sedang apa #3

“Sedang apa… sedang apa… sedang apa sekarang. Sekarang sedang apa.. sedang apa sekarang?”

Kelompok kami memulai permainan sambung kata ini. Babak pertama kami sudah kalah. Entah di babak kedua ini lawan menjawab apa. Aku tegang.

“Sedang senam… sedang senam… sedang senam sekarang. Sekarang senam apa.. senam apa sekarang?”

Aku terdiam sejenak untuk berpikir, kelompokku pun ikut terdiam (pasrah). Kalau pembaca sekalian melihat jawaban itu, mungkin akan bisa melanjutkan. Bisa senam-pagi, senam-sehat, senam-jantung, dll. Tapi saat itu aku panik. Lalu mengapa aku diam sebentar? Karena yang kudengar bukan senam, melainkan senang. Saat itu aku nggak sempat berpikir kalau bukankah senang itu kata sifat? Dan permainan ini kan seharusnya dimulai dengan kata kerja? Tapi yang namanya panik mau gimana lagi. Aku berpikir selanjutnya senang apa? Ada maksud apa mereka menjawab sedang senang? Maka aku jawab saja;

“Senang hati… senang hati… senang hati sekarang. Sekarang hati apa.. hati apa sekarang?”

Lalu gemparlah lagi suasana di kelas.

“Huu… apaan tuh senam-hati? Mana adaa?…Ha-ha-ha…”

Aku pun tersadar, ternyata aku salah dengar. Aku mau membela kalau aku salah denger, tapi mau gimana lagi. Kelompok lawan meledek habis-habisan. Kelompok kami semakin terpuruk dan kelihatan bego-nya. Kekalahan ini lebih parah daripada kekalahan babak pertama. Aku merasa bersalah karena tidak bisa membantu mengangkat kelompok yang dianggap rendah kastanya ini. Kalau aku ingat peristiwa ini aku jadi bertanya; Ya Allah adilkah ini? Tapi apapun itu, aku mencoba untuk ber-husnudlon alias berprasangka baik. Apa jadinya jika saat itu aku nggak salah dengar? Mari kita balik lagi ke belakang , lalu prediksikan ke depan. Siap? Oke, kita mulai dari;

“Sedang senam… sedang senam… sedang senam sekarang. Sekarang senam apa.. senam apa sekarang?”

Saat itu jika aku mendengar kata senam, pasti aku geram dan berpikir; pintar sekali mereka memilih kata kerja. Jadi aku harus membalasnya dengan yang lebih pintar. Tak mungkin aku menjawabnya senam-pagi atau senam-sehat. Terlalu gampang buat mereka. Bagaimana dengan senam-massal? Hal ini mungkin terjadi, karena saat itu aku paham betul dengan kata massal, karena populer di acara sunat massal. Mereka pasti susah jawabnya.

“Senam massal… senam massal… senam massal sekarang. Sekarang massal apa.. massal apa sekarang?”

Meski susah tentunya mereka nggak mungkin menyerah. Karena mereka nggak hanya bandel, tapi juga pandai berkelit dan maunya menang sendiri. Peluang terbesar mereka adalah, mereka akan menjawab ngawur tapi masuk akal.

“Massal-lah buat lo?… massal-lah buat lo?… massal-lah buat lo sekarang. Sekarang lah buat lo apa.. lah buat lo apa sekarang?”

Lagunya pun jadi semakin ngawur dan keluar dari aturan.

“Lah, buat gue gak ada masalah apa-apa.. emang masalah buat lo?”

 “Iya, masalah buat gue, lu nantangin gue? Hah? Nantang lo!!??”

Akhirnya kelas pun ribut, saling berkelahi karena nggak terima dan berujung pada dendam yang tak selesai-selesai. Ibu guru tak kuasa untuk melerai kedua kelompok itu.

Untung saja kelompok kami kalah, kalau tidak? Akan terjadi permusuhan terus-terusan dan mungkin akan semakin parah. Kekalahan kami membuat semuanya kembali normal dan kegiatan belajar-mengajar tidak berubah menjadi kegiatan hajar-menghajar.

Begitulah kira-kira prediksinya. Hehe.. ada-ada aje

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: