what are you wedding for?

Tidak, tidak mungkin! Ya Allah, sudah bulan Desember. Cepat sekali rasanya. Dan seperti biasanya aku selalu tidak siap menghadapinya. Namun seperti yang pernah kukatakan berkali-kali dengan pede-nya pada orang-orang yang masih single (termasuk diriku sendiri); siap tidak siap, harus siap! Apa itu? Pernikahan. Segala peristiwa yang terjadi di 4 bulan terakhir tahun 2012, sebenarnya telah mengkondisikan diriku untuk memutuskan bahwa di tahun 2013 ini aku bermaksud untuk sendiri dulu. Sendiri dulu, bukan sendiri lagi. Maksudnya aku tidak memikirkan dulu perihal penjajakan ataupun pendekatan dengan wanita yang aku targetkan untuk diajak serius, aku mau fokus untuk mengurus warung TELAP12 dulu. Berbeda dengan sendiri lagi yang memang ada usaha untuk mengajak serius dengan berbagai pengorbanan, strategi jitu yang terencana dengan apiknya, namun selalu berakhir dengan kegagalan. Kesian..

Namun ternyata Allah berkehendak lain. Subhanallah! Allah memang punya cara tersendiri untuk mempertemukan jodoh yang Insya’Alloh tepat bagiku. Bahkan untuk menghubungkannya pun aku tak habis pikir. Sumedang. Sebuah kota yang tak pernah sekalipun terbesit di kepalaku selain tahu. Tak hanya aku, begitu aku kabarkan ke kakakku, dia langsung bilang; tak ada yang lebih jauh apa? Ditambah lagi dia itu orang Sunda. Ada banyak versi cerita dari kakakku yang menjelaskan karakter orang Sunda dengan segala ketidakcocokannya dengan orang Jawa. Dan ternyata memang sudah dari dulu, orang Jawa itu banyak diwanti-wanti jangan sampai dapet orang Sunda. Rak ilok, atau bahasa Sundanya Pamali (yang sekarang kalau nggak salah sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia EYD). Tapi apakah itu sudah menjadi jaminan? Memangnya yang bisa menjamin pernikahan itu bisa langgeng kalau orang Jawa dapet orang Jawa? Kok bisa-bisanya itu menjadi standar? Bukannya yang menjamin semuanya itu Allah?

Untuk itulah dalam menghalau segala keraguan dan kebimbangan itu, aku meniatkan bahwa menikahku adalah karena satu tujuan, yaitu Allah. Menjadikan tujuan menikah untuk ibadah, menyempurnakan agama dan melaksanakan sunnah. Kalau sudah begitu, Insya’Allah dijamin berkah dan menjadi mawaddah dan rahmah. Sekalipun begitu, bagi diriku sendiri untuk meyakinkanku menjadikan agama sebagai landasan dalam menikah itu susahnya bukan main. Dibutuhkan keikhlasan. Sepertinya ini berurutan dengan SABAR – SYUKUR – IKHLAS yang selalu aku ketik tiap mau ngetwit. Aku ingin memantapkan bahwa rumusan dari Buya Hamka itu benar dan tidak akan membuat menyesal dikemudian hari. Buya Hamka pernah memberikan rumusan sederhana alasan orang menikah. Karena agama diberi poin 1, karena kecantikan atau fisik diberi poin 0, karena harta diberi poin 0, dan karena kedudukan diberikan poin 0. Jika menempatkan agama di urutan pertama maka poinnya 1-0-0-0 alias 1000. Jika kecantikan di urutan pertama, agama di urutan kedua, maka poinnya adalah 0-1-0-0 alias 100. Jika agama ditempatkan di urutan terakhir maka poinnya 0-0-0-1 alias cuman dapet 1. Semua itu pilihan, dan tergantung kita mau milih yang mana.

Sejak awal aku diperkenalkan dengan ‘dia’ ada banyak keraguan saat pertama kali aku lihat facebooknya (seperti biasa, lewat facebook temenku) Lalu kemudian di bulan Maret mulailah kami berkorespondensi lewat email (yang dimoderatori oleh yang mengenalkanku), sehingga aku tahu sifat dan karakternya. Sholat Istikhoroh pun gencar aku kerjakan. Sebelum-sebelumnya, ketika aku mulai melakukan pendekatan pada (beberapa) wanita, meskipun aku mantap terhadap pilihanku itu, tapi tiap sholat Istikhoroh aku masih merasakan keraguan dan selalu menanyakan benarkah dia ‘wanita terbaik’ yang memang ‘terpilih’ untukku? Tapi kali ini berbeda. Meskipun aku ragu terhadap dia, setiap kali aku sholat Istikhoroh, ada semacam bisikan dalam hati yang justru mempertanyakan padaku; apa yang kamu ragukan? Kalau kamu mencari ‘wanita terbaik’ apa yang kamu ragukan dengan wanita sholehah yang menjadikan agama sebagai landasan? Dan saat itu aku merasakan dialah ‘wanita terbaik’ yang memang dipilihkan oleh Allah untukku. Seorang wanita dengan nama Chaerunnisa di belakangnya. Chaerunnisa ataupun Choirunnisa yang berarti sebaik-baiknya wanita. Semoga.

Hingga akhirnya ada kesempatan untuk pertama kalinya bertemu langsung dengannya di bulan April, kebetulan saat itu dia liburan di Jogja dengan teman-teman kantornya. Sebuah pertemuan yang kemudian direncanakan sedemikian rupa dan ada mahrom sebagai pihak ketiga tentunya, yaitu Mbak Rani beserta suami dan anaknya. -Mbak Rani adalah yang memoderatori korespondensi kami lewat email, yang mana suaminya adalah temenku, Mas Hysa – Di Dixie Jl. Affandi itu aku, Mbak Rani, dan suaminya, menunggu kedatangannya. Ketika dia sudah datang, lalu mulailah ngobrol banyak hal. Dugaanku ketika melihat fotonya sih orangnya kelihatannya kalem dan pendiem, tapi ternyata dia sangat suka ngobrol (hehe maaf). Maklum selama ini kami hanya berta’aruf lewat korespondensi di email. Dan yang kuperlukan dari semua perkenalan adalah apapun bentuk perkenalan itu, berikan aku kesempatan untuk bertemu secara langsung meski hanya beberapa menit. Itu yang selalu kutanyakan kepada Mbak Rani, pihak Moderator. Karena rasanya pasti akan sangat berbeda. Itu semacam untuk memantapkan saja.

Dan ternyata memang benar, di akhir pertemuan ketika ditanyakan tentang keseriusan dan kepastian, aku langsung menjawab siap melanjutkan hubungan ke yang lebih serius (pernikahan). Lalu ketika ditanya kapan, aku semerta-merta dengan mantap menjawab tahun ini (2013). Entah kenapa saat itu aku tak ada keraguan sedikitpun dengannya. Semua seolah terabaikan ketika apa yang dilihat dan dirasakan hatiku secara langsung adalah calon istri yang sholehah. Bahkan pikiran untuk memperbaiki hubunganku dengan wanita sebelumnya langsung lenyap saat aku yakin bahwa perhiasan terindah di dunia ini adalah istri yang sholehah. Padahal saat itu ada hati kecilku yang berontak dan bilang; goblok, bukankah masalah warungmu belum sepenuhnya tuntas? Kenapa nggak nunggu kaya dulu? Bukankah sekarang kondisimu sedang terbatas?

Aku hanya bisa menjawab; kenapa harus terus menunda-nunda? Emang rejeki itu siapa yang jamin? Bukankah dalam surat An-Nur: 32 dikatakan; jika mereka miskin Allah akan mengkayakan dengan karuniaNya? Ini adalah kesempatan yang jika tidak aku ambil, mungkin tidak akan ada yang seperti ini lagi. Dan malam itu mungkin adalah malam dimana aku mengambil keputusan terberani dan terjantan selain keputusan beraniku untuk mendaftar sunatan massal waktu kecil (baca: https://husnimuarif.wordpress.com/2009/09/28/sunat-massal-ato-khitan-massal/) Aku tak mau jadi lelaki pengecut yang tak bisa memberi kejelasan atau kepastian dan beraninya hanya pacaran (hehe..)

Alhamdulillah, dia mau menerimaku dan tak mau lama-lama menunggu tahun 2014. Sepertinya doaku di twitter 4 tahun yang lalu setelah selesai menonton pertandingan antara Spanyol melawan Belanda terkabul; Ya Allah, semoga tahun depan aku bisa menonton World Cup 2014 bersama istriku. I can’t wait…

Setelah pertemuan itu, di luar hujan turun rintik-rintik. Dia pamit duluan karena teman-temannya sudah menunggu di luar. Aku, Mbak Rani, Mas Hysa, dan Aray anaknya, menyusul turun dari lantai atas Dixie. Setelah membayar, kami berhenti di teras Dixie sebentar untuk saling pamitan. Mbak Rani bilang “Alhamdulillah, tak kusangka prosesnya bisa secepat ini” sembari menengok ke Mas Hysa “Kita dulu berapa lama?” Mas Hysa hanya tertawa kecil. “Bismillah Hus, disiapkan segalanya dengan baik” Mbak Rani menambahkan. “Iya, terima kasih atas semuanya” hanya itu yang bisa aku ucapkan. Matik aku! Tahun 2013 aku akan menikah.

Malam itu aku benar-benar mendapati apa yang sudah aku prediksikan. Aku pernah meyakini, bahwa dari serentetan usahaku dalam mengajak serius dengan wanita-wanita sebelumnya dengan berbagai perjuangan maksimal, pada akhirnya, aku akan mendapati seseorang yang terbaik yang benar-benar terpilih tanpa keribetan itu. Ya, hanya begitu saja. Tanpa harus ngasih sesuatu yang spesial dan bikin sesuatu yang susah-susah yang orang lain nggak bisa lakukan. Memberikan perhatian lebih layaknya orang mau nembak untuk mau jadi pacarnya. Karena pemberian terbaik bukanlah itu, melainkan keberanian dan keseriusan untuk menikahinya dengan segera. Meskipun dengan mahar yang tak seberapa, tapi itu jauh lebih bernilai. Aku merasa bahwa perjuangan yang kulakukan dulu terbalaskan pada waktu itu.

Kuanggap perjalanan-perjalananku sebelumnya sebagai usahaku untuk memantaskan diri menjadi orang yang spesial. Dan hanya orang yang spesial pulalah yang nantinya pantas mendampingiku. Memang dalam perjalanan hidupku aku sangat ingin merasakan apa yang namanya pacaran. Namun setiap ada kesempatan itu, aku merasa selalu digagalkan oleh Allah. Tapi itu tak kuanggap sebagai kutukan sebagai orang yang menyandang status tidak pernah punya pacar. Aku justru menganggap bahwa Allah selalu menjagaku dari itu. Menjagaku dari memperturutkan hawa nafsuku dan meyakinkan aku bahwa mungkin wanita yang aku perjuangkan saat itu bukanlah wanita yang pantas untukku. Mungkin bagiku mereka yang terbaik, tapi apa iya bagi Allah? Dan aku sangat-sangat bersyukur karena bisa menjadikan hanya karena Allah alasanku untuk menikah. Aku yakin bahwa kesempatan pacaran yang diberikan padaku setelah menikah nanti akan melampaui kenikmatan orang berpacaran pada umumnya. Lebih bebas, lebih berkah, dan ditanggung 100% halal🙂

Setelah pertemuan itu, segalanya seperti berjalan begitu cepat di tahun 2013 ini. Aku langsung sampaikan ke kakakku bahwa aku serius dengan orang Sumedang. Aku tahu kakakku tak akan setuju dengan bermacam alasan. Dari segi jarak yang lumayan jauh, dari segi kondisi finansial yang serba terbatas karena masih mengurus warung, dan yang paling mendasar yaitu; dia orang Sunda. Segala informasi ketidakcocokan orang Sunda kakakku kumpulkan. Kakakku memberikan berbagai kriteria yang cocok untukku.

Tapi apakah harus menunggu kriteria yang (menurutnya) sempurna dan cocok untukku? Sampai kapan? Kalau mencari pasangan yang benar-benar sempurna, dijamin tak akan dapet-dapet sampai tua sekalipun. Sudah begitu lama aku berpetualang. Yow, umurku kan sudah 29 my age, begitu kata Vicky. It’s time! Kalau aku masih mikir-mikir lagi, dan yakin suatu saat nanti akan ada yang cocok dengan apa yang aku impikan, aku mencoba berkata pada diriku sendiri, still waiting and waiting? What are you waiting for? Kalau aku menunda dan menolak kesempatan itu dan menunggu hingga aku benar-benar sukses, siapa yang tahu kapan aku akan sukses? What are you waiting for? Apakah syarat untuk menikah harus sukses dulu? Sampai kapan? Tujuan menikah itu untuk apa? Mengapa tidak jadikan pernikahan sebagai solusi untuk menyempurnakan apa-apa yang belum sempurna itu?

Lalu aku mencoba untuk meyakinkan kakakku dan mengajaknya bersilaturahim ke sana. Seperti kataku, tak ada yang bisa mengalahkan efek pertemuan secara langsung. Pas silaturahim, kakakku pun setuju🙂 Selanjutnya setelah lebaran di bulan Agustus, kami sekeluarga dengan mengajak Pak Dhe ke Sumedang lagi untuk lamaran dan menentukan tanggal pernikahan. Semua berjalan begitu sederhana dan cepat. Tak ada acara perhitungan berdasarkan wethon (tanggal lahir) yang biasanya dilakukan orang Jawa untuk menentukan tanggal pernikahan. Kelamaan dan tak ada jaminan. Selain tidak disyariatkan, bisa-bisa malah nanti harinya nggak dapet-dapet. Masak ya nunggu dan nunggu lagi? Yang menentukan hari itu jadi baik atau buruk kan ya kita sendiri.

Akhirnya diputuskan akad dan resepsinya Insy’Alloh diselenggarakan pada hari Sabtu tanggal 21 Desember 2013. Tak ada maksud apapun dengan angka 21. Memilih tanggal itu hanya karena mencari pas hari weekend saja. Tak ada permainan bolak-balik angka 21-12 yang sering aku alami. Jika itu dipas-pasin sama ayat Al-Qur’an tentang pernikahan, yaitu surat Ar-Ruum ayat 21, itu hanya kebetulan belaka. Ya harapannya sih sesuai dengan tujuan dari ayat tersebut, yaitu mawaddah warahmah. Untuk itulah aku mengangkat kaligrafi surat Ar-Ruum:21 dengan menonjolkan mawaddah warahmah sebagai tema dan harapan dari pernikahanku nanti. Alhamdulillah meski dengan keterbatasan waktu, aku bisa menyempatkan untuk mendesain undanganku sendiri. Insya’Alloh nanti aku akan cerita banyak mengenai desain undangan ini. Berikut bentuk digitalnya. Ini undangan beneran loh, bukan sampel, bukan hoax, aku beneran mau nikah di tahun 2013🙂

 

ica-husni-wedd-cover-back

ica-husni-wedd-cont

 

Nah karena waktunya sudah sangat mepet, sudah tanggal 15 Desember nih.. (Ya Allah hidupku akan berubah setelah tanggal 21) melalui blog ini Husni dan Ica meminta doa restu kepada teman-teman semuanya termasuk pembaca blog ini. Semoga diberi kelancaran dan membawa berkah. Yang namanya berkah itu adalah, di dalamnya akan bertambah kebaikan-kebaikan. Harapannya kebaikan itu bisa menjalar ke yang lain terutama yang belum menikah semoga disegerakan, dan yang masih pacaran, segeralah diputusin dan nyusul. Ngenteni opo? What are you waiting for?

Bagi yang mau dateng silakan datang dan lihat denah di bawah. Buat pembaca blog ini (siapa tahu ada yang di Sumedang), ya mangga atuh datang saja. Nanti aku pasti mengira kalau kamu adalah temannya Ica, dan Ica akan mengira kamu adalah temenku, hehe…

Barakallah….

 

denah-lokasi-undangan

 

mohon-doa-restu

Tags:

4 Responses to “what are you wedding for?”

  1. deetskoink Says:

    nderek bingah mas hus, semoga berkah dan menjadi senantiasa menjadi keluarga bahagia buat mas husni dan mbak ica.

    -salam kecup mesra dari lampung…hehehehehe

  2. Prabowo Says:

    Semoga pernikahannya lancar dan barakah, mas Husni. Desain kaligrafi di undangannya bagus!

  3. khamsmaster Says:

    *suka ngobrol? Helooo bukan suka ngobrol tapi setingkat lebih tinggi detajatnya dari hiperaktif…hehe #peace… alhamdulillah bisa ditemukan oleh Allah sbg saudara dengan ica dan mas husny… si pendiam dan si aktif ini entah mengapa walau hanya sebentar bersua tapi sudah berasa menjadi keluarga….

  4. mudaberjuang Says:

    selamat ya mas, semoga di berkahi pernikahannya, aamiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: