sedang apa #2

Ini lagi-lagi mengenai permainan sedang apa. Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, aku sangat suka sekali dengan permainan ini meskipun sering kalah. Dan ada satu lagi ingatanku waktu SD yang sampai sekarang masih aku ingat. Aku selalu ingat karena ini ada persoalan gengsi kalau kalah dalam permainan ini. Sialnya aku berada di kelompok yang boleh dikatakan kelompok yang mana di situ kumpulannya orang-orang yang pendiem, pasif, kurang pandai bergaul, dan biasanya tidak pinter-pinter amat. Sehingga mereka benar-benar mengandalkan aku, karena aku dianggap yang terpintar diantara mereka. Aslinya sih sama saja.

Dan lawanku kebetulan adalah kelompoknya anak-anak yang bandel tapi otaknya pada encer semua. Aku sih biasanya bergaul dengan mereka, tapi entah kenapa minggu itu aku berada di barisan anak-anak yang boleh dikatakan termarjinalkan. Di kelasku ada empat baris tempat duduk dan tiap minggu pindah satu baris. Di permainan sedang apa ini dibagi dua kelompok, dan kebetulan pas banget aku dengan 2 barisan anak-anak yang mereka itu seolah berada dalam kasta terendah. Jaman dulu memang begitu, biasanya yang pintar senengnya ngumpul sama yang pintar-pintar, yang merasa bodoh ngumpulnya sama yang bodoh, dan mereka seakan minder dan nggak pantas kalau bergaul sama anak-anak yang pintar. Seakan mereka itu berada di tingkatan kasta terendah.

Melawan orang bandel yang kritis dan cerdas itu susahnya bukan main. Apalagi aku seperti harus melawan mereka sendirian, soalnya yang lain pada ngikut. Jadi sedang apa dan selanjutnya itu tergantung aku. Tak ada yang ngasih ide atau saran karena mereka merasa bodoh dan takut kalau jawabannya keliru. Dan ketika aku diam karena bingung, maka mereka diam dan menyerah. Lalu kalah deh..

Permainan pun dimulai, lawan yang mulai duluan.

“Sedang apa… sedang apa… sedang apa sekarang. Sekarang sedang apa.. sedang apa sekarang?”

Aku pun menjawab dengan kata kerja “pergi”, yang lain sudah tentu otomatis setuju. Kenapa saat itu aku jawab sedang pergi? Karena tiba-tiba aku teringat dengan gantungan yang biasanya di pasang di pintu kos-kosan. Ada tulisan nama, lalu di bawahnya ada tulisan sedang, dan di bawahnya ada beberapa option, yaitu: belajar, tidur, pergi. Ya aku jawab sedang pergi saja, kayaknya mereka akan agak susah menjawab kelanjutannya.

“Sedang pergi… sedang pergi… sedang pergi sekarang. Sekarang pergi apa.. pergi apa sekarang?”

Aku pun berprediksi ke depan dengan cepat, mungkin mereka akan menjawab;

1. Pergi-Pulang, maka selanjutnya akan kujawab pulang-kampung

2. Pergi-Jauh, maka selanjutnya akan kujawab jauh-hari

3. Pergi-Lama, maka selanjutnya akan kujawab lama-nunggu

4. Pergi-Aja, kayaknya yang ini nggak mungkin deh

Tapi jawaban mereka diluar dugaanku;

“Pergi ke bank… pergi ke bank… pergi ke bank sekarang. Sekarang ke bank apa.. ke bank apa sekarang?”

Apa-apaan ini? Pintar sekali mereka. Mereka membubuhkan kata “ke” tapi tetap bisa dengan 2 suku kata, yaitu ke-bank. Bagaimana mereka bisa dapat jawaban serperti itu? Licik sekali mereka. Kalau aku jawab ke bank BRI (yang aku tahu saat itu hanya BRI dan BNI), maka itu akan lebih dari 2 suku kata, dan nggak pas kalau dinyanyikan. Aku sangat panik dan bingung saat itu seakan nggak bisa mikir apa-apa lagi.

Karena aku merasa mereka sangat kebangetan sebab seenaknya saja menjawab, maka aku jawab seenaknya saja;

“Ke-bank-ngeten… ke-bank-ngeten… ke-bank-ngeten sekarang. Sekarang ngeten apa.. ngeten apa sekarang?”

Lalu mereka langsung meledek “Huuu…. apaan tuh ngeten? Ha-ha-ha..”

Ibu guru yang bertugas sebagai juri langsung menyetop permainan yang baru sebentar ini. Lalu sambil tertawa beliau bilang “Yak, kelompok sebelah kanan kalah… Mana ada bank namanya bank-ngeten? Yang ada itu bank BRI, BNI, atau BPD..”

Lalu aku protes “Tadi aku mau jawab BRI Bu, tapi nanti jadi maksa lagunya.. gak pas..”

Lalu Bu guru bilang “Ya nggak apa-apa, kan memang jawabannya yang ada itu. Kalau tadi kamu jawab bank BRI kamu bisa ngalahin kelompok kiri. Pasti mereka nggak bakalan bisa jawab BRI apa…”

Apa? Dipaksain lagunya boleh meski tidak 2 suku kata? Ah nyesel banget aku tadi nggak jawab BRI. Kalau saja aku jawab itu, mereka pasti diam tak berkutik, karena waktu itu belum ada yang namanya BRI syariah, BRI junior, dll. Atau kalau aku jawab ke bank plecit, pasti mereka nggak bisa jawab selanjutnya plecit apa. 2 suku kata lagi. Tapi bagi anak seumuran itu, dan di tahun itu, mana tahu plecit itu apa?

Entah bagaimana aku bisa jawab kebangeten, tapi memang karena mereka benar-benar kebangetan. Ah, coba aku tadi jawab kebangetan? Ngetan itu kan dalam bahasa Jawa artinya ke Timur, lawannya Ngulon alias ke Barat. Ah, nantinya lagunya jadi acak-kadut.

Baiklah aku mengaku kalah, tapi yang jelas dalam peristiwa ini bisa diambil pelajaran, yaitu; jangan panik dan jangan takut keliru. Saat itu aku sudah panik duluan karena merasa berada diantara kelompok anak-anak bodoh, dan melawan anak-anak pintar yang bandel. Itu yang membuatku tak berani mengambil keputusan hingga akhirnya takut kalau jawabannya keliru. Padahal keliru itu wajar. Dan yang kualami itu, yang tadinya kukira keliru, malah justru bisa membuat skak-mat lawan.

Nah selanjutnya babak kedua giliran kelompokku yang memulai. Hasilnya sudah bisa ditebak, kalah lagi. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, aku selalu kalah dalam permainan ini. Tapi dari kekalahan itu kalau aku prediksikan ke depan, justru kekalahan itu bisa menyelamatkan 2 kelompok dari pertikaian.

Penasaran? Ikuti kisahnya di sedang apa #3

“Sedang apa… sedang apa… sedang apa sekarang. Sekarang sedang apa.. sedang apa sekarang?”

Bersambung…

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: