daleman

Pagi ini aku telat subuhan. Aku keluar menuju balkon depan, melihat mentari sudah menampakkan sinaran buram yang tak terlalu menyilaukan. Lampu jalan masih menyala seolah tak mau kalah menyaingi sinarannya. Mengingatkanku pada para pekerja lembur yang masih bertahan menyelesaikan pekerjaannya sampai pagi.

 

lampu-jalan-vs-mentari

 

Tak terasa mulai hari ini sudah bulan Oktober. Dan tepat setahun aku istirahat dari dunia Advertising dari pertengahan September tahun lalu. Sebenarnya aku ingin melewatkan blog-ku melewati bulan September begitu saja. Bulan September adalah bulan yang sangat sibuk bagiku. Karena terhitung mulai hari Ahad tanggal 1September, aku sudah pindahan dari kosku yang di Godean, menuju Umbulharjo dan menempati ruko bagian atas warung TELAP12. Dan yang namanya pindahan (seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya) tak segampang yang diduga. Aku perlu sampai 3 hari untuk menata barang-barangku, itupun belum sepenuhnya beres hingga sekarang. Ah, yang penting semua barang-barangku sudah dipindahin dulu.

 

barang_pindahan

 

Tapi sebenarnya yang paling penting adalah masalah adaptasi. Diantaranya, aku harus giliran menggunakan kamar mandi dengan pegawai-pegawaiku. Kemudian masalah mencuci pakaian, aku hampir susah mencari waktu yang tepat untuk mencuci pakaian. Tapi perbedaan yang paling mencolok dibanding tempatku dulu di Godean adalah nyamuknya. Kalau di Godean aku hampir tak pernah merasakan gigitan nyamuk kalau malam. Aku bisa tidur dengan nyaman tanpa ada gangguan nyamuk. Sekalipun ada, itupun tak sebanyak dan seganas nyamuk di Umbulharjo. Pegawai-pegawaiku sampai harus siap sedia Autan biar bisa tidur enak. Sedangkan aku hanya bermodalkan selimut atau memakai celana panjang dan baju lengan panjang. Dan tetap saja nyamuk-nyamuk itu selalu mengusik tidurku.

Tapi hari Ahad kemarin sepertinya aku sudah menemukan solusinya. Begini ceritanya…

Minggu terakhir bulan September adalah puncak-puncaknya hari yang sibuk bagiku. Tak hanya itu, cucian juga menggunung sampai 10 hari. Saking susahnya mencari waktu buat nyuci, kalau dihitung-hitung dalam bulan September aku mencuci hanya 3 kali. Laundry? Nggak mau. Dari hitung-hitungannya saja, sekali laundry biasanya mentok-mentoknya 20-ribuan. Tapi hanya dengan deterjen 800 gram seharga 17-ribuan, itu bisa buat nyuci pakaian dalam sebulan, bahkan selalu lebih. Maklum awal-awalan pedagang itu mikirnya kayak gitu, menekan pengeluaran seminimal mungkin tapi hasilnya harus bisa semaksimal mungkin.

Ceritanya hari Kamis lalu, jam 2-an pagi aku baru mulai mencuci pakaian kotorku yang sudah 10 hari itu (bayangin coba). Karena cucian banyak dan harus menghemat tenaga, aku pakai Molto sekali bilas 8-ribuan. Ya pada kenyataannya sih aku nggak tega kalau habis nyuci langsung aku masukin ke rendaman Molto sekali bilas. Meskipun namanya sekali bilas, tapi aku bilas dulu pakaianku sekali (dari biasanya yang 3 kali bilas), baru aku masukin ke air rendaman Molto. Toh meski instruksinya “hanya cukup setengah tutup botol” kebanyakan orang nggak melakukan seperti itu, tapi lebih dari setengah. Bukan hanya karena nggak tega, tapi juga ada tanda bintang di instruksi itu yang berbunyi untuk jenis pakaian tertentu. Jenis pakaiannya apa, nggak dijelaskan. Apalagi setengah tutup botol itu untuk 10 liter air, sedangkan rendamanku lebih dari itu.

Sehabis subuh langsung kujemur di tempat yang tidak terkena matahari langsung, namun mendapat akses udara yang cukup. Selain biar awet pakaiannya, juga biar wanginya nggak berubah jika langsung terkena sinar matahari. Dan memang wangi banget, sampai wanginya itu membekas terus di tanganku dan memenuhi ruangan itu. Setelahnya, mulailah aku dihajar habis-habisan oleh kesibukan yang lain. Dari menyiapkan desain buat yang mau kerjasama dengan warung TELAP12, mengurus Surat Keterangan Usaha, sampai lembur buat ikutan lomba logo lagi. Hari Jum’at kupunguti jemuran itu. Yang dihanger aku kumpulkan dan letakkan di atas tumpukan kardus bekas lemari es, sementara yang daleman (CD dan kaos sporet) aku lemparkan saja berserakan di kasur. Tak ada waktu untuk melipatnya dengan rapi dan menatanya untuk dimasukkan di lemari. Aku tidur pun di kasur dengan daleman-daleman yang berserakan itu.

Sabtu habis maghrib barulah aku bisa istirahat sejenak dan melepaskan beban pekerjaan. Hanya tinggal pekerjaan melipat daleman-daleman yang masih berserakan diantara bantal dan guling. Habis isya’ rencananya pingin aku lipetin dan masukin ke dalam lemari pakaian, tapi begitu tubuhku sudah tersungkur duluan di kasur, niatan itu nggak kunjung dikerjakan juga. Karena sudah capek luar biasa, dan daleman-daleman yang berserakan di kasur itu membawa suasana wangi dan aroma terapi yang bikin rileks, maka aku langsung terlelap.

Jam 3 pagi aku sudah bangun. Badan terasa fresh dan bugar. Saat itu aku merasakan kondisi yang begitu beda dibandingkan hari-hari biasa waktu aku bangun. Aku mencoba berpikir sebentar, kok rasanya ada yang beda ya? Tapi apa? Oh iya, biasanya waktu bangun, tangan dan kaki gatal-gatal, panas, dan bentol akibat gigitan nyamuk, tapi ini nggak. Apa ya penyebabnya? Setelah dipikir-pikir ternyata yang membuat nyamuk enggan mendekatiku adalah karena aroma wangi dari daleman-daleman yang berserakan disekitar kasur. Daleman-daleman itu berfungsi layaknya tanaman pengusir nyamuk macam lavender atau zodia. Mungkin Moltonya wangi bunga lavender kali. Dan rasanya inilah solusi yang lumayan ampuh buat ngusir nyamuk-nyamuk Umbulharjo yang ganas-ganas itu.

Akupun berpikir logis, daleman-daleman itu aku rendam pake Molto siapa yang mau nyium wanginya coba? Aku aja nggak. Kalau baju kan wajar karena dipakai di luar. Jadi daleman yang wangi itu seolah tak memiliki fungsi apa-apa alias sia-sia. Toh, itu juga nggak ngaruh sama alat vital yang dilindungi oleh daleman kan? Lagian kalau daleman disebar di kasur buat tidur dan ngusir nyamuk… Yaa fine-fine aja bagiku. Justru itu bisa memberikan sensasi relaksasi buat tidur jadi nyaman. Hanya saja mungkin (bukan mungkin sih kayaknya) terlihat nggak etis dan benar-benar diluar batas kewajaran. Bisa-bisa dikira ada kelainan. Bahkan lebih parah. Soalnya bagi orang yang  fetishism biasanya yang dicium adalah daleman wanita, ini malah dalemannya sendiri, apa namanya kalo gitu?

Jadi kesimpulannya adalah daleman ini merupakan solusi yang efektif tapi tak wajar. Yang kedua, sepertinya sangat nggak etis dan tak patut kalau aku menceritakannya di blog ini. Tapi yang ketiga, gara-gara daleman yang berserakan ini, aku jadi diingatkan untuk sebuah urusan yang sangat penting. Saat itu aku berdiskusi perihal daleman dengan seseorang lewat telepon, tapi bukan soal pengusir nyamuk… Sangat serius. Swer!

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: