindahan ini. Maafkan aku yang sudah su’udzon padamu sobatku Bagas. Mungkin setelah kepindahanku ini aku akan sulit menemuimu. Astaghfirullohaladziim… Seharusnya aku bertabayyun dulu.

” Ya Allah, lapangkanlah dada kami, tenangkanlah jiwa dan fikiran kami, karuniakanlah sifat tabayyun pada diri kami, sehingga kami dapat menyikapi semua berita yang sampai kepada kami dengan benar sesuai kehendak-Mu”. Sumber: http://bit.ly/vQv3cW

Tags: , , ,

One Response to “pindahan dan su’udzon”

  1. Prabowo Says:

    Wowww… koleksi komik di fotonya dirawat sekali, mas. Pake dibungkus plastik segala ya? Kerenn….😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: